Chapter 94
Sumber berita yang paling utama dan dapat diandalkan hanyalah Iblis Timur seorang, namun Iblis Timur telah mati di bawah cundrik Rasul Penembus Dada. Orang kedua adalah Loh Cu Gi. Saat ini, mungkin Suma Bing masih bukan tandingan Loh Cu Gi. Apalagi, belum tentu Loh Cu Gi mau memberi keterangan siapa saja yang ikut serta dalam pengeroyokan dan perebutan Pedang Darah itu; hal ini pun menjadi persoalan tersendiri.
Teringat akan Loh Cu Gi, darahnya mendidih. Dia adalah murid murtad perguruan, algojo pembunuh ayahnya, dan bajingan besar yang memperkosa ibundanya. Rasanya, membunuh manusia durhaka ini saja belum cukup untuk melunasi kejahatan yang telah diperbuatnya.
Tengah kakinya melangkah, tiba-tiba ia teringat akan tiga cangkir darah pusaka Naga Bumi yang telah diminumnya. Menurut Pit Yau Ang, tenaga dalamnya sekarang sudah bertambah dalam, seumpama berlatih selama enam puluh tahun. Jika tenaga dalam tersebut dikombinasikan sebagai landasan dari ilmu Kiu Yang Sin Kang, entah dapat mencapai tingkat keberapa, apakah dapat menandingi latihan Loh Cu Gi?
Otaknya bekerja, matanya pun menjelajah ke empat penjuru. Tampak rimba lebat di sebelah depan sana membelakangi sebuah bukit kecil. Ia segera berputar haluan menuju ke pinggir bukit itu, hendak mencari tempat tersembunyi untuk melebur kekuatan dari darah pusaka Naga Bumi ke dalam Kiu Yang Sin Kang.
Tidak lama kemudian, tibalah ia di luar rimba lebat itu. Setelah sekian lama menerobos semak belukar, ia mendapati sebuah gua di bawah bukit. Pikirnya, tempat ini sangat tersembunyi; tentu tidak ada sembarang orang yang dapat datang mengganggu. Sekali berkelebat, tubuhnya melesat ke arah mulut gua.
Mendadak Suma Bing menjerit kaget dan menghentikan langkahnya. Matanya melotot mengawasi ceceran darah yang menjurus ke dalam gua. Apakah itu darah manusia atau darah binatang? Dilihat dari warnanya, darah yang berlepotan di atas tanah itu pasti belum lama tumpah.
Sekonyong-konyong terdengar suara napas terengah-engah dari dalam gua, diselingi keluhan kesakitan yang luar biasa. Karena ditekan, suara itu hampir tidak terdengar. Itulah suara manusia! Pasti seseorang terluka berat di dalam gua ini. Setelah menimbang-nimbang, ia melangkah maju dan berseru keras ke arah gua, "Sahabat manakah yang berada di dalam gua?"
Suara keluhan dan napas memburu itu seketika berhenti, tetapi tidak ada reaksi apa pun. Sekali lagi Suma Bing berseru, "Siapa itu di dalam?"
"Siapakah yang di luar?" terdengar suara menyahut dengan lirih tapi nyaring.
Suma Bing tersentak. Ternyata orang di dalam itu adalah seorang perempuan. Entah bagaimana ia bisa terluka di dalam gua di tengah hutan belukar begini. Maka ia berseru lagi lebih lantang, "Agaknya Nona terluka berat?"
"Tidak!"
"Tidak? Bukankah kau tadi mengeluh kesakitan dan ada darah..."
"Aku..."
"Kau bagaimana?"
"Tidak apa-apa, silakan kau menyingkir."
Karena tertarik dan ingin tahu, Suma Bing memutuskan untuk mengetahui kejadian sebenarnya. Alisnya berkerut, ia berkata, "Dapatkah kiranya aku yang rendah menyumbangkan tenaga?"
Berkali-kali terdengar suara keluhan dan gerangan sakit yang tertahan, seakan-akan ia sangat menderita menahan rasa sakitnya. Rasa curiga Suma Bing kian membesar, lantas ia berseru sekali lagi, "Sudah terang kalau Nona terluka berat, mungkin Cayhe dapat membantu?"
Suara perempuan itu terdengar agak kesal, "Ketahuilah... bukan... terluka. Kau! Mengapa begitu cerewet bertanya saja?"
Suaranya lemah, gagap, dan terputus-putus. Ini menandakan suara hatinya bertentangan dengan keadaannya, tetapi mengapa ia menolak bantuan orang lain? Tentu ada latar belakang yang mencurigakan. Orang itu adalah seorang perempuan, tentu saja Suma Bing tidak bisa memaksa. Walaupun hatinya penuh tanda tanya, apa boleh buat. Pikirnya, kalau ia menolak bantuan, lebih baik ia pergi saja.
Baru saja ia hendak mengundurkan diri, tiba-tiba suara perempuan itu balik bertanya, "Siapakah Tuan ini?"
"Cayhe Suma Bing!"
"Apa? Jadi kau adalah Suma Siau-hiap yang kenamaan itu?"
"Tidak berani aku menerima pujian yang berlebihan itu, memang itulah Cayhe."
"Kalau begitu..."
"Nona siapa?"
"Aku bernama... Thong Ping..." Lalu disusul suara keluhan dan gerangan yang menghebat.
Alis Suma Bing berkerut semakin dalam. Tak tertahan lagi, ia bertanya, "Apakah Nona terluka berat?"
"Ti... dak..."
"Lalu apakah yang terjadi?"
"Aku... aku..."
"Kau kenapa?"
"Aku... aduh..."
"Bolehkah Cayhe masuk untuk memeriksa?"
"Jangan... sekali-kali kau jangan masuk... aduh!"
Suma Bing menjadi serba susah dan menggaruk-garuk kepala. Entah perempuan yang mengaku bernama Thong Ping ini sedang bermain sandiwara apa.
"Sebenarnya Nona kenapa?"
"Tidak apa-apa!"
"Kalau Nona memang ada kesukaran yang sulit untuk dibantu, terpaksa Cayhe minta diri..."
"Tidak... Suma Siau-hiap, jangan pergi!"
"Tapi Nona harus menjelaskan yang sebenarnya kepada..."
"Aduh... Suma Siau-hiap... harap kau menunggu sebentar di luar... aku... aduh!" Lagi-lagi terdengar suara pekik kesakitan yang lebih keras, sedemikian menusuk hati hingga membuat bulu roma berdiri.
Terpaksa Suma Bing berdiri di luar gua dengan bingung. Situasinya serba runyam. Sekonyong-konyong terdengar suara tangis bayi yang nyaring dari dalam gua. Seketika merinding seluruh tubuh Suma Bing. Ternyata perempuan bernama Thong Ping ini bersembunyi di dalam gua untuk melahirkan.
Sepeminuman teh kemudian, baru terdengar suara Thong Ping yang lemah tak bertenaga, "Suma Siau-hiap, silakan kau masuk!"
Sekarang Suma Bing justru menjadi ragu, tapi akhirnya ia memberanikan diri memasuki gua itu. Di ujung gua, tampak seorang wanita duduk bersandar di dinding batu, rambutnya awut-awutan, tangannya menggendong seorang bayi yang baru lahir. Satu tombak di hadapan perempuan itu, Suma Bing menghentikan langkahnya. Wajahnya merah jengah, katanya, "Nona Thong, bagaimana bisa..."
Thong Ping mengangkat kepala, sebelah tangannya menyingkap rambut yang menutupi muka. Terlihatlah wajahnya yang pucat tapi ayu. Ia berkata lemah, "Suma Siangkong, ada satu urusan yang hendak kuminta bantuanmu."
"Silakan katakan!"
Sepasang mata Thong Ping yang jeli itu mendadak memancarkan cahaya dingin yang menakutkan. Katanya sambil kertak gigi, "Aku minta kau membunuh seorang!"
"Membunuh orang?" Jantung Suma Bing melonjak keras, serta-merta ia mundur selangkah.
"Benar, membunuh seorang. Tidak, dia bukan terhitung manusia, melainkan seekor binatang yang kejam dengan kedok manusia!"
"Siapa dia?"
"Ayah dari orok celaka ini."
Lagi-lagi Suma Bing terkejut, tanyanya, "Apa? Kau ingin aku membunuh suamimu?"
Air mata meleleh deras di kelopak mata Thong Ping. Katanya sesenggukan, "Dia bukan suamiku. Kita belum pernah menikah, dia hanya mempermainkan aku..."
"Siapakah dia?"
"Racun Diracun!"
"Siapa?"
"Racun Diracun!"
Suma Bing bagai mendengar geledek di pinggir telinganya; tubuhnya terhuyung hampir roboh. Sungguh tidak disangka Racun Diracun bisa mempermainkan seorang perempuan yang tidak berdosa. Memang sepak terjang Racun Diracun susah dijajaki. Sudah beberapa kali ia menanam budi kepadanya, bahkan tanpa syarat mengembalikan Pedang Darah. Menurut apa yang dikatakan Hui Kong Taysu dari Siaulim-si, Racun Diracun ternyata sealiran dengan Pek Kut Hujin, sedang Pek Kut Hujin juga sudah berulangkali memberi bantuan yang tidak ternilai kepadanya.
Haruskah ia memenuhi permintaan Thong Ping? Tapi, perbuatan Racun Diracun kali ini benar-benar membuat bulu roma berdiri.
Kata Thong Ping membesut air mata, "Suma Siau-hiap, apa kau kenal Racun Diracun?"
"Begitulah. Seorang manusia aneh dengan seluruh badan hitam legam, manusia paling beracun di seluruh dunia!"
"Itu bukan wajahnya yang asli."
"O!"
"Dia memiliki kepandaian tenaga dalam yang dapat mengubah bentuk wajahnya dalam sekejap mata..."
Diam-diam Suma Bing manggut-manggut. Memang ia pernah mendengar akan ilmu Kun Goan Tay Hoat Ih Sek, suatu ilmu yang paling susah dipelajari.
Kata Thong Ping lagi, "Wajah aslinya walaupun tidak begitu ganteng tapi juga cukup gagah. Siapa tahu, hatinya jahat melebihi serigala."
"Dia menelantarkan Nona?"
Air mata meleleh lagi lebih deras. Kata Thong Ping dengan nada kebencian yang berlimpah, "Dia menipu cintaku, menodai tubuhku. Waktu aku sadar kalau aku sudah mengandung dan minta supaya segera kita menikah, dia..."
"Dia bagaimana?"
"Dia berkata bahwa aku bukan calon istri yang diangan-angankannya. Dia minta aku melupakan dia..."
Suma Bing ikut gusar dibuatnya, dengusnya, "Lalu dia menelantarkan Nona?"
"Tidak sampai di situ saja!"
"Masih ada ekornya?"
"Akhirnya kejadian ini diketahui oleh ibuku, kontan dia dicaci maki. Dalam gusar dan malunya, ternyata..."
"Bagaimana?"
"Dia membunuh ibuku menggunakan racun tanpa bayangan!"
Bercerita sampai di sini, Thong Ping tak kuat menahan duka dan keperihan hatinya, seketika ia muntah darah.
"Keparat kejam yang harus dibunuh!" teriak Suma Bing dengan gemas. Terbayang juga kematian Siang Siau Hun dan Li Bun Siang yang juga dibunuh oleh Racun Diracun menggunakan racun tanpa bayangan. Memang Racun Diracun harus ditumpas dan dilenyapkan dari alam semesta ini.
Tapi, teringat pula akan hutang budinya yang belum sempat terbalas, seketika dingin perasaan hatinya. Agaknya Thong Ping ini sangat teliti dan cermat. Ia sudah melihat kesukaran yang bakal dialami Suma Bing, maka katanya lagi, "Suma Siau-hiap, kalau kau ada kesukaran, permohonanku itu anggaplah omong kosong saja!"
Suma Bing berpikir cepat. Manusia yang tidak berperikemanusiaan ini mana boleh dibiarkan hidup. Budi dan dendam harus dibedakan. Melenyapkan kejahatan adalah tugas utama bagi kaum ksatria. Maka sahutnya sambil kertak gigi, "Nona Thong, baiklah, aku akan membunuh dia."
Tubuh Thong Ping mendadak membungkuk maju mendekam di atas tanah dan berkata, "Suma Siangkong, harap terimalah hormatku ini!"