Chapter 79
Kata si Maling Bintang, Si Ban Cwan: "Mari kita melanjutkan perjalanan." Wajah Suma Bing berubah sungguh-sungguh, sahutnya: "Tidak!" "Ha, tidak! Apa maksudmu?" "Aku seorang laki-laki, mana bisa aku ingkar janji terhadap Si Tiau Khek?" Seketika lenyap seri tawa Siang Siau Hun, kini wajahnya berganti penuh kesedihan.
Si Maling Bintang menjadi gugup, teriaknya: "Buyung, Bwe Hwa Hwe takkan puas sebelum merenggut jiwamu. Kepandaian Si Tiau Khek mungkin masih lebih unggul dari Bu Lim Su Ih. Toh mereka hanya menerima perintah orang lain. Maka kepergianmu ini, mana bisa kau kembali dengan masih tetap bernyawa. Apa kau tidak berpikir bahwa kau sendiri memikul tugas berat penuntutan balas dendam kesumat keluarga dan suhumu, lalu kenapa kau memandang jiwamu sedemikian murah..."
Suma Bing tertawa getir, sahutnya: "Tapi wanpwe tidak mungkin mengingkari janji." "Apa kau benar-benar harus pergi?" "Ya, mungkin di sana aku dapat memecahkan tabir rahasia Bwe Hwa Hwe mengapa selalu mengejar-ngejar jiwa wanpwe!" "Sudah tentu dapat kau bongkar rahasia itu, tapi kau juga harus mengorbankan jiwamu sendiri sebagai imbalannya!" "Itu belum tentu!" "Engkoh Bing," suara Siang Siau Hun gemetar, "Apa kau benar-benar hendak masuk ke dalam jebakan musuh?" "Adik Hun, maafkanlah kesukaranku ini, kuharap kelak dapat bertemu lagi!" "Tidak, kau tidak boleh pergi. Engkoh Bing, aku tak bisa hidup tanpa kau..." Air mata Siang Siau Hun akhirnya mengalir dengan deras membasahi kedua pipinya.
Si Maling Bintang juga menahan keperihan hatinya, ujarnya: "Buyung, menuntut balas, mencari ibumu, dan mencuci bersih nama perguruan, apa kau masih ingat akan semua tugas itu?" Sejenak Suma Bing tertegun melongo, lalu sahutnya dengan penuh tekad: "Cianpwe, tidak bisa tidak, aku harus memenuhi kepercayaan orang!" "Hm, kepercayaan! Kalau kau dapat memenuhi kepercayaan orang, apa kau sudah membayangkan akan akibatnya?" Tiba-tiba Siang Siau Hun menubruk maju memeluk Suma Bing kencang-kencang, serunya: "Engkoh Bing, berjanjilah kau tidak akan pergi!"
Kulit wajah Suma Bing berkerut-kerut sebentar, secepat kilat sebuah jarinya menutuk jalan darah Hek Tiam Hiat, lalu perlahan-lahan membaringkannya di atas tanah. Ia berkata kepada si Maling Bintang: "Cianpwe, setelah aku pergi, harap bebaskanlah jalan darahnya, maaf aku minta diri!" Habis berkata, tubuhnya berkelebat menghilang. Saking gusar dan dongkol, si Maling Bintang membanting-banting kaki dan melotot matanya, mulutnya mengoceh tak karuan. "Sesat, sesat! Sifat-sifat sesat dari Kho Lo Sia semua sudah diturunkan kepada bocah tak genah ini..."
Dalam pada itu, belum Suma Bing mencapai jarak tiga li, benar juga, jauh-jauh terlihat Si Tiau Khek tengah berlarian balik. Agaknya mereka sudah merasa kena dikibuli bahwa Kong Kun Lojin itu sebenarnya adalah palsu. Segera ia menghentikan langkah. Berbareng Si Tiau Khek mengeluarkan suara kaget dan heran, Heng Si Khek, tertua dari mereka, segera menyeringai seram, katanya: "Suma Bing, hampir saja kita berempat kena dikibuli. Hehehe, pintar juga si Maling Tua itu bermain sandiwara."
Suma Bing mencemooh dingin, sahutnya: "Aku, Suma Bing, selamanya menepati apa yang pernah kuucapkan. Mari berangkat, bawa aku menuju ke Bwe Hwa Hwe!" Ucapan Suma Bing ini agaknya di luar dugaan Si Tiau Khek. Sejenak mereka melongo, lalu Heng Si Khek membuka kata: "Gagah benar, mari ikut!" Lima bayangan manusia dengan kecepatan bagai angin lesus berlarian menuju ke depan sana.
Begitulah selama sehari semalam mereka berlarian melalui alas pegunungan dan jalan-jalan sempit yang jarang dilalui manusia. Pada hari ketiga, pagi-pagi benar, tibalah mereka di depan sebuah lembah yang sempit. Baru saja mereka menancapkan kaki, harum kembang bunga Bwe yang sepoi-sepoi dibawa angin merangsang hidung. Setelah berputar-putar dalam lembah sempit itu, sampailah mereka di depan sebuah rimba pohon Bwe. Sedemikian lebat dan luasnya hutan pohon Bwe ini, agaknya berlapis-lapis tanpa ujung pangkalnya.
Diam-diam Suma Bing membatin: Serasi benar nama Bwe Hwa Hwe dengan tempat ini. Apakah mungkin markas besar Bwe Hwa Hwe berada di dalam lembah hutan pohon Bwe ini? Tengah Suma Bing berpikir-pikir ini, terdengar Heng Si Khek berkata: "Sudah sampai." "Apa markas besar Bwe Hwa Hwe dibangun dalam lembah sempit ini?" "Tidak salah, di ujung hutan pohon Bwe inilah!" Si Tiau Khek berempat membuka jalan di depan, terus memasuki hutan pohon Bwe itu. Sejenak Suma Bing ragu-ragu. Akhirnya dia mengikuti juga sambil membusung dada dan memasang mata dengan waspada. Justru yang mengherankan, kalau tempat ini adalah letak markas besar Bwe Hwa Hwe, mengapa tidak kelihatan bayangan manusia? Suasana dalam hutan ini sedemikian sunyi senyap menyeramkan.
Tidak lama kemudian, setelah belok-belok beberapa kali, mendadak Suma Bing kehilangan bayangan Si Tiau Khek. Mereka menghilang begitu saja tanpa keruan parannya. Karuan Suma Bing menjadi gugup dan terkejut. Sebat sekali ia kembangkan ilmu gerak tubuhnya, selulup timbul di antara lebatnya pohon-pohon bunga Bwe. Namun, sekian lama dia berkeliaran sampai keringat membanjir keluar, sekelilingnya masih gelap pekat. Hutan bunga Bwe ini agaknya tak berujung pangkal. Saking gugup, segera dia melompat ke atas sebuah pohon, di mana matanya lepas memandang empat penjuru angin adalah pohon bunga Bwe melulu, sampai bayangan lembah sempit dari mana tadi dia masuk pun sudah menghilang entah di mana.
Kiranya itulah sebuah barisan! Baru sekarang Suma Bing tersadar bahwa dirinya telah terjebak masuk jaringan musuh yang aneh ini. Kalau tidak mengenal inti perubahan barisan ini, seumpama berlarian ubek-ubekan sampai mati juga akan sia-sia belaka. Saking kewalahan, akhirnya dia turun kembali dan duduk di bawah sebuah pohon, dengan tenang dia berpikir mencari akal untuk meloloskan diri dari kurungan barisan ini. Tapi sedikit pun dia tidak kenal akan aturan barisan ini. Pikir punya pikir, otaknya semakin bebal. Sungguh dia tidak habis mengerti mengapa Si Tiau Khek memancingnya dan mengurung dirinya ke dalam barisan ini? Kalau toh tempat ini sudah termasuk kekuasaan Bwe Hwa Hwe, itu berarti dirinya sudah menepati janjinya. Mau datang atau pergi sudah terserah kepada kehendaknya sendiri, akan tetapi dirinya tak mungkin dapat meloloskan diri.
Sang waktu berjalan dengan cepatnya. Bagai binatang jalan yang terkurung dalam kerangkeng, demikian juga keadaan Suma Bing, kakinya terus melangkah tanpa arah tujuan yang menentu. Sekonyong-konyong tidak jauh di depannya sana berkelebatan muncul beberapa bayangan manusia. Yang terdepan adalah seorang pemuda berwajah culas; sekali pandang Suma Bing lantas mengenalinya, itulah Ketua Bwe Hwa Hwe, Chiu Thong. Di belakangnya mengikuti Si Tiau Khek dan pelindungnya, Ma Siok Ceng.
Sontak berkobar hawa amarah Suma Bing, sambil mendengus dingin, segera ia menubruk maju. Sebat sekali Si Tiau Khek berpencar dari dua jurusan, masing-masing ulurkan sebuah tangan melancarkan pukulan. Empat gelombang angin pukulan dingin segera memapak kedatangan Suma Bing, kontan tubuh Suma Bing terpental balik ke tempatnya. Terdengar Ketua Bwe Hwa Hwe, Chiu Thong, menyeringai iblis: "Suma Bing, menyerah saja, seumpama kepandaianmu setinggi langit juga percuma." "Chiu Thong," teriak Suma Bing gusar, "Kau hendak berbuat apa kepada diriku?" "Tidak lama lagi kau akan tahu sendiri!"
Seorang wanita ayu molek bak bidadari muncul dengan langkah lenggang-lenggok dari belakang Chiu Thong. Serta-merta berdetak jantung Suma Bing, kecantikan wanita setengah umur ini benar-benar baru kali ini dilihatnya selama hidup. Chiu Thong dan anak buahnya segera menyingkir ke samping, terus membungkuk memberi hormat dan berseru menyapa: "Menghadap hormat kepada Ibu Guru." "Jangan banyak peradatan!" Lagi-lagi tergetar perasaan Suma Bing, kiranya wanita ayu setengah umur ini adalah guru dari Ketua Bwe Hwa Hwe, Chiu Thong. Lalu siapakah gurunya? Benar, tentu yang pernah dikatakan oleh Ketua Bwe Hwa Hwe sendiri sebagai 'dia orang tua' itulah...
"Mohon Ibu Guru memberi petunjuk?" "Bawa kembali ke markas, biar suhumu sendiri yang menyelesaikannya!" "Terima perintah!" seru Chiu Thong, lalu ia berpaling kepada Si Tiau Khek dan berkata lagi: "Harap kalian berempat turun tangan meringkusnya!" Sikap dan tingkah laku Si Tiau Khek agaknya takut-takut menghadapi wanita setengah umur itu, berbareng mereka mengiakan. Lalu dari jurusan yang berlainan serempak menubruk ke arah Suma Bing, delapan cakar kurus kering bagai kilat mencengkeram datang.
Sekali berkelebat secara menakjubkan, Suma Bing lolos dari kurungan cengkeraman bayangan cakar musuh-musuhnya. Gerak-gerik Suma Bing yang hebat ini membuat Ketua Bwe Hwa Hwe dan Ma Siok Ceng berubah air mukanya. Demikian juga wanita ayu setengah umur itu menegakkan alisnya dan berdiri kesima. Begitu menubruk tempat kosong, gesit sekali Si Tiau Khek melompat mundur lalu menerjang kembali. Berulang-ulang Suma Bing unjuk kegesitan tubuhnya, sambil berkelit kedua tangannya tidak tinggal diam diayun berulang-ulang, maka Cincin Iblis yang dikenakan tengah jarinya itu segera memancarkan sinar berkilauan. Di tengah seruan kejut dan ketakutan, tali panjang di leher Bau Bong Khek sudah terpapas jatuh, karuan semangatnya serasa terbang ke awang-awang.
"Mundur semua!" suara perintah dengan nada yang nyaring merdu mengandung kewibawaan yang menciutkan nyali. Bergegas Si Tiau Khek melompat mundur sambil membungkuk dengan tubuh gemetar. Wanita ayu setengah umur maju dua langkah, dua bola matanya yang bening indah menjalari seluruh tubuh Suma Bing. Entah karena wanita setengah umur ini terlalu cantik rupawan, atau kedua matanya itu mengandung kekuatan sihir, Suma Bing yang biasanya bersikap dingin keras kepala itu kini ternyata terlongong-longong, semangatnya seakan-akan melayang-layang, tanpa terasa ia menundukkan kepala tak berani beradu pandang dengan orang. Tiba-tiba Suma Bing merasa pandangannya kabur, tahu-tahu sebuah jari yang putih halus dari wanita cantik itu sudah menyelonong hendak mencengkeram dadanya. Dalam kagetnya serta-merta timbul reaksinya, sebat sekali kakinya menggeser lima kaki jauhnya.