Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 83

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 83

"Tenaganya sudah pulih kembali." Dibarengi dengan seruan yang gegap gempita, orang-orang itu serempak melancarkan serangan untuk mengurung Tiang un Suseng.

Tiang un Suseng sudah bertekad untuk mati; sedikit pun tidak takut lagi akan keselamatan jiwanya sendiri.

Sambil membentak bagai guntur, kedua tangannya bergerak dengan pukulan dahsyat menyapu ke depan. Seketika itu, dua orang di depannya tersapu roboh terguling.

Begitu berhasil merobohkan dua musuh, Tiang un Suseng segera mundur merapat ke dinding. Kedua tangannya masih bergantian menyerang musuh yang berani mendekat.

Akhirnya, tiga orang laki-laki tegap yang masih hidup lari terbirit-birit keluar kamar tahanan.

"Blang!" Pintu kamar tahanan itu tertutup dan dikunci dari luar.

Baru sekarang Tiang un Suseng dapat menghela napas lega. Wajahnya menunjukkan senyum kecut yang menyedihkan. Ia segera menutup lubang di bawah dipan; setelah semuanya diatur rapi, dalam waktu dekat pasti tidak mudah menemukan tempat rahasia ini.

Lalu, terdengar ia menggumam sedih, "Adik Sia, aku menyusulmu!" Begitu mengerahkan tenaga, dengan mudah saja jarinya sendiri amblas ke dalam jalan darah Tay-hiat di pelipisnya.

Demikianlah akhir riwayat hidup Tiang un Suseng, salah seorang dari Bu-lim sip-yu yang masih hidup.

Sepasang kekasih yang telah tergembleng dan kenyang merasakan penderitaan pahit getir percintaan akhirnya, meskipun telah memperoleh buah cinta yang mereka dambakan, hal itu hanya sekejap saja bagaikan asap dan khayalan belaka.

Sementara itu, dengan kemarahan yang meluap-luap, Suma Bing terus merangkak secepat-cepatnya menggunakan kaki dan tangannya. Ia bekerja mati-matian mengejar waktu untuk segera keluar dari lorong bawah tanah itu.

Kira-kira sepeminuman teh kemudian, selarik sinar cahaya menyorot masuk ke dalam lorong tersebut.

Melihat mulut gua sudah di ambang mata, semangat Suma Bing semakin berkobar. Merangkaknya kian dipercepat, tak lama kemudian sampailah ia di luar lorong kecil itu.

Setelah lolos dari renggutan maut, terasa lega dan bebaslah dirinya. Ia menghela napas panjang. Jiwa hidupnya ini telah diganti dengan kematian Tiang un Suseng.

Setelah menghela napas, matanya liar menyapu ke sekeliling. Ternyata, mulut lorong kecil itu memang benar berada di luar barisan pohon bunga Bwe. Letak mulut gua kecil itu tersembunyi di balik gundukan tanah yang terhalang oleh jajaran bunga Bwe yang tumbuh sangat lebat.

Terdengar Suma Bing mengertakkan gigi dan bicara seorang diri, "Suatu hari nanti, aku pasti menyapu bersih seluruh Bwe-hwa-hwe!" Pada saat itulah, mendadak terlihat puluhan bayangan orang berkelebatan datang.

Seketika timbul nafsu yang bergelora dalam benak Suma Bing: "Bunuh!"

Ia lupa bahwa dirinya baru saja lolos dari belenggu musuh, dilupakan pula bahwa tempat ia berada sekarang masih merupakan lingkungan kekuasaan Bwe-hwa-hwe.

"Ha, itulah dia di sana!" "Benar, segera kirim kabar!" Di tengah suara bentakan yang riuh rendah, puluhan orang itu serabutan berlari mendekat terus mengepung Suma Bing.

Terdengar suara suitan yang saling bersahutan semakin jauh dan jauh sekali. Agaknya pihak Bwe-hwa-hwe sudah mengetahui lolosnya Suma Bing, maka segera memberi tanda kepada semua anak buahnya dan pos-pos penjagaan supaya waspada, mencegat, atau mengejar Suma Bing.

Rasa kebencian Suma Bing kepada musuh-musuhnya sudah meluap. Saat itu, tidak teringat olehnya untuk melarikan diri, juga tidak terpikirkan bahwa kemampuannya sekarang masih bukan tandingan pihak Bwe-hwa-hwe. Yang terpikirkan dalam otaknya hanya hendak melampiaskan rasa benci dan dendam, yaitu membunuh.

Sinar matanya mencorong buas dan memandang liar meneliti musuh-musuhnya yang mengelilingi sekitar. Serta-merta para jagoan Bwe-hwa-hwe itu mundur ketakutan saat berpadu pandang dengan sinar mata Suma Bing.

Akhirnya terdengar suara bentakan Suma Bing yang menggelegar. Terlihat ia melancarkan jurus Liu-kim-hoat-ciok, salah satu jurus paling dahsyat dari ilmu Kiu-yang-sin-kang. Gelombang panas menghantam, kontan terdengar suara pekikan dan jeritan bersahut-sahutan; lima orang di hadapannya tumbang dan mati seketika dengan tujuh lubang panca indra mengeluarkan darah segar.

Sisa kawan-kawannya yang masih hidup mundur ketakutan, serasa semangat mereka sudah terbang ke awang-awang.

Setelah jurus pertama dilancarkan, di mana terlihat tangannya bergerak mengerahkan tenaga menuju ujung jari, seketika cincin iblis di jari tengahnya memancarkan sinar kemilau. Melihat gelagat yang membahayakan ini, para anak buah Bwe-hwa-hwe segera berputar hendak melarikan diri.

Namun, kecepatan gerak sinar kemilau itu lebih cepat. Sinar itu menyambar dan menyapu, lantas terjadilah hujan darah dan pekik kesakitan yang menggiriskan, memecahkan kesunyian. Dua di antaranya terpenggal batok kepalanya, dua yang lain terputus menjadi dua sebatas pinggang, yang lainnya banyak yang kehilangan kaki atau tangan, sedangkan yang tidak terluka berdiri kesima tak bergerak, kaki dan tangan terasa lemas tak bertenaga.

"Suma Bing, kejam benar perbuatan ini!" Disusul seruan nyaring tersebut, terlihat sebuah bayangan langsing melesat keluar dari rimbun pohon bunga Bwe. Bayangan orang yang mendatangi ini bukan lain adalah Ma Siok-ceng, salah satu pelindung dari Bwe-hwa-hwe.

Melihat kedatangan Ma Siok-ceng, nafsu membunuh Suma Bing semakin menebal. Ia membentak dingin, "Ma Siok-ceng, wanita jalang yang tidak tahu malu, sangat kebetulan kedatanganmu ini!"

Memang Ma Siok-ceng terkenal akan kecabulannya. Terhadap pemuda cakap dan ganteng di hadapannya ini, sampai mati pun ia tidak bakal melupakannya. Rasa takutnya terhadap kepandaian orang yang lihai luar biasa itu hilang, sambil bergenit ria ia berkata, "Suma Bing, sepuluh li di sekitar jebakan ini teratur rapi bagaikan gelagasi. Seumpama kau tumbuh sayap juga jangan harap dapat terbang keluar. Kalau kau tidak ingin mati, aku dapat menolongmu, tapi..."

"Tutup mulut! Dengar kataku, hari ini kau pasti mati!" Wajah Ma Siok-ceng berubah membeku, ia mendamprat, "Jangan kau tidak tahu kebaikan!"

"Serahkan jiwamu!" Di tengah bentakannya, tubuhnya berkelebat mengirim serangan. Ma Siok-ceng sudah pernah merasakan kelihayan gerak tubuh Suma Bing yang hebat, maka begitu mendengar Suma Bing membentak, luar biasa cepat tubuhnya melejit mundur dua tombak. Sangat untung sekali ia dapat menghindari serangan gebrak pertama ini, tapi wajahnya sudah berubah pucat ketakutan.

Begitu serangan pertama menemui kegagalan, Suma Bing mendengus keras, "Ma Siok-ceng, dapat kau menghindari dua kali seranganku lagi, biar hari ini kuampuni jiwa kotormu itu!" Baru saja suaranya lenyap, tubuhnya sudah berkelebat lagi bagai gerakan malaikat.

"Blum!" Jerit kesakitan terdengar. Terlihat Ma Siok-ceng terhuyung delapan langkah, mulut mungilnya terbuka menyemburkan darah segar, tubuhnya limbung hampir roboh.

Bu-siang-sin-hoat dikombinasikan dengan Kiu-yang-sin-kang; bisa dihitung dengan jari para tokoh silat pada zaman itu yang kuat bertahan dari serangan kilat ini. Apalagi Suma Bing bertekad bulat hendak melenyapkan jiwa musuhnya ini untuk melampiaskan kedongkolan hatinya.

"Sambutlah jurus kedua ini!" Jeritan panjang yang mendirikan bulu roma memecah kesunyian. Tampak tubuh Ma Siok-ceng terbang tiga tombak jauhnya, terus terbanting keras di atas tanah tanpa bisa bergerak lagi.

Lama kemudian, baru terlihat wajahnya yang terbenam di tanah itu perlahan-lahan terangkat tinggi dan kaku. Suaranya lemah tapi mengandung kebencian yang tak terperikan, "Su...ma Bing. Kau... kejam benar..." Wajah yang penuh noda darah dan kotoran tanah itu terkulai lagi menghadap tanah, melayanglah jiwanya.

"Bocah keparat, seratus kali kematianmu juga belum dapat melunasi dosamu ini!" Menyusul bentakan ini, terdengar kesiur angin dari lambaian pakaian orang.

Tak tertahankan lagi, berderak keras jantung Suma Bing saat matanya melihat beberapa bayangan manusia berbondong-bondong mendatangi dari berbagai penjuru. Yang tiba terlebih dahulu adalah Si-tiau-khek dan dua pemuda; kepandaian dua pemuda ini tidak di bawah Si-tiau-khek. Dalam sekejap itu, Suma Bing sudah terkurung dalam berlapis pagar manusia. Perbawa kepungan musuh-musuhnya ini benar-benar menciutkan nyali.

Heng-si-khek terkekeh-kekeh sekian lamanya, lantas berkata menyeringai, "Bocah keparat, hebat benar ya kau, dapat lolos dari penjara bawah tanah. Tapi, hehehe, tetap kau takkan dapat lolos!"

Cahaya mata Suma Bing bersinar tajam menyapu keempat penjuru, mulutnya terkancing rapat, dengan penuh kewaspadaan ia bersiaga menunggu sergapan musuhnya. Si-tiau-khek dan kedua pemuda itu masing-masing mengambil kedudukan di enam penjuru angin, mata mereka menatap tajam ke arah Suma Bing.

Sebenarnya, mengandalkan gerak aneh dari Bu-siang-sin-hoat, dengan mudah saja Suma Bing dapat meloloskan diri dari kepungan musuh-musuh ini. Tapi hakikatnya, ia tiada niat hendak melarikan diri begitu saja. Omongan ibu gurunya, "Setan Barat", yang disampaikan oleh bibinya, Ong Fong-jui, terngiang lagi di kupingnya: "...jangan kau melemahkan nama kebesaran dan ketenaran Lam-sia!"

Apalagi setelah diketahui bahwa Loh Cu-gi ternyata adalah sesepuh dari Bwe-hwa-hwe, terhadap setiap anggota Bwe-hwa-hwe lantas timbullah rasa permusuhan yang mendalam. Pada saat ketegangan semakin memuncak dan hendak terjadi penyabungan nyawa itulah, mendadak terdengar sebuah tawa dingin yang menusuk telinga.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment