Chapter 93
Pertempuran berlangsung sengit. Masing-masing pihak bertarung mati-matian untuk merobohkan lawannya tanpa ada yang mau mengalah. Saat mereka hampir gugur bersama, seorang perempuan muncul dan menghentikan pertempuran berdarah itu. Akhirnya, perempuan itu mengajukan cara bijaksana untuk menyelesaikan pertikaian tersebut.
"Cara apakah itu?"
Perempuan itu berharap dapat mempelajari ilmu gerak tubuh yang hebat tiada taranya untuk menutupi kekurangannya sebagai perempuan. Menurut kabar, di perpustakaan rahasia Kuil Shaolin terdapat sebuah buku bernama *Bu Siang Po Liok* yang mencatat ilmu gerak tubuh tersebut. Karena maknanya sangat dalam dan sulit dimengerti, bahkan para pendeta Shaolin pun tidak ada yang mampu mempelajarinya selama berabad-abad. Perempuan itu kemudian meminta kedua pemuda tersebut untuk pergi ke Shaolin dan mencuri buku itu. Siapa yang berhasil mendapatkannya lebih dulu, dialah yang akan ia jadikan suami untuk selama-lamanya.
"Lalu bagaimana akhirnya?" tanya Suma Bing tertarik.
Kang Kun Lojin tampak memeras keringat untuk mengingat kembali masa silam itu. Setelah terdiam sejenak, ia melanjutkan, "Karena cinta, kedua pemuda itu rela melakukan perbuatan rendah yang paling dipandang hina oleh kaum persilatan. Mereka menyamar dan menggunakan cara masing-masing menuju Shaolin."
"Apakah salah satu di antara mereka berhasil?"
"Memang, salah satu berhasil dengan gemilang, tetapi yang lain tidak hanya gagal, melainkan terkepung dan terluka parah akibat dikeroyok para pendeta Shaolin. Walaupun akhirnya dapat melarikan diri, sejak saat itu ia menjadi cacat seumur hidup."
"Tentu pemuda yang berhasil itu bersama perempuan tersebut..."
"Dengarkan saja ceritaku."
"Ketika pemuda yang berhasil itu mengetahui saingannya terluka berat dan menjadi cacat, hatinya turut berduka dan menyesal. Ia mengubah tujuannya. Bukan saja ia menyesal atas perbuatannya yang gila dan hina, ia juga tidak puas dengan sikap perempuan itu yang menggunakan cara keji untuk menguji mereka. Maka, *Bu Siang Po Liok* yang berhasil dicurinya itu diberikan kepada pemuda saingannya yang cacat, lalu ia pergi dan tidak pernah muncul lagi."
Suma Bing memuji dengan kagum, "Sungguh mengagumkan sikap gagah dan kebajikan hati pemuda itu."
"Ya, tapi saat mengambil keputusan itu, betapa pahit dan berduka hatinya."
"Selanjutnya bagaimana?"
"Tentu pemuda cacat itu menikah dengan perempuan tersebut. Mereka mengundurkan diri untuk mempelajari isi *Bu Siang Po Liok*. Sejak saat itu, dunia persilatan kehilangan jejak *Bu Lim Sam Ki* (Tiga Pendekar Rimba Persilatan). Perlahan, nama mereka memudar dan terlupakan oleh waktu."
Baru sekarang Suma Bing paham, perempuan di antara *Bu Lim Sam Ki* itu pasti adalah *Bu Siang Sin Li*. Tidak heran ketika ia pergi ke Shaolin untuk mencari ibunya dan secara tidak sengaja menunjukkan *Bu Siang Sin Hoat*, para pendeta Shaolin hendak meringkusnya. Mereka menuduh Suma Bing terlibat dalam peristiwa ratusan tahun lalu yang tak kunjung usai. Ternyata, semua ini memiliki latar belakang yang belum ia mengerti.
Kang Kun Lojin menunduk, menatap tajam ke arah Suma Bing, "Setelah pemuda dan perempuan itu menikah, setahun kemudian lahirlah seorang anak perempuan. Tidak lama setelah anak itu lahir, terjadi perpecahan di antara suami istri tersebut hingga mereka berpisah. Selanjutnya, muncul di dunia persilatan seorang perempuan misterius yang menyebut dirinya *Bu Siang Sin Li*."
"Selama puluhan tahun, pihak Shaolin tidak henti-hentinya mengutus jagoan silat untuk mengejar dan mencari jejak *Bu Siang Sin Li* demi merebut kembali buku pelajaran yang berharga itu. Namun, *Bu Siang Sin Li* sendiri sudah menjadi teka-teki; kemunculannya di kalangan dunia persilatan hanya seperti bayangan belaka."
Kesadaran Suma Bing tergerak, ia bertanya, "Jadi karena urusan ini, Locianpwe merasa menyesal dan mengganjal dalam sanubari?"
"Ya, memang begitulah."
"Kalau begitu, pasti Locianpwe adalah salah satu dari *Bu Lim Sam Ki* itu, yaitu pemuda yang berhasil mendapatkan buku *Bu Siang Po Liok*?"
Mata Kang Kun Lojin memancarkan sinar aneh. Dengan penuh haru ia menjawab, "Sedikit pun tidak salah, memang akulah orangnya."
"Lalu bagaimana wanpwe harus membantu?"
"Apa sangkut pautmu dengan *Bu Siang Sin Li*?"
"Tiada sangkut paut apa pun," sahut Suma Bing tertegun.
"Lalu *Bu Siang Sin Hoat*-mu itu kau pelajari dari mana?"
"Mungkin karena jodoh, secara kebetulan aku memperoleh pelajaran ini."
"Siapa orang itu?"
Mengingat sumpahnya kepada Giok Li Lo Ci, Suma Bing terpaksa menjawab, "Dalam hal ini, maaf, wanpwe tidak bisa menerangkan."
Kang Kun Lojin tampak sangat terpengaruh. Ia tiba-tiba berdiri dan berkata dengan suara keras, "Anak muda, katakan alasanmu."
Suma Bing ikut bangkit dengan sikap ragu, "Locianpwe, wanpwe pernah bersumpah untuk tidak menceritakan persoalan ini kepada siapa pun."
"Tapi, terhadap aku orang tua ini..."
"Sungguh, aku sangat menyesal!"
"Apa kau benar-benar bukan murid *Bu Siang Sin Li*?"
"Hal ini dapat wanpwe jawab sejujurnya: bukan!"
Janggut panjang Kang Kun Lojin bergerak-gerak. Dengan nada menegaskan, ia bertanya, "Jadi jelasnya kau menolak membantu aku untuk menyelesaikan urusan ini?"
"Wanpwe tidak akan mampu melakukannya."
"Baiklah, coba katakan di mana *Bu Siang Sin Li* mengasingkan diri?"
"Ini..." Sebetulnya Suma Bing ingin mengatakan bahwa *Bu Siang Sin Li* sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu, tetapi teringat sumpahnya, ia urung mengatakannya.
"Bagaimana?"
"Maaf, wanpwe tidak dapat memberitahu."
"Kenapa?"
"Karena sumpah!"
"Anak muda, kau harus memberitahu kepada aku!" seru Kang Kun Lojin gugup sambil mencengkeram pergelangan tangan Suma Bing. Begitu jarinya mengerahkan tenaga, seketika Suma Bing merasakan tubuhnya lemah lunglai dan hawa murninya lenyap.
"Katakan!"
"Wanpwe takkan menurut!"
Jari-jari Kang Kun Lojin mencengkeram semakin keras. "Katakan!"
Suma Bing merasakan seolah tulang dan seluruh nadinya terlepas dari ruasnya. Hawa murni sulit dihimpun dan keringat dingin bercucuran. Namun, wataknya yang keras membuatnya tidak mengerutkan alis atau mengeluh. Ia justru mencemooh, "Apa Locianpwe memaksa wanpwe melanggar sumpah?"
"Mengingat nama kebesaranku, pasti *Bu Siang Sin Li* tidak akan menyalahkanmu."
"Tidak mungkin terjadi."
"Kau harus katakan di mana alamat *Bu Siang Sin Li*!"
"Tidak!"
"Kau ingin mati?"
Suma Bing mendengus, "Kalau Locianpwe beranggapan begitu, silakan turun tangan. Aku, Suma Bing, tidak akan mengerutkan alis."
Akhirnya, Kang Kun Lojin menghela napas panjang dan melepaskan cengkeramannya. Sikapnya menjadi lesu, tangannya diayunkan seraya berkata, "Kau boleh pergi."
Kini ganti Suma Bing yang merasa tidak enak. Bagaimanapun, ia adalah seorang pendekar angkatan tua dan dari ceritanya dapat dinilai bahwa orang tua ini sangat gagah perwira. Suma Bing sangat mengaguminya. Namun, seorang laki-laki harus menepati janji. Ia tidak mungkin menjilat ludahnya sendiri dan membocorkan rahasia Lembah Kematian. Ia berkata jujur, "Locianpwe, meskipun wanpwe tidak dapat sepenuhnya membantu, dalam batas tertentu yang bisa kulakukan, mungkin kelak aku bisa memberikan jawaban."
"Pergilah!"
Suma Bing membungkuk hormat lalu memutar tubuh dan berlari turun gunung dengan hati yang terasa kehilangan sesuatu. Mendadak sebuah akal terpikir dalam benaknya. Saat ini ia memang hendak menuju Lembah Kematian dengan berbekal Pedang Darah untuk meminta Bunga Iblis. Jika Kang Kun Lojin menguntitnya dan menemukan rahasia lembah itu, itu tidak berarti dirinya melanggar sumpah. Namun, dengan kedudukan dan nama besar Kang Kun Lojin, apakah ia akan berbuat demikian?
Hasratnya untuk membantu orang tua itu begitu besar, namun kenyataan tidak mengizinkan. Pengalamannya kali ini seperti mimpi belaka. Bahwa dirinya bisa terpilih sebagai ahli waris Raja di Perkampungan Bumi benar-benar hal yang aneh. Berhari-hari kemudian, ia tiba di jalan raya. Setelah mencari tahu, ia baru menyadari bahwa tempatnya berada sekarang terpaut ribuan li dari tempat pertempuran melawan Rasul Penembus Dada.
Setelah menimbang-nimbang, ia segera mengambil jalan langsung menuju Bu Kong San. Membawa Pedang Darah untuk memohon Bunga Iblis bukan hanya tujuan utama yang diimpikannya, tetapi juga pesan terakhir gurunya, Sia Sin Kho Jiang, sebelum ajal, serta cita-cita yang belum terlaksana oleh ayahnya, Su Hay Yu Hiap Suma Hong.
Setelah Pedang Darah dan Bunga Iblis disatukan, ia pasti dapat mempelajari ilmu yang tiada tara. Kelak, cita-citanya untuk menuntut balas dendam atas kehancuran perguruan dan sakit hati orang tuanya pasti dapat terlaksana. Dari situ, ia juga teringat ibundanya, San Hoat Li Ong Fan Lan, yang belum diketahui hidup matinya. Selama ibundanya belum ditemukan, musuh-musuh yang dulu mengeroyok ayahnya pasti akan sulit dilacak jejaknya.