Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 91

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 91

Suma Bing berjalan mondar-mandir di dalam kamar tidurnya dengan perasaan tidak tenang. Hatinya berdebar gelisah menanti jawaban dari Pit Yau Ang.

Apakah ia dapat membujuk ayahnya agar dirinya diizinkan keluar dan kembali ke dunia Kangouw? Jika dia membangkang dan nekat mengantarkan dirinya keluar, apa yang bakal dialaminya? Setelah bebas di dunia Kangouw, apakah Te Po akan membiarkan dirinya berkelana begitu saja? Tidak dapat disangkal bahwa dirinya sudah terikat sebagai suami istri dengan Pit Yau Ang; tidakkah perbuatannya ini keterlaluan? Te Kun sendiri pernah mengatakan hendak mengatur urusan Phoa Kin Sian sedemikian rupa, namun bagaimana caranya agar pengaturan itu sesempurna mungkin? Tengah pikirannya melayang-layang, terlihat Pit Yau Ang bergegas mendatanginya. Mimik wajahnya menunjukkan urusan yang tidak menyenangkan.

"Bagaimana, Adik Ang?"

"Ayah tidak mengizinkan!"

"Tidak diizinkan?"

"Ayah berkata, setelah kau dapat mempelajari seluruh kepandaian tunggal dari Te Po, baru boleh dirundingkan apakah kau boleh keluar atau tidak!"

Dingin perasaan Suma Bing mendengarnya. Wajah Pit Yau Ang penuh kesedihan dengan air mata berlinang di kelopak matanya. Ia berkata lagi, "Engkoh Bing, biar kuantar kau keluar!"

"Kau..."

"Ya, terpaksa aku membangkang pada Ayah. Tidak ada cara lain yang lebih sempurna."

Ucapan membangkang kepada orang tua itu benar-benar membuat Suma Bing ragu dan terpukul batinnya. Pit Yau Ang telah melakukan tanggung jawab sebagai seorang istri kepada suaminya; mungkinkah dirinya tidak memiliki rasa cinta kasih sedikit pun? Untuk dirinya, istrinya rela membangkang kepada orang tua tanpa memikirkan akibat buruk yang bakal terjadi. Tak peduli bagaimana mereka menikah, hakikatnya wanita itu sudah menjadi istrinya. Betapa luhur dan bajik hati istrinya, benar-benar di luar dugaannya.

Akhirnya Suma Bing berkata, "Adik Ang, aku tidak bisa membawa kau ikut serta. Biarlah aku langsung berhadapan dengan Te Kun untuk memohon..."

"Kalau begitu, selamanya kau takkan dapat keluar lagi. Kata-kata Ayah keras sekokoh gunung, tidak dapat diganggu gugat. Dia takkan mengubah maksudnya semula."

"Tapi setelah aku pergi, kau akan..."

"Engkoh Bing, kau dapat berkata demikian saja, hatiku sudah terhibur. Sekarang, gantilah pakaianmu yang semula, biar kuantar kau keluar melalui jalan rahasia!"

Suma Bing sadar bahwa ia harus kembali ke dunia Kangouw karena berbagai tugas suci tengah menanti penyelesaiannya. Pada saat sebelum berpisah itulah ia baru sadar bahwa hatinya juga mencintai Pit Yau Ang. Sejak mengetahui duduk perkara yang sesungguhnya, rasa gusarnya telah lenyap, berganti dengan perasaan berat dan penderitaan batin yang kontras. Namun, ia harus berpisah karena ada tanggung jawab yang lebih besar.

Pit Yau Ang mengeluarkan pakaian asal Suma Bing dan membantunya berganti. "Engkoh Bing, apa kau membenciku?"

Suma Bing menjawab jujur, "Memang begitulah sebelum ini. Tapi sekarang tidak!"

"Kau tidak membenciku?"

"Malah aku harus berterima kasih atas bantuanmu ini. Hal ini takkan terjadi pada wanita pada umumnya."

"Kuharap kau tetap ingat kepadaku..."

"Aku pasti!"

Tanpa terasa, ia memeluk Pit Yau Ang. Bibir bertemu bibir, mereka berciuman dengan penuh gairah. Selama tiga hari setelah menikah, baru kali inilah mereka merasakan kenikmatan dan kemesraan yang takkan terlupakan. Namun bagi Pit Yau Ang, ciuman ini adalah ciuman perpisahan yang menyedihkan dan meluluhkan hatinya.

Tangan bergandengan, mereka melewati berbagai penjagaan ketat dari tempat terlarang. Di luar, mereka bercakap-cakap dan bersenda gurau, namun batin mereka sangat tertekan. Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah kamar buku yang penuh dengan rak berjajar. Pit Yau Ang menekan salah satu buku, seketika rak itu bergeser mundur dan terbukalah sebuah pintu. Tanpa suara, Suma Bing mengintil di belakang Pit Yau Ang. Mereka memasuki lorong panjang yang berbelok-belok, melewati undakan yang menanjak naik, hingga akhirnya sampai di ujung lorong setelah kira-kira sepeminuman teh.

Begitu alat rahasianya digerakkan, sebuah lubang sebesar dua kaki persegi terbuka di atas lorong. Sekali loncat, Pit Yau Ang melesat keluar. Suma Bing segera menyusul, lalu berdiri mematung kesima. Ternyata mereka berada di dalam ruang sembahyang sebuah kelenteng yang bobrok dan tidak terurus. Lubang itu tepat berada di bawah patung pemujaan yang telah bergeser ke samping.

Suma Bing heran dan bertanya, "Apa di sini tidak ada orang yang menjaga?"

"Tidak. Jalan rahasia ini hanya diketahui oleh para Tongcu dan pejabat tinggi saja. Selamanya jarang digunakan, maka tidak gampang ditemukan. Apalagi tempat ini berada di atas pegunungan yang jarang didatangi manusia!"

"Jadi, Perkampungan Bumi dibangun di bawah tanah?"

"Tidak salah, di dalam bumi!"

"Bagi kaum persilatan, Te Po dipandang sebagai teka-teki!"

"Ini tidak bisa disalahkan. Selamanya perkampungan kita jarang turut campur dalam segala pertikaian di dunia persilatan. Seumpama petugas kita berkelana di kalangan Kangouw, mereka juga tidak pernah memperkenalkan diri. Maka yang mengetahui boleh dikata sangat jarang!"

Pada saat itulah, sebuah suara berat dan garang terdengar di belakang mereka, "Budak kurang ajar, sungguh besar nyalimu!"

Kontan wajah Pit Yau Ang berubah pucat. Ia mundur tiga langkah dengan mata ketakutan memandang ke arah pintu kelenteng. Suma Bing segera membalikkan tubuh dan memandang ke depan. Ternyata Te Kun sudah berdiri di ambang pintu dengan sinar mata memancarkan kegusaran yang menyala-nyala.

Pit Yau Ang tersipu-sipu sambil menekuk lutut menyembah, "Ayah!"

Te Kun benar-benar murka, serunya, "Budak, apakah maksudmu sebenarnya? Berani terang-terangan melanggar pantangan undang-undang perkampungan, juga berani mendurhakai orang tua?"

"Ayah, anak terpaksa berbuat begini..."

"Maksudmu dia menekan kau?"

Sinar mata Te Kun bagai kilat menyapu ke arah Suma Bing. Suma Bing bergidik dipandang sedemikian rupa. Pit Yau Ang menjawab gemetar, "Dia tidak menekan anak!"

"Jadi ini keluar dari tujuanmu sendiri?"

"Anak pernah melulusi mengantar dia keluar ke kalangan Kangouw untuk menyelesaikan tugas sucinya menuntut balas bagi perguruan dan orang tuanya!"

Wajah Te Kun semakin membesi, "Bagaimana bunyi undang-undang ketiga?"

Seketika wajah Pit Yau Ang menjadi pucat pasi. Ia memekik sedih, "Ayah!"

"Katakan, bagaimana bunyi peraturan ketiga?"

"Apa Ayah tidak mengingat hubungan ayah dan anak lagi?"

"Peraturan tidak boleh dilanggar!"

Suma Bing menjadi serba salah dan tidak enak turut campur. Wajah Pit Yau Ang yang pucat pasi mendadak berubah merah membara, mengandung tekad yang besar. Sekilas ia melirik Suma Bing, lalu berkata terbata-bata, "Peraturan ketiga berbunyi: Barang siapa sengaja melanggar, harus dihukum mati!"

Tiba-tiba tubuh Suma Bing gemetar. Apakah Te Kun sudah tidak peduli lagi akan hubungan darah dan benar-benar hendak menghukum Pit Yau Ang menurut undang-undang Te Po? Jika ini terjadi, pangkal dari semua peristiwa ini adalah dirinya. Mana bisa ia tinggal berpangku tangan?

Dengan nada suara yang menegangkan, Te Kun berkata, "Kau sudah tahu, itulah baik..."

"Ayah, anak ada satu permintaan!"

"Katakan!"

"Anak rela dihukum karena melanggar undang-undang perkampungan, tapi aku harap Ayah dapat melepaskan Suma Bing. Meskipun mati, anak sangat berterima kasih..."

"Tidak mungkin terjadi!"

Suma Bing melangkah setindak, dengusnya dingin, "Akulah yang memaksanya berbuat demikian."

Te Kun menggeser tubuh menghadapi Suma Bing. Sinar matanya mencorong setajam ujung pedang. Bentaknya bengis, "Kau yang memaksa dia?"

"Tidak salah!"

"Bagaimana cara kau memaksa dia?"

"Mengandalkan kekuatanku!"

"Tutup mulut! Berani kau berbohong di hadapanku?"

"Apa yang kau anggap bohong?"

Te Kun mendengus, "Tentang ilmu silat, kau masih terpaut sangat jauh dibanding budak kurang ajar ini. Setelah kau minum Te Liong Po Hiat, meskipun tenaga dalammu bertambah, latihan dan kepandaian sejatimu masih bukan tandingannya. Berani kau membual hendak menipu aku? Dengan kemampuanmu, pasti tidak mungkin menundukkan dia. Apalagi jalan rahasia ini penuh jebakan dan alat rahasia. Kalau dia tidak sengaja hendak membangkang, seumpama kau tumbuh sayap pun, jangan harap dapat terbang keluar!"

Saking malu, wajah Suma Bing merah padam. Ia membantah, "Lalu Te Kun hendak apa?"

"Kedudukanmu saat ini sudah jadi salah satu dari kerabat Perkampungan Bumi. Kalian berdua harus menjalani hukuman yang sama."

Suma Bing mengertakkan gigi, semprotnya, "Aku yang rendah sekarang hendak menentang!"

"Sekali lagi kau berani mengatakan 'aku yang rendah', biar Pun Te Kun membunuhmu lebih dulu!"

"Aku yang..."

"Bedebah!"

Dibarengi bentakan makian ini, Te Kun langsung memukul ke arah Suma Bing.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment