Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 96

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 96

"Kira-kira satu jam lagi pasti ada orang datang, aku harus segera pergi!" Setelah mengucapkan kata-kata itu, tubuhnya melesat terbang dalam sekejap mata hingga bayangannya menghilang. Kecepatan gerak tubuhnya sungguh sangat menakjubkan.

Suma Bing terpaku memandangi bayangan orang yang lenyap dari pandangannya. Sepatah kata pun tidak mampu ia ucapkan.

Sifat pemuda itu bukan saja kejam, tetapi juga licik dan penuh tipu muslihat, hal itu tersirat dari nada bicaranya. Ia mengatakan satu jam lagi akan datang seseorang. Orang macam apakah yang akan tiba? Latihannya sudah tersesat, separuh tubuhnya mati rasa; seumpama ada orang datang pun, apa lagi gunanya?

Badan Suma Bing terasa lemas tak bertenaga. Begitu mata dipejamkan, bayangan pengalaman masa lalu berkelebat di benaknya—rasa dendam, sakit hati, cinta, tuntutan balas, dan budi kebaikan para kawan—seumpama ujung pedang yang menusuk ulu hatinya. "Kalau aku tidak mati, aku harus membunuhnya!" demikian tekadnya dalam hati.

Tiba-tiba ia tertawa keras dengan suara serak. Kegelapan dan keputusasaan yang tanpa ujung pangkal mulai menyelimutinya. Dapatkah ia sembuh seperti sedia kala? Itu hanyalah angan-angan kosong. Bahwa ia belum mati meski latihannya tersesat sudah merupakan keberuntungan yang paling besar.

Di tengah lamunannya, sebuah bayangan kembali berkelebat di depan matanya. Rupanya pemuda licik itu muncul kembali. Saat pandangan Suma Bing beradu dengan sinar mata si pemuda yang terus bergerak tak henti-hentinya, ia tanpa sadar bergidik. Pemuda itu pergi lalu kembali lagi, pasti ada maksud jahat yang hendak diperbuatnya.

Si pemuda menyeringai dingin dan berkata, "Suma Bing, aku teringat sesuatu..."

"Sesuatu apa?" bentak Suma Bing bengis.

"Bukankah Pedang Darah berada di tanganmu?"

Suma Bing semakin murka dan putus asa. Ternyata pemuda itu kembali karena ingin merebut Pedang Darah dari tangannya. Setelah mengalami berbagai rintangan, barulah Pedang Darah itu diserahkan oleh Racun Diracun kepadanya. Jika benda itu hilang, semua angan-angannya akan kandas. Padahal, dengan kondisinya sekarang, mana mungkin ia bisa melindungi Pedang Darah tersebut agar tidak direbut lawan.

Tentang Pedang Darah yang berada di tangannya, selain pihak Bwe Hwa Hwe, tidak ada orang lain yang tahu. Apa mungkin pemuda licik ini berasal dari pihak Bwe Hwa Hwe? Jika benar, mengapa ia tidak segera mencabut nyawanya? Itu tidak masuk akal. Lalu, bagaimana mungkin ia mengetahui bahwa dirinya menyimpan Pedang Darah?

Perlahan-lahan si pemuda mendekat ke hadapan Suma Bing. Ia mengulurkan tangan dan berkata, "Suma Bing, serahkan kepadaku!"

"Siapakah kau sebenarnya?"

"Aku? Tidak ada halangannya kuberitahu. Aku bernama Phoa Cu Giok!"

"Phoa Cu Giok?"

"Benar!"

Rasa kebencian yang meluap-luap merangsang hati Suma Bing. Ia berseru beringas, "Phoa Cu Giok, akan datang satu hari aku akan membeset dan mencacah tubuhmu."

Phoa Cu Giok menyeringai dan tertawa, "Selama hidupmu kau takkan mampu berbuat apa-apa. Namun, meskipun mulutmu kurang ajar, aku tetap segan membunuhmu. Kau sendiri tahu, setelah latihanmu tersesat, kau tidak akan dapat hidup lama lagi!"

Suma Bing menjerit kalap seperti orang gila, darah menyemprot dari mulutnya. Phoa Cu Giok maju lagi dua langkah. Secepat kilat ia mencengkeram tangan Suma Bing yang masih dapat bergerak, sementara tangan yang lain mencengkeram baju di depan dadanya. 'Bret!' sebilah pedang kecil sepanjang satu kaki sudah berada di tangan Phoa Cu Giok. Duka dan gusar merangsang bersamaan, kontan Suma Bing jatuh pingsan.

Entah sudah berselang berapa lama, akhirnya Suma Bing tersadar. Perasaan pertama yang dirasakannya adalah seolah-olah ia berada dalam pelukan seseorang. Bau wangi menyapa hidungnya, dan di pinggir telinganya terdengar suara halus nan mesra memanggilnya, "Engkoh Bing, Engkoh Bing!"

Saat membuka mata, keterkejutannya luar biasa. Di hadapannya berdiri bibinya, Ong Fong Jui, dan ternyata ia rebah di pangkuan istrinya, Phoa Kin Sian. Kehadiran guru dan murid itu di tempat tersebut benar-benar di luar sangkaannya. Melihat keluarga terdekat setelah mengalami bencana, Suma Bing yang terkenal berhati baja akhirnya mengucurkan air mata.

"Nak," ujar Ong Fong Jui sambil mengerutkan kening, "Kau tersesat dalam latihanmu?"

"Ya, begitulah!"

"Bagaimana ini bisa terjadi?"

"Kalau diceritakan sangat panjang!"

"Ceritakanlah pelan-pelan!"

Dengan sapu tangan sutra, Phoa Kin Sian menyeka keringat di dahi Suma Bing, memberikan kasih mesra yang menghangatkan tubuhnya.

"Bi, aku... dapatkah aku sembuh kembali?"

"Nak, bibimu akan sekuat tenaga membantumu. Sekarang, ceritakanlah pengalamanmu sampai kondisimu jadi sedemikian rupa!"

Maka mulailah Suma Bing bercerita sejak mereka berpisah tempo hari, di tengah jalan bersua dengan Rasul Penembus Dada, hingga ditolong oleh pihak Perkampungan Bumi di mana ia dicalonkan sebagai ahli waris raja mereka. Ia menceritakan segalanya dengan ringkas dan jelas. Selanjutnya, ia mendongak memandang Phoa Kin Sian dan berkata, "Adik Sian, aku berbuat salah terhadapmu!"

Sahut Phoa Kin Sian lemah lembut, "Ini tidak bisa menyalahkan kau!"

Ong Fong Jui menghela napas ringan, "Nak, pengalamanmu di dalam Te Po, aku dan Kin Sian sudah mengetahui!"

"Apa? Bibi Jui sudah tahu? Dari mana Bibi tahu?"

"Tengah hari yang lalu aku sudah bertemu dengan Kangkun Lojin!"

Suma Bing terperanjat, "Apa Bibi Jui kenal dengan Kangkun Lojin?"

"Tidak kenal, tapi sudah lama kudengar ketenarannya!"

"Bagaimana bisa..."

"Mata telinga pihak Te Po sangat awas dan jeli. Sejak awal mereka sudah tahu hubunganmu dengan Kin Sian. Adalah Sim Tong Tongcu Song Liep Hong dari Perkampungan Bumi itulah yang menuntun orang tua itu menemuiku!"

Baru sekarang Suma Bing paham; kiranya waktu di luar jalan rahasia itu, tugas yang diserahkan kepada Kangkun Lojin oleh Te Kun ternyata berkaitan dengan hal ini.

Ujar Ong Fong Jui lagi, "Kangkun Lojin mendapat pesan dari Te Kun untuk merembukkan persoalanmu masuk menjadi warga dalam Perkampungan Bumi. Aku sudah melulusinya."

Suma Bing melengak, "Bibi sudah melulusinya!"

"Kayu sudah menjadi perahu, apalagi Kangkun Lojin sendiri yang ikut campur, terpaksa aku harus setuju!"

"Tapi bagaimana dengan Adik Sian..."

"Kin Sian paham dan maklum akan keadaanmu, ini tidak menjadi persoalan baginya!"

"Tapi aku... selalu merasa tidak tenteram, Bibi Jui, aku..."

"Kenapa?"

"Aku berkeputusan untuk tidak kembali lagi ke Te Po!"

"Tidak bisa. Cara memilih menantu sudah merupakan tradisi bagi mereka, peraturan ini sudah menjadi undang-undang tetap di kalangan Kangouw. Apalagi kau dengan Pit Yau Ang sudah melangsungkan upacara pernikahan secara resmi, bagaimana rasa tanggung jawabmu kepadanya?"

Sampai sekarang Suma Bing masih dongkol dan jengkel, sahutnya, "Mereka menipuku!"

"Nak, kau tidak bisa berkata demikian!"

"Lalu bagaimana dengan Adik Sian?"

"Sudah tentu dia ikut kau ke Te Po!"

"Ini..."

"Kin Sian sendiri sudah setuju!"

Suma Bing memandang istrinya dengan penuh penyesalan yang tak terhingga. Betapa resah perasaan hatinya, susah dikatakan. Sebenarnya cinta itu sangat egois, namun sebaliknya bagi Phoa Kin Sian, ketika mengetahui suaminya terjatuh ke dalam pelukan perempuan lain, ia tidak menunjukkan rasa cemburu, malah sinar wajahnya tampak girang berseri. Hal ini benar-benar sulit dimengerti.

Ong Fong Jui mengalihkan pembicaraan, "Nak, kau masih belum menceritakan bagaimana kau bisa tiba di tempat selokan yang tersembunyi ini."

Suma Bing kembali terpaksa mengenang kenyataan yang menyedihkan itu, katanya penuh kebencian, "Tit ji diberi minum tiga cangkir darah pusaka Naga Bumi. Aku ingin melebur tenaga baru ini ke dalam ilmu Kiu Yang Sin Kang, maka akhirnya kupilih tempat selokan yang tersembunyi ini untuk berlatih. Sungguh tak terduga, di tengah jalan aku mendapat gangguan..."

"Siapakah yang mengganggu kau?" tanya Phoa Kin Sian terharu.

Sebaliknya, Ong Fong Jui segera mendengus dingin, "Tiada orang lain, pasti dia."

Suma Bing menjadi keheranan. Sepertinya pemuda yang mengaku bernama Phoa Cu Giok itu memiliki hubungan erat dengan guru dan murid tersebut. Jika tidak, sebelum pergi, Phoa Cu Giok tidak akan mengatakan satu jam kemudian pasti ada orang datang. Maka, pura-pura tidak tahu, ia bertanya, "Bibi Jui, siapakah dia?"

Mendadak tubuh Phoa Kin Sian menggigil. Suma Bing, yang terbaring dalam pangkuannya, merasakan hal itu dan hatinya tergerak. Sejenak Ong Fong Jui ragu-ragu, lantas balas bertanya, "Apa kau tahu siapa dia?"

"Dia mengaku dirinya bernama Phoa Cu Giok!"

"Hm, dia adalah adik kandung Kin Sian, juga adik iparmu!"

Suma Bing terperanjat. Ia tidak tahu bahwa Cu Giok ternyata adalah adik istrinya. Bagaimana ia harus membalas perhitungan ini? Pada saat itu, mendadak Phoa Kin Sian melelehkan air mata dengan derasnya.

Suma Bing menghela napas panjang, "Adik Sian, jangan kau berduka karena peristiwa ini. Mungkin dia tidak sengaja, aku... tidak menyalahkan dia."

"Engkoh Bing, kau tidak tahu, kelak... ai, mungkin pada suatu hari akan kuberitahukan kepadamu!"

"Apa?"

"Sekarang tidak bisa kukatakan!"

"Sebenarnya apakah yang telah terjadi?"

"Ai... mungkin aku berbuat salah, tapi sudah terlambat!"

Wajah Ong Fong Jui berubah serius, katanya, "Kin Sian harus mencarinya kembali."

Tercetus ucapan Suma Bing, "Dia juga membawa Pedang Darahku!"

Phoa Kin Sian merebahkan Suma Bing ke atas tanah, terus berjingkrak bangun dengan tubuh gemetar, "Apa dia membawa Pedang Darah?"

Suma Bing mengiakan. Air muka Ong Fong Jui juga berubah marah, serunya geram, "Ada kejadian begitu, anak itu sudah tidak dapat ditolong lagi!"

Wajah Phoa Kin Sian penuh air mata, katanya penuh duka, "Suhu, Engkoh Bing kuserahkan kepadamu, aku..."

"Kau kenapa?"

"Bagaimanapun aku harus mencarinya kembali, sedikitnya Pedang Darah itu harus diminta pulang!"

Habis berkata, tubuhnya terus melejit terbang menghilang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment