Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 86

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 86

Sinar tajam yang dingin dari cundrik ini tidak kalah seram dan menyilaukan mata dari cahaya senjata lawan. Saat dua sinar cahaya saling berbenturan, terdengar suara "crang". "Creng" berulang sampai beberapa kali. Kira-kira sepeminuman teh kemudian, lambat laun tenaga murni Suma Bing semakin kewalahan menghadapi keuletan musuhnya. Bahkan, pisau terbang musuh semakin lincah dan ganas mengancam setiap titik kelemahannya.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring disertai angin pukulan yang dahsyat. Cundrik terbang Rasul Penembus Dada kembali melesat mengarah ke ulu hatinya. Karena besarnya tenaga pukulan tangan Rasul Penembus Dada, Suma Bing terdesak hingga tubuhnya sempoyongan beberapa langkah; cahaya Cincin Iblis pun semakin buram. Sambil memperdengarkan lengking tawanya, Rasul Penembus Dada melejit maju. Tidak kalah cepatnya, Suma Bing bergerak menyingkir.

Dalam pertarungan yang sulit diikuti pandangan mata ini, cundrik terbang Rasul Penembus Dada kembali berputar-putar. Dua tombak di sekelilingnya terkekang oleh angin puyuh yang membumbung tinggi ke angkasa. Tipu serangan ini boleh dikatakan lihai dan sangat ajaib. Betapa pun menakjubkan gerakan Bu Siang Sin Hoat, agaknya kali ini sulit bagi Suma Bing untuk lolos dari kurungan angin puyuh yang bergelombang tinggi itu.

"Sret!" Disusul keluhan tertahan dari mulut Suma Bing, punggungnya tergores luka sepanjang setengah kaki, darah kental segera membasahi tubuhnya. Rasul Penembus Dada menarik kembali serangannya dan menegaskan, "Suma Bing, pertanyaan terakhirku, apa hubunganmu dengan aliran Bu Siang Sin Li?"

Mata Suma Bing melotot membara dan buas bagai mata binatang. Ia membentak beringas, "Apa pedulimu!" Sambil membentak, ia kembali mengembangkan jurus Bu Siang Sin Hoat. Ia bergerak sekuat kemampuan mengitari Rasul Penembus Dada, lalu dalam suatu kesempatan, ia mengerahkan seluruh kekuatannya ke kedua tangan dan melancarkan tiga kali serangan berantai. Setiap pukulan mengandung kekuatan Kiu Yang Sin Kang.

"Blang!" Sambil menguak seperti orang yang hampir muntah, Rasul Penembus Dada terhuyung beberapa langkah. Kedok putih di mukanya seketika berubah merah karena darah. Suma Bing segera menarik napas panjang dan menerjang kembali ke arah musuh. Hampir dalam waktu bersamaan, Rasul Penembus Dada juga berkelebat maju. Gerak-gerik kedua pihak boleh dikatakan hampir sama cepatnya. Kontan terdengar dua kali pekik tertahan. Tampak Rasul Penembus Dada terpental satu tombak lebih, sedang lengan kanan Suma Bing tergores luka panjang, darah memancur bagai air ledeng, dan tubuhnya limbung hampir roboh.

Ini adalah pertempuran hidup-mati yang jarang terjadi, yang menciutkan nyali dan menyedot semangat orang. Begitu mendapat peluang untuk mengatur napas dan jalan darahnya, Rasul Penembus Dada segera mengayun-ayunkan cundriknya dan setindak demi setindak mendesak mendekati Suma Bing. Derap langkahnya yang berat dan tenang seumpama irama pengantar kematian. Berulang kali Suma Bing mengalami luka berat, ditambah Cincin Iblisnya menguras tenaga terlalu besar, maka keadaannya saat itu sudah bagai pelita yang hampir kehabisan minyak. Melihat Rasul Penembus Dada semakin dekat, hatinya tenggelam dalam bayangan kematian. Sekali lagi, dia menghadapi ajal.

Sesaat sebelum cundrik musuh menembus dadanya, tiba-tiba sebuah bayangan manusia melesat datang dengan kecepatan seperti bintang jatuh dari arah rimba sebelah samping.

"Siapa kau?" Rasul Penembus Dada membentak keras. Akan tetapi, bayangan itu bergerak sedemikian cepat hingga tidak sempat lagi berpikir. Tiba-tiba arus gelombang puyuh sudah melingkupi seluruh tubuh Rasul Penembus Dada. Kekuatan angin ini benar-benar mengejutkan. Rasul Penembus Dada sadar bahwa dengan tubuh yang sudah terluka, ia tidak akan kuat bertahan, sehingga secepat kilat ia berkelit menyingkir jauh. Bertepatan dengan itu, begitu menyentuh tanah, bayangan tersebut melenting lagi dan menghilang.

Rasul Penembus Dada adalah tokoh yang jarang tertandingi, namun ia sendiri tidak melihat dengan jelas apakah bayangan itu seorang laki-laki atau wanita. Tahu-tahu, tubuh Suma Bing sudah hilang dari tengah gelanggang. Betapa tinggi kepandaian bayangan itu, sungguh sulit dibayangkan. Sambil menghentakkan kaki, Rasul Penembus Dada melejit mengejar.

Sementara itu, Suma Bing hanya merasa pandangannya kabur. Belum sempat ia memahami apa yang terjadi, tubuhnya sudah terangkat tinggi dan dibawa terbang. Disusul jalan darahnya yang tertutup, kesadarannya hilang.

Entah sudah berselang berapa lama, saat siuman ia mendapati dirinya rebah di atas ranjang yang empuk dengan seprai tersulam indah. Kamar ini mewah dan megah, seolah-olah ia berada di istana raja. Dengan terkejut, ia melompat bangun. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Berkali-kali ia mengucek mata, namun pemandangan di hadapannya tidak berubah. Mulutnya melongo karena heran.

Di tengah ruangan, di belakang sebuah meja panjang, duduk seorang tua yang jenggotnya putih menjuntai sampai ke perut. Kepalanya mengenakan mahkota kebesaran, wajahnya tampak berwibawa. Di kiri dan kanan, masing-masing duduk orang tua berjubah indah dengan tangan mencekal lencana gading. Di bawahnya, duduk atau berdiri puluhan orang lainnya. Pelan-pelan ia memeriksa tubuhnya sendiri. Pakaiannya sudah berganti baru dan serba mewah. Terang ia masih ingat dirinya terluka parah, namun saat itu ia tidak merasakan kesakitan sedikit pun.

Apakah ini mimpi? Tidak. Ia masih ingat disambar oleh sebuah bayangan. Ia tiba di sebuah istana, dan orang tua yang duduk di tengah itu tampak seperti seorang raja. Ruang istana ini sangat besar, namun suasananya hening seolah berada di tengah pegunungan. Sinar lampu terang benderang. Tiba-tiba orang tua yang duduk di sebelah kanan berdiri, membungkuk hormat kepada orang tua di tengah, lalu berkata, "Orangnya sudah siuman, apakah Yang Mulia hendak mengajukan pertanyaan?"

Panggilan "Yang Mulia" membuat hati Suma Bing berdebar. Terdengar sang raja bersuara lantang, "Hu Pit, kalian berdua tinggal, yang lain bubar!"

"Terima perintah!" Setelah para hadirin membungkuk dan keluar, tinggallah dua orang tua yang memegang lencana, yakni Coh Hu dan Yu Pit.

Yu Pit bertanya dengan nada berat, "Suma Bing, majulah menghadap Te Kun (Raja Bumi)."

Nama "Te Kun" kembali membuat hati Suma Bing berdetak. Dengan penuh keheranan, matanya menatap ke depan. Kakinya tidak bergeser. Dari sinar matanya, ia tahu mereka adalah kaum persilatan, namun pakaian dan suasana ini sungguh membingungkan. Yu Pit berseru lagi, "Suma Bing, maju menghadap!"

Coh Hu ikut berkata, "Yang Mulia adalah junjungan resmi dari Giok Te (Raja Kahyangan). Kau rakyat jelata, berani kau menghadap tanpa berlutut?"

Seketika Suma Bing mengucurkan keringat dingin. Apakah mereka malaikat? Apakah dirinya masih hidup atau sudah menjadi arwah? Tanpa terasa, kedua kakinya perlahan ditekuk hingga berlutut. Ia tidak tahu harus berkata apa. Te Kun mengayunkan tangan dan berseru, "Silakan duduk!"

Coh Hu menarik Suma Bing dan menunjuk tempat duduk di sebelah kiri. Hati Suma Bing kosong dan tidak tenteram. Meski kursinya empuk, ia merasa seolah duduk di atas permadani yang bertabur jarum.

"Suma Bing, laporkan keterangan leluhurmu!"

"Ayah almarhum Suma Hong..."

"Sudah cukup. Dari perguruan mana?"

Sejenak Suma Bing melengak, lalu menjawab, "Murid dari perguruan Sia Sin Kho Jiang!"

"Apakah kau pernah berguru pada perguruan lain?"

"Tidak!"

"Lalu kepandaian Bu Siang Sin Kang itu kau pelajari dari siapa?"

Mendengar pertanyaan tentang Bu Siang Sin Hoat, timbul kecurigaan dalam benak Suma Bing. Ia berani memastikan bahwa orang-orang di hadapannya ini adalah kaum persilatan, bukan malaikat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment