Chapter 78
"Apa kau benar-benar percaya pada iblis dan setan kejam seperti mereka?"
"Adik Hun, sebaiknya kau segera pergi saja."
"Kau... kau hendak ikut mereka pergi?"
"Apa boleh buat, ucapan seorang laki-laki harus ditepati!"
"Apa kau tahu apa akibatnya?"
"Paling banter mati!"
Tubuh Siang Siau Hun tergetar, wajahnya pucat pasi. Sambil menghentakkan kaki dengan kesal, ia berkata, "Selama aku belum mati, aku tidak akan berpisah denganmu!"
"Adik Hun, kau..." Suma Bing benar-benar terharu. Terbayang dalam benaknya kejadian di biara bobrok saat dirinya keracunan bisa *Pek jit kui* oleh Tangbun Yu, putra Racun Utara. Saat itu, Siang Siau Hun bersumpah hendak menyertainya ke alam baka. Keadaan saat itu persis sama dengan sikapnya kini.
"Adik Hun, jangan membuat aku serba salah."
"Aku sudah berketetapan hati."
"Adik Hun, demi menepati janji seorang ksatria, aku harus ikut mereka menuju ke Bwe Hwa Hwe..."
"Aku pun akan ikut serta."
"Itu tidak mungkin!" Terdengar Heng Si Khek menyeringai layaknya iblis.
"Suma Bing, apakah ucapanmu bisa dipegang?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu, silakan kau totok sendiri jalan darahmu. Aku berjanji tidak akan menyentuh seujung rambut pun nona ayu ini."
"Permintaanmu tidak dapat kuturuti!"
"Ha, kau ingkar janji dan menjilat ludahmu sendiri?"
"Aku hanya setuju untuk ikut kalian, tapi tidak berjanji untuk menotok jalan darahku sendiri!"
"Tindakanmu cerdik juga. Jika ingin ikut, segeralah berangkat. Keraguanmu akan menentukan keselamatan nona ini!"
"Setelah sampai di tujuan, aku hendak pergi atau lari adalah urusanku. Namun selama dalam perjalanan, jangan khawatir, aku tidak akan meninggalkan kalian."
Empat Setan Gantung itu saling berpandangan lalu mengeluh. Heng Si Khek angkat bicara, "Buyung, kami mempercayaimu sekali ini. Kau sendiri yang mengatakan tidak akan melarikan diri selama perjalanan. Jikalau di tengah jalan ada orang yang mencegat dan turut campur, apakah kau masih tetap dapat menepati janjimu?"
"Tentu saja!" Diam-diam dalam benak Suma Bing sudah tersusun rencana. Ia menggunakan kesempatan ini untuk membongkar kedok Ketua Bwe Hwa Hwe dan mencari tahu mengapa lawan selalu mengejar nyawanya. Mengandalkan kelincahan ilmu gerak tubuhnya yang baru, ia yakin tidak akan mudah dikekang oleh musuh.
"Adik Hun, harap kau dengar kataku sekali ini. Lekaslah pergi, percayalah kepadaku, tidak lama lagi kita pasti bertemu lagi!"
"Tidak!" Sikap kaku dan ketus Siang Siau Hun membuat Suma Bing serba salah.
Pada saat itulah, mendadak terdengar gelak tawa yang keras dan memekakkan telinga. Suara itu begitu mengejutkan sehingga semua orang yang hadir tertegun. Tak lama kemudian, terlihat seorang tua aneh dengan jenggot panjang yang menjulai sampai ke perut, mengenakan jubah bersulam *Pat kwa* di dada, kepala dibungkus kain satin, dan tangannya memainkan sebuah kipas.
Suma Bing dan Siang Siau Hun terheran-heran. Sebaliknya, kehadiran orang tua itu membuat empat Setan Gantung yang biasanya garang menjadi ciut nyali dan gemetar. Orang tua itu berhenti pada jarak lima tombak, tetap memainkan kipasnya dengan sikap acuh tak acuh bagaikan seorang nabi yang tengah menikmati pemandangan alam.
Segera Heng Si Khek maju menyapa, "Orang tua, berasal dari manakah kau ini?"
"Hahahaha, namaku yang kenamaan saja kalian tidak tahu, masih berani berlagak sebagai tokoh dunia persilatan?"
"Apakah kau adalah Kong Kun Lojin?"
"Tidak salah, agaknya pengalamanmu luas juga!"
Serta-merta keempat Setan Gantung itu mundur selangkah. Begitu pula Suma Bing dan Siang Siau Hun yang terbelalak kaget. Mereka tidak menyangka bahwa orang tua aneh di hadapan mereka adalah Kong Kun Lojin, sosok yang dipandang sebagai malaikat penyelamat oleh aliran putih dan dianggap sebagai *Giam lo ong* oleh golongan hitam.
Konon, Kong Kun Lojin sudah wafat enam puluh tahun yang lalu. Apakah kabar itu hanya isapan jempol belaka? Untuk apa tokoh sepuh ini muncul secara mendadak? Setelah lama menatap Suma Bing, ia berkata, "Buyung, apa kau yang dijuluki *Sia-sin* kedua, murid dari *Sia-sin* Kho Jiang?"
Suma Bing tersipu dan memberi hormat, "Memang benar, Wanpwe. Entah apa yang ingin Locianpwe sampaikan?"
Kong Kun Lojin mengelus jenggotnya yang memutih, seraya berkata dengan nada berat, "Buyung, apa kau tahu tentang perjanjianku dengan Lam Sia dulu kala?"
Suma Bing tertegun, "Hal itu Wanpwe tidak tahu!"
Wajah Kong Kun Lojin menggelap, "Apa benar Sia-sin Kho Jiang sudah meninggal dunia?"
"Itulah yang terjadi!"
"Hm, janjinya seperti kentut, tidak dapat dipercaya! Manusia rendah!"
Mendengar gurunya dihina, amarah Suma Bing berkobar, "Mengapa Locianpwe menghina guruku?"
"Buyung, katakan apa benar suhumu tidak memberitahumu tentang janji dan sumpahnya kepadaku?"
"Tidak, tapi..."
"Tapi apa?"
"Asal Locianpwe mau memberi tahu, biar Wanpwe yang mewakili menyelesaikannya!"
"Apa kau mampu?"
"Pasti dapat, hutang guru, murid yang bayar!"
"Ketahuilah, hutang ini tidak mudah dilunasi!"
"Sebenarnya hutang apakah itu?"
"Hutang nyawa!"
Suma Bing terperanjat. Bagaimana mungkin gurunya berhutang nyawa kepada Kong Kun Lojin? Semasa hidup, gurunya hanya berpesan bahwa orang tua ini memiliki ilmu tinggi namun kejam, berpandangan sempit, dan senang mencampuri urusan orang lain. Tidak pernah ada pembicaraan tentang hutang nyawa.
Karena tidak mengerti, ia bertanya, "Locianpwe, sukalah memberi penjelasan sekadarnya."
Kata Kong Kun Lojin serius, "Lima puluh tahun yang lalu, terbawa sifat jahat, gurumu telah membunuh tiga anggota keluarga muridku. Akhirnya ia insaf dan berjanji akan menghadapku untuk bunuh diri menebus dosanya setelah urusan pribadinya selesai!"
Suma Bing tergetar, "Apa benar terjadi hal itu?"
"Hm, buyung, apa kau sangka aku pembual? Kalau dia tidak berpesan kepadamu, bukankah dia seorang rendah yang menjilat ludahnya sendiri?"
Semangat Suma Bing serasa terbang. Tubuhnya terhuyung, lalu sambil mengertakkan gigi, ia berseru tegas, "Hutang nyawa ini biar Wanpwe yang bayar!"
Siang Siau Hun pucat pasi, "Engkoh Bing, kau..."
Sekonyong-konyong Kong Kun Lojin menoleh kepada *Si Tiau Khek* dan berkata, "Kalian boleh segera pergi dari sini."
*Si Tiau Khek* gentar menghadapi nama besar Kong Kun Lojin. Namun, Heng Si Khek memberanikan diri, "Wanpwe berempat tengah menjalankan tugas untuk meringkus Suma Bing..."
Kong Kun Lojin maju beberapa tindak sambil menggoyangkan kipasnya, "Selamanya aku hanya berkata sekali!"
"Wanpwe berempat terpaksa dan..."
"Keparat, apa kalian minta aku mengantar kalian dengan kipasku ini?"
*Si Tiau Khek* ketakutan dan segera pergi tanpa suara. Sementara itu, Suma Bing menjadi gugup, "Cianpwe, harap beri kelonggaran agar aku bisa menepati janjiku ke markas Bwe Hwa Hwe!"
"Apa kau yakin bisa kembali dengan nyawa?"
"Ini... mungkin bisa."
"Jikalau kau menemui ajal, bagaimana kau hendak membayar hutang nyawa suhumu?"
"Wanpwe bersumpah pasti kembali!"
"Buyung, memangnya berapa banyak nyawamu? Agaknya kau sudah bosan hidup."
Mendengar nada bicara itu, Suma Bing naik pitam, "Siapakah Tuan ini sebenarnya?"
Kong Kun Lojin meraup jenggotnya dan menanggalkan ikat kepalanya. Sambil melipat kipasnya, ia tertawa terbahak-bahak, "Buyung, siapa aku?"
Suma Bing tidak tahan lagi menahan rasa geli. Ternyata orang di hadapannya bukan lain adalah Si Maling Bintang. Siang Siau Hun pun tertawa terpingkal-pingkal hingga perutnya mulas.
"Cianpwe, bagaimana kau bisa berubah menjadi Kong Kun Lojin?"
"Hehehe, Kong Kun Lojin sudah meninggal enam puluh tahun lalu. Dalam dunia persilatan, kurasa hanya sedikit yang masih mengenali wajah aslinya. Karena terpaksa, aku menggunakan akal licik ini."
"Locianpwe," seru Siang Siau Hun, "Agaknya kau sering bermain samaran. Dari mana kau mendapatkan perlengkapan itu secepat ini?"
"Budak ayu, tak perlu mengocokku. Perlengkapan ini kupinjam dari patung pemujaan Cukat Siansing di biara tak jauh dari sini. Tentang jenggot panjang ini? Hahaha, kupinjam dari patung Ui Tiong, jenderal perang termasyhur zaman Sam Kok!"
Siang Siau Hun tertawa tiada henti, dan Suma Bing pun merasa lega.