Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 89

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 89

Bagaimana mungkin dirinya menjadi ahli waris dari Perkampungan Bumi ini, terlebih menurut undang-undang tradisi kakek moyang mereka pula. Ini benar-benar kejadian yang aneh bin ajaib di kolong langit.

Maka, segera sahutnya dingin, "Ini sukar aku terima!"

Wajah Pit Yau Ang berubah pucat, ia diam-diam menarik-narik lengan baju Suma Bing.

Wajah Raja Bumi berubah membesi dan gusar, "Ini merupakan undang-undang besi yang selamanya tidak dapat diganggu gugat!"

Dasar sifat Suma Bing memang angkuh dan keras kepala, terlupakan sudah janjinya kepada Pit Yau Ang. Ia membantah, "Mengenai urusan besar begini, harus bergantung kepada orang yang berkepentingan, rela menerima atau tidak. Mana bisa main paksa?"

Wajah Te Kun berubah lebih seram dan tidak enak dipandang. Kedua matanya memancarkan sinar hijau yang menakutkan. Ia menggeram, "Keputusan tidak terletak pada dirimu!"

"Aku yang rendah..."

"Apa? Terhadap aku kau menyebut dirimu yang rendah?" bentak sang raja.

Tubuh Pit Yau Ang gemetar semakin keras, wajahnya pucat pasi. Berulang-ulang matanya berkedip memberi isyarat, tapi sedikit pun Suma Bing tidak menghiraukan, seakan-akan ia tidak melihat.

"Dengan kedudukan Te Kun dan nama kebesarannya, semestinya tidak seharusnya berbuat..."

"Bedebah, tutup mulutmu! Berani kau membangkang perintah raja?"

"Aku yang rendah seorang yang telah mempunyai istri!"

"Apa? Kau sudah mempunyai istri?"

Badan Pit Yau Ang gemetar semakin keras; dengan lengan baju, ia menutup mukanya.

"Benar!" seru Suma Bing dengan tidak kalah gusarnya.

"Sebelum ini kenapa tidak kau jelaskan?"

"Adalah kalian yang memaksa dan mengatur keadaan ini sehingga aku yang rendah tiada kesempatan untuk membela diri!"

Agaknya Te Kun sendiri juga merasa tegang dan murka luar biasa, wajahnya berkerut menahan perasaan hatinya.

'Plak, plok!' Dua kali tangannya bertepuk. Segera muncul dua laki-laki yang mengenakan pakaian Busu sambil menghadap dengan hormat di ambang pintu.

"Panggil menghadap Komisaris Luar!"

"Terima perintah!" Kedua Busu itu membungkuk dan mengundurkan diri.

Suma Bing tetap duduk di tempatnya dengan sikap dingin kaku. Dengan tenang, ia menantikan perkembangan selanjutnya.

Tidak lama kemudian, seorang tua yang bertubuh tinggi tegap dan bersikap garang bergegas memasuki ruang istana. Segera kedua lututnya ditekuk sambil menyembah, "Komisaris Luar Teng Tiong Cwan menghadap Baginda Raja!"

"Bangun dan jawab pertanyaan!"

"Terima kasih, Baginda!"

"Siapa orang yang bertugas menyelidiki asal-usul ahli waris kali ini?"

"Sim Tongcu dan Bu Tongcu, dua Tongcu bawahan hamba, langsung bertugas di kalangan Kangouw!"

Terdengar Te Kun mendengus gusar, serunya, "Bawa Sim dan Bu Tongcu keluar, penggal kepalanya!"

Tanpa terasa, jantung Suma Bing berdetak keras. Saking kaget, Komisaris Luar Teng Tiong Cwan mundur selangkah. Tubuhnya membungkuk sambil memberi hormat, ujarnya, "Harap Baginda suka memberi ampun. Ketahuilah bahwa kedua Tongcu ini sudah pernah mendapat empat kali pahala utama!"

"Penggal kepalanya!"

"Hamba memberanikan diri bertanya, apakah kesalahan mereka?"

"Bekerja secara ceroboh, merusak gengsi dan nama kebesaran Te Po!"

"Harap diberikan data-data yang jelas?"

"Hu Ma Suma Bing ternyata sudah mempunyai istri. Ini menandakan bahwa cara bekerja kedua Tongcu itu teledor dan kurang teliti!"

"Sebelumnya, terima kasih akan budi luhur dan kebajikan hati Baginda. Harap suka diizinkan kedua Tongcu itu memberikan keterangan untuk membela diri. Kalau memang kenyataan mereka bersalah, barulah hukuman dijalankan!"

"Baik, kululuskan permohonanmu!"

"Terima kasih!"

Komisaris Luar Teng Tiong Cwan tersipu-sipu mengundurkan diri, kepala dan badannya basah kuyup oleh keringat. Tidak lama kemudian, ia kembali membawa dua orang laki-laki paruh baya yang terus berlutut dan menyembah di lantai.

Suara Te Kun terdengar berat dan lantang, "Silakan Sim Tongcu membela diri!"

Terdengar salah satu dari dua laki-laki itu mengiakan dan berkata gemetar, "Sim Tongcu Song Lip Hong memberi keterangan sebagai berikut: Hamba menerima perintah khusus untuk menyelidiki Suma Bing Hu Ma yang sudah ditunjuk. Menurut apa yang telah hamba selidiki, sebelum ini Hu Ma memang benar-benar belum menikah. Dia mempunyai tiga kawan wanita, yaitu: Siang Siau Hun, Ting Hoan, dan Phoa Kin Sian. Di antaranya, seluk-beluk Phoa Kin Sian ini paling mencurigakan. Dia pernah berhubungan lebih mendalam dengan Hu Ma, tapi belum diadakan ikatan jodoh!"

"Tapi, Hu Ma sendiri menyangkal keteranganmu ini!"

"Harap Baginda Raja suka memeriksa secara jelas!"

Menonton sambil mendengarkan, hati Suma Bing semakin kebat-kebit. Ternyata mereka mengetahui segala seluk-beluknya di kalangan Kangouw. Kalau dirinya masih tetap mengukuhkan pendapatnya yang terdahulu, maka kedua Tongcu ini pasti akan dipenggal kepalanya dan mati secara konyol.

Meskipun sifatnya angkuh dan dingin, namun hakikatnya wataknya welas asih dan jujur. Mana tega dia melihat kedua orang ini dihukum mati karena dirinya? Maka, segera ia menyela, "Aku yang rendah berani menjadi saksi bahwa apa yang diucapkan oleh Tuan ini memang benar adanya."

Sebutan diri dengan istilah 'aku yang rendah' ini bagi pendengaran Teng Tiong Cwan dan lain-lain sangat menusuk telinga; sebagai Hu Ma atau menantu raja, mengapa sedemikian merendahkan derajat?

Te Kun tambah gusar, semprotnya, "Suma Bing, mengapa kau begini plin-plan menjilat ludahmu sendiri?"

Suma Bing tertawa mengejek, sahutnya, "Upacara pernikahan kami terjadi sejam sebelum aku tertawan oleh kalian kemari."

"Apa betul demikian?"

"Kenyataan memang begitu!"

Rona wajah Te Kun berubah-ubah tak menentu. Tangannya diangkat serta berseru, "Kalau begitu, hal ini bukan menjadi kesalahan kalian berdua, kalian boleh mengundurkan diri."

Komisaris Luar bersama kedua Tongcu itu berlutut berulang-ulang sambil menyatakan rasa terima kasih sebesar-besarnya akan kebajikan dan keadilan sang raja. Segera mereka mengundurkan diri. Sebelum pergi, entah sengaja atau tidak, sinar mata Sim Tongcu Song Lip Hong melirik ke arah Suma Bing; cahaya matanya menyatakan syukur dan terima kasih yang tak terhingga.

Sekian lama Te Kun terpekur dan berpikir, air mukanya berubah sungguh-sungguh. Serunya dengan suara rendah dan kuat, "Kalau kenyataan sudah terjadi, tidak bisa diganggu gugat..."

Dengan penuh perasaan, segera Suma Bing menukas, "Aku yang rendah tidak sudi menjadi manusia yang tidak mengenal budi. Phoa Kin Sian dengan cayhe sudah mengikat jodoh terlebih dahulu!"

"Tentu Lohu akan mengambil keputusan yang sempurna untuk kebaikan kedua belah pihak. Kalian berdua boleh mengundurkan diri!"

Sebenarnya Suma Bing masih hendak mengucapkan sesuatu, tapi sejak dia mengetahui sedikit persoalannya, sirap dan tenanglah gejolak hatinya. Apalagi janji Pit Yau Ang yang bersedia membantu dan tidak akan menolak apa pun yang diajukan olehnya, maka mulutnya ditutup rapat. Tanpa bersuara, ia mengikuti Pit Yau Ang mengundurkan diri keluar dari ruang istana belakang.

Begitu sampai di kamar sendiri, tanpa membuang waktu, segera Suma Bing bertanya, "Kau masih ingat janjimu sendiri?"

"Sudah tentu ingat!" sahut Pit Yau Ang tertegun.

"Kalau begitu, aku mengajukan satu permintaan!"

"Coba katakan!"

"Dalam waktu dekat ini, aku harus segera meninggalkan perkampungan ini."

Wajah Pit Yau Ang berubah sedih, tanyanya, "Kau hendak pergi?"

"Kenapa aku harus tinggal di sini?"

"Apa tidak kau pikirkan lagi?"

"Tidak!"

"Tapi..."

"Kau hendak mengingkari janji?"

Merah mata Pit Yau Ang, ujarnya, "Engkoh Bing, memang ini sudah nasib, aku tak kuasa menentang kehendak Allah. Tapi aku sudah menjadi milikmu. Meskipun kau tidak sudi memandang dan membuang aku, isi hatiku hanya Tuhan yang tahu. Aku berani menempuh bahaya dan membangkang terhadap orang tua untuk mengantarmu keluar. Tapi Ayah pasti tidak mau melepaskan kau. Di kalangan Kangouw, setiap langkahmu pasti selalu terancam bahaya..."

"Itu urusanku selanjutnya!"

Kata Pit Yau Ang sambil menggigit bibir, "Baik, selama tiga hari ini biarlah aku coba membujuk Ayah Baginda supaya kau boleh keluar. Tentang aku ini, ai..." Betapa sedih dan perih perasaan hatinya, semua tercurahkan dalam helaan napas panjang ini.

Manusia tidak bisa disamakan dengan batu atau kayu, betapapun masih mempunyai perasaan. Sampai saat itu, Suma Bing sendiri juga merasa menyesal. Memang bagaimanapun juga mereka sudah menjadi suami istri secara resmi, tapi apa yang dapat diperbuatnya? Tak mungkin dia mengabaikan begitu saja istrinya yang pertama, yaitu Phoa Kin Sian yang tidak lama lagi bakal melahirkan anaknya.

Dia menggelengkan kepala dengan hampa.

"Engkoh Bing," ujar Pit Yau Ang sambil tersenyum getir, "Maukah kau dengar sedikit penjelasanku?"

"Baik, ceritakanlah!"

Sejenak Pit Yau Ang ragu, lalu katanya dengan rasa berat, "Engkoh Bing, ini merupakan rahasia dari perkampungan kita, tapi tidak bisa tidak harus kuajukan kepadamu..."

"Kalau ada kesukaran, kau boleh tidak usah mengatakan. Aku tidak minta kau membocorkan rahasia!"

Rona wajah Pit Yau Ang agak berubah, tapi sekuat mungkin ia menahan perasaannya dan menelan segala hinaan serta kedongkolan hatinya. Mulailah dia memberikan penjelasan, "Menurut tradisi, majikan dari Perkampungan Bumi ini dinamakan Te Kun (Raja Bumi). Semua punggawa atau hulubalangnya juga turun-temurun adalah keturunan asli dari perkampungan ini. Demikian juga pangkat dan pakaian dinas mereka sudah tertentu, tidak gampang diubah. Hal-hal ini kau sendiri sudah melihat, bukan kita sengaja hendak main sandiwara di hadapanmu. Tentang cara penggantian Te Kun, di sini ada suatu undang-undang tersendiri, yaitu bahwa kedudukan raja harus diturunkan kepada putranya yang terbesar. Tapi bila tidak mempunyai putra, maka anak putrinya diperbolehkan mencari calon suaminya sendiri di kalangan Kangouw. Calon Hu Ma ini harus seorang ksatria yang gagah perwira dan mempunyai pembekal besar untuk diselundupkan masuk Perkampungan Bumi guna menjabat kedudukan Te Kun ini."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment