Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 87

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 87

Suma Bing masih tidak mengerti dan tidak dapat membayangkan sebab musabab mengapa malaikat menyamar dan memboyong dirinya ke tempat itu.

"Memang *Bu siang sin hoat* bukan kupelajari dari mendiang guruku, melainkan dari seorang *Cianpwe*..."

"Siapa?"

"Aku yang rendah pernah bersumpah untuk tidak menyebut-nyebut namanya di hadapan orang lain." Mendadak dia mengubah sebutan dirinya menjadi "aku yang rendah" sehingga Te Kun serta Coh Hu dan Yu Pit berubah air mukanya.

"Apakah *Bu siang sin li*?"

"Maaf, aku tidak berani menjawab!" Air muka Te Kun sedikit berubah. Matanya melirik ke kanan-kiri dan berkata kepada dua orang penasihatnya, "Urusan selanjutnya biar kalian selesaikan sendiri!"

"Terima perintah!" Bergegas Raja Bumi bangkit, lalu menghilang di balik pintu angin sebelah samping.

Setelah membungkukkan tubuh mengantar sang Raja mengundurkan diri, Coh Hu dan Yu Pit duduk kembali di tempat masing-masing. Sekian lama mereka mengamati Suma Bing, lalu Coh Hu berkata, "Suma Bing, apa kau tahu mengapa kau diundang masuk ke dalam istana?"

"Aku yang rendah tidak mengerti."

"Kau berjodoh dengan *Kiongcu*, maka kau diundang masuk istana untuk diangkat sebagai *Hu ma* (menantu raja)!"

Dalam hati, Suma Bing memaki, menganggap itu semua hanyalah omong kosong. Sudah terang dia digondol kemari secara paksa, indah benar mereka menggunakan istilah "diundang menghadap raja". Karena batinnya menolak, ia menyahut dingin, "Untuk hal ini, aku tidak mau terima!"

"Kau salah!"

"Di mana letak kesalahan aku yang rendah?"

"Ini merupakan perintah dari Raja Bumi!"

"Tapi aku bukan punggawa dari Raja Bumi kalian, maka tidak perlu aku harus tunduk akan perintahnya."

"Jodoh telah mengikat dan sudah terdaftar di atas batu kelahiran. Kau tidak boleh menolak atau membangkang lagi!"

"Urusan perjodohan bukan main-main, mana bisa menggunakan paksaan?"

"Hahahahaha, Suma Bing, marilah kau ikut aku!"

Dengan penuh keheranan, Suma Bing mengikuti Coh Hu. Mereka memutar ke samping pintu, lalu memasuki sebuah ruangan lain yang lebih kecil. Dengan tangan kiri, Coh Hu menunjuk sebuah bola kaca yang terbenam ke dalam dinding. "Kau lihatlah sendiri!"

Dengan hati berdebar, Suma Bing maju mendekati bola kaca itu. Begitu matanya menatap pemandangan di dalamnya, seketika ia menjerit keras dan tubuhnya terhuyung hampir roboh. Pemandangan dalam bola kaca itu menunjukkan sebuah hutan tempat dia berkelahi melawan Rasul Penembus Dada. Di atas tanah rebah sesosok mayat yang berlumuran darah; susah dikenali, tetapi tidak perlu disangsikan bahwa mayat itu adalah dirinya sendiri.

Coh Hu menjengek dingin, "Sudah jelas belum?"

Otak Suma Bing serasa buntu, semangatnya lesu. Ia menyahut lirih, "Apa benar aku sudah mati?"

"Benar, kau sudah mati!"

"Jadi, aku ini adalah arwah halus, bukan manusia lagi?"

"Di tempat perjodohan yang syahdu ini, kau sekarang adalah malaikat!"

Begitulah mereka berdua kembali lagi ke ruang besar tadi. Suma Bing terlena duduk di tempat asalnya. Kenyataan menumbangkan keraguan hatinya bahwa orang-orang yang dia hadapi ini ternyata adalah malaikat dan bukan manusia. Namun, bagaimana cara dirinya mati? Kecurigaan hatinya masih belum lenyap. Kendati kenyataan membuktikan mau tak mau ia harus mengakui bahwa dirinya memang benar-benar sudah mati, bahkan mayatnya terlantar dalam rimba tanpa liang kubur yang layak.

Terpikir olehnya dendam kesumat dan sakit hatinya semasa masih hidup. Tanpa terasa dia mengeluh dan berteriak panjang, "Aku tidak boleh mati, aku tidak rela mati."

Yu Pit menjengek dengan suara dingin, "Tapi sekarang kau sudah mati!"

"Aku tidak boleh mati!"

"Apa ada angan-anganmu yang belum terlaksana?"

"Dendam perguruan, sakit hati orang tua, budi para sahabat; aku harus menyelesaikan semua itu satu per satu."

"Tentang itu gampang dilaksanakan! Benar, setelah melangsungkan pernikahanmu dengan *Kiongcu*, kau secara resmi menjadi *Hu ma*. Keluar-masuk istana terserah sesuka hatimu, tiada orang yang berani melarang. Sampai pada saat itu, bolehlah kau melegakan hatimu untuk menuntut segala sakit hati dan dendam sesuka hatimu."

"Apakah omonganmu benar?" tanya Suma Bing gemetar.

"Sudah tentu benar!"

"Tapi..."

"Tapi apa?"

Mendadak teringat olehnya Phoa Kin Sian, istrinya yang sudah mengandung itu. Hati terasa seperti diiris-iris pisau; hampir saja air mata meleleh keluar. Sungguh tak terkira, belum lama mereka berpisah, ternyata harus bercabang jalan untuk tidak akan bertemu lagi selama-lamanya. Tidak ketinggalan terbayang juga wajah Siang Siau Hun, gadis rupawan yang mati-matian mencintai dirinya, serta Ting Hoan, gadis simpatik yang juga telah terang-terangan menyatakan isi hatinya. Semua ini kini sudah menjadi bayangan belaka dan akan menjadi kenangan sepanjang masa.

Seumpama dia meluluskan untuk menjadi *Hu ma* atau calon menantu raja, apakah tindakannya ini tidak terlalu kejam terhadap istrinya, Phoa Kin Sian, yang merana itu? Karena pikiran ini, tercetus seruan dari mulutnya, "Tidak, aku tidak seharusnya begitu."

Alis Coh Hu berkerut dalam, tanyanya, "Apanya yang tak boleh?"

"Aku tidak boleh menyia-nyiakan cinta..."

"Suma Bing, jalan terang dan gelap harus dapat kau bedakan. Malaikat dengan rakyat jelata mana boleh bercampur baur? Jangan kau menyiksa dirimu sendiri. Perjodohanmu ini sudah merupakan takdir ilahi. Kau tidak boleh menolak, kalau tidak... kau akan mendapat hukuman Tuhan."

Suma Bing menjadi nekat, "Aku yang rendah rela mendapat hukuman itu."

"Keputusan tidak terletak di tanganmu!"

Segera Yu Pit mengetuk meja dengan sebuah mistar dan bertembang lantang, "Harap Te Kun segera membuka sidang!"

Disusul lonceng di belakang istana sana berdentang ramai. Orang-orang yang tadi mengundurkan diri kini beramai-ramai memasuki pula ruangan istana itu secara teratur dan rapi. Otak Suma Bing terasa pepat, hatinya kosong, matanya mendelong mengawasi segala perubahan di hadapannya. Ingatan yang selalu mengganjal dalam benaknya adalah "Aku sudah mati!". Bayangan ini bagai gigitan seekor ular yang selalu menggerogoti sanubarinya. Betapapun dia tak rela mati begitu saja, namun kenyataan menunjukkan bahwa dia sudah mati. Gambaran yang terlihat dalam bola kaca itu adalah kebenaran.

Begitu Te Kun menempati tempat duduknya, beramai-ramai para hadirin memberi hormat. Coh Hu tampil ke depan dan angkat bicara, "Dipersilakan junjungan yang mulia memberikan restu dalam pernikahan ini."

"Silakan *Kiongcu* menghadap!"

Di luar pintu ruangan sana terdengar seruan yang sama, "Silakan *Kiongcu* menghadap!"

Dalam sekejap, tampak serombongan dayang-dayang istana membimbing seorang putri yang berpakaian mewah dan mengenakan banyak perhiasan berderap memasuki istana.

"Menghadap Baginda Raja."

"Duduklah di sebelah!"

"Ayah Baginda memanggil anak, entah ada keperluan apakah?"

"Untuk menyelesaikan perjodohanmu yang sudah tersurat oleh takdir."

Serta-merta Suma Bing melirik ke arah *Kiongcu*, hatinya tergerak. *Kiongcu* ini sedemikian cantik rupawan bak bidadari. Kebetulan sinar mata sang *Kiongcu* juga tengah melirik ke arahnya. Begitu sinar mata mereka bertemu, kontan wajah mereka memerah jengah. Tapi *Kiongcu* malah unjuk senyum yang menggiurkan.

Cepat-cepat Suma Bing menundukkan kepala. Hatinya berdetak keras, darah terasa mengalir deras tanpa terkendali. "Apapun juga yang bakal terjadi, aku tidak akan menyia-nyiakan cinta Phoa Kin Sian kepadaku," demikian dalam hati ia berdoa dan mengambil ketetapan.

Wajah tua Raja Bumi kelihatan berseri girang, suaranya lantang, "Segera perintahkan upacara pernikahan segera dimulai."

Begitu perintah ini disampaikan, suasana menjadi ramai dan musik mulai mengalun merdu. Dua orang protokol yang mengenakan jubah panjang warna merah segera tampil ke depan dan berdiri di kanan-kiri. Ingin rasanya Suma Bing menolak, tapi dalam keadaan yang penuh kewibawaan ini tak kuasa dia mengeluarkan kata-kata. Sebab sekarang dia bukan lagi manusia yang masih hidup—ingatan atau pikiran ini selalu merangsang dan mengganggu ketenangannya.

Dengan kesima mematung, dia menurut saja dituntun berdiri jajar dengan *Kiongcu*, lalu berlutut menghadap Raja dan sembahyang janji setia kepada langit dan bumi. Setelah semua upacara selesai, mereka diantar masuk kamar pengantin. Cara mengatur dan hiasan kamar pengantin ini juga sedemikian mewah dan aneh, tidak menyerupai cara-cara dan adat kebiasaan manusia jelata pada umumnya.

Menghadapi istri yang cantik rupawan ini, pikiran Suma Bing malah semakin kabur dan melayang-layang.

"Siangkong!" dengan malu-malu *Kiongcu* memanggilnya.

Bergetar sanubari Suma Bing, sahutnya, "Kiongcu..."

"Siangkong, aku bernama Pit Yau Ang!"

"O!"

"Biarlah aku panggil kau Engkoh Bing, kau panggil aku Adik Ang saja."

Suaranya sedemikian halus merdu, apalagi dalam suasana malam pengantin yang mempesonakan ini, lebih menambah kemesraan ikatan batin mereka.

"Adik Ang!"

"Engkoh Bing!"

Mereka tersenyum berpandangan, lalu berpelukan dan berciuman. Lama-kelamaan yang terdengar hanyalah suara tawa halus kegelian dan helaan napas yang memburu; alam sekelilingnya menjadi sunyi senyap.

Entah sudah berselang berapa lamanya, pelan-pelan Suma Bing mulai siuman. Pelan-pelan dia bangkit dari tempat tidur. Sekilas dipandangnya Pit Yau Ang yang masih tidur nyenyak di alam mimpinya, dengan penuh kasih sayang diciumnya kening sang istri. Sambil mengenakan pakaiannya, dia turun dari tempat tidur dan duduk di atas sebuah kursi, lalu mulailah dia mengenangkan segala apa yang telah dialaminya.

Pertama-tama yang masuk dalam ingatannya ialah sesaat sebelum dirinya terhujam oleh cundrik Rasul Penembus Dada. Terang dirinya ditolong dan dibawa lari oleh seseorang, bahkan dia juga merasakan jalan darahnya linu kesemutan, lantas dia lupa segalanya. Bagaimana dirinya bisa mati? Sebenarnya istana apakah ini dan di mana letaknya? Te Kun atau Raja Bumi itu mengapa menanyakan riwayat dan leluhur serta perguruannya, terutama malah menekankan dalam bertanya tentang *Bu siang sin hoat*? Kalau dirinya benar-benar sudah mati, mengapa dirinya tidak merasakan adanya hal-hal yang janggal sebagai setan atau malaikat? Semua ini dirasakan wajar dalam kenyataan sebagai badan kasar manusia umumnya, dan yang terpenting...

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment