Chapter 77
Dugaan Si Maling Bintang tidak salah, keempat orang gantung ini tidak lain adalah Si Tiau Khek, jagoan kelas istimewa dari Bwe Hwa Hwe. Agaknya, Si Tiau Khek memang menanti kedatangan Suma Bing.
Berbarengan dengan itu, keempat setan gantung tersebut memperdengarkan tawa melengking yang menggiriskan bulu roma, lalu melayang turun ke atas tanah. Melihat musuh-musuh besarnya, mata Suma Bing merah membara, wajahnya membeku diliputi nafsu membunuh yang tebal.
Terdengar Heng Si Khek, pentolan dari Si Tiau Khek, membuka suara dengan nada dingin, "Suma Bing, agaknya usiamu panjang sampai sekarang kau masih hidup."
"Kalau aku sudah mati, lalu siapa yang akan menyempurnakan kalian?" desis Suma Bing dengan geram.
"Bedebah!" maki Bau Bong Khek. "Biar hari ini kita sobek badanmu menjadi delapan bagian. Akan kulihat apakah kau masih bisa hidup kembali?"
"Agaknya kau ingin mati lebih dulu, baiklah aku mulai dari kau!"
*Blum!* Dengan kecepatan yang susah dibayangkan, pukulan Suma Bing telak menghantam Bau Bong Khek hingga terpental terbang beberapa tombak jauhnya. Kiranya Suma Bing telah melancarkan *Bu Siang Sin Hoat*, mendesak maju ke hadapan Bau Bong Khek, dan kontan memberinya sebuah pukulan telak.
Memang *Bu Siang Sin Hoat* bukan olah-olah hebat yang menakjubkan. Sebelum Bau Bong Khek melihat jelas bayangan musuh, tahu-tahu dadanya terasa dihantam sebuah godam besar hingga jungkir balik.
Segera Heng Si Khek membentak gusar dan memberi aba-aba kepada saudara-saudaranya, "Awas, gerak-gerik bocah ini sangat aneh, mari kita maju berbarengan!"
Serempak sambil berteriak menggeledek, ketiga setan gantung lainnya melancarkan pukulan-pukulan dahsyat. Suma Bing insaf bahwa salah seorang dari keempat musuhnya ini saja *lwekang*-nya lebih tinggi dari dirinya. Mana ia berani menyambut serangan musuh secara keras? Sekali berkelebat bagai setan gentayangan, tubuhnya lenyap di tengah-tengah damparan dan pusaran angin pukulan musuh-musuhnya.
Boleh dikata baru kali ini Si Tiau Khek melihat ilmu kepandaian yang menakjubkan ini. Saking kaget dan gentar, keringat dingin membanjir keluar. Sungguh mereka tidak habis mengerti, dalam jangka pendek selama tiga bulan ini, entah dari mana bocah ingusan ini dapat mempelajari ilmu sesat yang mandraguna, sakti, dan hebat ini.
*Blang!* Untuk kedua kalinya tubuh Suma Bing berkelebat maju dan menyerang. Kali ini sasarannya adalah punggung Heng Si Khek; kontan tubuhnya terhuyung beberapa langkah sambil menyemburkan darah segar. Dalam pada itu, meskipun Bau Bong Khek terkena pukulan terbang, namun lukanya tidak terlalu berat. Sekali melejit bangun, segera ia tiba dalam kalangan pertempuran lagi.
Sementara itu, Suma Bing masih tenang berdiri di tempatnya semula, seolah-olah belum pernah berkisar atau bergerak. Sambil menyeka noda darah di ujung bibirnya, tersipu-sipu Heng Si Khek mengisiki ketiga saudaranya. Maka di lain saat, keempat setan gantung ini sudah berpencar lagi terus mendesak ke arah Suma Bing.
Heng Si Khek dan Hui Bing Khek yang sudah cacat buah tangannya masing-masing melancarkan sebuah pukulan tengah. Belum lagi angin pukulannya mengenai sasaran, bayangan musuh lagi-lagi sudah menghilang dari pandangan mata. Bertepatan dengan itu, Bau Bong Khek dan Teh Cian Khek juga sudah mengayun tangan masing-masing, beruntun melancarkan serangan membadai dari dua pinggiran.
Begitu Suma Bing berkelit dari hantaman tengah, kebetulan ia menyongsong ke arah damparan angin pukulan yang kokoh kuat bagai dinding. Tubuhnya tergetar jumpalitan delapan kaki jauhnya, tanpa kuasa mulutnya menguak seperti hendak muntah. Mendapat peluang ini, secepat kilat Heng Si Khek dan Hui Bing Khek segera menubruk maju sambil menendang dan menghantam dengan serangan dahsyat yang mematikan.
Untung gerak-gerik Suma Bing masih sangat sebat, tersipu-sipu ia berkelit ke samping. Bahwasanya *Bu Siang Sin Hoat* memang sangat lihai dan aneh, tapi kebentur musuh-musuh lihai yang tenaga dalamnya terlalu tinggi, malah empat orang bergabung dan bersatu padu bekerja sama secara rapi. Dua menyerang dan dua lainnya menjaga diri. Serangan kilat dengan cara bokongan yang mengandalkan kegesitan tubuhnya itu akhirnya toh terkena diatasi oleh penjagaan musuh yang rapat.
Seperti yang diberitahukan Giok Li Lo Ci kepadanya, ilmu *Bu Siang Sin Hoat* cukup kelebihan untuk menjaga diri, namun kurang memadai untuk menyerang musuh. Kalau yang dihadapi Suma Bing bukan tokoh lihai sebangsa Si Tiau Khek ini, atau secara satu lawan satu, seumpama melawan dua orang saja, keadaannya akan lebih menguntungkan. Jikalau Si Tiau Khek selalu melancarkan serangan, tindakan mereka ini akan sia-sia, sedikit pun mereka takkan dapat menyentuh seujung rambut Suma Bing. Sebaliknya, kalau Suma Bing turun tangan juga tidak membawa untung bagi dirinya sendiri; kekuatan gabungan Si Tiau Khek mungkin tiada seorang tokoh lihai dari kalangan persilatan yang kuat menandingi.
Sekonyong-konyong Heng Si Khek berteriak menggeledek, "Serang!" Tiga gelombang angin pukulan yang dingin membeku bergulung-gulung menerpa ke arah Suma Bing dengan dahsyatnya. Seperti yang sudah-sudah, dengan mudah Suma Bing berkelebat pindah tempat menghindar.
Bertepatan dengan itu, terdengar sebuah seruan kaget dan ketakutan. Tahu-tahu Siang Siau Hun sudah terkena diringkus oleh Heng Si Khek; sebuah tangannya mencengkeram pergelangan tangan, sedang tangan yang lain menekan jalan darah *Thian To Hiat* di batok kepalanya. Tindakan musuh yang licik dan kejam ini benar-benar di luar dugaan Suma Bing. Sungguh tidak nyana bahwa Heng Si Khek bisa mengalihkan sasarannya ke tubuh Siang Siau Hun, sampai-sampai si maling tua yang berada tak jauh di sampingnya juga tak kuasa mencegah lagi.
Dada Suma Bing hampir meledak menahan gusar, bentaknya bengis, "Heng Si Khek, berani kau menyentuh seujung rambutnya saja, kuhancur-leburkan tubuh kalian!"
Heng Si Khek mengekeh tawa seram, sahutnya, "Buyung, tak berguna kau umbar ancaman. Pokoknya jiwa nona kecil ini terletak di ujung jariku, berani kau bergerak, lihatlah dia mati lebih dulu!"
Dalam pada itu, Bau Bong Khek, Hui Bing Khek, dan Teh Cin Khek sudah beruntun berdiri di belakang Heng Si Khek, punggung beradu punggung, masing-masing menjaga satu jurusan. Betapapun aneh dan lihai gerak tubuh Suma Bing, takkan mungkin dapat melancarkan serangannya lagi. Wajah Siang Siau Hun kelihatan hijau membesi, alisnya berdiri tegak, sedikit pun dia tak kuasa berkutik.
Keadaan Suma Bing serba runyam, mata melotot, gigi gemeratak menahan gusar; ingin rasanya ia menggeremus habis-habisan empat setan gantung ini. Sebaliknya, Heng Si Khek sangat puas dan bangga, ujarnya, "Suma Bing, sekarang mari kita tawar-menawar jual beli ini!"
"Jual beli apa, coba katakan!"
"Kau sendiri yang menggantikan kedudukan nona ayu ini, bagaimana?"
Sungguh gusar Suma Bing tak terperikan, namun karena Siang Siau Hun sudah cedera karena dirinya, maka sambil kertak gigi ia menegasi, "Cara bagaimana menukarnya?"
"Kau ikut kita pergi, maka kita lepaskan nona ayu ini."
"Boleh!"
"Tapi kita harus menotok jalan darahmu dulu."
Tanpa terasa Suma Bing menghela napas dalam dan merinding tubuhnya. Mati hidupnya adalah soal kecil, setelah dirinya terkena tertotok jalan darahnya, bila Si Tiau Khek ingkar janji tidak melepaskan Siang Siau Hun, bukankah pengorbanannya akan sia-sia dan hampa? Apalagi kekejaman Si Tiau Khek melebihi binatang buas, mungkin si maling tua pun tidak akan luput dari kekejaman mereka.
Karena pikirannya ini, segera ia bertanya, "Kalau aku sudah tertotok, apa kalian berani bersumpah pasti melepaskan Nona Siang dan Si Cianpwe?"
Tersipu-sipu si maling bintang, Si Ban Cwan, menggoyang tangan dan berkata, "Buyung, jangan kau seret aku ke dalam pertikaian ini, maaf aku orang tua harus pergi dulu!" Habis ucapannya, segera tubuhnya yang bundar cebol itu melenting tinggi menghilang di dalam rimba.
Tindakan si maling tua ini benar-benar di luar dugaan Suma Bing, keruan hatinya tambah dongkol, namun setelah dipikirkan, lantas dia paham maksud kepergian si maling tua ini. Jikalau dia tidak lekas-lekas menyingkir, kalau terlambat mungkin takkan dapat tinggal pergi secara masih bernyawa. Sebab hakikatnya, keadaannya sekarang di pihak yang terdesak dan tak mungkin lagi dirinya berani bermain garang dan main kekerasan terhadap Si Tiau Khek. Kalau si maling tua sudah mengundurkan diri, pasti dia dapat mencari akal dan mencari bantuan untuk menolong dirinya.
Terdengar Heng Si Khek mendesak lagi, "Buyung, kau sudah ambil kepastian belum?"
"Kau harus melepaskan dia dulu!"
"Kalau kau tidak percaya kepadaku, apa aku harus percaya kepadamu?"
"Engkoh Bing," teriak Siang Siau Hun, suaranya serak dan menyedihkan, "Kau pergilah, asal kau selalu ingat untuk menuntut balas bagiku, aku sudah cukup puas!"
Hati Suma Bing bagai diiris-iris pisau. Bagaimana bisa dia mengorbankan seorang gadis muda belia yang mencintai dirinya? Maka sambil menggeleng kepala, dia berkata, "Tidak!"
"Engkoh Bing, apa kau ingin mati bersama Siau Moay?"
Dada Suma Bing hampir meledak, kedua matanya melotot bagai menyemburkan api. Tindakan Si Tiau Khek meringkus Siang Siau Hun sebagai sandera untuk menukar dirinya membuat dia patah semangat dan pasrah nasib.
"Baik, kau lepaskan dia."
"Tapi, kita harus totok dulu jalan darahmu!"
"Kau lepaskan dulu, segera aku ikut kalian berangkat."
"Kalau kau berontak di tengah jalan?"
"Sungguh menggelikan, ucapan seorang laki-laki bagai kuda berlari kencang yang susah dikejar. Mati hidup seseorang tergantung di tangan Tuhan."
Setelah ragu-ragu dan bimbang, akhirnya Heng Si Khek berkata juga, "Keparat, kali ini boleh aku percaya, tapi perlu kuberitahu, kalau kau sampai ingkar janji, nona ayumu ini juga tidak bakal dapat terbang jauh." Habis berkata begitu, ia lepas tangan mendorong tubuh Siang Siau Hun ke depan.
Bergegas Siang Siau Hun memburu ke hadapan Suma Bing, ratapnya, "Engkoh Bing, mari kita pergi, biar perhitungan ini kita tagih kelak."
"Tidak!" sahut Suma Bing dingin acuh tak acuh.