Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 81

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 81

Sekonyong-konyong wanita ayu setengah umur itu berseru, "Apa kau benar-benar hendak membunuh dia?"

Raut wajah Loh Cu Gi berubah mengeras, matanya memandang liar, lalu menyahut, "Sudah tentu, apa kau hendak meninggalkan bibit bencana di kemudian hari?"

"Tapi apa kau sudah mempertimbangkan secara masak?"

"Apanya yang perlu dipertimbangkan?"

"Tokoh-tokoh lihai di belakangnya itu."

Daging di wajah Loh Cu Gi gemetar sebentar, lalu katanya, "Tokoh-tokoh lihai apa maksudmu?"

"Dia sudah terpukul masuk ke dalam jurang Lembah Kematian, namun kenyataannya dia masih hidup. Ilmu gerak tubuh dari *Bu siang sin hoat* yang dipertunjukkan itu, dan munculnya Panji Tulang Putih, kau harus memikirkan sebab musabab semua ini..."

"Tapi tidak bisa tidak, aku harus membunuh dia!"

"Kalau kau benar-benar membunuh dia, akibatnya..."

"Akibat apa?"

"Mungkin membawa bencana dan kenasiban bagi Bwe Hwa Hwe kita!"

"Apa mungkin...?"

"Kurung dia sementara waktu. Mungkin dengan jiwanya yang masih hidup, nilainya akan lebih berharga dari kematiannya!"

"Nilai apa?" Perlahan-lahan kedua tangan Loh Cu Gi yang terangkat itu diturunkan lagi. Agaknya kata "nilai" ini membawa pengaruh sangat besar dan memincut hatinya.

Dorna bejat yang telah dianugerahi sebagai tokoh silat nomor satu di seluruh jagat ini, agaknya masih belum puas dengan apa yang telah dicapainya pada saat itu. Cita-citanya yang terakhir adalah hendak bersimaharaja dan memerintah di seluruh kolong langit. Oleh karena itu, ucapan wanita ayu setengah umur ini benar-benar tepat mengenai lubuk hatinya.

Memang benar, jika di belakang punggung Suma Bing ada *Bu siang sin li*, Pek Kut Hujin, dan gembong-gembong silat lihai lainnya sebagai andalan. Dinilai dari kekuatan dan kemampuan Bwe Hwa Hwe pada saat itu, sedikit salah tindak memang mungkin bisa membawa bencana bagi pihaknya sendiri. Sebaliknya, kalau mengurung Suma Bing, dalam saat-saat yang menentukan mungkin ia bisa digunakan sebagai sandera. Memang nilai dari akal licik ini tidak akan terhitungkan.

"Plak, plok!"

Sesudah terdengar dua suara keplokan ini, terlihat Heng Si Khek, tertua dari Sitiau Khek, tersipu-sipu melangkah masuk ke ruangan.

"Cujin, entah ada perintah apakah?"

"Gusur anak jadah ini, masukkan ke dalam penjara di bawah tanah!"

Heng Si Khek segera mengiakan dengan hormat. Sekali jinjing, ia kempit Suma Bing di bawah ketiaknya terus berjalan keluar dari ruangan besar itu. Tak lama kemudian, dia memasuki Hutan Bunga Bwe yang penuh jebakan dan barisan itu. Tak lama kemudian, tibalah dia di depan sebuah gunung-gunungan palsu. Segera Heng Si Khek membentak keras, "Buka pintu!"

Dari tengah-tengah gunung-gunungan palsu itu, segera perlahan-lahan terbuka sebuah lubang yang gelap gulita. Dua orang laki-laki yang berwajah bengis menakutkan berseragam hitam sigap sekali melompat keluar dari lubang gelap itu. Mereka berdiri tegak dan hormat di kanan kiri, terus membungkuk memberi hormat kepada Heng Si Khek.

Kata Heng Si Khek penuh lagak, "Keadaan nomor tujuh bagaimana?"

Salah seorang berseragam hitam membungkukkan tubuh serta menjawab dengan hormat, "Tiada kesukaran apa-apa."

"Sekarang anak jadah ini menjadi nomor delapan?"

Kedua penjaga bengis berseragam hitam itu segera mengiakan.

"Nomor tujuh dan delapan ini bukan sembarang tahanan, kalian harus menjaga lebih ketat dan waspada, jangan sekali-kali kalian lalai menjalankan tugas!"

"Baik!"

"Tunjukkan jalan."

Kedua laki-laki berseragam hitam itu segera mengiakan dan memutar tubuh, terus memasuki lorong gelap itu. Heng Si Khek mengikuti di belakang mereka. Selama ini Suma Bing tidak mengeluarkan suara barang sekejap pun. Karena kehilangan tenaga, terpaksa dia pasrah pada nasib dan membiarkan saja apa yang hendak diperbuat atas dirinya.

Lorong gelap itu agaknya sangat panjang dan dalam, semakin lama hawa terasa dingin, basah, dan berbau apek. Setelah membelok satu tikungan, terlihat di atas dinding, di atas undakan batu yang menurun, tergantung sebuah pelita minyak yang menyinarkan cahaya redup.

Kira-kira sepeminuman teh kemudian, baru mereka tiba di sebuah ruangan batu yang besar. Dari cahaya pelita yang remang-remang, dapat terlihat beberapa pintu besi berjajaran. Agaknya tempat inilah yang mereka namakan sebagai penjara bawah tanah. Salah seorang berseragam hitam itu maju membuka sebuah pintu besi nomor empat dari deretan sebelah kiri. Enteng sekali Heng Si Khek membuang tubuh Suma Bing ke dalam ruang gelap di bawah sana.

"Bum!" Pintu besi yang tebal dan berat itu kembali ditutupkan. Mulai saat itu, Suma Bing merasakan hidup dalam dunia gelap yang menyerupai neraka.

Suma Bing memejamkan kedua matanya dan rebah di atas tanah yang lembab dan berbau apek. Saat mana terasa hatinya kosong melompong, tak terpikirkan apa pun juga dalam benaknya. Perasaannya seakan-akan sudah membeku, hanyalah keputusasaan dan khayalan saja yang merangsang sanubarinya. Entah sudah berselang berapa lama, terdengar suara ketokan yang berirama panjang menyadarkan dirinya dari lamunan dan khayalannya.

Sedemikian gelap pekat keadaan penjara itu sampai lima jari sendiri pun tidak terlihat. Tenaga dalam Suma Bing sudah lenyap, keadaannya tidak lebih seperti orang biasa. Dengan keadaannya saat itu, tak mungkin ia dapat melihat tegas keadaan sekeliling dirinya. Tapi suara ketokan itu terus bergema, lama-kelamaan menimbulkan rasa heran dan menarik hatinya.

Maka pelan-pelan dia bangkit berdiri dan mulai meraba-raba serta menggeremet maju. Kiranya kamar penjara itu lebarnya tidak lebih dari dua tombak, di mana tangannya menyentuh dinding terasa dingin dan licin penuh lumut. Di pojokan dinding sebelah dalam terdapat sebuah dipan, di atas dipan terdapat sebuah bantal dan kemol. Demikianlah dengan penuh semangat dia meraba-raba dan memperhatikan di mana letak asal suara ketokan itu.

Akhirnya diketemukan juga, ternyata suara itu datang dari sebuah celah-celah batu di atas dinding di mana terletak dipan itu. Didekapkan kupingnya di celah-celah batu itu, maka terdengar sebuah suara lemah tengah berkata, "Pesakitan nomor delapan, pesakitan nomor delapan. Apa kau dengar suaraku?"

Tanpa terasa berdetak jantung Suma Bing. Apa suara ini adalah pesakitan nomor tujuh yang dipesankan wanti-wanti oleh Heng Si Khek kepada penjaga-penjaga itu? Entah orang macam apakah pesakitan nomor tujuh ini. Karena rasa heran dan tertarik, tangannya juga mengetuk-ngetuk dinding dua kali, sambil mendekatkan mulutnya di celah-celah dinding batu lalu berseru, "Sudah dengar, siapakah Tuan ini?"

"Siapa kau?"

"Aku!" Sejenak Suma Bing ragu, lalu serunya, "Aku yang rendah, Suma Bing."

"Apa? Coba katakan sekali lagi." Suara itu terdengar gemetar penuh keheranan.

Tergerak hati Suma Bing, apa mungkin orang di sebelah itu mengenal dirinya? Maka katanya lagi, "Aku yang rendah, Suma Bing!"

"Suma Bing."

"Benar."

"Kau murid Sia Sin Kho Jiang?"

"Tidak salah!"

Suara itu kini berubah mengeluh bagai berputus asa, "Kau... bagaimana bisa terjatuh di tangan Bwe Hwa Hwe?"

"Siapakah Tuan ini?"

"Oh, aku... aku... saudara kecil, aku adalah Poh Jiang."

Tergetar seluruh tubuh Suma Bing, kejutnya luar biasa bagai mendengar guntur di tengah hari bolong. Bahwa Tiang Un Suseng Poh Jiang ternyata juga dikurung di dalam penjara di bawah tanah, mimpi pun dia tidak menduga sama sekali. Persahabatannya dengan Tiang Un Suseng sedemikian erat bagai saudara kandung sendiri. Karena hubungannya dengan Sucinya, Sim Giok Sia, maka dia hapus seluruh permusuhan gurunya dengan Bu Lim Sip Yu.

Wi Thian Chiu Poh Jiang karena patah hati lantas dia mengganti nama julukannya menjadi Tiang Un Suseng. Demikian juga Sim Giok Sia karena mencintainya, lantas dikurung oleh ibunya, yaitu Setan Barat, selama tiga puluh tahun. Sepasang kekasih yang mengalami penuh derita ini akhirnya bertemu kembali setelah tiga puluh tahun kemudian. Terkabul lah cita-cita mereka bersama, meski masa remaja mereka sudah silam, namun kebahagiaan yang terlambat datang ini masih tetap berharga. Sungguh tidak diduga...

Suma Bing tidak membayangkan lebih jauh, "Engkoh Poh!" suaranya lirih dan serak.

"Saudara kecil, peristiwa apa yang telah kau alami?"

Suma Bing mengertak gigi, desisnya, "Tidak beruntung, aku terjatuh di tangan Loh Cu Gi..."

"Loh Cu Gi?"

"Benar!"

"Eh, bagaimana penjelasannya? Bukankah ini tempat penjara di bawah tanah dari Bwe Hwa Hwe?"

"Justru Loh Cu Gi adalah orang yang memegang peranan di belakang layar dalam Bwe Hwa Hwe?"

"Oh."

"Engkoh Poh, kau..."

"Ada orang datang, nanti kita bicarakan lagi, kau rebahlah, pura-pura tidak terjadi sesuatu apa!"

Suma Bing menurut dan rebah di atas dipan. Terdengar derap langkah kaki berhenti di depan pintu penjara, lalu terbukalah sebuah lubang persegi di atas pintu besi itu.

"Suma Bing, terimalah makananmu."

Untuk dapat bicara lagi dengan Tiang Un Suseng, terpaksa Suma Bing tekan gelora amarah hatinya. Ogah-ogahan ia sambuti makanan itu.

"Brak." Lubang persegi itu tertutup lagi.

Tidak lama kemudian suara ketokan itu terdengar lagi. Bergegas Suma Bing kembali berdiri di celah-celah dinding batu itu, ujarnya, "Kakak Poh, bagaimanakah pengalamanmu?"

"Kurang lebih satu bulan kemudian sejak berpisah dengan kau, kami kena teringkus oleh Su Tiau Khek. Kalau menurut katamu tadi bahwa Loh Cu Gi adalah dalang di belakang layar dari semua peristiwa ini, maka aku tidak perlu heran. Aku paham mengapa mereka hendak menawan kamu. Naga-naganya di antara kawan-kawan dari Bu Lim Sip Yu yang meninggal secara aneh itu pasti perbuatan dari Bwe Hwa Hwe."

"Kenapa mereka tidak segera membunuh kau, malah mengurungmu di sini?"

"Kau harus ingat sebutan nama julukanku dulu?"

"Wi Thian Chiu?"

"Benar, Bwe Hwa Hwe menghargai kepandaian ilmu ketabibanku. Mereka hendak memaksa aku menyerah dan mengabdi diri kepada Bwe Hwa Hwe!"

"Apa kau sudi?"

"Saudara kecil, apa kau anggap aku, Poh Jiang, orang semacam itu?"

"Poh Heng, lalu bagaimana Suci Sim Giok Sia..."

"Dia..."

Perasaan tak enak segera merangsang hati Suma Bing, tanyanya menegas dengan suara gemetar, "Bagaimana dia sebenarnya?"

Tiang Un Suseng menggeram dan mengertak gigi, sahutnya, "Dia sudah mati."

"Sudah mati?"

"Benar, dia sudah mati!"

Tubuh Suma Bing bergetar dan mengejang, pandangannya menjadi gelap dan bumi tempat dia berpijak terasa berputar-putar, hampir-hampir dia tidak kuat menunjang tubuhnya sendiri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment