Chapter 85
Seolah terasa dia tengah bermimpi dalam pengalaman yang aneh, lama sekali dia masih belum kuasa menggerakkan kakinya.
Sekonyong-konyong sebuah suara dingin mengejek berkata di belakangnya, "Suma Bing, selamat berjumpa!" Kejut Suma Bing bukan kepalang, tidak menyangka orang sudah sedemikian dekat di belakangnya namun ia tidak menyadarinya. Tubuhnya berkelebat melenting maju setombak, lantas secepat kilat membalikkan tubuh. Waktu melihat siapa orang di hadapannya, tanpa terasa merinding bulu kuduknya.
Seorang berpakaian serba putih dengan mengenakan kerudung kepala putih pula, baju di depan dadanya bergambar sebuah cundrik merah darah. Kedua mata orang ini mencorong tajam mengawasi dirinya. Orang yang mendadak muncul ini bukan lain adalah Rasul Penembus Dada, tokoh yang paling ditakuti oleh kaum persilatan. Munculnya Rasul Penembus Dada di tempat ini benar-benar di luar dugaan Suma Bing.
Setelah menenangkan hatinya, Suma Bing berkata dingin, "Ada urusan apa?"
"Ada beberapa patah kata hendak kutanya kepadamu," ujar Rasul Penembus Dada. "Kuharap kau suka menjawab secara jujur."
"Coba katakan!"
"Apa kau benar-benar murid Lam Sia?"
"Apa perlu kutegaskan lagi?"
"Lalu ilmu *Bu Siang Sin Hoat* itu kau pelajari dari mana? Itu bukan kepandaian yang kau peroleh dari Sia Sin Kho Jiang?"
Jawab Suma Bing dengan angkuh, "Tiada perlunya aku memberitahukan kepadamu."
"Kau akan menyesal."
"Selamanya aku tidak kenal akan arti menyesal."
"Hm, Suma Bing, kau congkak benar, tapi benar-benar kuharap kau bicara terus terang."
"Untuk apa kau menanyakan hal itu?"
"Sudah tentu ada maksud tertentu!"
"Dapatkah aku mengetahui maksudmu itu?"
Rasul Penembus Dada merendek sejenak, lalu berkata, "Maksudku ingin mengetahui apakah kau ada hubungan erat dengan *Bu Siang Sin Li*?"
"Kalau ada bagaimana, kalau tidak kau mau apa?"
"Ada tidaknya menyangkut nasib jiwamu!"
Berkobar amarah Suma Bing, dengusnya dingin, "Tiada seorang pun dapat menentukan nasibku."
"Persoalan itu sementara kita tunda dulu. Sekarang kau katakan, apa sangkut pautmu dengan aliran *Bu Siang Sin Li*?"
Otak Suma Bing berputar cepat, teringat olehnya akan pesan Giok Li Lo Ci yang wanti-wanti menekankan supaya dirinya tidak mengungkapkan keadaan Lembah Kematian kepada orang luar. Sudah tentu sebagai seorang laki-laki, ia harus menepati sumpahnya. Apalagi tindakan dan maksud tujuan Rasul Penembus Dada sukar diraba, sepak terjangnya yang angkuh dan tinggi hati sangat menyebalkan. Mana mungkin seorang laki-laki sejati harus tunduk kepada seorang wanita.
Maka sahutnya dingin, "Tak mungkin kujelaskan."
Rasul Penembus Dada menyeringai sinis, serunya, "Suma Bing, *Bu Siang Sin Hoat* takkan dapat melindungimu dari kematian!"
Diam-diam berdetak hati Suma Bing. Kepandaian Rasul Penembus Dada luar biasa lihai; apakah dirinya dapat lolos dari tangan jahatnya benar-benar susah diraba. Akan tetapi, sifat kepala batu dan keangkuhannya yang sudah tertular dari sifat gurunya membuat pendiriannya teguh dan kokoh.
Dampratnya gusar, "Rasul Penembus Dada, kau terlalu congkak dan memandang rendah orang lain!"
"Lantas kau mau apa?"
"Aku, Suma Bing, sebal dan tidak puas akan tingkahmu ini."
"Baik, biar kubikin kau puas!"
"Sebenarnya apakah maksud tujuanmu?"
"Sebelum kau menjawab pertanyaanku, belum dapat maksud tujuanku kuutarakan."
Suma Bing berjingkrak gusar, semprotnya, "Kalau aku juga menolak untuk menjawab pertanyaanmu?"
Agaknya Rasul Penembus Dada juga kewalahan menghadapi kebandelan Suma Bing. Lama dia merenung tanpa suara, namun sepasang matanya bagai tajam pedang memandang liar meneliti seluruh tubuh Suma Bing.
Mendadak Rasul Penembus Dada menggertak keras, serunya, "Suma Bing, benda apa yang kau simpan di balik bajumu itu?"
Suma Bing berjingkrak mundur, bukan kepalang kejutnya, terbayang dalam ingatannya pada waktu Pedang Darah yang direbut itu. Memang Rasul Penembus Dada membekali diri dengan suatu kepandaian yang menyebabkan matanya sangat jeli dan sedemikian tajam sampai dapat melihat benda di balik persembunyian yang rapat. Benda di balik bajunya adalah Pedang Darah asli yang baru saja diperoleh dari Racun Diracun. Justru pedang ini adalah benda berharga yang tengah dikejar-kejar oleh lawan.
Maka dengan wajah berubah tegang dia menjawab, "Peduli benda apa!"
Rasul Penembus Dada menjengek, katanya dingin, "Suma Bing, Pedang Darah, benar tidak?"
"Kau tidak perlu tahu," sahut Suma Bing gemetar.
"Justru tuan besarmu ini ingin campur tangan."
"Kalau begitu, silakan kau campur tangan."
Memang Rasul Penembus Dada sudah bertekad bulat hendak merebut Pedang Darah. Mendengar tantangan terang-terangan ini, tanpa bicara lagi segera sebelah tangannya menyelonong maju mencengkeram ke arah baju di depan dada Suma Bing. Cara cengkeramannya bukan saja aneh dan lihai, juga cepat luar biasa. Suma Bing juga tidak berani ayal-ayalan, begitu mengembangkan *Bu Siang Sin Hoat*, cepat-cepat ia menghindar. Namun, meskipun gerak-geriknya sudah begitu cepat, terpaut serambut saja dadanya pasti sudah bolong oleh cengkeraman musuh.
Saking kaget bergidik tubuh Suma Bing, keringat dingin membanjir keluar. Baru saja ia menghindar dan belum berdiri tegak, serangan kedua Rasul Penembus Dada sudah menyosor tiba pula. Lagi-lagi Suma Bing berkelebat menyingkir dengan susah payah. Begitulah beruntun terjadi beberapa kali, saking payah dan tegang napas Suma Bing sampai megap-megap, tubuhnya basah kuyup oleh keringat sendiri.
Bahwasanya gerak *Bu Siang Sin Hoat* adalah ilmu digdaya yang paling ampuh sejak zaman dahulu kala. Tapi kepandaian dan kehebatan serangan Rasul Penembus Dada juga bukan olah-olah lihai, boleh dikata tiada duanya di dunia ini. Oleh karena itu, Suma Bing harus mencurahkan seluruh perhatian dan konsentrasi untuk berkelit menghindari ancaman maut dari serangan musuh ini, sebab setiap gebrak setiap jurus adalah serangan yang mematikan.
Sekonyong-konyong Rasul Penembus Dada menghentikan serangan dan berdiri tegak, katanya sungguh-sungguh, "Suma Bing, lebih baik kau serahkan saja Pedang Darah itu."
"Tidak mungkin!"
"Suma Bing, biar aku bicara terus terang. Tugasku yang utama berkelana di kalangan *Kangouw* adalah mencari jejak Pedang Darah itu. Boleh dikata bahwa aku harus mendapatkannya!"
"Jadi kau mendapat perintah dari Ketua *Jeng Siong Hwe* kalian?"
"Sedikit pun tidak salah."
"Kalau kau mampu silakan kau rebut, sebaliknya bila minta aku menyerahkan secara mentah-mentah, itulah tidak mungkin!"
"Suma Bing, kalau bukan karena *Bu Siang Sin Hoat* itu, sudah sejak tadi aku tidak main sungkan lagi kepadamu."
Diam-diam tergerak hati Suma Bing. Apa mungkin antara *Jeng Siong Hwe* dengan Lembah Kematian ada hubungan atau ikatan? Kalau tidak, tak mungkin Rasul Penembus Dada bisa mengatakan demikian. Akan tetapi, hakikatnya dirinya tiada hubungan atau ikatan apa pun dengan Lembah Kematian. Adalah karena memandang muka suhunya, Sia Sin Kho Jiang, maka Giok Li Lo Ci mau menurunkan ilmunya kepadanya. Malah dia juga sudah melulusi memberikan Bunga Iblis asal dirinya membekali Pedang Darah.
Karena pikirannya ini, lantas dengan sikap kaku ia berkata, "Seumpama kau tidak bermain sungkan?"
"Siang-siang sudah kucabut jiwamu."
"Hm, belum tentu kau mampu!"
Rasul Penembus Dada membentak keras, suaranya gemetar, "Suma Bing, jadi kau memaksa aku membunuh orang?"
Ancaman yang mengandung nafsu membunuh yang serius ini benar-benar sangat menggiriskan. Ucapan ini malah membangkitkan kepala batu Suma Bing, timbul juga amarahnya, sambil mengertak gigi desisnya, "Rasul Penembus Dada, coba tunjukkan kegaranganmu!"
"Baik, aku tidak akan pedulikan segalanya untuk mencabut jiwamu!"
"Dengar, kalau hari ini kau tidak mampu membunuh aku, adalah aku yang akan membunuh kau. Silakan kau turun tangan!"
"Adalah kau sendiri yang minta!"
"Tidak perlu banyak bacot lagi!"
Sinar terang berkelebat di depan matanya, tahu-tahu Rasul Penembus Dada sudah menggenggam sebilah cundrik yang tajam mengkilap. Entah sudah berapa banyak jiwa kaum persilatan yang sudah melayang di bawah cundrik ini. Tanpa terasa tubuh Suma Bing merinding sendirinya. Namun, rasa takut ini hanya selintas saja berkelebat dalam benaknya, rasa angkuhnya malah timbul dan berkobar semakin besar.
Hawa murni pelan-pelan dikerahkan dan dihimpun di ujung jari di mana Cincin Iblis lantas memancarkan cahaya terang yang menyilaukan mata sejauh dua tombak lebih.
Kata Rasul Penembus Dada dengan nada rendah dan berat, "Benar-benar kita harus menyabung nyawa?"
"Benar, sampai mati baru berhenti. Kalau bukan kau yang mati, biarlah aku yang gugur."
Suasana semakin tegang melingkupi sanubari dua lawan yang tengah berhadapan hendak menyabung nyawa. Inilah pertempuran yang menentukan mati atau hidup.
"Suma Bing, turun tanganlah!" bentak Rasul Penembus Dada, suaranya parau.
"Kau adalah wanita," sahut Suma Bing bersikap tenang, "sudah seharusnya kaulah yang turun tangan dulu!"
"Keparat, jangan kau main lagak dan main takabur."
Di tengah suara bentakannya ini, Rasul Penembus Dada sudah menggerakkan cundriknya secepat kilat menusuk ke dada Suma Bing. Bagai bayangan setan, Suma Bing berkelebat menghilang secepat kilat. Begitu menggeser kedudukan, cahaya sinar Cincin Iblisnya juga turut disapukan.
'Tjreng!' Cahaya sinar Cincin Iblis bentrok dengan cundrik Rasul Penembus Dada sehingga mengeluarkan suara nyaring. Kontan Suma Bing merasakan tangannya kesemutan, serta-merta tubuhnya limbung dan terhuyung dua langkah. Ini membuktikan bahwa latihan *Lwekang* Rasul Penembus Dada masih lebih unggul dari kemampuannya.
Sekali mengayun tangan, cundrik di tangan Rasul Penembus Dada terbang bagai meteor menerjang ke arah Suma Bing. Berulang-ulang sebelah tangan Suma Bing bergerak membuat lingkaran besar kecil, maka semakin kuatlah pancaran sinar Cincin Iblis di jarinya itu, seketika timbullah berlapis gulungan bunga berkilau laksana bentuk gunung. Sebenarnya di pangkal pegangan cundrik Rasul Penembus Dada ada terikat benang sutra halus dan kecil yang menggubat di pergelangan tangan Rasul Penembus Dada, maka itu cundrik ini bisa ditarik ulur sesuka si pemakai.