Chapter 80
Gerak tubuh kedua belah pihak sedemikian cepat, benar-benar hebat dan mengagumkan.
Terlihat bayangan berkelebat. Untuk kedua kalinya, wanita ayu setengah baya itu melancarkan serangan ke arah Suma Bing. Cara dia menyerang sangat aneh dan ganas, jarang terlihat ilmu semacam ini di kalangan Kangouw.
Dingin perasaan Suma Bing menghadapi serangan yang menakjubkan ini. Dengan mengandalkan gerak kelit dari *Bu siang sin hoat* yang sangat ampuh, dia selalu lolos dari marabahaya. Jika tidak diukur dari kepandaiannya, tentu dirinya takkan mampu bertahan satu jurus saja.
Tanpa terasa, wanita ayu itu berseru memuji, "Ringan tubuh yang hebat!" Sambil berseru, tiba-tiba pergelangan tangannya disentakkan; sebuah selendang warna merah sepanjang dua tombak sudah dicekal di tangannya.
Melihat wanita itu mengeluarkan selendang senjatanya, Ketua Bwe Hwa Hwe dan anak buahnya segera bergegas mundur sejauh tiga tombak.
Hati Suma Bing berdebar tak menentu. Tampaknya wanita ini hendak menunjukkan kepandaian aslinya. Baru saja pikiran itu terlintas, bayangan merah berkelebat di depan matanya bagai seekor naga hidup yang langsung menyapu ke arah tubuhnya. Tiga tombak di sekitar tubuhnya terkekang oleh kekuatan tenaga sapuan selendang merah itu.
Ciut dan merinding tubuh Suma Bing. Beruntun dua kali dia berkelit sejauh tiga tombak; kini dirinya sudah melampaui beberapa batang pohon bunga Bwe. Sekonyong-konyong dia kehilangan bayangan musuh. Pada saat dia melengak heran, secarik angin dingin melesat tiba dari arah belakang.
Baru saja dia hendak berkelit, agaknya sudah terlambat. Tiba-tiba pinggangnya terasa linu, tubuhnya menjadi limbung, dan pada saat itulah dia merasakan pergelangan tangannya sudah dipegang oleh musuh. Terasa pula tubuhnya tergetar, lantas hilanglah seluruh tenaganya.
Wanita ayu itu memandang wajah Suma Bing lekat-lekat. Timbul sebuah mimik aneh pada wajahnya yang rupawan, namun hanya sekejap saja lantas lenyap.
"Bawa kembali ke markas!"
*Sitiaukhek* serempak mengiyakan. *Hengsikhek* segera tampil ke depan menotok beberapa jalan darah Suma Bing, terus dijinjing dan dikempit di bawah ketiaknya. Mereka mengikuti wanita itu memasuki hutan lebat. Pada saat itu juga, Suma Bing kehilangan kesadarannya.
Waktu Suma Bing siuman kembali, ia merasakan dirinya berbaring di dalam sebuah kamar yang dihias sedemikian mewah. Di tengah ruang besar terdapat meja dan kursi besar terukir indah yang terbuat dari kayu cendana. Di atas kursi besar itu duduk seorang pria dan seorang wanita.
Pria itu berumur empat puluhan, berpakaian sebagai sastrawan, dan berwajah gagah. Sedangkan wanita itu adalah wanita setengah baya yang dipanggil sebagai ibu guru oleh ketua Bwe Hwa Hwe.
"Suma Bing, bangunlah dan jawab pertanyaan!" Bergegas Suma Bing bangkit berdiri, matanya nanap memandang laki-laki itu.
Seringai laki-laki tersebut mengandung kelicikan, lalu bertanya, "Kau inikah murid Sia sin Kho Jiang?"
"Benar!"
"Apa benar Kho lo sia sudah mati?" Suma Bing menjawab dengan mendengus.
"Jadi kau sudah diangkat sebagai ahli warisnya?"
"Tidak salah!"
"Selain kau, apakah Kho lo sia mempunyai murid lainnya?"
Timbul rasa curiga dalam benak Suma Bing. Siapakah laki-laki ini? Untuk apa dia menyelidiki keadaannya sampai serumit itu? Berulangkali Bwe Hwa Hwe mengejar dan hendak membunuh dirinya, tentu semua itu keluar dari kehendak pria ini, tapi untuk apa? Karena pikirannya itu, segera ia membalas bertanya, "Siapakah Tuan ini?"
"Nanti kau akan tahu, sekarang kau jawab dulu pertanyaanku!"
"Aku menolak!"
"Jawablah!"
"Untuk apa Tuan menanyakan semua itu?"
"Hehehe, Suma Bing, kuharap kau tahu diri. Apa sebelum ajal, kau hendak merasakan siksaan jasmaniah yang mengerikan?"
Mendengar ancaman ini, berkobar darah Suma Bing. Matanya menyala, semprotnya bengis, "Siapa kau sebetulnya?"
Timbul seringai sadis pada wajah laki-laki itu, seolah tak terjadi apa-apa ia berkata, "Sudah kukatakan nanti sebentar kau akan tahu. Coba katakan, dua puluh tahun yang lalu selain kau, apakah Kho lo sia menerima murid lainnya?"
Suma Bing semakin naik pitam. Sambil menggeram gusar, tangannya diangkat terus menyerang.
"Hehehehehe..." Kedua bola mata Suma Bing melotot besar hampir mencelat keluar. Perlahan tangannya menjulai turun tanpa bertenaga lagi; baru sekarang dia sadar bahwa ilmu silatnya kiranya sudah lenyap sama sekali.
Laki-laki itu berkata lagi, "Kau mau katakan tidak?"
"Tidak!"
"Baik, jika tidak kau katakan ya sudah, sekarang biar kau melihat sendiri kepandaianku." Sembari berkata, perlahan ia bangkit dari tempat duduknya. Tangannya diayun, lantas memancarlah secarik sinar merah marong melesat keluar ke arah pintu ruangan besar.
Kontan Suma Bing merasakan arus hawa panas merangsang lewat dari samping tubuhnya. Terdengarlah dentuman dahsyat disusul hidungnya dirangsang bau hangus; rupanya sepasang pintu besi ruangan itu sudah hangus terbakar menjadi abu dalam sekejap mata.
Dalam kagetnya, Suma Bing berteriak, "Kiu yang sin kang!"
Saking puas dan bangga, laki-laki itu mendongak dan tertawa gelak-gelak, "Benar, begitulah batas kedahsyatan dari *Kiu yang sin kang*. Suma Bing, untuk melatih sampai tingkatanku ini, seumpama Kho lo sia sendiri juga harus melatihnya sampai seratus tahun lamanya. Tentang kau? Hahahahaha!"
"Siapakah kau sebenarnya?" bentak Suma Bing.
"Aku? Hitung-hitung masih termasuk Suhengmu!"
"Kau... kau... kau ini Loh Cu Gi?"
"Benar, akulah Loh Cu Gi!"
Suma Bing terhuyung tujuh delapan langkah, seluruh tubuhnya berkelojotan, raut wajahnya berkerut-kerut kekejangan. Tidak kuat lagi, mulutnya mengoak lebar menyemburkan darah segar.
Sebenarnya usia Loh Cu Gi sudah mencapai enam puluhan, tapi raut wajahnya masih menunjukkan ketampanan laki-laki berusia empat puluhan. Dari sini dapatlah diukur bahwa latihan *Lwekang*-nya agaknya sudah mencapai titik kesempurnaan.
Kepala Suma Bing berdengung, matanya beringas menatap musuh besarnya ini. Dendam kesumat dan rasa kebencian yang menyala-nyala merangsang dalam aliran darahnya. Ingin rasanya saat itu juga ia melimpahkan seluruh rasa kebenciannya, namun tenaganya hilang; tubuhnya gemetar dan basah kuyup oleh keringat dingin.
Loh Cu Gi, musuh besar yang setiap saat selalu terbayang dalam ingatannya, ternyata adalah orang yang memegang peranan penting di balik layar orang-orang Bwe Hwa Hwe.
Bergantian terbayang keadaan suhunya yang merana dengan badan cacat hingga akhirnya meninggal dengan mengenaskan. Keadaan ibunya yang hampir menjadi gila setelah diperkosa dan harus kehilangan seorang putranya. Akhirnya terbayang juga kematian ayahnya di bawah kepungan beratus manusia kejam yang mengeroyoknya. Lantas tercetus ucapan dari mulutnya, "Loh Cu Gi, binatang jalang, hendak kurobek dan kupotong-potong seluruh tubuhmu, kubakar tulang-tulangmu, dan kusebarkan ke mana-mana."
Loh Cu Gi tertawa seram, serunya, "Jadi kau hendak menuntut balas bagi Kho lo sia gurumu itu?"
"Benar, Suhu meninggalkan pesan untuk mencacah jiwamu."
"Apa kau mampu?"
"Jangan tergesa-gesa. Kukira kau tidak melupakan peristiwa di atas Puncak Kepala Harimau pada delapan belas tahun yang lalu, bukan?"
Berubah hebat wajah Loh Cu Gi, tubuhnya melenting bangun dan serunya gemetar, "Siapa kau?"
Sahut Suma Bing sambil mengertakkan gigi, "Akulah anak tunggal Suma Hong, orok kecil yang kau sapu masuk jurang. Kau tidak menyangka, bukan?"
Lagi-lagi berubah air muka Loh Cu Gi, mulutnya mengekeh tawa kegila-gilaan dengan nada yang mengandung nafsu kekejaman sadistis. Wanita ayu di sampingnya tampak menunjukkan rasa heran.
Suma Bing sudah mengangkat kedua tangannya hendak menyerang, namun sedetik itu ia urungkan tindakannya karena tenaganya sudah lenyap. Keadaannya seperti ayam jago yang tinggal menunggu saat untuk disembelih. Sinar matanya menyapu ke arah wanita ayu itu. Kalau bukan terjebak di dalam barisan, mengandalkan ilmu *Bu* tentu tak mudah wanita ayu ini dapat meringkus dirinya.
"Kalau aku tidak mati, pasti akan kubunuh kau juga," demikian janji Suma Bing dalam hati.
Setelah menghentikan tawanya, Loh Cu Gi berkata menyeringai, "Suma Bing, inilah yang dikatakan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa selalu mengabulkan keinginan pemujanya. Kau pasrah nasib saja!"
Bayangan kematian merangsang dan melingkupi perasaan Suma Bing. Dia insaf setelah dirinya terjatuh ke dalam cengkeraman Loh Cu Gi, tentu tiada harapan lagi untuk hidup. Maka teriaknya penuh kebencian, "Loh Cu Gi, kau binatang jalang, menjadi setan pun aku tidak mengampunimu."
"Anak keparat, kedua belah pintu itu menjadi contohmu; tinggal mengangkat tangan saja, segera kau tinggal setumpukan abu." Tak kuat Suma Bing menahan rangsang kegusaran, mulutnya mengoak menyemburkan darah segar kembali.
Loh Cu Gi menyeringai sadistis, perlahan kedua tangannya diangkat. Bola mata Suma Bing bagai butir kelereng yang hampir mencelat keluar, perlahan ujung matanya melelehkan air darah.
Pada saat menghadapi kematian ini, perasaan Suma Bing berangsur-angsur menjadi tenang. Berkelebat dalam pandangannya beberapa wajah gadis pemujanya, terakhir tatapannya terhenti pada bayangan seorang gadis ayu bak bidadari. Dia tidak lain adalah istrinya, Phoa Kin Sian. Serta-merta terunjuk senyum getir pada wajahnya, teringat olehnya bahwa Phoa Kin Sian sekarang sudah mengandung keturunannya.
Timbullah sepercik api pada detik-detik keputusasaannya ini; tak perlu khawatir kelak takkan ada orang yang menuntut balas baginya. Rona wajah Loh Cu Gi berubah tak menentu, sesaat ia ragu-ragu mengerahkan tenaganya ke arah kedua tangannya yang sudah terangkat tinggi itu.