Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 98

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 98

Menghadapi jenazah Pek Chio Lojin ini, Suma Bing berdiri mematung seperti orang linglung yang sakit ingatan. Terpikir olehnya akibat yang menakutkan, bibinya bakal tertidur selama-lamanya.

Sekonyong-konyong timbul sepercik harapan dalam keputusasaannya. Dilihat dari pelita dan hio yang terpasang itu, terbukti bahwa masih ada orang lain dalam biara ini, mungkin murid Pek Chio Lojin. Meskipun Pek Chio Lojin sudah meninggal, obat-obatannya tentu masih tersimpan dan masih ada harapan dirinya bisa memperolehnya.

"Adakah orang di dalam?" dia berteriak lantang.

"Siapa itu?" sebuah suara dingin mendadak terdengar dari samping.

Girang hati Suma Bing. Saat pandangannya menyapu, terlihat di pintu samping pojok sana pelan-pelan berjalan seorang gadis jelita berpakaian serba hitam.

Suma Bing tertegun. Gadis ini berpakaian begitu mentereng, wajahnya ayu jelita, keadaan ini sangat kontras dengan situasi yang tengah dihadapinya.

Mata gadis berbaju hitam itu dipentang lebar menatap ke arah Suma Bing, tiba-tiba berubah air mukanya, serunya kaget.

"Tuan adalah Sia Sin kedua?" Suma Bing melengak, sebat sekali ia melesat masuk ke ruang tengah. Diam-diam ia heran dari mana gadis itu bisa mengetahui dirinya. Terdengar mulutnya menyahut, "Benar, itulah Cayhe. Harap tanya, nama nona yang harum siapa?" Nona serba hitam ini mengerutkan alis, biji matanya berputar, jawabnya, "Aku bernama Siau Ling!"

"Siau Ling!"

"Ya, kenapa?"

"Apa nona tidak punya she (nama keluarga)?"

"Siapa bilang aku tidak punya she?"

"Minta, bertanya..."

"Aku tidak ingin memberitahu!" Suma Bing tertawa kecut, sikapnya rada risi entah apa yang harus dikatakan.

Nona serba hitam itu berkata lagi, "Untuk apa tuan datang kemari?"

"Mengunjungi seorang Cianpwe."

"Siapa?"

"Pek Chio Lojin!"

"Apa kau tidak melihat peti mati ini?"

"Sudah lihat. Harap tanya apa hubungan nona dengan Pek Chio Lojin?"

"Mendiang guruku."

Berjingkrak girang hati Suma Bing, namun lahirnya tetap bersikap dingin, katanya, "Sungguh tidak terduga gurumu sudah mangkat." Sepasang mata jeli nona serba hitam ini berputar menatap Suma Bing, tanyanya, "Maksud kedatangan tuan..."

"Cayhe ingin minta sebutir Hoan Hun Tan kepada Pek Chio Cianpwe!"

"Hoan Hun Tan?" Suma Bing mengiakan.

"Dari mana kau tahu kalau mendiang suhu membuat Hoan Hun Tan?"

"Ini... Cayhe hanya menerima pesan orang lain."

"Pesan dari siapa?"

"Bibiku, Ong Fong Jui!"

"Untuk apa?"

Mau tak mau Suma Bing harus berpikir. Sudah tentu dia tidak bisa memberi penjelasan seterang-terangnya, maka samar-samar saja dia menjawab, "Untuk menolong orang!"

"Tapi suhu sudah meninggal!"

"Dapatkah kiranya nona memberi satu butir saja?"

"Setelah mengalami jerih payah selama hidup, suhu hanya membuat tiga butir Hoan Hun Tan. Obat ini dipandang barang berharga dalam dunia persilatan..."

"Maksud nona..."

"Selamanya kita belum berkenalan, mengandalkan ucapanmu dapatkah aku lantas memberikan Hoan Hun Tan peninggalan suhu yang sangat berharga itu?"

Sikap Suma Bing berubah sungguh-sungguh, "Tiada halangannya Nona mengajukan syarat penggantian!"

"Syarat?"

"Begitulah!"

"Dapatkah syarat yang kuajukan kau kerjakan?"

"Coba saja Nona sebutkan!"

"Diganti dengan batok kepalamu, bagaimana syarat ini?"

"Dengan batok kepalaku untuk mengganti sebutir Hoan Hun Tan?"

"Kau sendiri mengatakan aku boleh mengajukan syarat sesuka hatiku."

Sekian lama Suma Bing bimbang dan serba salah, namun demi menolong jiwa bibinya, akhirnya dia menjadi nekad, katanya, "Apakah nona sedang bergurau?"

"Suma Bing, kau ingin minta Hoan Hun Tan, ini juga berkelakar bukan?"

Suma Bing benar-benar nekad, sahutnya, "Baik, aku setuju!"

Sedikit berubah rona wajah gadis serba hitam ini, agaknya jawaban tegas Suma Bing ini benar-benar di luar sangkanya, tanpa terasa tercetus seruannya, "Kau setuju?"

"Aku setuju, tapi..."

"Tapi apa?"

"Kusertai sebuah permintaan!"

"Permintaan apa?"

"Kepala Cayhe ini setengah tahun kemudian baru bisa kupersembahkan!"

"Mengapa?"

"Masih banyak urusan yang harus Cayhe selesaikan!"

Nona serba hitam mendengus, katanya dingin, "Kalau aku tidak setuju!"

Suma Bing tertegun dan mundur selangkah, katanya terharu, "Tabib pandai harus mengobati, obat mujarab untuk menolong orang, bukan untuk membunuh orang!"

"Hm, jadi kau menyesal dan menarik balik ucapanmu?"

"Cayhe tidak bermaksud demikian!"

"Kalau begitu ketahuilah, begitu aku sudah serahkan Hoan Hun Tan itu, kau harus segera serahkan kepalamu."

"Nona memaksa keterlaluan!"

"Kalau kau beranggapan syarat ini terlalu kejam, kau tidak perlu adakan jual-beli ini."

"Cayhe sudah bertekad harus mendapatkan Hoan Hun Tan itu!"

"Bagaimana tuan harus mendapatkannya?"

Sejenak ragu, lantas Suma Bing berkata dengan nada tegas, "Aku minta dengan hormat, kalau terpaksa, ya, apa boleh buat!"

"Itu berarti tuan hendak menggunakan kekerasan?"

"Bila memang terpaksa, apa pun akibatnya akan kulakoni!"

Tatkala itu sang surya sudah silam ke barat, malam sudah mulai datang, keadaan sekelilingnya sudah mulai gelap remang-remang. Mendadak terlihat si gadis baju hitam berubah air mukanya, tubuhnya menggeser maju mendekati jenazah, matanya melotot mengawasi keluar dengan ketakutan.

Suma Bing heran dan tak mengerti. Menurut arah pandangan si gadis baju hitam, dia melihat seketika bergejolak darahnya seakan jantungnya hampir pecah, hawa membunuh menyelubungi wajahnya. Kiranya di atas belandar sebelah barat sana berdiri seorang berpakaian serba putih dengan kedok kepala putih pula, sebilah cundrik merah darah tergambar di depan dadanya. Dia bukan lain adalah Rasul Penembus Dada.

Mata Rasul Penembus Dada bersinar tajam menyapu keadaan ruang sembahyang, lalu memperdengarkan suara lengkingnya yang menyedot sukma orang, "Pek Chio anjing tua, keluarlah serahkan jiwamu!"

"Tuan orang kosen dari mana?" tanya gadis baju hitam itu gemetar.

"Akulah Rasul Penembus Dada!"

"Ada permusuhan apakah kau dengan mendiang guruku?"

"Kau tiada harganya bertanya, suruh anjing tua itu menggelinding keluar!"

"Suhu sudah meninggal dunia!"

"Apa anjing tua sudah mati?"

"Tuan bicaralah dengan sopan santun!"

"Cara bagaimana dia mati?"

"Sakit keras!"

"Hahahaha... Mati sakit? Pek Chio Lojin seorang tabib kenamaan yang pandai pengobatan, mana bisa dia mati karena sakit?"

"Kalau memang sudah ajal, betapapun mustajab obat dewa juga tidak mungkin dapat menyembuhkan orang sakit. Seumpama Hoa Toh sendiri juga tidak bisa hidup sepanjang masa."

"Kau ini muridnya!"

"Benar, akulah muridnya!"

"Jenazahnya berada di dalam peti mati itu?"

"Ya."

"Bongkar kembali!"

"Tidak mungkin!" seru gadis baju hitam beringas.

"Terpaksa aku sendiri turun tangan!"

Hilang suaranya, tiba pula tubuhnya. Bagai bayangan malaikat secepat kilat dia melayang tiba di dalam ruang sembahyang. Sementara itu Suma Bing sendiri sudah tidak kuat menahan sabar, serta mendengar ucapan orang, pikirnya, 'Aku sendiri malah tidak berpikir sampai di situ, mungkin Pek Chio Lojin memang pura-pura mati, mengapa aku tidak menonton saja mengikuti suasana.' Karena pikirannya ini, segera ia melejit mundur menyingkir lima kaki.

Sekilas Rasul Penembus Dada memandang Suma Bing dengan sorot mata yang menyala-nyala, lalu mengalihkan pandangannya ke peti mati itu. Tiba-tiba sebelah tangannya diangkat mengarah ke peti mati itu dan berseru dingin, "Lebih baik kau tahu diri dan buka peti mati itu!"

Gadis berbaju hitam menggigit bibir sambil mendengus, "Orang mati dendamnya himpas, apa kau hendak merusak jenazahnya?"

"Sedikitpun tidak salah!"

"Kau berani?"

Rasul Penembus Dada menyeringai seram, "Kau tidak akan mampu merintangi aku!"

Dibarengi sebuah bentakan nyaring, tangannya diayun memukul ke arah gadis baju hitam. Pukulannya ini betul-betul hebat dan menakjubkan, diam-diam Suma Bing melelet lidah melihat kelihayan serangan ini. Kontan gadis baju hitam itu terpental mundur terdesak sampai mepet dinding.

'Blang!' kayu hancur berkeping-keping. Begitu peti itu hancur, terlihat sesosok mayat rebah di dalam peti mati itu; itulah seorang tua ubanan yang berbadan kurus kering bagai kayu.

"Iblis laknat, biar nonamu adu jiwa dengan kau!" Gadis baju hitam menubruk maju sambil melancarkan sembilan kali pukulan berantai yang menggila. Sekaligus sembilan pukulan ini dilancarkan, perbawanya bagai gelombang badai dan kilat menyambar. Di bawah serangan lawan yang nekad ini, Rasul Penembus Dada terdesak mundur lima langkah.

"Kau cari mati!" bentak Rasul Penembus Dada. Sambil membentak, beruntun ia balas menyerang tiga hantaman. Memang kepandaian gadis baju hitam ini kalah jauh, lagi-lagi ia terdesak mundur berulang-ulang.

Di mana terlihat sinar putih berkelebat, tahu-tahu Rasul Penembus Dada sudah mencekal sebilah cundrik yang kemilau bersinar dingin. Tampak kedua tangan gadis baju hitam bergantian diayun, seketika berhamburan kabut warna hitam melayang tiba mengurung Rasul Penembus Dada. Tapi sebelum kedua tangan gadis baju hitam berhenti bergerak, terdengar dia berpekik kesakitan terus roboh terkapar tanpa bergerak lagi. Kiranya kabut hitam itu adalah pasir beracun yang disambitkan.

Sungguh hebat kepandaian Rasul Penembus Dada. Sebelum pasir-pasir beracun itu mengenai tubuhnya, sebat sekali tubuhnya berkelebat keluar dari kurungan taburan pasir beracun lawan, lalu sekaligus dia kirim sebuah totokan menutuk jalan darah gadis baju hitam. Kepandaian seperti ini benar-benar sangat mengejutkan.

Suma Bing terlongong-longong memandangi peti mati yang sudah pecah berantakan itu. Terbayang olehnya sewaktu dirinya untuk pertama kali terjun di dunia persilatan, mendapat perintah gurunya untuk membunuh Bu Lim Sip Yu. Keadaan waktu berada di Ngo Ou Pang persis benar seperti hari ini. Kala itu dirinya juga tidak percaya kalau Ngo Ou Pangcu Coh Pin sudah mati; dengan kukuh dia minta peti mati dibuka kembali untuk diperiksa. Sekarang bukan saja Rasul Penembus Dada sudah memecah peti mati, juga akan merusak jenazah itu.

Bersamaan waktu gadis baju hitam roboh terkapar, Rasul Penembus Dada langsung berkelebat tiba di pinggir peti mati, di mana cundriknya yang kemilauan sudah terangkat. Benak Suma Bing berputar cepat, tak peduli Pek Chio Lojin benar-benar mati atau pura-pura mati.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment