Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 92

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 92

Suma Bing terkejut bukan main, tangannya baru saja diangkat...

"Ayah!" Di tengah pekikan memilukan itu, secepat kilat Pit Yau Ang melesat menghadang dan memapaki arah pukulan Te Kun.

Perbuatan nekat ini benar-benar di luar dugaan siapa pun. Dalam gusarnya, Te Kun melancarkan pukulan sepenuh tenaga; mana mungkin dapat ditarik kembali.

"Blang!" Terdengar pekik kesakitan yang menusuk telinga. Tubuh ramping Pit Yau Ang kontan terpelanting jauh ke luar halaman kelenteng.

Tampak sebuah bayangan berkelebat; ternyata Suma Bing menggunakan gerak kelit dari *Bu Siang Sin Hoat*. Sekali berkelebat, ia telah sampai di luar kelenteng dan sigap menyambut tubuh Pit Yau Ang yang hampir menghantam tanah dengan keras.

"Gerak tubuh yang hebat!" Seorang tua berpakaian pertapa tiba-tiba muncul bagai bayangan setan.

"Engkoh Bing," panggil Pit Yau Ang, lantas mulutnya menguak menyemprotkan darah segar sebelum akhirnya jatuh pingsan.

Hati Suma Bing seperti disayat-sayat; tubuhnya bergetar dan hampir mengejang.

"Pit Lote, begitu tegakah kau turun tangan terhadap anakmu sendiri?" Saat Suma Bing berpaling, terlihat seorang tua berjenggot panjang yang menjulai sampai ke perutnya. Ia mengenakan baju bersulam *patkwa*, kepalanya diikat kain sutra, dan di tangannya menggenggam sebuah kipas. Sikapnya angker laksana pertapa sakti yang berdiri lima kaki di belakangnya.

Seruan memuji bernada kagum tadi agaknya keluar dari mulut orang tua ini. Karena seluruh perhatiannya tertuju kepada Pit Yau Ang, Suma Bing tidak menghiraukan seruan tersebut. Dilihat dari cara orang itu berpakaian dan sikapnya, diam-diam benak Suma Bing menjadi tidak tenteram.

Siapa dia? Te Kun, raja yang dipertuan agung dari Te Po, ternyata hanya dipanggilnya sebagai *Lote* (adik tua). Rona wajah Te Kun pun tidak menentu, sulit diselami; ia berdiri mematung tanpa mampu membuka suara.

Pikiran Suma Bing berkelebat cepat. Batinnya bertanya, "Apa mungkin dia orangnya?" Ia teringat dulu saat si maling bintang Si Ban Cwan menyamar menjadi Kang Kun Lojin untuk menggebah lari Si Tiau Khek. Konon kabarnya, Kang Kun Lojin sudah meninggal dunia empat puluh tahun yang lalu. Namun, bentuk wajah dan cara berpakaian orang tua ini benar-benar serupa dan persis dengan penyamaran si maling bintang dulu.

Apa mungkin kabar di kalangan Kangouw itu bohong belaka dan orang tua ini ternyata masih hidup dengan sehat walafiat? Karena pemikiran itulah, tebersit seruan dari mulutnya, "Apakah julukan Lo Cianpwe adalah Kang Kun Lojin?"

Orang tua berjenggot putih itu tergelak tawa sekian lamanya, lalu ujar-nya, "Buyung, pengalamanmu luas juga!"

Suma Bing malah tertegun. Tidak terduga olehnya bahwa orang tua ini ternyata benar-benar Kang Kun Lojin yang sangat ternama di seluruh dunia. Situasi ketegangan mulai mereda setelah Kang Kun Lojin muncul.

Dengan tajam, Kang Kun Lojin memandang Pit Yau Ang yang rebah dalam pelukan Suma Bing, lalu mengerutkan alisnya dan berkata kepada Te Kun, "Lote, apakah yang telah terjadi?"

Te Kun menghela napas panjang, sahutnya, "Loko (saudara tua), dia inilah menantu dan ahli waris raja Suma Bing yang terpilih menurut undang-undang tradisi kita!"

"Tepat, berbakat, dan bertulang bagus. Pandanganmu benar-benar hebat!"

"Budak itu sendirilah yang memilihnya!"

"Oh, jeli dan tajam benar pandangan budak ini!"

Agaknya Te Kun enggan mempersoalkan semua yang sudah terjadi di hadapan Suma Bing. Maka, ia lantas menggunakan ilmu *Coan Im Jip Bit* untuk bercerita kepada Kang Kun Lojin. Setelah itu, ia baru berkata dengan suara keras, "Loko, urusan ini biarlah kuserahkan kepadamu, bagaimana?"

Kang Kun Lojin menggoyang-goyangkan kipasnya, "Aku juga ada sedikit urusan dengan engkoh kecil ini. Baiklah, biarlah urusan ini engkoh tuamu yang tanggung."

"Kalau begitu, terima kasih!"

"Tidak perlu, bawalah budak kecil itu pulang. Lukanya tidak ringan!"

Dari samping, Suma Bing semakin keheranan. Agaknya dengan beberapa patah kata saja, Kang Kun Lojin sudah dapat membujuk Te Kun.

Kang Kun Lojin maju memapah tubuh Pit Yau Ang. Dengan salah satu tangannya, ia meraba pernapasan gadis itu sebentar, lalu menyerahkannya kepada Te Kun. Ia berputar menghadap Suma Bing dan berkata, "Buyung, aku orang tua tidak memaksa kau. Kalau kau rela, berlutut dan minta maaflah kepada mertuamu!"

Selama ini sifat Suma Bing sangat angkuh. Sebenarnya hatinya hendak membangkang, tapi karena budi Pit Yau Ang terhadapnya sedemikian besar serta demi menghormati Kang Kun Lojin, maka terpaksa ia berlutut dan berseru, "Harap Te Kun suka memberi ampun!"

Ia tidak mau menyebut *Gak Tio* atau mertua, dan menyebut diri pribadi sebagai *siau say* atau menantu. Terang bahwa permintaan maafnya ini dilakukan dengan sangat terpaksa.

Te Kun mengibaskan sebelah tangan dan berseru, "Sudahlah, bangun!"

Kang Kun Lojin mengebutkan kipasnya dan berkata, "Buyung, mari kita pergi!" Habis berkata, ringan sekali tubuhnya melayang keluar kelenteng.

Penuh keheranan dan tak mengerti, Suma Bing terkesima memandang bayangan punggung Kang Kun Lojin. Lalu, dipandangnya Pit Yau Ang yang masih pingsan itu lekat-lekat. Sekali berkelebat, tubuhnya melenting keluar kelenteng.

Kelenteng bobrok ini dibangun di atas gundukan tanah gundul di lereng sebuah gunung. Empat penjuru hanyalah semak belukar; tempat ini benar-benar liar, sunyi, dan tersembunyi.

Kang Kun Lojin sudah menanti di luar kelenteng. Tangannya menunjuk ke puncak sebelah kiri seraya berkata, "Buyung, mari kita ke puncak gunung itu untuk bicara!"

Suma Bing mengangguk tanpa bersuara. Dua bayangan secepat kilat terbang menuju puncak gunung yang ditunjuk tadi. Dengan kehebatan ilmu meringankan tubuh, dalam sekejap saja mereka sudah tiba di sana. Ternyata, puncak ini merupakan yang tertinggi dari puncak-puncak tetangga di sekelilingnya.

Mereka duduk di atas sebuah batu. Suma Bing membuka mulut lebih dulu, "Entah Locianpwe ada petunjuk apa?"

Sambil mengelus jenggotnya, Kang Kun Lojin berkata sungguh-sungguh, "Buyung, apa kau tahu mengapa orang tua reyot seperti aku yang sudah lama mengasingkan diri ini mau muncul lagi di dunia Kangouw?"

"Hal ini wanpwe tidak tahu!"

"Karena masih ada sebuah angan-angan yang belum terlaksana!"

"Angan-angan?"

"Benar. Inilah buah yang kutanam secara tidak sengaja sehingga sampai sekarang masih belum bisa dibuat terang. Terpaksa aku harus berkelana lagi di Kangouw untuk menyelesaikan urusan itu. Ini boleh dikata suatu akibat. Aku orang tua bukan penganut agama Buddha, tapi mengenai hukum sebab-akibat atau yang juga dinamakan hukum karma, sekarang aku sudah mulai mengerti dan dapat menyelaminya!"

Suma Bing mengangguk hampa. Entah mengapa, ia tidak tahu mengapa orang tua di hadapannya ini berbicara mengenai persoalan sebab-akibat dengan dirinya.

Setelah merandek sebentar, Kang Kun Lojin melanjutkan, "Buyung, apa kau sudi melakukan sesuatu untuk aku orang tua?"

Suma Bing melongo heran, tanyanya, "Urusan apakah yang harus wanpwe lakukan?"

"Menyelesaikan sebab dan akibat ini!"

"Coba Locianpwe terangkan!"

"Itulah tentang hilangnya *Bu Siang Po Liok* dari Siau Lim Sie!"

Suma Bing melonjak kaget, serunya, "*Bu Siang Po Liok*?"

"Sedikit pun tidak salah!"

"Ini... wanpwe masih belum jelas!"

"Buyung, di hadapanku jangan kau pura-pura main tidak tahu dan main sembunyi."

"Apakah yang Locianpwe maksudkan?"

"Yang kumaksudkan adalah *Bu Siang Po Liok* itu!"

"Hakikatnya memang wanpwe tidak mengetahui!"

Mata Kang Kun Lojin dipentang lebar. Sorot matanya nanap mengawasi wajah Suma Bing sampai sekian lama tidak berkedip, agaknya tengah menyelami hati kecilnya. Lama kemudian, ia memejamkan mata dan berkata, "Apa benar-benar kau tidak tahu-menahu tentang persoalan ini?"

"Memang aku tidak tahu!" jawab Suma Bing sejujurnya.

Kang Kun Lojin mengangguk-angguk, seperti menggumam ia berkata seorang diri, "Ai, mungkin peristiwa itu belum pernah ia tuturkan kepada anak muridnya..."

Dari empat huruf *Bu Siang Po Liok* ini, sedikit banyak Suma Bing sudah dapat menebak persoalannya. Maka, tercetus pertanyaan dari mulutnya, "Siapakah yang Locianpwe maksudkan?"

Mendadak Kang Kun Lojin berkata penuh haru, "Buyung, bagaimanapun juga, urusan ini hanya kau seorang yang dapat menyelesaikan. Sudah tentu, harus kulihat apakah kau rela melakukannya!"

"Mengapa Locianpwe tidak jelaskan lebih terang?"

Kang Kun Lojin mendongak ke langit, janggut panjangnya bertebaran diembus angin pegunungan, katanya dengan suara rendah, "Buyung, dengarkanlah sebuah cerita pada seabad yang lalu..."

Suma Bing mengangguk dengan bersemangat. Ia maklum bahwa cerita itu pasti mengenai suatu kejadian rahasia di dunia persilatan; mungkin ada sedikit atau banyak dirinya tersangkut di dalamnya sebagai akibat dari ekor peristiwa tersebut.

Kedua mata Kang Kun Lojin mendelong mengawasi langit, mulailah ia bercerita, "Seabad yang lalu, di dunia persilatan muncul tiga muda-mudi yang berkepandaian sangat tinggi dan malang melintang tiada tandingan. Mereka dinamakan *Bu Lim Sam Ki*. Sebenarnya *Sam Ki* berpencar dan ternama di daerah masing-masing. Dalam suatu kesempatan yang tidak disengaja, *Sam Ki* bertemu tanpa berjanji sebelumnya. Sungguh di luar dugaan bahwa salah satu dari *Sam Ki* atau tiga aneh itu ternyata adalah seorang perempuan yang cantik..."

Sampai di sini, tidak tahan lagi, Suma Bing segera mengajukan pertanyaan, "Setelah *Sam Ki* ternama, apa di dalam dunia persilatan masih belum ada yang tahu bahwa salah satu dari mereka adalah perempuan?"

"Kau berkata benar. Sebelum *Sam Ki* bertemu, memang betul-betul tiada seorang pun yang tahu, sebab biasanya ia menyamar sebagai pemuda!"

"Waktu dua yang lain mengetahui bahwa seorang yang lain ternyata adalah perempuan, mulailah mereka berlomba hendak mengambil hatinya. Maka, terjadilah percintaan segitiga yang merisaukan. Kedua pemuda itu sama-sama ganteng dan cakap, ilmu silatnya juga sudah sempurna. Maka, perempuan itu susah mengambil keputusan di antara mereka berdua. Akhirnya, kedua pemuda itu mengadakan perundingan rahasia untuk menyelesaikan urusan secara jantan dengan pertempuran adu silat. Bagi yang kalah, harus bersumpah untuk tidak muncul lagi di dunia persilatan selama hidup ini."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment