Chapter 82
Budi yang diterimanya dari Sia sin Kho Jiang, suhunya, terlalu besar. Maka, besar hasratnya hendak membalas kebaikan budi suhunya itu, namun ternyata Sim Giok sia sudah meninggal.
"Bagaimana cara kematiannya?"
"Mati di sampingku!"
"Di sampingmu?"
"Benar, dia juga tertawan bersamaku dan terkurung dalam penjara ini!"
"Yang kutanyakan adalah cara kematiannya?"
"Bunuh diri."
"Apa? Bunuh diri? Apa kau diam saja melihat dia bunuh diri?"
"Waktu kami tertawan, masing-masing terluka berat, bahkan tenaga dalam kami dilenyapkan sebelum dikurung di kamar batu ini. Karena terlalu gusar dan darah merangsang jantung, aku jatuh pingsan. Karena kurang teliti, dia menyangka aku sudah mati, maka..." Bercerita sampai di sini, Tiang un Suseng sudah terisak dan tidak dapat mengeluarkan suara lagi.
Darah Suma Bing terasa mengalir semakin cepat, dadanya terasa sakit, giginya gemeratak, dan suaranya penuh kemurkaan, "Maka bagaimana?"
"Dia... mati menumbukkan kepalanya di dinding batu!"
Dua butir air mata perlahan meleleh di pipi Suma Bing. Terdengar Tiang un Suseng bicara lagi, "Saudara kecil, dapatkah kau bayangkan betapa sedih keadaanku saat itu? Aku ingin mengejar kepergiannya, tapi sebelum sakit hati ini terbalas, mana aku bisa mati tenang? Maka terpaksa aku harus hidup. Sekarang, saudara kecil, untung Tuhan mengaturmu sampai tiba di tempat ini. Dapatlah terkabul keinginanku..."
"Keinginan apa?"
"Karena aku dan Sim Giok sia menderita dan hidup sengsara selama tiga puluh tahun dalam penjara, kita sudah mengorbankan masa remaja kita untuk cinta kita itu. Sekarang dia telah mati, bagaimana aku bisa meninggalkan dia? Saudara kecil, pembalasan dendam ini kuwakilkan kepadamu!"
Lagi-lagi timbul rasa kejang dan merinding di seluruh tubuh Suma Bing. "Engkoh Poh, kau..."
"Selama hidup ini aku tidak akan meninggalkan kamar penjara ini lagi."
"Kau... tindakanmu ini..."
"Saudara kecil, kehadiranmu di sini adalah keajaiban. Kalau orang lain berharap hidup di ambang kematiannya, sebaliknya aku berdoa supaya dapat mati di tempat ini juga. Kalau kau tidak sampai dipenjara di penjara bawah tanah ini, kematianku pasti akan sia-sia."
"Poh heng, apa kau beranggapan aku bisa lolos keluar dengan masih hidup?"
"Sudah tentu!"
Jawaban tegas ini membuat Suma Bing tertegun, "Mengapa bisa pasti?"
"Karena aku sudah merencanakan cara melarikan diri!"
"Rencana?"
"Benar!"
"Kenapa kau sendiri tidak mau lolos keluar menurut rencanamu itu?"
"Rencanaku ini adalah untuk orang lain, bukan untukku sendiri!"
"Sudah kukatakan, selama hidup ini aku tidak akan meninggalkan kamar penjara ini. Aku ingin pergi menyusul Sim Giok sia."
"Poh heng, kata-katamu ini keterlaluan!"
"Saudara kecil, kau tak perlu banyak bicara lagi. Sekarang biar kujelaskan rencanaku. Satu jam kemudian kau akan dapat melihat matahari..."
"Tidak mungkin! Lwekangku sudah amblas sama sekali."
"Aku sudah tahu! Sudah merupakan tradisi bahwa semua pesakitan yang dikurung di sini pasti dilenyapkan tenaganya. Tapi, saudara kecil, ingat, nama Wi Thian chiu tidak kuperoleh secara sembarangan. Kepandaian cara menotok nadi dan menyumbat tenaga bagiku bukan hal yang menyukarkan. Sekali angkat tangan saja, segera bisa kupulihkan tenagamu."
Sejenak Tiang un Suseng berhenti, lalu melanjutkan, "Aku sendiri juga mengalami penotokan jalan darah sehingga hilang tenagaku. Tapi tidak sampai setengah jam, aku sudah dapat membebaskan diri. Landasan kamar batu ini tidak dalam. Menggunakan waktu selama sebulan, aku bekerja keras menggali sebuah jalan tanah yang menembus keluar dari barisan pohon bunga Bwe. Untuk meloloskan diri, segampang membalikkan tangan."
Suma Bing hampir tidak percaya, "Apa betul?"
"Saudaraku, masakah aku masih berkelakar?"
"Jadi kau sebelumnya sudah tahu bahwa aku bakal terkurung di sini?"
"Tidak. Aku hanya mengharap dapat menolong seorang kawan. Maka, diam-diam telah kubuat sebuah pintu rahasia di antara dinding kamar kita ini. Dicelah-celah batu inilah letaknya. Sungguh tak terduga, setelah rencanaku selesai, orang pertama yang terkurung di kamar sebelah ini ternyata adalah kau. Bukankah ini suatu keajaiban?"
Suma Bing berdiri terlongong-longong. Celah batu yang semula berlubang kecil itu perlahan melebar hingga sebesar dua kaki persegi. Sebuah tangan terulur keluar. Sambil berjingkrak girang, Suma Bing menggenggam tangan itu erat. Tanpa mengeluarkan banyak tenaga, sekejap kemudian ia telah tiba di kamar penjara nomor tujuh. Mereka berpelukan dengan haru.
Secepat kilat, Tiang un Suseng menotok tujuh jalan darah besar dan dua belas jalan darah kecil Suma Bing. Seketika, Suma Bing merasakan sendi-sendinya berkeretak, urat nadinya bergetar, dan dalam sekejap mata, seluruh kekuatannya pulih.
"Pintu rahasia jalan tanah itu ada di bawah dipan," ujar Tiang un Suseng.
"Poh heng, mari kita pergi bersama!" ajak Suma Bing.
"Tidak!"
"Mengapa kau sedemikian kukuh?"
"Ini bukan masalah kukuh, Adikku. Pengorbanan suci Sim Giok sia terlalu besar bagiku. Masa aku masih begitu melit untuk hidup merana?"
Tiba-tiba terdengar langkah berat mendekat. Tiang un Suseng menjadi gugup, "Lekas berangkat!"
"Poh heng, aku tidak tega meninggalkanmu di kamar neraka ini!"
Saat itu, derap langkah sudah sampai di luar pintu. Tiang un Suseng menekan suaranya, "Suma Bing, kebandelanmu ini akan mengakibatkan kita berdua mati sia-sia. Kalau tiada aku yang melindungi dan membendung serbuan mereka, kau takkan dapat keluar bebas dari jalan tanah ini. Suma Bing, jadi setan pun aku akan membencimu!"
'Brak!' Jendela kecil di atas pintu besi terbuka, disusul seruan kaget, "Hai, di mana tawanan nomor delapan?"
Sebuah suitan panjang melengking. Suma Bing mengertakkan gigi, "Kubunuh dulu para anjing ini..."
"Kau sudah gila! Lekas berangkat, kalau tidak, terpaksa kubunuh kau!"
Terdengar pintu kamar nomor delapan terbuka, disusul seruan, "Kamar nomor tujuh, sudah melubangi dinding!" Sebuah kepala manusia muncul dari lubang dinding, namun sebuah tangan Suma Bing melayang, seketika kepala itu hancur berkeping-keping.
Mendadak Tiang un Suseng mengerahkan tenaga, mendorong tubuh Suma Bing ke kolong dipan, "Suma Bing, kalau kau menggagalkan rencanaku, menjadi setan pun aku tidak akan mengampunimu!"
Dalam keadaan terpaksa, Suma Bing merayap masuk ke dalam lubang. Di saat yang sama, pintu besi kamar nomor tujuh terbuka. Beberapa orang bertubuh tegap menerjang masuk. Seorang di antaranya membentak Tiang un Suseng, "Mana tawanan nomor delapan?"
"Mana aku tahu?"
"Keparat, agaknya kau sudah bosan hidup!"
Orang itu mengulurkan cakar hendak mencengkeram dada Tiang un Suseng. Dengan secepat kilat, Tiang un Suseng menggerakkan tangannya, membuat orang terdepan itu roboh dengan batok kepala hancur luluh.