Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 76

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 76

"Jangan lupakan beberapa ratus jiwa para pendeta di biara Shaolin ini; mereka tidak akan kuat bertahan menghadapi racun berbisa. Apa kau sudah membayangkan akibatnya?"

Suara itu terdengar, tetapi orangnya tak terlihat. Hal ini membuat semua pendeta yang hadir merinding dan gentar. Terlebih lagi, ucapan dingin yang mengandung ancaman serius itu benar-benar menggentarkan sanubari mereka. Orang yang berbicara ini sudah tentu membela kepentingan Racun Diracun. Dari nada suaranya, jelas bahwa dia seorang wanita.

Siapakah dia? Mampu menyebut dasar ilmu andalan Hui Kong Taysu menunjukkan bahwa orang tersebut adalah tokoh kosen yang luar biasa lihai.

Agaknya Hui Kong Taysu terpengaruh oleh ancaman itu, tanyanya gemetar, "Tokoh kosen dari manakah Sicu ini?"

"Ada bayangan tiada bentuk. Kukira Taysu pasti tahu siapakah aku ini!"

"Sungguh tidak diduga, Li Sicu ternyata masih sehat walafiat!"

"Jadi, anggapan Taysu bahwa aku sudah harus mati?"

"Omitohud! Apakah maksud kunjungan Li Sicu ini?"

"Ketahuilah bahwa Suma Bing tiada sangkut-pautnya dengan peristiwa yang terbengkalai ratusan tahun lalu itu. Partai kalian tidak seharusnya mengurungnya lagi."

Jantung Suma Bing berdetak keras. Matanya dengan tajam mengawasi ke arah rimba lebat yang gelap kelam itu. Hatinya bertanya-tanya, namun sekian lama ia masih bingung dan tidak tahu siapakah orang yang berbicara itu. Demikian juga semua pendeta Shaolin, termasuk sang Ciangbunjin, wajah mereka berubah pucat dan kaget.

Sejenak Hui Kong Taysu terdiam, lalu membuka suara lagi, "Apakah Lolap dapat percaya ucapan Li Sicu ini?"

"Taysu, terserah kau mau percaya atau tidak. Apa kau ingin melihat anak muridmu menemui ajalnya secara mengenaskan?"

"Li Sicu juga hendak turun tangan?"

"Jikalau terpaksa, apa boleh buat?"

"Jadi, Li Sicu memandang rendah Shaolin kita?"

"Tidak berani. Latihan ilmu Taysu sudah mencapai taraf kesempurnaan, tingkat kedudukan Taysu juga tertinggi. Maksudku hanya untuk meredakan gelombang angkara murka yang bakal terjadi!"

"Lalu, bagaimana kalau Suma Bing tersangkut-paut dengan peristiwa ratusan tahun itu?"

"Aku bertanggung jawab untuk membekuk dan menyerahkannya kepada Shaolin!"

"Kuharap ucapan Li Sicu ini dapat dipercaya penuh?"

"Taysu adalah tokoh Buddhis yang sudah sempurna, apakah pertanyaan Taysu ini tidak berlebihan?"

"Kalau begitu, Li Sicu, silakan!" Sejenak Hui Kong Taysu memandang ke arah Liau Kian, lalu berkelebat masuk ke dalam biara.

Maka segera Liau Sian melambaikan tangan sambil berseru, "Kembali!" Dalam sekejap, para pendeta Shaolin itu telah menghilang ke dalam biara. Suasana dalam rimba kembali diliputi kesunyian dan kegelapan.

Dari dalam rimba terdengar pula suara misterius tadi, "Suma Bing, wanita yang terkurung di belakang puncak Siau Sit Hong itu bukan orang yang tengah kau cari. Kembalilah, jangan menyia-nyiakan tenagamu."

Suma Bing merasa heran dan aneh. Orang itu sedemikian jelas mengetahui maksud kedatangannya. Padahal, tujuannya ke Shaolin adalah hendak mencari ibundanya, dan hal itu selain si Maling Bintang dan Siang Siau Hun, tidak ada orang ketiga yang mengetahui. Dari mana tokoh misterius itu bisa tahu?

Di tengah lamunannya, mulutnya berkata gemetar, "Harap Locianpwe suka memperkenalkan diri!"

Suasana dalam rimba sunyi senyap tanpa terlihat gerak apa pun. Terang bahwa tokoh misterius itu pasti sudah pergi jauh. Siapakah dia? Beratus pertanyaan mengganjal dalam benak Suma Bing.

Segera Racun Diracun menghampiri Suma Bing seraya berkata, "Biar kubebaskan jalan darahmu yang tertutup itu!" Tanpa menanti reaksi Suma Bing, beruntun jarinya menyentik dari kejauhan.

Seketika, Suma Bing merasakan seluruh tubuhnya bergetar sekali, lantas ia merasa hawa murni dalam tubuhnya sudah berjalan normal kembali dan tenaganya pulih seperti semula.

Dengan perasaan terharu, ia memberi hormat kepada Racun Diracun, "Tuan, aku Suma Bing terlalu banyak berhutang budi kepadamu."

"Tidak perlu dipersoalkan tentang utang-piutang apa segala..."

"Mengapa Tuan selalu berbuat baik kepada aku yang rendah ini?"

"Kelak kau akan tahu sendiri."

"Kalau tidak Tuan jelaskan, sungguh hatiku kurang tenteram."

"Kurasa tidak perlu dan belum tiba saatnya."

"Sudah berkali-kali Tuan mengatakan kepada orang bahwa hubungan kita sangat kental dan erat. Apakah itu benar?"

"Segala sesuatu terjadi tanpa dapat diduga sebelumnya. Tiada yang sempurna dan abadi, kadangkala benar, tapi kadangkala juga salah. Buat apa kau harus menanyakan sebab musabab ini?"

Suma Bing menggeleng dengan hampa dan lesu. Sungguh dia tidak mengerti maksud juntrungan ucapan orang itu!

Tiba-tiba Racun Diracun mengeluarkan sebuah kotak kecil panjang dan berkata, "Suma Bing, apa kau masih ingat janji kita waktu mau berpisah tempo hari?"

"Sudah tentu masih ingat!" sahut Suma Bing kesima.

"Kalau begitu, ambillah."

"Tuan, apa kau tidak mengajukan syaratnya?"

"Sudah kukatakan, tanpa syarat!"

Suma Bing menyambut dengan tangan gemetar. Pedang Darah. Merupakan salah satu benda berharga dalam kalangan persilatan; semua kaum persilatan pasti ingin merebutnya meski harus mengorbankan nyawa. Namun sekarang, Racun Diracun menyerahkannya tanpa syarat. Hampir-hampir dia tidak percaya akan kenyataan ini. Namun, menghadapi bukti nyata ini, mau tak mau dia harus percaya.

Mendadak Siang Siau Hun menatap tajam ke arah Racun Diracun, katanya, "Kupandang muka Engkoh Bing, perhitungan kita kelak kita selesaikan lagi!"

Racun Diracun mendengus dingin, sahutnya, "Sewaktu-waktu kunantikan." Habis ucapannya, bayangannya lantas menghilang di kegelapan malam.

Suma Bing menghela napas panjang, ujarnya, "Sepak terjang Racun Diracun susah diraba sebelumnya!"

"Buyung," seru si Maling Bintang, Si Ban Cwan, sambil menggerak-gerakkan kepalanya yang sudah penuh uban. "Semua pengalamanmu ini bukan terjadi secara kebetulan, tentu ada latar belakang yang ganjil. Apakah bakal membawa berkah atau bencana bagi kau, susah disangka!"

"Benar, memang Wanpwe juga merasa begitu! Eh, apakah Cianpwe dapat meraba siapakah tokoh lihai yang bersembunyi dalam rimba tadi?"

"Tentang ini... dia pernah mengatakan 'ada bayangan tanpa bentuk', tapi setahuku belum pernah kudengar ada seseorang yang menggunakan simbol empat kata itu sebagai julukannya. Dari nada percakapan Hui Kong Taysu dengan dia, sedikitnya, tokoh misterius ini berkedudukan tinggi..."

"Mungkin tidak, berhubungan erat dengan Racun Diracun?"

"Kemungkinan itu sangat besar!"

"Dari mana dia bisa tahu maksud kedatangan Wanpwe meluruk ke Shaolin ini?"

"Teka-teki ini susah ditebak. Kecuali kita dapat membuka kedoknya!"

"Dia mengatakan orang yang terkurung di belakang puncak itu bukan ibuku. Dapatkah keterangannya dipercaya?"

"Dapat dipercaya, tapi kelak kau perlu membuktikannya sendiri."

"Benar, aku harus membuktikan."

"Mari kita segera turun gunung!"

"Wanpwe ingin..."

"Kau ingin apa?"

"Aku ingin sekarang juga membuktikan siapakah sebenarnya orang yang dikurung di belakang puncak itu."

Tersipu-sipu si Maling Bintang, Si Ban Cwan, menggoyangkan tangan, "Jangan!"

"Kenapa?"

"Pertama, saat ini kau masih bukan tandingan Hui Kong Taysu. Kedua, orang dalam rimba itu sudah memberitahu kepadamu bahwa orang yang dikurung di belakang puncak itu bukan ibumu. Kalau kau berkukuh hendak ke sana membuktikan, itu berarti kau tidak mempercayai ucapannya, juga berarti kau menyia-nyiakan kebaikan orang. Dan yang terpenting, sekarang kau sudah memperoleh Pedang Darah, kau harus tahu apa yang harus kau lakukan..."

Tergerak hati Suma Bing, maka sahutnya, "Baiklah, mari kita pergi."

Di tengah kegelapan malam, tiga bayangan manusia berlarian sekencang angin turun dari puncak Siong San. Pada terang tanah, mereka bertiga sudah jauh meninggalkan Siong San. Dalam sebuah kota kecil, mereka beristirahat sebentar untuk mengganjal perut, lalu melanjutkan perjalanan lagi.

Di tengah perjalanan, mendadak Suma Bing ingat sesuatu lantas bertanya kepada si Maling Bintang, "Cianpwe, aku ada sebuah pertanyaan."

"Coba kau katakan!"

"Apakah yang disebut 'Bulin Sam Coat Te' itu?"

"Bulin Sam Coat Te adalah tiga tempat bertuah yang mematikan bagi kaum persilatan. Oh, konon kabarnya adalah Lembah Kematian, Te Po (Perkampungan Bumi), dan Kui Tha (Menara Setan). Bagaimana keadaan dan letak ketiga tempat ini, mungkin tiada seorang pun yang jelas dan dapat memberi keterangan."

"Mengapa?"

"Bagi kaum persilatan yang mendatangi ketiga tempat keramat itu, pasti takkan dapat hidup kembali. Lembah Kematian adalah tempat di mana kau terjungkal jatuh oleh pukulan Si Tiau Khek itu. Di manakah letak Te Po itu, tiada seorang pun yang tahu. Sedang Kui Tha terletak di tengah Hek Cui Ouw (Danau Air Hitam) di perbatasan Kui Ciu dan Su Cwan!"

"Wanpwe berharap ada kesempatan untuk berkenalan dengan tempat-tempat keramat itu."

"Ah, anak muda berdarah panas, lebih baik kau jangan mempunyai ingatan yang berbahaya itu."

Suma Bing tidak bersuara lagi, namun dalam hati ia tengah berpikir; Lembah Kematian adalah tempat bersemayam Bu Siang Sin Li, dirinya sudah pernah pergi ke sana, dan sekarang juga ia tengah menempuh perjalanan menuju ke sana. Pengalamannya yang aneh di Lembah Kematian itu belum pernah dia beberkan kepada orang lain. Tentang Perkampungan Bumi dan Menara Setan, ia berharap pada suatu ketika dapat berpesiar ke tempat yang menakutkan itu.

Tengah mereka mengayun langkah, mendadak wajah Siang Siau Hun berubah pucat ketakutan dan segera menghentikan langkahnya. Kedua matanya terbelalak lebar, serunya gemetar sambil menunjuk ke atas sebuah pohon, "Engkoh Bing, apakah itu?"

Suma Bing dan si maling tua menghentikan kakinya. Mereka memandang ke arah yang ditunjuk oleh Siang Siau Hun. Maka terlihat di pinggir jalan sebelah depan sana, di atas pohon, berjajar empat mayat manusia bergantungan. Keempat mayat itu bergoyang-gontai dihembus angin lalu. Keadaan yang seram ini benar-benar membuat merinding dan takut orang yang melihat.

Suma Bing mendengus ejek, terus melesat menubruk ke arah keempat mayat gantung itu.

"Engkoh Bing!" teriak Siang Siau Hun, "Apa yang hendak kau lakukan?"

"Ha, itulah Si Tiau Khek!" seru si Maling Bintang bagai tersadar dari lamunannya. Tidak mau ketinggalan, segera dia juga menubruk maju.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment