Chapter 99
Suma Bing merasa dirinya harus meminta obat kepada orang tersebut. Rasul Penembus Dada ini juga merupakan musuh besarnya, mana mungkin dibiarkan saja.
Karena pikirannya itu, tubuhnya mendesak maju mendekati Rasul Penembus Dada, lalu membentak sinis, "Letakkan cundrik itu!" Rasul Penembus Dada melotot gusar ke arah Suma Bing sambil menghentakkan kaki. Tanpa terasa, dia menurunkan cundrik yang sudah terangkat tinggi itu, lalu bertanya, "Suma Bing, apa yang hendak kau lakukan?"
"Membuat perhitungan!"
"Nanti setelah pekerjaanku selesai. Seumpama kau tidak mencariku, justru aku yang akan mencarimu!"
"Tidak kuizinkan kau menyentuh jenazah itu."
"Memangnya kau bisa?"
"Silakan kau coba."
Rasul Penembus Dada mendesis geram. Sinar tajam berkelebat, cundrik di tangannya tahu-tahu sudah menyelonong mengarah ke ulu hati Suma Bing. Tusukan ini benar-benar secepat kilat dan aneh sekali. Suma Bing sadar dirinya tidak akan mampu menangkis tusukan maut ini, maka tubuhnya melayang berkelit dengan gesit. Jika tidak mengandalkan kehebatan *Bu siang sin hoat*, sudah sejak tadi cundrik musuh itu bersarang di dadanya.
Memang dia sudah terhindar dari serangan maut itu, tetapi jantungnya berdetak keras dan keringat dingin membasahi dahinya. Baru saja Suma Bing menyingkir, tiba-tiba Rasul Penembus Dada membalikkan tubuh dan cundriknya kembali menusuk ke arah peti mati.
"Cari mati!" Suma Bing membentak sengit. Segulung angin pukulan bagai gugur gunung langsung menerjang. Sejak meminum darah pusaka Naga Bumi, tenaga dalamnya menjadi sangat tinggi dan sukar dicari tandingannya di dunia persilatan (*Bu lim*).
Rasul Penembus Dada membalikkan tangan untuk menangkis, namun ternyata dia tidak kuat bertahan dan terpaksa mundur lima langkah. Mendapat peluang ini, Suma Bing segera mendesak maju dan berdiri merintang di depan peti mati. Pada saat itulah, gadis berbaju hitam yang kebetulan berdiri di sana mengangkat tangan tanpa bersuara, lalu menghantam punggung Rasul Penembus Dada.
"Menyingkir!" serunya, disusul jeritan ketakutan.
Dengan kecepatan kilat, Rasul Penembus Dada membalikkan tangan untuk menangkis, lalu cundriknya berkelebat menusuk. Gadis baju hitam itu tidak mampu lagi menghindar. Baju di bagian dadanya seketika koyak, memperlihatkan kulit putihnya. Sambil berseru kaget, ia menyilangkan kedua tangan di depan dada untuk menutup diri dan mundur sampai ke pojok ruangan.
Suma Bing merasa jengah melihat adegan yang canggung ini.
"Cundrik Penembus Dada hanya khusus untuk membunuh para durjana. Kau tidak tercatat dalam daftar, maka kuampuni nyawamu!" ucap Rasul tersebut. Gadis berbaju hitam itu tidak berani banyak tingkah lagi.
Hati Suma Bing tergerak, apa maksud dari daftar yang tercatat itu? Sepertinya Jeng Siong Hwe mengutus Rasul Penembus Dada untuk membunuh dan menimbulkan banjir darah di kalangan Kangouw merupakan kejadian yang sudah direncanakan. Mungkin mereka membunuh karena menuntut balas, atau ada latar belakang lainnya. Namun, bagaimanapun juga, hari ini dirinya harus merintangi perbuatan keji Rasul Penembus Dada. Jika *Hoan hun tan* tidak bisa diperoleh, bukankah berarti nyawa bibinya, Ong Fong Jui, akan melayang?
Maka, ia menghardik keras, "Rasul Penembus Dada, perhitungan kita selesaikan di pertemuan selanjutnya. Sekarang silakan kau pergi!"
Rasul Penembus Dada mendengus ejek, "Suma Bing, kau sedang bermimpi!"
"Kau mau pergi atau tidak?"
"Kau hendak menjual nyawa untuk Pek Chio Lojin?"
"Kalau benar, memangnya kenapa?"
"Apa hubunganmu dengan setan tua itu?"
"Kau tidak perlu tahu!"
"Oh, mungkin kau tertarik dengan muridnya ini?"
"Apa maksudmu?"
"Suma Bing, nyawamu hanya sementara kutitipkan. Cundrik Penembus Dada setiap saat bisa melubangi dadamu. Ketahuilah, di atas daftar pencabutan nyawa, namamu masih tercantum dan belum kucoret!"
Suma Bing mengerung gusar, "Meski cundrikmu tajam, takkan mempan menusuk dadaku!"
"Tunggu saja!"
"Sekarang aku ingin kau pergi!"
"Suma Bing, nyawamu sendiri belum tentu selamat, masih sempat-sempatnya menjual nyawa demi kepentingan orang lain?"
"Belum tentu!"
"Coba kau berpaling!"
Suma Bing agak terkejut. Saat ia berpaling, seketika bulu tengkuknya merinding. Di dekat pintu biara sebelah luar, berjajar empat orang berpakaian serba putih dengan kedok putih pula. Jubah di depan dada mereka bergambarkan cundrik merah darah.
Suma Bing benar-benar terkejut; di luar sangkaannya, dalam waktu bersamaan muncul lima Rasul Penembus Dada. Jika kepandaian dan tenaga dalam kelima orang ini sama tinggi, hari ini mungkin dirinya susah menang. Untuk merat saja mungkin tidak menjadi soal, tapi melindungi Pek Chio Lojin beserta muridnya tentu tidak gampang. Namun, wataknya yang keras dan sifat sesat gurunya yang sudah mendarah daging membuat dia tidak tahu arti mundur. Ia menyapu pandang ke arah musuh-musuhnya dengan wajah membeku.
"Mengandalkan kekuatan kalian berlima?" ejeknya dingin.
"Masa belum cukup untuk mengantar kematianmu?"
"Mari segera dimulai!"
Rasul Penembus Dada yang berhadapan dengan Suma Bing melambaikan tangan. Keempat rasul lainnya yang berdiri di ambang pintu serentak menerjang Suma Bing dan melepaskan serangan gabungan. Empat gelombang badai pukulan menerpa, mengurung seluruh tubuh Suma Bing.
Suma Bing sadar jika dirinya berkelit meninggalkan peti mati ini, pasti rasul yang seorang itu akan menggunakan peluang tersebut. Maka, terpaksa dia tetap berdiri di tempatnya dan mengerahkan tenaga di kedua belah tangan untuk menyambut serangan gabungan itu.
*Duar!*
Di tengah benturan yang menggelegar ini, hujan abu dan pecahan genteng berhamburan. Seluruh bangunan kelenteng itu tergetar hebat hingga hampir ambruk. Jika Suma Bing masih berdiri tanpa bergeming dengan muka pucat, sebaliknya keempat musuhnya justru tergetar mundur sempoyongan. Sementara itu, gadis berbaju hitam telah membetulkan letak pakaiannya dan mengawasi Suma Bing dengan sorot mata yang sulit dijajaki.
Begitu dapat berdiri tegak lagi, keempat rasul itu segera merangsang maju dengan lebih hebat dari jurusan yang berlainan. Seketika terlihat bayangan pukulan berkelebat bagai gunung dengan daya rusak bagai gelombang lautan yang tak putus. Begitu keras dan deras sambaran angin pukulan itu sehingga jika terserempet saja kulit manusia bisa terkupas. Kecepatan gerak Suma Bing juga sangat ajaib. Seluruh tokoh silat pada masa itu yang mampu bertahan dari kepungan empat rasul sekaligus mungkin dapat dihitung dengan jari.
Pertempuran para tokoh silat yang berkepandaian tinggi sering kali ditentukan hanya dalam hitungan detik. Tanpa sadar, Suma Bing terpaksa menggunakan gerak kelit dari ilmu *Bu siang sin hoat* untuk keluar dari kepungan. Hampir bersamaan, Rasul Penembus Dada yang memegang cundrik dengan kecepatan kilat menerjang ke arah peti mati.
Suma Bing berpekik kalap, "Berani kau!" Seluruh kekuatannya dihimpun untuk melancarkan pukulan *Kiu yang sin kang* yang dahsyat. Sejak meminum darah pusaka Naga Bumi dan membaurkan kekuatan itu ke dalam *Kiu yang sin kang*, kekuatan pukulannya kini telah berlipat ganda. Meskipun belum mencapai tingkatan *Loh Cu Gi* yang dapat menghancurkan benda dalam sekali pukul, kekuatannya sudah sangat mengejutkan.
Gelombang panas bagai lahar gunung berapi segera menggulung. Terdengar jerit panjang yang mengerikan; Rasul Penembus Dada terbang sejauh satu tombak lebih dengan kedok putih yang kini berubah warna menjadi merah darah. Belum lenyap suara jeritan itu, disusul jeritan kedua. Kini Suma Bing sendiri yang terpental menumbuk dinding dan tubuhnya melorot jatuh ke lantai. Orang yang menyerang Suma Bing dari belakang tidak lain adalah keempat rasul lainnya.
Sambil menggigit bibir, Suma Bing merangkak bangun. Ujung bibirnya berlepotan darah segar, dan baju di depan dadanya juga basah oleh darah. Melihat keadaan Suma Bing yang demikian, keempat rasul itu agak gugup dan berhenti sejenak karena takut.
Wajah Suma Bing terlihat pucat menakutkan, sorot matanya memancar buas. Dengan langkah lebar, dia menghampiri peti mati, lalu berputar menghadapi keempat rasul itu lagi. Agaknya, keempat rasul tersebut sesaat terpengaruh oleh sorot mata dan sikap gagah Suma Bing hingga mereka berdiri terlongong.
Rasul yang terpukul tadi sudah terhuyung bangun dengan cundrik yang masih digenggam erat. Sorot matanya menembus dari balik kedok, menatap wajah Suma Bing dengan cara yang sungguh membuat merinding. Walaupun malam semakin larut dan keadaan sekelilingnya hitam pekat, bagi para tokoh silat kelas tinggi, kegelapan malam tidak menjadi halangan untuk melihat seperti di siang hari.
Gelanggang pertempuran hening senyap, namun mengandung nafsu membunuh yang meluap-luap dan dapat meledak kapan saja. Agaknya rasul yang mencekal cundrik itu adalah kepala dari kawanan tersebut, sementara empat lainnya hanyalah pembantu.
"Maju!" perintah kepala rasul itu. Keempat rasul lainnya tersadar dari lamunan dan serempak maju mendesak. Saat itu pula, Suma Bing menghimpun kekuatannya pada kedua lengan, siap menghadapi serangan. Setelah maju beberapa langkah, keempat rasul itu secara berbarengan melancarkan sebuah pukulan.