Chapter 05
Nyo Liong merasa sangat gembira. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut, mengangguk-angguk berkali-kali sambil menyebut, "Suhu!" Sejak hari itu, selama tiga tahun Nyo Liong berdiam di kuil itu, mempelajari isi kitab di bawah pimpinan Li Lo Kun yang menerangkan bagian-bagian ilmu silatnya. Ilmu silat yang terkandung dalam kitab itu benar-benar luar biasa. Di dalamnya terdapat dua macam ilmu silat: tangan kosong dan pedang.
Li Lo Kun merasa kagum melihat gerakan-gerakan luar biasa dalam kitab itu. Dengan membantu Nyo Liong belajar, orang tua itu sendiri mendapat kemajuan hebat dalam kepandaiannya karena terbukalah banyak rahasia ilmu silat yang rumit. Apalagi Nyo Liong dapat belajar sambil membaca, tentu saja kemajuan dan kepandaian yang didapat pemuda itu mengagumkan. Setelah mempelajari kitab itu selama tiga tahun, Li Lo Kun berkata dengan kagum dan gembira, "Nyo Liong, kitab ini sungguh-sungguh telah ditulis oleh seorang dewa yang sakti. Kalau kau melatih dirimu baik-baik dalam waktu setahun atau dua tahun lagi saja, ilmu silatmu takkan ada duanya di dunia ini."
Nyo Liong sambil berlutut berkata, "Ini semua berkat bantuan suhu yang berbudi." Li Lo Kun merasa sangat gembira. Walaupun pengetahuan Nyo Liong dalam ilmu silat telah sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri, namun pemuda itu ternyata dapat membawa diri dan bersikap sopan serta merendah, sehingga sukar sekali menemukan pemuda sebaik ini. Oleh karena itu, dengan sepenuh hati Li Lo Kun menurunkan kepandaiannya sendiri kepada muridnya itu. Karena Nyo Liong telah memiliki dasar yang kuat dari pelajarannya dalam kitab, dalam waktu beberapa bulan saja, ilmu kepandaian terhebat Li Lo Kun telah dapat ia warisi.
Kurang lebih tiga setengah tahun sejak ia pergi merantau, Nyo Liong lalu kembali ke tempat tinggal orang tuanya dan disambut dengan gembira serta meriah oleh Nyo wan-gwe. Sekembalinya ke rumah orang tuanya, biarpun Nyo Liong selalu bersikap biasa dan setiap hari membantu pekerjaan dagang ayahnya sambil membaca buku-buku kesukaannya, diam-diam pada malam hari pemuda itu mengubah dirinya menjadi pendekar rahasia. Ia pergi melakukan tugasnya membela orang tertindas dan membasmi penjahat.
Dalam beberapa bulan saja setelah ia kembali, kota Siu-bi-koan bersih dari penjahat dan perampok. Ketika terjadi pemberontakan terhadap pemerintah dinasti Tang, Nyo Liong juga tidak tinggal diam dan membantu dengan sepenuh tenaga. Bahkan ia berhasil membongkar sebuah goa kuno dan menggali harta terpendam. Ia memperebutkannya dengan kawanan kang-ouw yang menginginkan harta tersebut, lalu berhasil membawanya kepada Oey Couw, pemimpin besar pemberontak itu. Dalam semua sepak terjangnya, Nyo Liong selalu mengenakan topeng hitam, sehingga ia mendapat julukan Sasterawan Topeng Hitam.
Semua pekerjaan yang dilakukannya, yang telah menggemparkan dunia kang-ouw, dilakukan tanpa diketahui kedua orang tuanya. Nyo wan-gwe suami istri hanya menganggap bahwa putera mereka kini seringkali pergi berpesiar selama beberapa hari.
***
Ketika tiba di kota Siu-bi-koan, Yang Giok dengan mudah mencari gedung keluarga Nyo, atau calon mertuanya itu, karena siapa yang tidak mengenal Nyo wan-gwe? Walaupun hatinya tabah dan biasa menghadapi orang besar, ketika memasuki halaman muka gedung Nyo wan-gwe, mau tidak mau Yang Giok merasa gugup sekali. Dengan tangan kiri ia menuntun kudanya, dan tangan kanannya tiada hentinya membereskan pakaian dan rambutnya, lupa bahwa ia sebenarnya masih menyamar sebagai seorang pemuda. Berkat sinar matahari yang setiap hari menimpa dan membakar kulit muka dan tangannya, kulitnya agak hitam kemerah-merahan, sehingga tak seorang pun akan menduga ia seorang wanita. Ia telah mengambil keputusan untuk tidak mengaku bahwa ia adalah puteri Liu Mo Kong, karena ia hendak menyelidiki dulu keadaan tunangannya. Selama pedang Thian Hong Kiam berada di tangannya dan belum diserahkan kepada orang yang berhak menerimanya, ia takkan berubah diri menjadi seorang gadis.
Seorang pelayan menyambutnya dengan hormat, dan pelayan lain lalu mengambil kudanya untuk dibawa ke kandang. Mereka berlaku hormat kepada Yang Giok. Pelayan tua itu sambil menjura bertanya, "Kongcu dari mana dan hendak bertemu dengan siapa?"
"Tolong beritahukan kepada Nyo wan-gwe bahwa saya seorang she Kwee dari ibukota datang membawa berita penting." Mendengar bahwa pemuda itu datang dari kota raja, pelayan itu bergegas memberi laporan ke dalam setelah mempersilakan Yang Giok menunggu di ruang tamu. Tak lama kemudian, Yang Giok melihat seorang laki-laki setengah tua berwajah ramah keluar menyambut. Di belakang laki-laki ini terdapat seorang pemuda berpakaian sasterawan. Mereka berdua memandangnya dengan heran karena tidak mengenalinya. Yang Giok buru-buru menjura memberi hormat dan berkata, "Mohon dimaafkan jika saya mengganggu. Sesungguhnya saya membawa berita penting dari Pangeran Liu Mo Kong."
Mendengar ini, Nyo wan-gwe cepat-cepat berkata, "Ah, kau datang membawa berita dari Pangeran Liu? Silakan masuk saja, anak muda!" Yang Giok lalu diantar masuk dan dibawa ke ruang belakang, karena Nyo wan-gwe maklum bahwa pemuda ini tentu membawa berita sangat penting. Setelah mereka duduk mengitari sebuah meja yang terukir indah, Nyo Seng Hwat bertanya, "Kau siapa, hiante? Dan pernahkah dengan Pangeran Liu?"
"Saya bernama Kwee Yang Giok dan Pangeran Liu adalah paman saya, karena Liu hujin (nyonya Liu) adalah bibi saya." Nyo Seng Hwat lalu memperkenalkan dirinya dan sambil menunjuk kepada pemuda yang bersamanya, ia berkata, "Dan ini adalah putera saya bernama Nyo Liong."
Yang Giok merasa mukanya menjadi panas. Untuk menyembunyikan warna merah yang menjalar di mukanya, ia gunakan ujung lengan bajunya untuk pura-pura menyeka peluhnya. Ia diam-diam memperhatikan pemuda itu. Tak disangkal bahwa Nyo Liong adalah pemuda berwajah tampan dan bertubuh tinggi tegap. Akan tetapi sayang sekali, dalam pandangan Yang Giok, pemuda ini terlampau lemah, sangat sopan, santun, dan pendiam, sehingga sama sekali tidak tampak sifat gagah, bahkan agak bodoh. Oleh karena itu, diam-diam hatinya merasa sangat kecewa. Ia adalah seorang gadis yang memiliki kepandaian bun (kesusasteraan) dan bu (keperwiraan), maka tentu saja ia menginginkan pasangan yang selain pandai ilmu sastra, juga pandai ilmu silat agar sesuai dengan kepandaiannya sendiri. Dengan seorang pemuda kutu buku macam ini, apakah keselamatan hidupnya kelak akan terjamin?
"Sekarang ceritakanlah, Kwee hiante, bagaimana keadaan Pangeran Liu setelah kota raja jatuh ke tangan pemberontak," tanya Nyo wan-gwe. Yang Giok menghela napas dan wajahnya menjadi berduka. "Kaisar dan pembesar-pembesar lain mengungsi ke Secuan, akan tetapi Pangeran Liu yang semenjak dulu tidak suka dengan kelaliman kaisar, telah mengambil jalan sendiri. Tadinya Pangeran Liu hendak melarikan diri ke sini, akan tetapi malang baginya, di tengah jalan beliau telah tertangkap oleh prajurit-prajurit tani dan ditawan."
Nyo wan-gwe menjadi pucat mendengar ini dan mengeluh. Akan tetapi, tiba-tiba Nyo Liong berkata, "Ayah, tak perlu dikhawatirkan nasib Pangeran Liu. Ia terkenal sebagai Pangeran yang jujur dan tidak menjalankan kecurangan-kecurangan seperti pembesar lain, bahkan terang-terangan ia menentang kelaliman kaisar. Maka kurasa ia akan selamat. Bukankah sepanjang pendengaran kita, kaum pemberontak tidak memusuhi mereka yang memang jujur dan melakukan tugas kewajibannya dengan baik? Yang dibasmi adalah para penindas rakyat."
Yang Giok merasa heran mendengar ucapan ini dan mulailah ia menaruh perhatian kepada "tunangannya" itu, karena ternyata pemuda ini tidak sebodoh yang ia sangka. Akan tetapi, Nyo wan-gwe menghela napas dan berkata, "Mudah-mudahan saja begitu. Dan bagaimanakah dengan keadaan puterinya?" tanyanya kemudian kepada Yang Giok. "Liu siocia juga telah melarikan diri dan berpisah dengan ayahnya, akan tetapi saya sendiri tidak tahu ke mana perginya."
Nyo wan-gwe menggeleng-gelengkan kepala dan mukanya menyatakan ia ikut berduka dan bingung. Melihat keadaannya ini, diam-diam Yang Giok merasa suka kepada "calon mertua" ini. Akan tetapi, ia mendongkol sekali melihat betapa Nyo Liong agaknya tidak peduli sama sekali, bahkan tidak bertanya sesuatu tentang puteri Pangeran Liu. Sebaliknya, Nyo Liong hanya mengajukan pertanyaan tentang penyerangan yang terjadi di kota raja.
"Saudara Kwee," katanya sambil memandang tajam, "kau datang dari kota raja, tentu kau tahu tentang terjadinya penyerbuan barisan tani yang dipimpin oleh Oey Couw itu. Bagaimanakah? Apakah tentara kerajaan melakukan perlawanan? Dan bagaimana sepak terjang barisan tani itu?"
Dengan mendongkol Yang Giok menjawab, "Mereka itu buas sekali dan rata-rata bertempur dengan nekat sehingga tentara kerajaan terpukul mundur. Kaisar dan para panglimanya tiap hari kerjanya hanya bersenang-senang saja dan sama sekali tidak melatih tentaranya, mana bisa para gentong nasi itu melakukan perlawanan terhadap musuh yang menyerbu? Boleh dikata bahwa pintu kota raja dibuka begitu saja untuk para penyerbu, dan kaisar sendiri bersama panglima dan pembesar lain siang-siang sudah melarikan diri. Aku tidak tahu banyak tentang pertempuran itu, karena setelah tentara musuh menyerbu masuk, aku bergegas melarikan diri dan sekarang aku berada seorang diri, sebatang kara, tak tentu arah tujuan, dan tidak mempunyai tempat tinggal tetap."
"Kwee hiante, jangan kau khawatir. Karena kau adalah keponakan sendiri dari Pangeran Liu, berarti kau adalah keluarga kami sendiri. Kuharap kau suka tinggal saja di sini sambil menanti berita dari Pangeran Liu yang tertawan itu, atau aku akan menyuruh orang mencari tahu tentang nasib Liu siocia."