Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 84

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 84

Suara tawa itu terdengar mengerikan bagaikan tangisan setan di tengah malam, ditambah embusan angin yang terasa dingin. Walaupun hari sedang siang bolong, suasana seram masih menyelimuti sanubari setiap orang yang hadir. Tawa panjang itu membuat seluruh hadirin terkejut, melongo, dan terkesima.

Suara tawa tersebut semakin mendekat dan nyaring. Semua orang, termasuk Suma Bing, merasakan darahnya mengalir semakin cepat. Bahkan mereka yang ilmu silatnya masih dangkal seketika gemetar pucat pasi, tubuhnya bergoyang-goyang hampir roboh.

Tiba-tiba suara tawa itu berhenti dan lenyap. Di atas puncak dahan pohon bunga Bwe, sekitar lima tombak dari sana, samar-samar terlihat bayangan seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam. Rambutnya terurai panjang dan tubuhnya ramping tinggi, hanya tinggal kulit pembalut tulang seperti jerangkong.

"Pek Kut Hujin!" seru Heng si Khek dengan kaget.

Nama Pek Kut Hujin menambah ketakutan semua hadirin. Pek Kut Hujin adalah tokoh yang paling ditakuti seabad yang lalu dan sudah puluhan tahun tidak pernah muncul lagi di kalangan dunia persilatan (Kangouw). Sudah dimaklumi sejak dulu bahwa *Pek Kut Ji* (panji tulang putih) merupakan pertanda khas dari Pek Kut Hujin. Mengenai bentuk dan wajah sesungguhnya, mungkin hanya segelintir tokoh lihai saja yang pernah melihatnya. Sekarang, tokoh menakutkan dari masa lalu itu muncul secara mendadak, hal yang sungguh sulit dibayangkan sebelumnya.

Dalam kejutnya, teringatlah Suma Bing akan ucapan Hui Kong Taysu dari Siau Lim Si yang mengatakan bahwa *Racun Diracun* sebetulnya satu aliran dengan Pek Kut Hujin. Munculnya *Pek Kut Ji*, sepak terjang *Racun Diracun*, serta munculnya Pek Kut Hujin pada saat itu agaknya bukan terjadi secara kebetulan. Namun, mengapa semua itu bisa terjadi? Secepat bayangan Pek Kut Hujin muncul, secepat itu pula ia menghilang dari pandangan. Bagi yang berkepandaian rendah, mereka bahkan menyangka bahwa pandangan mereka sendirilah yang kabur.

Sebuah suara kecil lirih terngiang di telinga Suma Bing, "Suma Bing, tidak segera pergi masih tunggu apalagi?" Perasaan Suma Bing tergetar, ia sangat mengenal suara itu. Waktu di Siau Lim Si, orang yang menyebut dirinya sebagai 'ada bayangan tiada bentuk' dan berhasil menggebah mundur Hui Kong Taysu—tokoh tertinggi dari Siau Lim Si—ternyata adalah Pek Kut Hujin ini.

Jika begitu, semua sepak terjang *Racun Diracun* pasti memiliki latar belakang yang sulit diduga. Jelas pula bahwa sudah beberapa kali Pek Kut Hujin menolong dan melindungi jiwanya; semua itu bukan kebetulan belaka. Namun, mengapa semua itu terjadi? Ia tidak kuasa menjawab.

Suara itu kembali terdengar, "Suma Bing, jangan kau berlagak sebagai kesatria yang mahasakti tak terkalahkan, kelak kau menyesal pun sudah terlambat. Kalau Pedang Darah sudah kau peroleh, mengapa tidak segera kau mohon Bunga Iblis? Berpikirlah panjang dan titik beratkan pada tugasmu yang mulia, jangan membawa suara hatimu sendiri. Sekarang juga kau harus pergi!"

Suma Bing tersentak dan seolah tersadar dari lamunannya. Sekali berkelebat, tubuhnya melesat keluar dari kepungan musuh-musuhnya. Pertama-tama Si Tiau Khek dan dua pemuda itulah yang terjaga, serempak mereka berseru, "Cegat dia!" sambil memburu mengejar. Seketika suasana menjadi gempar, mereka beramai-ramai melompat hendak mencegat dan merintangi gerak-gerik Suma Bing. Namun, *Bu Siang Sin Hoat* merupakan ilmu sakti mandraguna yang menakjubkan. Hanya dalam sekejap mata, bayangan Suma Bing sudah menghilang tanpa meninggalkan jejak.

Menggunakan kelincahan *Bu Siang Sin Hoat*, Suma Bing lolos dari kepungan musuhnya. Sepanjang jalan ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari, sekejap saja sepuluh li telah dicapainya. Perbuatan Pek Kut Hujin kali ini membuat ia heran dan tak habis mengerti. Pikirnya, mungkin selain gurunya Sia Sin Khong Jiang atau ayah-bundanya, pernah ada hubungan dengan Pek Kut Hujin ini. Tiada keterangan lain yang dapat membenarkan sepak terjang tokoh misterius itu.

Jikalau hendak dikatakan *Racun Diracun* adalah murid Pek Kut Hujin, sudah berulangkali mereka—guru dan murid—selalu muncul pada waktu yang tepat untuk menolong nyawanya dari renggutan maut. Semua ini pasti ada latar belakang tertentu, namun hal itu sulit ditebak dengan kesimpulan yang kurang matang.

Tengah ia berlari kencang, tiba-tiba terdengar sebuah panggilan, "Nak, berhenti sebentar!" Suma Bing segera menghentikan langkahnya. Begitu melihat siapa yang memanggil, ia berjingkrak girang dan berseru, "Bibi Jui, Adik Sian!" Kedua orang itu memang Ong Fong Jui dan muridnya, Phoa Kin Sian.

"Nak, kuucapkan selamat, kau telah lolos dari bahaya!"

"Lho, dari mana Bibi Jui bisa tahu?"

"Kudengar seorang diri kau menyerbu ke Bwe Hwa Hwe, maka jauh-jauh aku dan Sian Ji menyusul datang!"

"Oh, terima kasih atas perhatian Bibi Jui!"

Sambil berkata demikian, matanya menyapu pandang ke perut Phoa Kin Sian yang sudah mulai membesar. Sukar dilukiskan rasa girang hatinya, sebab tidak lama lagi ia bakal menjadi seorang ayah. Agaknya Phoa Kin Sian juga menyadari lirikan itu; wajahnya yang semula pucat pasi menjadi merah merona, matanya melirik ke arah Suma Bing.

Ong Fong Jui berkata penuh perhatian, "Anak Bing, bagaimanakah pengalamanmu?" Suma Bing hendak mengatakan bahwa tokoh di balik layar yang mengendalikan Bwe Hwa Hwe adalah musuh besarnya, Loh Cu Gi. Namun, setelah dipikirkan lagi, lebih baik hal itu dirahasiakan sementara. Hutang jiwa ini hendak ditagihnya sendiri kepada orang yang harus membayarnya; ia tidak ingin mendapat bantuan orang yang tidak berkepentingan langsung dengan tugas sucinya.

Karena pikiran itu, pengalamannya di dalam ruangan besar dan berhadapan langsung dengan musuh besarnya tidak ia ceritakan. Ia hanya menceritakan bagaimana ia terjebak dalam barisan, ditawan, lalu dimasukkan ke penjara bawah tanah, di mana ia bersua dengan Tiang Un Suseng dan mendapati bahwa sucinya, Sim Giok Sia, telah bunuh diri.

Wajah Ong Fong Jui berubah setelah mendengar cerita Suma Bing, ia berkata, "Begitukah Poh Jiang dan Sim Giok Sia mengakhiri hidupnya?"

"Bibi Jui," kata Suma Bing geram, "Hutang darah ini, aku dapat menagih untuk mereka berdua!"

"Sungguh tak terduga, Pelajar Duka Nestapa (Tiang Un Suseng) akhirnya benar-benar duka sepanjang masa."

"Apakah kabar duka ini harus kuberitahukan kepada ibu guru?"

"Jangan, dia tidak akan kuat mendengar pukulan batin ini. Memang dia adalah seorang yang pernah putus harapan dan patah hati dalam gelanggang asmara." Suma Bing mengiakan.

"Anak Bing, apa kau sudah tahu bahwa Kin Sian sudah mengandung?"

Wajah Suma Bing memerah seketika. Dengan sikap kikuk ia mengangguk, "Aku tahu!"

Betapa malu Phoa Kin Sian, kepalanya ditundukkan semakin dalam, namun hati kecilnya girang luar biasa.

Ong Fong Jui berkata dengan sungguh-sungguh, "Anak Bing, menurut adat istiadat kuno, mau tak mau kau harus segera menikah secara resmi dengan Kin Sian."

Sekilas Suma Bing melirik ke arah Phoa Kin Sian lalu menyahut, "Benar, setelah bertemu dengan ibunda dan dendam kesumat sudah terbalas..."

"Tidak bisa begitu!"

"Menurut maksud Bibi Jui..."

"Kau harus menikah dengannya sebelum anak dalam kandungannya itu lahir."

"Tapi sekarang ini jejak ibu tidak menentu, mana bisa..."

"Anak Bing, aku dan ibumu adalah saudara kandung. Apa aku boleh mewakili dia?"

"Ini... tentu saja boleh!"

"Kalau begitu dengarlah. Yang kumaksudkan dengan menikah tidak perlu menggunakan upacara apa pun. Kaum persilatan tidak perlu mementingkan adat istiadat kuno, asal kedua belah pihak sepaham dan sehaluan, itu sudah cukup. Sekarang aku sebagai wali upacara, langit sebagai saksi, dan bumi sebagai bukti, di sini dan sekarang juga kalian kuresmikan menjadi suami istri. Kau berkelana di Kangouw dengan jejak tidak menentu, kalau sudah menikah secara resmi, kelak kalau anak sudah lahir, baru dapat mengikuti marga dari leluhur keluarganya."

Sekian lama Suma Bing ragu dan bimbang, baru akhirnya menjawab, "Terserah kepada kebijaksanaan Bibi Jui."

Ong Fong Jui mengangguk lalu berpaling ke arah Phoa Kin Sian, "Kin Sian, apa kau tidak menampik keputusan suhumu ini?"

Phoa Kin Sian mengangguk tanpa bersuara.

Maka, Suma Bing dan Phoa Kin Sian segera berlutut menyembah bumi dan langit, lalu menyembah pula kepada arwah ayah bunda yang sudah di alam baka, bersumpah untuk setia dan hidup rukun sampai tua. Setelah itu mereka menyembah kepada wali upacara. Begitulah, secara resmi mereka sudah menjadi suami istri meskipun upacara pernikahan ini diadakan secara sederhana.

Sejak saat itu, Phoa Kin Sian resmi menjadi istri Suma Bing, dan anak dalam kandungannya menjadi milik keluarga Suma. Setelah memberi selamat kepada sepasang mempelai ini, Ong Fong Jui berkata, "Anak Bing, Pedang Darah sudah kau peroleh, harus segera kau minta Bunga Iblis supaya dapat melatih ilmu digdaya tiada bandingannya. Dengan bekal ini pasti kau dapat menuntut balas sakit hati keluarga dan perguruan!"

"Benar, Bibi Jui."

"Kau boleh segera pergi, bersama Kin Sian aku masih ada urusan yang perlu diselesaikan."

Suma Bing mengangguk, matanya menatap Phoa Kin Sian dengan berat hati untuk berpisah, "Adik Sian, jagalah dirimu baik-baik."

Phoa Kin Sian tertawa malu-malu, matanya membalas pandang Suma Bing dengan penuh kasih mesra. Dengan penuh perhatian, Ong Fong Jui menatap wajah Suma Bing lalu berpaling kepada Phoa Kin Sian, "Mari kita berangkat!"

"Engkoh Bing, selamat bertemu!"

"Selamat bertemu. Bibi Jui, selamat bertemu!"

"Selamat bertemu!"

Suma Bing mengantar kepergian Ong Fong Jui dan Phoa Kin Sian dengan penuh perasaan duka; timbullah rasa kehampaan dalam benaknya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment