Chapter 97
"Adik Sian!" "Kin Sian!" Ong Fong Jui dan Suma Bing berseru berbarengan, tetapi Phoa Kin Sian bagai tidak mendengar. Dalam sekejap mata, bayangannya sudah menghilang di kejauhan.
Terang kalau keadaannya saat itu sangat berduka dan sedih luar biasa.
Suma Bing menyesal dan menghela napas, katanya, "Hm, kejadian ini benar-benar di luar dugaan." Wajah Ong Fong Jui membesi kehijauan, suaranya mengandung kebencian, "Phoa Cu Giok banyak berbuat jahat dan bertabiat rendah. Akan datang suatu hari dia termakan oleh buah perbuatannya sendiri, bahkan mungkin bisa mencelakai kakaknya sekalian!" "Bibi Jui, Phoa Cu Giok juga menjadi muridmu?" "Ya, kupandang muka Phoa Kin Sian, maka kuterima dia menjadi murid. Siapa tahu di luar bagus tapi busuk di dalam. Kalau dia tidak bisa mengubah tabiatnya ini, tidak dapat tidak aku harus menghukumnya menurut undang-undang perguruan!" "Oh, Bibi Jui, bagaimana kau bersama Kin Sian bisa datang ke selokan yang tersembunyi ini?" "Di sinilah tempat aku menetap." "Tempat sepi di tengah alas pegunungan ini?" "Tak lama lagi kau pasti akan tahu. Sekarang lebih baik kita kembali ke tempat kediamanku dulu!" Sambil berkata, ia menjinjing tubuh Suma Bing dan terus berlari bagai terbang ke arah selokan yang lebih dalam. Sekejap saja mereka tiba di depan sebuah gua.
Tanpa banyak pikir, Ong Fong Jui langsung menerobos masuk.
Gua ini sedemikian bersih dan nyaman, sedikit pun tak terlihat ada kotoran. Ruangan dalam gua itu selebar tiga tombak persegi; meskipun kecil, namun dihias sedemikian rupa bagai kamar seorang putri raja.
Langsung Ong Fong Jui membaringkan Suma Bing di atas sebuah dipan yang lengkap dengan kasur dan bantal guling.
Menyapu pandang keadaan ruangan ini, berkatalah Suma Bing, "Bibi Jui, di sinikah tempat kediamanmu?" "Bukan, ini hanya tempatku bersemadi." "Bibi Jui, mengenai kabar ibunda..." Rona wajah Ong Fong Jui berubah tak menentu, katanya, "Nak, sejak kuketahui riwayat hidupmu, setiap saat aku bimbang membicarakan soal itu. Biar kuperiksa dulu lukamu itu." "Dapatkah badanku sembuh kembali?" "Sekarang belum bisa ditentukan, tapi, Nak, aku akan berusaha sekuat tenaga!" Sambil berkata, tangannya diulur menekan dan memeriksa nadi jalan darah Suma Bing yang sebelah tubuhnya sudah tak dapat bergerak lagi.
Lama sekali ia terdiam tanpa bersuara.
Suma Bing menjadi risau dan tak sabar, "Bagaimana Bibi Jui, masih dapat ditolong?" Ong Fong Jui terpekur dalam, seolah-olah tengah memikirkan persoalan besar yang susah dipecahkan. Begitulah ia berdiam diri tanpa menyahuti pertanyaan Suma Bing.
Kira-kira setengah hari kemudian, baru ia menepuk pinggir ranjang dan berkata seperti bergumam, "Terpaksa begitulah!" Suma Bing tertegun, tanyanya, "Bibi Jui, maksudnya bagaimana?" "Biar aku menempuh bahaya!" "Menempuh bahaya?" "Benar, menggunakan tenaga murniku diaduk bersama dengan *Kan Goan Kay Hiat Sip Meh Tay Hoat* untuk menjebol jalan darahmu yang buntu karena latihanmu yang tersesat itu. Selain dengan cara ini, tiada cara lain yang lebih sempurna. Ingat, setelah tenagamu pulih kembali, kalau melihat keadaanku sangat janggal, jangan kau gugup dan takut. Kau harus tenang dan pindahkan saja aku ke kamar dalam di sebelah gua ini."
"Terletak di manakah kamar dalam itu?" tanya Suma Bing penuh waswas.
"Kau geser dipan ini tiga senti ke kanan, pintu kamar dalam itu akan terbuka sendiri. Kalau digeser lima senti ke kiri, dia akan menutup sendiri pula..." "Kenapa ini..." "Dengar, setelah kau pindahkan aku ke kamar sebelah, kau harus segera keluar dari selokan ini, pergilah ke *Yok Ong Bio* di Seng Toh. Kepada Pek Chio Lojin, kepala dari biara itu, mintalah sebutir *Hoan Hun Tan*. Dalam jangka waktu sepuluh hari kau sudah harus kembali ke sini, masukkan *Hoan Hun Tan* itu ke dalam mulutku, lalu dengan *Kiu Yang Sin Kang* kau bantu bekerjanya obat itu, mungkin aku bisa selamat tanpa kurang suatu apa..." Suma Bing khawatir, "Untuk aku, Bibi Jui hendak menempuh bahaya?" "Mana bisa aku melihat kau mati setelah cacat begini?" "Masa tiada jalan lain?" "Tidak ada!" "Biarpun mati, aku juga tidak setuju!" "Omong kosong! Kau sudah lupa dendam dan sakit hatimu? Masih berapa banyak kebahagiaan orang lain tergantung di atas tubuhmu, mana boleh kau pandang kematian begitu ringan!" Suma Bing semakin berduka, air mata mulai meleleh keluar, katanya, "Tapi kau, Bibi Jui..." "Asal dalam sepuluh hari kau bisa mendapatkan *Hoan Hun Tan*, aku tidak bakal mati." "Kalau terjadi sesuatu..." "Serahkan saja nasib kita kepada Tuhan!" "Tidak!" Wajah Ong Fong Jui berubah kaku membengis, "Jangan kau membawa adatmu sendiri." "Bibi, jangan, jangan kau..." "Jangan bergerak, sekarang mulai!" Beruntun Ong Fong Jui memukul sekeras-kerasnya di dua belas jalan darah Suma Bing, lalu duduk bersila di sampingnya. Kedua tangannya menekan jalan darah *Bing Bun* dan *Thian Leng*, maka arus hawa hangat mulai disalurkan.
Bagaimana pun Suma Bing tidak rela Ong Fong Jui menempuh bahaya demi jiwanya, namun dia tak kuasa melawan dan mendebat, terpaksa dia pasrah menerima pengobatan.
Sedemikian keras dan derasnya arus hawa hangat itu mengalir bagai banjir air bah, terus menerjang dan menjebol segala apa saja yang merintang di depannya. Demikian juga semua jalan darah Suma Bing yang buntu bobol pertahanannya.
Setelah menjebol tiga jalan darah besar, karena benturan hawa hangat ini terlalu keras, tak tahan lagi Suma Bing jatuh pingsan.
Waktu dia siuman kembali, terasa jalan darahnya sudah normal dan berjalan seperti biasa. Hawa murninya penuh sesak bergairah; ternyata semua tenaga murninya sudah terbaur di dalam *Kiu Yang Sin Kang*. Dalam berpikir, gelombang panas masih mengalir deras dalam tubuhnya.
Waktu memandang bibinya di samping, tampak wajahnya pucat pias, tubuhnya rebah kaku tanpa bergerak. Waktu diraba, pernapasannya sudah berhenti, kaki tangan juga sudah dingin, tinggal jantungnya saja yang masih sedikit berdetak.
Betapa perih perasaan Suma Bing kala itu. Sungguh dia tidak berani membayangkan kalau bibinya meninggal karena dirinya.
Mematuhi pesan bibinya, dia menggeser dipan itu ke kanan. Mendadak dinding sebelah kiri terbuka sebuah pintu, di mana terlihat sebuah kamar lagi lebih besar dan lebih mentereng. Tanpa banyak pikir, segera ia memindah tubuh bibinya ke kamar dalam ini dan direbahkan di atas ranjang, lalu mulutnya bergumam, "Bibi, dalam sepuluh hari, seumpama harus mengorbankan jiwa juga, obat itu pasti dapat kubawa kembali!" Memandang awan yang terapung bebas di tengah udara, hatinya terasa kecut dan sedih.
Sejak dirinya berkelana, semua tugas yang harus dikerjakan satu pun belum ada yang membawa hasil. Entah kapan tugas suci dan angan-angannya bisa terkabul.
Perjalanan kali ini sebetulnya hendak menuju ke Lembah Kematian dengan *Pedang Darah* minta *Bunga Iblis*; besar harapannya dapat melatih ilmu sakti yang tiada taranya supaya leluasa dia menuntut balas dan menyumbangkan tenaganya bagi kepentingan dan kesejahteraan kaum persilatan.
Akan tetapi, kenyataan semua berlawanan dengan kehendaknya. Selalu terjadi rintangan-rintangan yang menjengkelkan. Bukan saja dia kehilangan *Pedang Darah*, malah jiwa sendiri juga hampir melayang.
Saking marah, istri tercinta lari mengejar adiknya yang tidak berbakti dan banyak melakukan kejahatan. Entah bagaimana keadaannya sekarang. Sekian lama dia terpekur mengenangkan pengalamannya yang pahit getir itu, baru akhirnya dia tersadar akan tugas barunya ini: menuju ke Seng Toh meminta sebutir *Hoan Hun Tan* di *Yok Ong Bio*.
Begitu *Bu Siang Sin Hoat* dikembangkan, seenteng burung dia terbang keluar dari selokan, terus menuju jalan raya langsung menuju ke Seng Toh.
Tidak jauh di luar kota Seng Toh terdapat sebuah bukit kecil. Di atas bukit ini dibangun sebuah biara yang kini sudah rusak, bobrok, dan tidak terurus.
Di tengah belandar di atas pintu terpancang sebuah papan besar yang bercat merah dan sudah luntur. Samar-samar di atas papan ini tertulis 'Yok Ong Bio' tiga huruf besar warna kuning.
Waktu matahari sudah doyong ke barat, burung gagak mulai berceloteh kembali ke sarangnya, di depan *Yok Ong Bio* ini mendatangi seorang pemuda berwajah dingin kaku. Dia tidak lain adalah Suma Bing yang datang hendak meminta sebutir obat.
Berdiri di luar biara, Suma Bing termangu dan bertanya-tanya dalam hati, biara ini sudah bobrok tidak terurus, masa ada orang yang mau datang bersembahyang di sini? Mungkinkah ada orang mau mengurus biara bobrok ini? Tapi ucapan bibinya pasti tidak salah. Kedatangannya ini adalah meminta bantuan orang, tidak boleh berlaku sembrono dan kurang adat, maka dari tempatnya dia berseru ke arah dalam.
"Apakah ada orang di dalam? Aku Suma Bing minta bertemu!" Beruntun tiga kali ia berseru tanpa ada penyahutan.
Dingin perasaan Suma Bing. Setelah bimbang, segera ia berkelebat memasuki pintu biara.
Biara ini tidak begitu besar, hanya terdapat sebuah ruang sembahyang dan dua emperan samping yang memanjang ke belakang. Rumput alang-alang di pekarangan sudah setinggi pinggang orang, malah undakan batu juga sudah berlumut. Suara burung gagak yang riuh rendah menambah keseraman keadaan sekelilingnya.
Hati Suma Bing kebat-kebit dan berdetak keras; naga-naganya perjalanannya ini menemui kegagalan lagi, sebab agaknya biara ini tanpa penghuni. Kalau perjalanannya ini benar-benar gagal, tamatlah riwayat hidup bibinya.
Tengah berpikir itu, tubuhnya melesat menuju ruang tengah tempat sembahyang. Begitu tiba dan melihat apa yang terpancang di depan matanya, seketika dia menyedot hawa dingin. Tanpa terasa dia mundur satu langkah besar, badannya gemetar dan merinding.
Di tengah ruang sembahyang ini terletak sebuah peti mati warna merah. Di depan meja peti mati ini tersulut sebuah pelita minyak; sinar pelita yang redup bergoyang-goyang hampir padam terhembus angin lalu, beberapa batang hio masih tersumat.
Waktu pandangannya menjelajah, keringat dingin membanjir keluar. Ternyata di depan peti mati itu menjuntai kertas putih yang bertuliskan: *Layon Ketua Biara Pek Chio Lojin.*
Habis sudah segala pengharapannya. Ternyata bahwa Pek Chio Lojin sudah mati.