Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 90

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 90

"Ini adalah undang-undang keras dari kakek moyang kita, maka terpaksa aku harus berbuat begitu..."

"Betapa besar kalangan Kangouw ini, bagaimana bisa memilih aku?"

"Ini..."

"Ini apa?"

"Adalah aku sendiri yang menaruh hati kepada Siangkong..."

"Jadi jelasnya adalah kau yang memilih aku?"

"Ya, begitulah jelasnya!"

"Gambar dalam bola kaca bundar itu, bagaimana pula kau hendak menerangkannya?"

"Itu hanya sebuah lukisan belaka!"

"Sebuah lukisan?"

"Benar, aku sedikit pandai menggambar. Maksudku semula hanya hendak menyimpan gambar lukisan itu sebagai peringatan saja."

Sedikit banyak akhirnya Suma Bing paham dan maklum akan duduk perkara semua peristiwa ini. Sungguh tak terkirakan sebelumnya bahwa dirinya bakal terpilih sebagai calon Huma atau majikan dari Perkampungan Bumi ini. Setelah mendengar semua penjelasan itu, rasa gusar dan tidak puas hatinya lambat laun lumer dan tenanglah hatinya. Kalau mereka tidak bermaksud jahat dan sengaja menipu, tiada alasan lagi ia harus memusuhi atau dendam kepada mereka.

Sebaliknya, ia harus menerima satu kenyataan bahwa Pit Yau Ang adalah istrinya. Kenyataan ini benar-benar membuat dia serba runyam. Ia tidak bisa tidak harus mengakui istri kedua ini, tapi terhadap Phoa Kin Sian serta gurunya, bagaimana dia mesti memberi penjelasan dan pertanggungjawaban? Bukan saja sudah resmi menjadi istrinya, malah dia sekarang sudah mengandung, tinggal menunggu waktu melahirkan.

Karena pikirannya ini, tanpa terasa ia menghela napas panjang, katanya gemas: "Adik Ang, kau salah pilih orang!"

Panggilan 'Adik Ang' ini membuat lega perasaan Pit Yau Ang, suaranya gemetar: "Engkoh Bing, mengapa kau katakan aku salah memilih kau?"

"Sebab aku sudah mempunyai istri!"

"Semua ini terjadi di luar dugaan. Sebab menurut keadaan semula, apa yang kami tahu tentang kau adalah belum pernah menikah. Sekarang beras sudah menjadi nasi. Jangan kata seorang wanita dari semula sampai akhir selamanya akan setia kepada suaminya, tapi entah bagaimana aku harus memberikan pertanggungjawabanku kepada Te Po atau seluruh penghuni perkampungan ini. Tapi Engkoh Bing, aku tetap masih menepati janjiku semula kepadamu. Tiga hari lagi kau pasti dapat berada lagi di kalangan Kangouw, tentang selanjutnya..." ia tak kuasa melanjutkan kata-katanya, air mata semakin deras meleleh keluar.

Sepasang pengantin baru yang bahagia seharusnya merasa riang gembira. Ini merupakan saat yang paling menggembirakan selama hidup, namun sebaliknya mereka melewati saat-saat bahagia itu dengan digenangi air mata yang memilukan hati.

Di tengah mereka bercakap-cakap inilah mendadak terdengar suara seorang dayang berkata: "Lapor Kiongcu, Coh Yu Hu Pit tengah menanti kedatangan Huma di luar ruangan istirahat!"

"Sudah tahu, segera kita datang!"

Alis Suma Bing berkerut dalam, katanya: "Mau pergi kau pergilah sendiri, aku tiada minat bertemu dengan mereka."

"Engkoh Bing, tidak dapat tidak kau harus temui mereka."

"Tidak!"

"Engkoh Bing, kedudukan Coh Yu Hu Pit ini hanya lebih rendah di bawah Ayah Baginda. Kalau dia minta bertemu, pasti ada urusan yang sangat penting, harap kau suka menyusahkan diri sebentar untuk bertemu dengan mereka!" Wajahnya menunjukkan rasa memohon yang harus dikasihani.

Apa boleh buat, terpaksa Suma Bing mengangguk juga. Dibimbing dan diiringi serombongan para dayang, mereka beramai-ramai menuju ruang istirahat yang terletak di sebelah kamar mereka. Dua orang tua yang masing-masing tangan kiri dan kanannya membekal lencana gading mengenakan pakaian kebesaran lengkap sudah menanti di tengah ruang istirahat ini.

"Coh Hu Si Kong Teng, Yu Pit Ciu Goan Tiong menghadap Huma dan Kiongcu!" kedua orang tua ini berbareng memperkenalkan diri sambil membungkuk hormat.

Sikap Suma Bing tetap dingin, tangannya diulapkan dan berkata: "Kalian tidak perlu banyak peradatan, ada kepentingan apakah?"

Coh Hu Si Kong Teng berkata dengan sikap serius: "Kami mendapat perintah dari Te Kun untuk mempersembahkan arak kepada Huma!"

"Memberi arak?" dengan penuh keheranan dan tak mengerti, Suma Bing melirik ke arah Pit Yau Ang.

Pit Yau Ang berkata lirih: "Nyatakan terima kasih akan pemberian arak ini!"

Sekian lama Suma Bing ragu-ragu, akhirnya berkata ogah-ogahan: "Terima kasih!" Dia tidak tahu persoalan apalagi tentang pemberian arak ini, pikirnya, apa mungkin ada muslihat lagi?

Yu Pit Ciu Goan Tiong segera mengeluarkan sebuah cangkir kecil yang terbuat dari batu giok dari balik jubahnya yang besar kedodoran, serta sebuah poci kecil berwarna putih kehijauan. Dengan hati-hati dan penuh hormat, dituangkannya secangkir penuh, lalu Coh Hu Si Kong Teng maju mempersembahkan dengan kedua tangannya seraya berkata: "Huma, silakan minum!"

Suma Bing menyambut dan melihat isi dari cangkir itu, seketika berubah air mukanya. Arak apa ini yang terang adalah darah kental dengan warna merahnya yang menyolok mata? Tanpa sadar tubuhnya bergidik. Sebaliknya, Pit Yau Ang malah menunjukkan rasa girang luar biasa, katanya lemah lembut: "Pemberian dari orang tua tidak bisa ditolak. Engkoh Bing, lekaslah minum!"

Suma Bing menjadi nekad, sekali tenggak ia habiskan isi cangkir itu. Siapa tahu begitu masuk tenggorokan, arak itu terasa dingin dan berbau wangi. Beruntun tiga cangkir ia habiskan sehingga seluruh isi poci kecil itu kering.

Coh Hu dan Yu Pit berseru berbareng: "Selamat, Huma." Sambil membungkuk hormat, segera mereka mengundurkan diri.

Tidak lama setelah Coh Hu dan Yu Pit keluar, Suma Bing lantas merasakan kepalanya berat, pandangannya kabur, terasa tempat ia berpijak berputar jungkir balik. Diam-diam ia mengeluh, celaka, pasti aku terjebak pula dalam tipu muslihat mereka. Maka tanpa banyak pikir lagi, segera dia membentak keras: "Bangsat rendah, kubunuh kau!" Tangannya sudah terangkat memukul ke arah Pit Yau Ang, namun baru saja tenaganya dikerahkan, kepalanya terasa berat dan kakinya lemas, kontan dia roboh terkapar tak ingat diri.

Entah sudah berselang berapa lama, pelan-pelan Suma Bing siuman dari tidurnya, didapatinya dirinya rebah di atas ranjang gading dalam kamarnya. Terlihat Pit Yau Ang tengah bertopang dagu duduk di atas kursi, entah apa yang tengah direnungkan. Diam-diam Suma Bing juga tengah berpikir dan mengenang kembali pemberian arak dari Te Kun itu lantas dirinya jatuh mabuk. Masak sedemikian besar khasiat tiga cangkir arak itu, seketika membuat dirinya mabuk dan jatuh pingsan?

Pelan-pelan dicobanya mengerahkan tenaga murni dalam tubuh. Begitu dikerahkan, sungguh kejutnya tidak kepalang, jantungnya berdetak sangat keras. Terasa hawa murninya penuh padat bergelora bergulung-gulung bagai gelombang badai, sehingga terasa tubuhnya ringan bagai terapung di tengah udara. Apakah yang telah terjadi, bagaimana bisa lwekangnya mendadak bertambah satu kali lipat lebih? Sekian lama dia terlongong-longong mematung rebah di pembaringan, kedua matanya melotot kesima memandang langit-langit, perasaannya hampa, semangatnya lesu. Apa mungkin ini hasil khasiat dari arak berwarna merah darah itu...

"Adik Ang!"

Tersipu-sipu Pit Yau Ang bangkit berdiri terus berlari-lari kecil mendekati pembaringan, matanya tajam penuh kasih mesra memandang Suma Bing, tanyanya: "Engkoh Bing, kau sudah bangun, ada apakah?"

"Aku... agaknya merasa..."

"Merasa apa?"

"Tenaga dalamku maju berlipat ganda!"

Pit Yau Ang lantas menunjukkan senyum berseri, katanya: "Engkoh Bing, silakan kau coba tembusi jalan darah mati-hidupmu!"

"Apa jalan darah mati-hidup?" seru Suma Bing berjingkrak kaget.

"Benar, coba adakah gejala-gejala yang aneh?"

Suma Bing masih tidak mengerti, namun dia menurut mengerahkan tenaga murni terus disalurkan ke seluruh tubuh. Begitu satu putaran sudah selesai, tanpa terasa dia menjerit kaget: "Jalan darah mati-hidupku sudah tembus?"

"Tidak salah."

"Bagaimana sebenarnya..."

"Ayah Baginda memberikan tiga cangkir Te Liong Po Hiat kepadamu, apa kau sudah lupa?"

Suma Bing berjingkrak bangun dari atas pembaringan, kagetnya belum hilang: "Apa Te Liong Po Hiat (darah pusaka naga bumi)?"

"Benar, dalam Perkampungan Bumi ada sebuah sumber alam yang keluar dari nadi bumi dinamakan Te Liong atau Naga Bumi. Setiap bulan pada malam terang bulan, dari sumber nadi ini menetes keluar setitik getah berwarna merah darah, maka itu dinamakan darah pusaka naga bumi!"

"Setiap bulan hanya satu titik saja?"

"Ya, setiap bulan hanya keluar setitik saja!"

Hampir-hampir Suma Bing tidak percaya akan pendengaran kupingnya, ini benar-benar suatu keajaiban dalam dunia. Maka katanya penuh haru: "Jadi aku sudah minum sebanyak tiga..."

"Tiga cangkir darah pusaka, itu sudah disimpan selama enam puluh tahun!"

"O, mengapa ayahmu mau menghadiahkan barang pusaka yang tak ternilai itu untuk..."

Wajah Pit Yau Ang berubah sungguh: "Ini juga merupakan undang-undang dari Te Po!"

"Undang-undang lagi? Aku tidak paham!"

"Sebab kau adalah ahli waris Raja yang akan datang, maka dalam waktu dekat tenaga dalammu harus segera disempurnakan!"

Pucat wajah Suma Bing, sungguh dia menyesal telah minum tiga cangkir arak itu. Kalau tahu demikian halnya, tidak bakal dia mau minum darah pusaka naga bumi itu. Berbagai tugas berat menuntut balas tengah mengikat dirinya. Mati-hidup ibundanya juga belum diketahui, masa depan selanjutnya susah diraba, mana mungkin...

Karena pikirannya ini, berkatalah dia dengan lesu: "Tapi aku belum setuju untuk menjadi ahli waris Raja Bumi kalian..."

Pit Yau Ang menarik muka, katanya: "Engkoh Bing, upacara menurut undang-undang kakek moyang sudah berlaku dan tak mungkin diubah lagi. Kalau kau berkukuh tidak mau menerima aliran Te Po ini, mungkin untuk selanjutnya juga akan ludes. Tapi aku sudah berjanji sebelumnya, kau tak usah khawatir, aku menggunakan segala daya upaya untuk membujuk dan menahanmu di sini. Setelah besok hari, kalau memang aku tidak bisa membujuk Ayah Baginda supaya kau diluluskan keluar perkampungan, aku... tetap akan mengantarmu keluar. Tentang akibatnya, ai, Engkoh Bing, kuharap selalu kau ingat seorang sengsara yang pernah tidur semalam dengan kau!" suaranya sedih memilukan.

Suma Bing juga merasa sesak tenggorokannya, katanya penuh penyesalan: "Adik Ang, maafkan aku, aku terpaksa berbuat demikian!"

"Aku paham, tidak perlu maaf apa segala. Agaknya kita berjodoh dalam khayalan belaka, nasib manusia tidak bisa ditentang!"

"Adik Ang, kalau aku mengabaikan seorang istri, aku lebih tidak berbudi. Dendam perguruan dan sakit hati orang tua kalau tidak kubalaskan lebih-lebih aku tidak berbakti. Cinta kasihmu, Adik Ang, akan kukenang dalam lubuk hatiku sepanjang masa!"

Di dalam Perkampungan Bumi tidak kenal perbedaan siang dan malam, selalu terang benderang. Setiap kali berganti pelita atau menambah minyak lampu, itu menandakan hari kedua mulai mendatang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment