Chapter 19 (Tamat)
Kok Kong Hwesio tertawa. “Ha, ha, Kim Huo Toyu, kau harus malu. Kakek-kakek tua renta yang hampir mati seperti kita ini harus berkelahi seperti dua orang anak kecil? Ha, ha, aku malu kepada bayanganku sendiri.”
Kim Huo Tojin cemberut. “Hwesio tua, kau pandai sekali bicara dan mencari alasan. Kalau kau takut, katakanlah saja terus terang, Pinto juga tidak akan memaksamu berkelahi.”
“Kim Huo Toyu, apakah artinya takut? Apakah artinya menang atau kalah? Kau sungguh seperti anak kecil saja. Akan tetapi, pada saat ini kau adalah tamu, sedangkan Pinceng adalah tuan rumah, maka sudah menjadi keharusan umum bahwa tuan rumah harus melayani tamu baik-baik. Tentu saja permintaanmu itu tidak dapat kutolak, akan tetapi, oleh karena kita tidak menaruh permusuhan apa-apa, sedangkan nafsumu yang mendesakmu itu pun hanya terbatas pada nafsu tidak puas dan ingin menguji kepandaian belaka, maka marilah kita mengadu kepandaian dengan baik-baik sesuai dengan kedudukan kita sebagai ketua cabang persilatan.”
Sambil berkata demikian, Kok Kong Hwesio lalu mencabut sebuah tiang kecil yang terpasang dan tertancap di pelataran itu untuk tempat ikatan tali jemuran pakaian, lalu dengan sebelah tangan ia mematahkan tiang itu menjadi dua potong. Kemudian ia tancapkan dua batang tongkat itu ke dalam tanah, agak berjauhan, kira-kira berpisah satu tombak jauhnya.
“Nah, Kim Huo Toyu, marilah kita adu cio-hwat di atas patok ini!”
Sambil berkata demikian, Kok Kong Hwesio melompat ke atas sebuah patok itu dan berdiri di atas sebelah kaki kiri, sedangkan kaki kanannya diangkat ke belakang dan kedua lengan dikembangkan ke kanan dan ke kiri. Kok Kong Hwesio bertubuh tinggi besar, akan tetapi dengan ringan sekali ia dapat melompat dan berdiri di atas patok tanpa bergoyang sedikit pun, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya ilmu ginkang dari Hwesio tua ini.
Kim Huo Tojin tersenyum dan ia pun lalu melompat ke patok kedua. Ia berdiri dengan ujung kakinya, agak merendah dan kaki yang lain diluruskan ke depan, tangan kanan bertolak pinggang dan tangan kiri merupakan kepalan menempel di pinggang. Juga gerakan Tosu ini ringan sekali hingga semua menjadi kagum.
“Hwesio Tua, kau berhati-hati sekali. Baiklah, kita mengadu kepandaian di sini saja. Bagaimana peraturan selanjutnya?”
Melihat gerakan lawan ini Kok Kong Hwesio tersenyum. “Toyu, kau hebat sekali. Marilah kita gunakan angin pukulan untuk saling mendorong, dan siapa yang terpaksa melompat turun dari atas patok dianggap kurang hati-hati dan selanjutnya tidak boleh banyak cakap lagi!”
“Baik-baik dan bersiaplah!” kata Kim Huo Tojin yang lalu mulai menggerakkan tangan kirinya memukul ke depan. Kok Kong Hwesio lalu mengembangkan tangannya dan mendorong ke depan, menahan angin pukulan lawannya. Demikianlah, kedua orang tua itu saling memukul dan mendorong hingga tampaknya mereka itu berkelahi melawan angin, akan tetapi kalau orang berdiri di antara mereka, barulah orang itu akan mengetahui betapa dari kedua pihak datang angin pukulan yang luar biasa hebatnya, karena biar pun angin pukulan yang dilancarkan itu tidak melukai kulit, akan tetapi dapat melukai paru-paru dan jantung serta segala isi perut, mendatangkan luka dalam yang membawa maut. Inilah hebatnya tenaga khikang yang disalurkan melalui pergerakan tangan mereka.
Nyo Liong dan Yang Giok sambil saling berpegangan tangan menonton pertandingan luar biasa dan menegangkan ini, dan diam-diam mereka hanya berdoa supaya Kok Kong Hwesio jangan sampai kalah. Nyo Liong diam-diam mengagumi Hwesio tua itu, karena dalam hal tenaga khikang dan kepandaian ginkang, terus terang saja, ia harus mengaku kalah kepada kedua orang tua ini.
Adu tenaga khikang ini berlangsung lama karena agaknya kedua kakek itu sama tangguhnya dan tiap-tiap serangan lawan selalu dapat ditahan atau dikembalikan dengan tenaga mereka. Akhirnya Kim Huo Tojin mendapat akal licik dan tiba-tiba saja ia mengubah gerakan tangannya, kini ia tidak memukul ke arah lawannya, akan tetapi ke arah patok yang diinjak oleh Kok Kong Hwesio.
Terdengar suara “krak” dan patok itu patah. Kok Kong Hwesio berseru keras lalu tubuhnya melompat ke atas, berjungkir balik beberapa kali baru ia turun di atas kedua kakinya sambil tertawa bergelak.
“Toyu, kau cerdik sekali. Sayang agaknya kau terlalu banyak menggunakan tenaga hingga jubahmu yang menutup iga kiri menjadi rusak.”
Kim Huo Tojin cepat melompat turun dan ia meraba jubahnya. Benar saja, jubah itu telah terobek lebar hingga angin gunung mengembus membuat kulit iganya terasa dingin. Ia menjadi pucat karena maklum bahwa dalam adu tenaga tadi, Hwesio tua itu telah menggunakan pukulan Pek-kong-ciang yang tidak mendatangkan angin, akan tetapi cukup hebat hingga kalau Hwesio itu berhati jahat, tentu ia telah menderita luka dalam, dan bukan hanya jubahnya yang terobek. Cepat ia menjura dan berkata,
“Pinto telah berkenalan dengan Pek-kong-ciang yang hebat dan telah berkenalan pula dengan hatimu yang welas asih. Terima kasih, terima kasih!” Setelah berkata demikian, Kim Huo Tojin lalu mengajak kedua sutenya meninggalkan tempat itu tanpa berani banyak cakap lagi. Sebagai seorang tokoh persilatan yang berkedudukan tinggi, ia harus memegang janji dan sebagai seorang laki-laki ia telah mengaku salah terhadap Hwesio tua itu.
Kok Kong Hwesio menghela napas lega. “Untunglah mereka itu masih ingat bahwa mereka adalah para pendeta yang harus memegang teguh kebersihan batin. Sekarang tidak ada bahaya lagi, kalian berdua hari ini pun boleh berangkat ke kota raja dan serahkan pedang itu kepada pemimpin besar, kemudian mintalah agar Liu Mo Kong dibebaskan.”
Nyo Liong dan Yang Giok menghaturkan terima kasih kepada Hwesio tua yang baik hati ini dan mereka lalu berangkat secepatnya ke kota raja.
Ketika tiba di kota raja, Oey Couw menyambut kedatangan mereka dengan gembira sekali, karena ia telah kenal dan pernah bertemu dengan Nyo Liong yang banyak membantu pergerakannya. Ia menerima pedang Thian Hong Kiam dan mencabutnya dari sarung pedang untuk diperiksa.
“Pedang baik, pusaka bagus. Akan tetapi, apakah artinya pedang ini jika dipegang oleh seorang yang berhati jahat?” Ia lalu menggantungkan pedang pusaka itu pada pinggangnya dan semenjak itu, ia tidak pernah berpisah lagi dengan pedang Thian Hong Kiam itu.
Dengan senang hati Oey Couw membebaskan Liu Mo Kong yang memang mendapat kebebasan penuh walaupun tinggal di dalam penjara, dan pertemuan antara Liu Mo Kong dan putrinya terjadi sangat mengharukan.
Nyo Liong lalu mengajak tunangan dan calon mertuanya untuk pergi ke rumah orang tuanya, di mana mereka disambut oleh Nyo Wan-gwe dengan gembira.
“Oey Couw memang seorang gagah perkasa yang berbudi luhur,” kata Pangeran Liu, “akan tetapi sayang sekali, ia tidak pandai memegang pemerintahan, hingga aku sangat khawatir kalau-kalau kekuasaannya tidak akan bertahan lama.”
Kemudian atas persetujuan kedua pihak, perkawinan antara Nyo Liong dan Yang Giok dilangsungkan dengan meriah dan kedua mempelai hidup penuh kebahagiaan.
Ramalan dan kekhawatiran Pangeran Liu Mo Kong ternyata terbukti. Tidak lama kemudian terjadi rebutan kursi di antara para pembesar yang ingin memperoleh pahala dalam perjuangan yang lalu. Perebutan kekuasaan inilah yang kemudian melemahkan kedudukan mereka.
Sementara itu, kaisar yang melarikan diri ke Sichuan tidak tinggal diam. Ia bersekutu dengan tentara Turki Barat yang disebut Shato dan di bawah pimpinan Li Ke Yung. Empat tahun kemudian, pasukan Turki dengan sisa barisan kaisar bergerak maju dan menyerang Chang'an. Pasukan tani yang kini telah menjadi lemah akibat perebutan kekuasaan itu, terpukul hancur hingga kota raja dapat direbut kembali oleh kaisar atas bantuan Li Ke Yung dan pasukan Turkinya.
Oey Couw dan sisa anak buahnya lalu melarikan diri ke Henan, kemudian lari terus ke provinsi Shandong. Kemudian, di puncak gunung Taishan, Oey Couw yang gagah perkasa ini karena merasa sedih dan kecewa oleh gagalnya perjuangannya yang telah mengorbankan banyak jiwa rakyat dan harta benda itu, lalu berdiri seorang diri dengan pedang Thian Hong Kiam terhunus dan terpegang dalam tangannya. Angin pegunungan yang sejuk meniup dan membuat ikat kepalanya terlepas hingga rambutnya terurai ke pundak dan berkibar tertiup angin, bersaing dengan ikat pinggangnya yang juga berkibar bagaikan bendera megah.
Ia menengadah memandang awan yang berarak lalu, dan berkata dengan suara nyaring,
“Kaisar lalim! Biar pun perjuangan kami gagal, biar pun puluhan ribu petani dan rakyat kecil terbunuh di ujung pedang, biar pun aku Oey Couw akhirnya harus melarikan diri karena kalah dan gagal, akan tetapi ingatlah, “Jiwa perjuangan suci tidak akan pernah hancur, tidak akan pernah mati. Para pejuang dan pahlawan rakyat boleh mati, mayat boleh bertumpuk-tumpuk, akan tetapi jiwa dan api perjuangan yang timbul daripada derita rakyat yang tertindas oleh kaummu yang sewenang-wenang, tidak akan padam dan selamanya akan berkobar lagi. Kalian lihat dan tunggu saja, akan datang saatnya api ini berkobar dan bernyala hebat dan akan membakar semua penindas dan pemeras, dan akhirnya rakyat yang akan menang. Hidup perjuangan rakyat tertindas.”
Setelah berkata demikian, pahlawan yang gagah ini lalu menggunakan pedang Thian Hong Kiam untuk menusuk dada kirinya hingga ujung pedang itu masuk sampai menembus jantungnya. Ia roboh terlentang dengan mata terbelalak, tidak berkutik lagi, sedangkan pedang Thian Hong Kiam terpancang di atas dadanya. Angin bertiup sepoi-sepoi.