Chapter 88
Berpikir sampai di situ, matanya melirik ke arah ranjang gading dengan kelambu sutranya yang tersulam indah masih menjulai panjang.
"Janggal!" tiba-tiba tercetus pekik keras dari mulutnya.
"Engkoh Bing, apanya yang janggal?"
"Aku adalah manusia, aku belum mati!"
Sambil mengenakan pakaiannya perlahan, Pit Yau Ang turun dari atas ranjang. Suma Bing tidak berani beradu pandang dengan sinar mata bening tajam bak bintang kejora itu, ia segera menundukkan kepala.
"Engkoh Bing!"
Terpaksa Suma Bing mengangkat kepalanya, suaranya gemetar: "Kita sudah menjadi suami istri?"
Pit Yau Ang tertawa menggiurkan, ujarnya: "Siapa bilang bukan?"
"Tapi..."
"Tapi bagaimana?"
"Aku tidak percaya dan meragukan apa yang tengah kualami ini!"
"Tapi kenyataan sudah kau alami!"
"Aku merasa bahwa aku masih belum mati?"
Pit Yau Ang tertawa penuh arti, katanya: "Mengapa kau pikirkan hal-hal yang tidak genah itu?"
Berubah serius wajah Suma Bing, katanya: "Bagaimana kau bisa mengatakan hal ini urusan tidak genah?"
"Kita sudah menjadi suami istri, kita sudah bersumpah untuk seia sekata dan hidup rukun sampai tua. Apakah ini belum cukup?"
Berubah hebat air muka Suma Bing, bergegas dia bangkit dari tempat duduknya, serunya berjingkrak gusar: "Sebetulnya tempat apakah ini?"
Sekilas berubah juga air muka Pit Yau Ang, tapi sesaat kemudian berubah pula dengan senyuman yang menggiurkan, katanya lemah lembut: "Engkoh Bing, duduklah, kita bicarakan hal ini pelan-pelan. Mengapa mesti marah-marah?"
Namun, darah Suma Bing malah terasa mengalir semakin cepat. Wajahnya merah padam, bentaknya murka: "Sebetulnya di mana sekarang aku berada?"
Sahut Pit Yau Ang dengan suara lirih lembut: "Perkampungan Bumi, salah satu tempat keramat bertuah dari dunia persilatan."
"Perkampungan Bumi!" teriak Suma Bing gemetar, tubuhnya terhuyung menggigil.
Mimpi pun ia tidak menyangka bahwa dirinya bakal terjatuh ke dalam cengkeraman Te Po, salah satu dari tiga tempat keramat yang paling ditakuti dalam dunia persilatan. Ia merasa seolah pura-pura menjadi malaikat, menyamar menjadi setan untuk memikat dan menipu dirinya supaya menikah dengan Pit Yau Ang. Suatu perasaan kena tipu membuat darahnya mendidih, gusarnya bukan kepalang.
'Plok!' Sebelah pipi Pit Yau Ang yang putih halus itu seketika berpetak merah bekas lima jari yang jelas sekali, air darah kontan meleleh keluar dari ujung bibirnya. Dalam murkanya, tamparan Suma Bing ini ternyata bukan main kerasnya.
Air muka Pit Yau Ang berubah pucat dan merah bergantian, tubuhnya yang semampai itu menggigil terhuyung, bentaknya bengis: "Suma Bing, kau berani turun tangan memukul orang?"
Suma Bing menggigit bibir, teriaknya: "Kuhajar wanita tidak tahu malu seperti kau ini, mau apa?"
Malu dan gusar merangsang gejolak hati Pit Yau Ang, matanya merah hampir menangis, bergegas dia bangkit dari tempat duduknya, serunya gemetar: "Di mana aku tidak tahu malu?"
"Menipu aku untuk menikah dengan kau!"
"Aku menikah menurut kehendak orang tua, bagaimana dikatakan menipu?"
"Pura-pura menjadi malaikat, menyamar menjadi setan, dengan obrolan membujuk dan setengah ancaman, bukankah ini menipu?"
"Kau dengarlah dulu penjelasanku..."
"Tidak perlu penjelasan!" pekik Suma Bing sambil mengulapkan tangan.
Berubah membesi wajah Pit Yau Ang, timbul nafsu membunuh pada air mukanya, suaranya gemetar dingin: "Kau tidak mau dengar penjelasanku?"
"Tidak perlu!"
"Lalu kau hendak apa?"
"Kubunuh kau!"
"Apa kau mampu melakukan?"
"Mari kucoba."
"Kiongcu, ada terjadi apakah di dalam?" para dayang yang menjaga di luar kamar menjadi gugup dan bertanya gelisah.
"Tidak ada urusan kalian, kamu pergi semua!"
"Baik."
Air mata Pit Yau Ang akhirnya meleleh juga membasahi pipi, ujarnya penuh haru dan sesenggukan: "Suma Bing, seumpama menipu kau, juga tidak mengandung maksud jahat. Mana boleh kau tidak membedakan antara kebaikan dan kejahatan?"
"Masa tindakan kalian ini bermaksud baik?"
"Boleh dikata demikian."
"Cis!" Suma Bing berludah.
"Suma Bing, kau pandang aku Pit Yau Ang sebagai orang apa?"
"Perempuan tidak tahu malu!"
"Berani kau katakan sekali lagi?"
"Tidak tahu..." Belum kata-kata 'malu' keluar dari mulutnya, Pit Yau Ang sudah mencengkeram jalan darah pergelangan tangan Suma Bing. Cara geraknya yang cepat dan aneh benar-benar sangat menakjubkan, sedikit pun Suma Bing tidak sempat berkelit.
"Suma Bing, berani kau menghina aku?"
"Menghina kau mau apa? Perbuatan ini sangat rendah dan hina, sungguh tidak kira nama Te Po yang dikumandangkan ternyata..."
"Tutup mulut! Suma Bing, kalau aku tidak segera turun tangan, siang-siang kau sudah mati konyol di bawah cundrik Rasul Penembus Dada!"
Tetergun Suma Bing mendengar kata-kata orang. Ternyata bayangan misterius itu adalah dia (Pit Yau Ang), dengan mudah dan seenaknya saja dia dapat menggondol pergi seseorang. Betapa tinggi kepandaian dan lweekangnya ini benar-benar susah dibayangkan. Tapi begitu teringat akan maksud dari latar belakang semua itu, tanpa terasa ia mendengus dingin: "Maksudnya semula memang sudah hina dina, aku Suma Bing tidak terima budimu ini."
Pit Yau Ang kertak gigi, katanya: "Suma Bing, keterlaluan kau menghina aku!"
"Hm."
Sebelah tangan Pit Yau Ang dibalik menekan jalan darah Thian Leng Hiat di embun-embun kepalanya, ancamnya serius: "Baik, biar kulenyapkan kau."
Tanpa kuasa, bergidik badan Suma Bing. Namun, dasar sifatnya angkuh dan keras kepala, kematian tidak akan melumerkan sifat pembawaannya ini. Serunya penuh kebencian: "Boleh, silakan kau turun tangan!"
Air mata mengalir semakin deras, Pit Yau Ang kewalahan, tangannya dilepaskan. Katanya sedih memilukan: "Engkoh Bing, mengapa kau berbuat demikian terhadap aku?"
"Lalu kau mau apa?"
"Jelek-jelek kita sudah menjadi suami istri!"
"Aku tidak mengakui!"
"Apa, kau... kau tidak mengakui?"
"Semua ini adalah tipuan belaka!"
"Suma Bing, badanku yang suci bersih ini sudah kupersembahkan kepadamu, ternyata kau..." berkata sampai di sini, tangisnya semakin keras.
Tanpa terasa Suma Bing melirik ke atas ranjang, benar juga terlihat noktah-noktah darah berlepotan di atas seprai. Badannya gemetar seperti ayam kedinginan, memang betul badan Pit Yau Ang yang masih perawan suci sudah diserahkan untuk dirinya, malah samar-samar masih teringat dalam otaknya upacara pernikahan itu. Kecantikan Pit Yau Ang bak bidadari, lain dari yang lain, kepandaian silatnya juga luar biasa, malah putri dari majikan Te Po yang kenamaan itu. Mengapa tidak memedulikan nama dan gengsi sendiri, melakukan tindakan-tindakan yang memalukan ini?
Kalau Perkampungan Bumi hendak mencari menantu, bisa secara terang-terangan dan bebas memilih di antara sekian banyak manusia umumnya, mengapa pura-pura menjadi malaikat menyamar setan untuk menipu dan menakuti orang? Terutama gambaran yang terlihat dalam bola kaca bundar itu susah dimengerti, apakah itu ilmu sihir? Waktu teringat akan istrinya, Phoa Kin Sian, yang sudah mengandung, terasa pilu dan seperti disayat-sayat hatinya. Kelak bagaimana dirinya harus berhadapan dengan bibinya, Ong Fong Jui? Bagaimana pula dia memberikan pertanggungjawaban kepada istri tercinta? Karena pikirannya ini, giginya gemertak, tanyanya: "Pit Yau Ang, kalian ayah beranak sebenarnya mengandung maksud apa?"
Pada saat itulah tiba-tiba di luar pintu terdengar seruan seorang dayang berkata: "Ada perintah dari Te Kun, diminta Kiongcu dan Huma segera menghadap beliau di istana belakang!"
"Baik, sudah tahu!" segera sahut Pit Yau Ang.
Suma Bing mendengus keras, serunya: "Kebetulan hendak kutanyakan kepada ayahmu, apakah maksudnya semua perbuatan ini..."
Berubah pucat wajah Pit Yau Ang, suaranya ketakutan, "Jangan!"
"Mengapa jangan?"
"Kalau kau berlaku kurang ajar terhadap ayah, berarti kau cari mati sendiri!"
Lebih memuncak kemurkaan Suma Bing, matanya mendelik bagai kelereng: "Aku Suma Bing sudah terjatuh dalam cengkeraman kalian ayah beranak, aku tidak peduli akan mati hidup."
"Kau... jangan!"
Suma Bing mendengus ejek.
"Aku mohon kepadamu!"
"Kau Pit Yau Ang memohon kepadaku? Sungguh menggelikan. Kau salah menilai aku, Suma Bing ini bukan budak hina dina yang lemah tulang..."
"Engkoh Bing, sedikit pun tiada rasa cinta kasihmu terhadap pernikahan kita."
Tergerak sanubari Suma Bing, wajahnya membeku, tanyanya: "Apakah maksudmu ini?"
"Engkoh Bing, sehari menjadi suami istri akan terkenang sepanjang masa. Meski kau buang aku bagai barang rongsokan yang tidak berguna lagi, tapi masa aku tega melihat kau..."
"Beberapa kata ini enak didengar dan dapat meluluhkan hati. Tapi sayang, aku Suma Bing bukan manusia lemah semacam itu."
"Engkoh Bing, kuminta kepadamu bila berhadapan dengan ayah, haraplah kau berlaku sabar!" sejenak ia merandek, lalu katanya lagi sambil menggigit bibir: "Tidak peduli syarat apa pun yang kau ajukan, biar aku lulusi semua."
Sikap Suma Bing tetap dingin membeku: "Ucapanmu dapat dipercaya?"
"Sudah tentu!"
"Baik, kululusi permintaanmu!"
"Mari ganti pakaian, segera kita ke istana belakang."
Istana belakang juga tidak kalah besar dan megahnya, suasana di sini lebih hening lelap, sinar lampu memancarkan cahayanya yang redup. Terlihat Raja Bumi mengenakan pakaian preman tengah duduk penuh wibawa di atas kursi kebesaran. Suma Bing mengiringi Pit Yau Ang memasuki ruang istana, begitu dekat segera Pit Yau Ang mendahului berlutut dan bersembah: "Anak menghadap ayah baginda!"
Sebaliknya Suma Bing berdiri mematung tanpa bergerak, diam-diam Pit Yau Ang menarik ujung celananya, sinar matanya memancarkan permohonan yang harus dikasihani. Bentrok dengan sorot mata ini luluh dan lemah hati Suma Bing, terpaksa dia berlutut juga.
Sedikit mengerut kening, Raja Bumi mengangkat sebelah tangan seraya berkata: "Bangun, duduk di pinggiran!"
"Terima kasih, Ayah!"
Berdua mereka duduk di atas kursi yang terletak di sebelah samping. Sorot mata Suma Bing menatap lurus ke depan, air mukanya yang dingin membeku membuat gentar dan takut orang yang melihatnya. Terdengar Raja Bumi membuka kata dengan nada kalem dan berat: "Menantuku yang bagus, menurut undang-undang tradisi dari kakek moyang kita, dari sejak sekarang juga, kau sudah merupakan ahli waris dari Perkampungan Bumi kita ini."
Keruan bergetar perasaan Suma Bing, cara bagaimanakah penjelasannya ini.