Chapter 95
"Tidak... mana boleh begitu!" Suma Bing mencak-mencak menyingkir. Karena tidak leluasa dia membimbing bangun, dia minggir ke samping.
Thong Ping duduk seperti semula, katanya sambil tertawa pahit, "Suma Siau-hiap, konon kabarnya Siau-hiap tidak takut akan segala racun berbisa. Maka, selain kau seorang Siau-hiap, mungkin tiada seorang pun dalam dunia persilatan yang dapat membunuh 'Racun Diracun'. Memang Tuhan Maha Adil, Dia mengutus Siau-hiap kemari."
Suma Bing menegaskan, "Nona Thong, pasti aku dapat menyelesaikan urusan ini."
"Siau-hiap, walaupun harus mati, aku, Thong Ping, juga sangat berterima kasih akan budimu ini."
"Nona, jangan berkata demikian. Manusia jahat berhati binatang seperti dia, siapa pun wajib melenyapkannya."
Thong Ping sesenggukan lagi, ujarnya, "Siau-hiap, semua sudah kusampaikan. Silakan berangkat."
Alis Suma Bing berkerut. Hatinya tidak tega tinggal pergi begitu saja, katanya, "Nona, bagaimana dengan kalian ibu-beranak?"
"Kami ibu-beranak... hahahahaha..."
"Nona, kau..."
Thong Ping menghentikan tawanya, katanya, "Suma Siau-hiap, apa kau beranggapan aku, Thong Ping, masih ada harganya untuk tetap hidup?"
Tanpa terasa tubuh Suma Bing bergidik, "Nona, yang sudah lalu anggaplah sebuah mimpi yang paling buruk, lupakan saja."
"Ini, dapatkah dilupakan?"
"Tapi Nona, masih ada bayi ini..."
"Hehehe... hihihi... bayi, anak celaka ini biar kubunuh saja dengan tanganku sendiri!" Nada ucapannya sedemikian seram dan menyayat hati, hingga mendirikan bulu roma.
Berulang-ulang Suma Bing bergidik seram, katanya penuh haru, "Nona, sebuas-buas macan, ia takkan menelan anaknya sendiri. Betapa pun jeleknya, dia adalah anak yang kau lahirkan."
Thong Ping agak tercengang, lalu katanya sambil menggigit gigi, "Dia anak haram!"
"Kau salah, Nona Thong. Anak ini tidak berdosa. Dosa orang tua mana dapat kau limpahkan ke tubuh orok kecil yang baru lahir ini."
Pada saat itulah mendadak sang bayi menangis dengan kerasnya, seolah-olah dia tengah meronta dan menentang nasib jelek yang bakal dihadapinya. Dengan berlinang air mata, Thong Ping menggumam, "Anak ini tidak berdosa?"
Suma Bing mengangguk, katanya, "Nona Thong, bagaimana pun dia adalah anak yang kau lahirkan. Kau adalah ibu dari bayi ini!"
Thong Ping menunduk lekat-lekat mengawasi bayi dalam buaiannya. Sinar matanya memancarkan cahaya cerlang yang aneh, sedemikian tenang dan welas asih, sedikit pun tidak mengandung kebencian lagi. Itulah cinta ibunda, pertanda dari kemajuan perikemanusiaan.
Diam-diam Suma Bing menghela napas lega, tanyanya, "Nona Thong, masih ada kerabat siapa lagi di rumahmu?"
"Masih ada adik laki-laki yang masih belum dewasa!"
"Lebih baik Nona pulang saja. Kalau bundamu sudah meninggal secara mengenaskan, janganlah adikmu sampai terlunta-lunta dan hidup sengsara!"
Mendengar bujukan yang menusuk hati ini, seketika menggerung-gerunglah tangis Thong Ping. Suma Bing diam saja tanpa suara, membiarkan orang menangis sepuas-puasnya. Memang dia perlu menangis, perlu mencuci bersih segala dukacita dan keputusasaannya, melampiaskan kesedihan dan kedongkolan hatinya.
Lama kemudian, baru Thong Ping menghentikan tangisnya.
"Nona Thong, di manakah kau tinggal?"
"Aku tinggal di Thong Keh Kip, Jalan Kip Bwe nomor dua, dalam wilayah Su Cwan!"
"Baiklah, Nona Thong. Sekarang aku minta diri, kelak kalau ada kesempatan pasti aku mampir ke rumahmu!"
"Siau-hiap, terima kasih akan keluhuran budimu ini..."
"Ini tidak terhitung budi apa segala, Nona terlalu berat berkata!"
"Kata-kata emas Siau-hiap tadi menyadarkan kesesatan pikiranku, itu berarti kau telah menolong jiwa kami ibu-beranak..."
"Nona, jangan kau berkata demikian. Harap jagalah dirimu dan anakmu baik-baik, cayhe minta diri."
Habis berkata, segera ia mengundurkan diri keluar gua. Sebetulnya tujuannya semula adalah hendak mencari suatu tempat untuk melebur Kiu Yang Sin Kang dengan tenaga barunya. Sungguh tidak diduga, di sini ia menghadapi kejadian yang paling menyedihkan dalam dunia ini. Sekian lama dia termangu memandang mulut gua, lalu menghela napas panjang. Batinnya, 'Seorang wanita yang harus dikasihani.'
Sekali melejit, secepat terbang dia berlari menuju ke puncak bukit di belakang rimba. Dia harus segera mencari suatu tempat untuk berlatih diri. Beruntun dia lewati tiga puncak bukit, namun sebegitu jauh belum menemukan tempat yang strategis untuk latihannya. Diam-diam hatinya mulai gugup, karena latihan Kiu Yang Sin Kang ini paling mudah mengalami 'cap hwe ji mo' atau tersesat, sedikit pun tidak boleh sampai terganggu.
Begitulah setelah celingukan ke sana ke mari, dilihatnya tidak jauh di sebelah bawah sana terdapat sebuah selokan tersembunyi. Bangkitlah semangatnya. Selokan ini jauh di bawah sana, kira-kira sedalam ratusan tombak. Seumpama jagoan kelas satu dari kalangan Kang Ouw pun sukar dapat turun ke sana. Sejenak setelah diukur-ukur, segera ia kembangkan ilmu gerak naik dari Bu Siang Sin Kang. Tubuhnya sedemikian enteng bagai daun melayang pelan-pelan menurun. Tidak lama kemudian, dengan ringannya kakinya menginjak tanah di dasar selokan sempit itu.
Dipilihnya sebuah batu cadas besar yang menonjol keluar seperti sayap seekor burung, mulailah dia berlatih diri. Te Liong Po Hiat atau darah pusaka naga bumi itu betul-betul mustajab dan mandraguna. Sedikit saja ia kerahkan tenaga hawa murni dalam tubuhnya, segera bergejolak dengan kerasnya bagai sumber air yang bergulung-gulung menyemprot keluar. Menurut teori pelajaran Kiu Yang Sin Kang, pelan-pelan dia tuntun hawa murni itu meresap masuk ke dalam pusar dan mulai dilebur serta digodok bersama.
Kira-kira setengah hari kemudian, seluruh tubuhnya sudah tertutup oleh kabut tebal yang berwarna merah menyolok mata. Hawa panas bergulung-gulung melingkupi lima tombak sekitarnya. Pada saat itulah sebuah bayangan manusia bagai malaikat melayang tiba menghampiri kedekat Suma Bing. Sudah sedemikian dekat, tapi sedikit pun Suma Bing tidak mengetahui; latihannya sedang mencapai titik terakhir.
"Ha, Kiu Yang Sin Kang!" mendadak bayangan itu berpekik kegila-gilaan.
Kontan buyar dan hilang kabut merah itu, lalu disusul jeritan yang menyayat hati. Seketika Suma Bing roboh terkapar tanpa bergerak, dari pancaindranya mengalir darah segar dengan derasnya. Bayangan itu agaknya juga sangat kaget, sekali lagi dia berseru kejut, "Tersesat!"
Untung lwekang Suma Bing sudah mencapai kesempurnaannya, apalagi jalan darah mati-hidup sudah tembus. Cepat-cepat ia tutup sendiri jalan-jalan darah penting untuk merintangi darah berputar dan menerjang balik. Walaupun demikian, tidak urung separuh badannya sudah kaku tak dapat bergerak lagi.
Mimpi pun dia tidak mengira bahwa di selokan bawah jurang begini bakal ada orang lain yang datang kemari. Waktu dia membanting mata memandang, terlihat tiga tombak di sebelah sana berdiri seorang pemuda yang berwajah putih ganteng, matanya mendelong mengawasi dirinya. Dia insaf karena seruan kaget yang mendadak tadi sehingga membuat latihannya tersesat. Meskipun dia dapat segera mencegah akibat yang lebih mengenaskan sehingga jiwanya tertolong dari kematian, tidak urung separuh tubuhnya sudah menjadi cacat. Ini sudah terang menjadi kenyataan.
Betapa sedih dan pilu hatinya, beratus kali lebih sengsara dari kematian. Seandainya lantas mati, malah akan beres dan tidak bikin kapiran. Paling celaka kini badannya mati separuh, malah harus menghadapi lagi kenyataan hidup dengan pahit getir ini. Benar-benar lebih baik mati daripada hidup menderita begini. Seketika air mata berlinang, hatinya seperti disayat-sayat, dukanya luar biasa. Hampir saja dia melupakan biang keladi atau durjana yang menyebabkan semua kecelakaan ini.
Pemuda itu berkerut alis, lalu membuka mulut, "Karena keteledoran cayhe sehingga Saudara tersesat dalam latihan, sungguh aku sangat menyesal dan beribu-ribu maaf!"
Suma Bing melotot beringas mengawasi pemuda itu, katanya, "Sekarang aku sudah celaka, cukup dengan minta maaf saja pertanggungan jawabmu?"
Sikap pemuda itu acuh tak acuh, sahutnya, "Lalu Saudara maunya bagaimana?"
Darah semakin merangsang di jantung Suma Bing, gusarnya bukan kepalang, serunya gemetar, "Sebenarnya ada permusuhan atau dendam apa aku dengan kau?"
"Permusuhan atau dendam sakit hati sih tidak ada."
"Kau juga seorang persilatan, masa pengetahuan umum yang cetek begini saja tidak tahu?"
"Tadi sudah kukatakan, keteledoran yang tidak disengaja."
"Gampang dan ogah-ogahan benar sikapmu ini?"
Si pemuda menarik muka, katanya mendesis, "Seumpama memang aku sengaja mencelakai kau, kenapa harus diributkan?"
Hampir meledak jantung Suma Bing. Ingin benar rasanya sekali pukul dia hancurkan pemuda kurang ajar ini. Namun, badannya sudah tidak mampu bergerak, terpaksa dia kertak gigi, "Karena kata-katamu itu, kau setimpal untuk dibunuh!"
"Siapa berani membunuh aku? Siapa bisa membunuh aku? Hahahahaha!"
"Dengan perbuatanmu ini, cepat atau lambat pasti ada orang yang bakal membunuhmu!"
"Kau ingin mati?"
"Kau berani?"
Si pemuda tertawa menyeringai, ejeknya, "Membunuh orang terhitung apa? Apa perlu dipersoalkan berani atau tidak berani apa segala? Ketahuilah, tanpa menggerakkan tangan aku dapat..."
"Bagaimana?"
"Eh, kau... yang kau latih tadi adalah Kiu Yang Sin Kang, bukankah kau ini yang bernama Suma Bing?"
Suma Bing tertegun, tanyanya, "Kalau benar, kau mau apa?"
Berubah air muka si pemuda, suaranya gemetar, "Benar kau adalah Suma Bing?"
"Tidak salah!"
"Wah, ini benar-benar celaka!"
Suma Bing menjadi melengak heran, entah apa maksudnya dengan ucapan celakanya itu, maka tanyanya tak mengerti, "Apanya yang celaka?"
Agaknya kaget si pemuda masih belum hilang, matanya termangu dan mulutnya menggumam, "Kesalahan sudah terjadi, ini... bagaimanakah baiknya?"
Suma Bing tambah tidak paham, suaranya semakin gemetar, "Siapakah kau ini?"
"Aku? Lebih baik jangan kau tanyakan, mungkin akan datang suatu hari kau bisa tahu. Suma Bing, selamanya aku membunuh orang tanpa banyak pikir, tapi terhadap kau aku tak bisa turun tangan. Mengenai urusan kali ini benar-benar aku sangat menyesal dan minta maaf."