Chapter 04
Pedang Thian Hong Kiam yang berada di tangan Yang Giok merupakan sebuah kebetulan. Tanpa kehadiran Tan Kok dan Khu Lok, Yang Giok tidak akan mampu mempertahankan pedang tersebut karena kepandaian keduanya jauh melampaui dirinya.
Yang Giok terus memacu kudanya tanpa henti, hanya berhenti jika kudanya lelah atau rasa laparnya tak tertahankan. Ia menuju kota Siu-bi-koan untuk mencari keluarga Nyo Seng Hwat.
Nyo Seng Hwat adalah seorang hartawan besar di kota Siu-bi-koan. Dahulu, Nyo-wangwe pernah tinggal di ibukota sehingga memiliki banyak kenalan dari kalangan pembesar. Hubungannya dengan Pangeran Liu Mo Kong adalah yang paling akrab.
Keduanya saling mengenal dengan baik dan sangat akrab. Pergaulan mereka berlanjut hingga akhirnya mereka mempertunangkan anak tunggal mereka yang masih kecil. Liu Mo Kong hanya memiliki seorang anak perempuan bernama Liu Yang Giok, sementara Nyo-wangwe memiliki seorang anak laki-laki bernama Nyo Liong.
Nyo Liong setahun lebih tua dari Yang Giok. Ia bertubuh tegap, gagah, dan berwajah tampan. Sejak kecil, Nyo Liong telah mempelajari ilmu kesusastraan. Pada usia lima belas tahun, sebelum Kerajaan Tang roboh, ia berhasil lulus ujian di kota raja dengan hasil yang sangat baik.
Namun, Nyo Liong tidak suka memegang jabatan. Setelah lulus ujian, ia tidak pulang ke rumah orang tuanya. Ia hanya memerintahkan pelayan tua untuk pulang terlebih dahulu ke Siu-bi-koan, sementara ia sendiri pergi merantau.
Lebih dari tiga tahun Nyo Liong pergi merantau, membuat kedua orang tuanya sangat khawatir dan sedih karena tidak ada kabar darinya.
Tiba-tiba, pada suatu pagi, Nyo Liong datang. Tubuhnya bertambah tegap dan wajahnya tampak selalu berseri, namun sikapnya tetap lemah lembut seperti dulu. Tentu saja, kedua orang tuanya merasa sangat girang. Kedatangan pemuda itu disambut dengan pesta yang meriah.
Nyo Liong memiliki pemahaman sastra yang luas dan paling gemar membaca buku-buku sejarah para kesatria di zaman dahulu. Sejak kecil, ia sangat suka membaca buku-buku kuno seperti Sam Kok, See Yu, Hong Sin, dan berbagai buku lainnya.
Karena Nyo-wangwe sangat menyayangi puteranya dan senang melihatnya membaca buku untuk menambah pengetahuan, ia telah membeli banyak sekali buku kuno. Sejak kecil, Nyo Liong terbiasa membaca kitab-kitab sejarah dan filsafat kuno yang jarang dimiliki atau dibaca orang. Di kamar pemuda itu terdapat berpeti-peti buku kuno yang tak ternilai harganya.
Di antara kitab-kitab kuno yang sudah lapuk dan menguning itu, terdapat sebuah kitab kuno yang dibeli oleh Nyo-wangwe melalui perantaraan seorang pelayan dari dalam sebuah kuil. Karena huwe-sio pengurus kuil itu tidak dapat membaca kitab yang memuat tulisan-tulisan kuno yang sukar dipahami itu, buku itu dapat dibeli dengan harga murah.
Nyo-wangwe sendiri, meskipun telah banyak mempelajari sastra, tidak dapat mengerti isi kitab itu. Bahkan, baru membaca beberapa kalimat saja, kepalanya sudah menjadi pusing. Ia lalu memberikan buku itu kepada Nyo Liong.
Sampul buku itu ditulis dengan gaya seperti naga menari dan bertuliskan “Pat Kwa Im Yang Coan Si”. Isi buku itu menerangkan tentang rahasia-rahasia Pat-kwa dan tenaga-tenaga Im dan Yang (negatif dan positif) yang menguasai alam raya. Oleh karena itu, Nyo Seng Hwat merasa pusing hanya dengan membaca sedikit saja.
Tidak demikian dengan Nyo Liong. Pemuda ini, meskipun saat itu baru berusia paling banyak tiga belas tahun, menjadi sangat tertarik saat membaca kitab ini. Memang, pada mulanya sangat sulit baginya untuk mengerti arti tulisan kuno itu, tetapi berkat ketekunan dan kerajinaannya, sedikit demi sedikit ia berhasil menangkap artinya.
Sejak ia membaca kitab itu, kedua orang tuanya merasakan perubahan luar biasa pada anak mereka. Nyo Liong menjadi sangat pendiam, tetapi otaknya menjadi luar biasa terang. Ia dapat menghafal segala macam pelajaran hanya dengan sekali baca. Buku kuno itu telah dilupakan oleh Nyo Seng Hwat karena ia tidak melihatnya lagi. Ia tidak tahu bahwa Nyo Liong telah menyembunyikan buku itu sepenuhnya.
Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa setiap malam, setelah semua orang tertidur pulas, anak itu mengeluarkan kitab kuno yang lapuk itu dan membacanya hingga lewat tengah malam. Ia tidak pernah menyangka bahwa kitab “Pat Kwa Im Yang Coan Si” sebenarnya adalah sebuah kitab pelajaran yang sangat hebat.
Kitab ini adalah peninggalan seorang sakti dari zaman dahulu yang menuliskan semua kepandaiannya di dalamnya. Di situ terdapat pelajaran ilmu silat yang sangat tinggi, cara-cara berlatih lweekang, serta siulan (samadhi) yang dapat mengumpulkan tenaga batin, membersihkan darah, dan menyehatkan otak.
Inilah yang menyebabkan mengapa Nyo Liong yang masih kecil itu tiba-tiba menjadi pendiam. Saat membaca kitab itu, di antara pelajaran di dalamnya, berulang kali disebutkan bahwa siapa yang ingin memelihara kekuatan batin harus banyak berdiam diri dan tidak sembarangan mengeluarkan kata-kata. Sebenarnya, Nyo Liong menjadi pendiam bukan hanya karena taat pada pesan dalam kitab ini, tetapi juga karena ia merasa kecewa dan bingung.
Ia sangat ingin mengerti isi kitab ini, tetapi terlalu sulit baginya hingga banyak bagian yang tidak dimengertinya. Maklum, sejak kecil ia tidak pernah diberi pelajaran silat. Tentu saja, ia menghadapi pelajaran persilatan yang sangat tinggi dan sulit tanpa ada yang membimbingnya. Ia merasa bingung dan tidak mengerti.
Ia tidak berani memberitahukan hal ini kepada ayahnya karena selain ayahnya tidak pandai ilmu silat, ia juga khawatir ayahnya akan merampas kitab itu dan melarangnya membaca. Oleh karena itu, ia tetap diam, bahkan untuk membaca kitab itu ia selalu melakukannya secara sembunyi-sembunyi.
Bertahun-tahun Nyo Liong membaca dan mempelajari isi kitab itu. Pada malam hari, ia mencoba mempraktikkan pelajaran itu. Ia mulai melatih napas dan bersamadhi sesuai petunjuk dalam kitab. Sungguh mengherankan, baru beberapa bulan ia belajar, ia merasakan tubuhnya menjadi segar dan ingatannya menjadi sangat kuat. Oleh karena itu, ia semakin tekun mempelajari kitab “Pat Kwa Im Yang Coan Si”. Ketika ia pergi ke kota raja untuk menempuh ujian, kitab itu diam-diam dibawanya.
Setelah berhasil dalam ujiannya, tiba-tiba muncul sebuah pikiran dalam hatinya. Untuk dapat mempelajari kitab itu dengan sempurna, ia harus mencari seorang guru yang pandai. Maka, ia menyuruh pelayannya pulang dan ia sendiri merantau ke barat, karena ia tahu dari buku-bukunya bahwa di daerah barat banyak terdapat orang pandai.
Jodoh dan nasib baik membawanya ke provinsi Cing-hai dan kemudian ke sebuah pegunungan, yakni Pegunungan Ceng-liong-san. Di lereng bukit Ceng-liong-san, dalam sebuah kuil tua, ia bertemu dengan seorang pertapa tua yang tidak lain adalah Li Lo Kun, seorang pendekar tua yang terkenal dan telah mengasingkan diri di bukit itu. Melihat sikap pemuda yang baik dan berbakat memiliki ilmu kepandaian tinggi, Li Lo Kun merasa sangat tertarik.
Alangkah terkejutnya ketika pada malam hari, dari kamar pemuda itu ia mendengar napasan yang teratur dan ditarik secara luar biasa hingga menerbitkan angin bersiutan. Ia cepat mengintai dari atas genteng dan anehnya, tiba-tiba Nyo Liong, yang pendengarannya telah maju hebat di luar dugaan karena berlatih menurut petunjuk kitabnya, dapat mendengar tindakan kaki Li Lo Kun. Pemuda yang sedang berlatih napas itu berkata,
“Tuan yang berada di atas genteng, jika mempunyai keperluan, silakan turun saja!”
Li Lo Kun merasa kagum dan terkejut. Ia telah merantau puluhan tahun lamanya dan kepandaian ginkangnya telah terkenal. Jarang ada orang yang memiliki pendengaran setajam itu hingga bisa mendengar tindakan kakinya di atas genteng.
Akan tetapi, pemuda yang tampak seperti bodoh dan hijau ini telah dapat mengetahui dan mendengarnya. Maka, buru-buru Li Lo Kun melompat turun dan dengan heran bertanya,
“Anak muda yang luar biasa. Kau belajar dari siapa maka pendengaranmu sehebat ini?”
Mengetahui bahwa yang berdiri di hadapannya adalah seorang yang berilmu, Nyo Liong menjatuhkan diri berlutut.
“Suhu, teecu yang bodoh mana ada harga untuk dipuji. Mohon suhu sudi memberi petunjuk dan jika suhu tidak keberatan, mohon suka menerima teecu sebagai murid.”
Li Lo Kun semakin heran. Pemuda ini telah memiliki kepandaian tinggi, mengapa masih hendak berguru kepadanya? Nyo Liong lalu menuturkan dengan terus terang bahwa ia melatih diri menurut petunjuk dari sebuah kitab kuno.
Li Lo Kun terbelalak heran dan meminta melihat kitab itu. Akan tetapi, karena ia hanya sedikit mempelajari ilmu surat, tentu saja ia tidak dapat mengerti sama sekali. Orang tua itu hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu berkata,
“Kongcu, kau benar-benar telah berjodoh untuk menjadi murid orang sakti yang menulis buku ini. Kalau untuk menjadi suhumu, aku tidak berani karena ilmu yang terdapat di dalam kitab ini jauh lebih tinggi dari pada ilmu kepandaianku. Akan tetapi, kalau kau ingin supaya aku membantumu dalam mempelajari kitab ini, yakni pada bagian-bagian pergerakan kaki tangan, tentu saja aku akan suka sekali membantu.”