Halo!

Pedang Keramat (Thian Hong Kiam) - Chapter 06

Memuat...
Pedang Keramat (Thian Hong Kiam)

Chapter 06

Yang Giok berdiri sambil membungkuk. “Kau sungguh baik hati, Nyo wan-gwe, dan saya yang muda berterima kasih atas kebijaksanaanmu ini.”

“Ah, kita ini keluarga, jangan terlalu hormat, Kwee hiante, dan jangan gunakan sebutan wan-gwe, panggil saja saya paman,” kata Nyo Seng Hwat yang baik hati.

Nyo wan-gwe kemudian memerintahkan pelayan untuk menyiapkan sebuah kamar untuk Yang Giok. Gadis itu pun tinggal di dalam rumah calon mertuanya dengan aman. Karena semua orang mengira ia adalah seorang pemuda sastrawan, ia dapat bergaul bebas dengan Nyo Liong. Pemuda itu setiap hari mengajaknya membaca buku, menulis sajak, atau bermain catur.

Sering kali Nyo Liong bertanya tentang keadaan di kota raja, hingga Yang Giok benar-benar mengira pemuda itu adalah seorang kutu buku yang tidak mengerti ilmu silat. Hanya dalam permainan catur ia selalu dikalahkan oleh Nyo Liong, dan dalam kepandaian menulis, pemuda itu benar-benar mengagumkan.

Seandainya Nyo Liong pandai ilmu silat, tentu Yang Giok akan merasa sangat puas melihat tunangannya ini. Akan tetapi, karena gadis itu mengira Nyo Liong buta silat, hatinya tetap merasa kecewa.

Tiga hari berikutnya, pada tengah malam yang gelap gulita, ketika seisi keluarga Nyo tertidur pulas, tiba-tiba di atas genteng gedung besar itu melesat tiga bayangan orang-orang yang sangat gesit. Mereka tidak lain adalah anggota Jian-jiu-pai atau Perkumpulan Tangan Seribu. Salah seorang di antara mereka adalah si Tan Kok yang hebat.

Setelah mengadakan kontak dengan para penyelidik mereka yang berada di kota Siu-bi-koan, akhirnya perkumpulan itu mengetahui bahwa pemuda sastrawan yang membawa pedang Thian Hong Kiam berada di rumah Nyo wan-gwe. Hingga malam itu Tan Kok dan dua rekannya sengaja datang hendak mencuri pedang tersebut.

Dengan sangat cerdik, mereka telah berhasil mencari tahu di mana letak kamar Yang Giok. Setelah melompat turun, mereka dengan mudah membongkar daun jendela kamar Yang Giok.

Akan tetapi, semenjak tinggal di gedung itu, Yang Giok selalu berhati-hati dan waspada. Ia dapat mendengar ketika jendela kamarnya dibongkar orang. Dengan pedang di tangan, ketika daun jendelanya terbuka, gadis itu melompat dan menerjang keluar jendela sambil memutar pedangnya dan berseru.

“Maling hina, kau datang mencari mati!”

Melihat bahwa “pemuda sastrawan” itu telah mengetahui kedatangan mereka, ketiga maling itu lalu mencabut senjata masing-masing dan maju mengeroyok. Tan Kok, yang memiliki kepandaian hebat, bersenjata sebatang ruyung lemas, sedangkan kedua rekannya bersenjata golok. Gerakan mereka cukup hebat sehingga hanya dalam beberapa jurus, Yang Giok sudah terdesak hebat.

Tan Kok menyadari bahwa kedua rekannya cukup tangguh menghadapi Yang Giok, maka ia lalu melompat masuk ke dalam kamar. Yang Giok, yang tahu maksud Tan Kok, hendak maju menghalangi, akan tetapi kedua lawannya mendesak hebat dengan golok mereka hingga ia tidak berdaya dan terpaksa menghadapi mereka sambil memutar-mutar pedangnya dengan gemas.

Karena bingung dan sangat khawatir kalau-kalau pedang Thian Hong Kiam akan tercuri, Yang Giok berteriak.

“Tolong, tolong, ...... maling ....!!”

Akan tetapi, Tan Kok sudah berhasil mendapatkan pedang Thian Hong Kiam yang disembunyikan dalam buntalan pakaian Yang Giok. Maling kurus itu nampak telah melompat keluar dari jendela sambil membawa pedang tersebut.

“Kawan-kawan, pergi!!” katanya kepada kedua rekannya sambil melompat naik ke atas genteng. Kedua rekannya lalu meninggalkan Yang Giok dan ikut melompat naik.

Sementara itu, teriakan Yang Giok telah membangunkan tuan rumah dan para pelayan. Akan tetapi, mereka hanya memandang dengan takut dan bingung, karena tidak berdaya menghadapi penjahat-penjahat yang dapat melompat naik ke atas genteng dengan gesit bagaikan kucing.

Mereka hanya bisa ikut berteriak-teriak. Bahkan Nyo Liong juga datang ke tempat itu ikut berteriak, “maling, maling!” Kemudian pemuda itu lalu berlari menyembunyikan diri ke dalam kamarnya.

Yang Giok merasa kesal dan dongkol sekali. Dari orang-orang lemah yang menghuni gedung ini, ia tidak dapat mengharapkan bantuan apa pun. Maka ia lalu nekad dan melompat naik ke atas genteng mengejar ketiga orang pencuri itu.

Alangkah heran dan girangnya ketika mendapat kenyataan bahwa ketiga pencuri itu kini sedang mengeroyok seorang yang berkerudung sutra hitam. Si Kedok Hitam itu bertangan kosong, akan tetapi pedang Thian Hong Kiam telah berada di tangannya.

Ia melayani tiga orang pencuri itu dengan kegesitan yang luar biasa, tetapi ketiga pengeroyoknya sama sekali tidak berdaya menghadapinya. Bahkan ketika Yang Giok tiba di sana, seorang maling telah tertendang pergelangan tangannya hingga goloknya terlempar ke atas genteng.

Sungguh kaget Tan Kok menghadapi orang aneh yang hebat ini. Ketika ia tadi melompat ke atas genteng, tahu-tahu ada bayangan hitam melesat cepat dan tahu-tahu pedang Thian Hong Kiam di tangannya telah dirampas. Ia lalu maju mengeroyok dengan sengit sekali, tetapi hanya dalam beberapa jurus, Si Kedok Hitam yang bertangan kosong itu telah dapat menjatuhkan seorang rekannya.

Maka ia lalu teringat dan menyadari bahwa yang berada dihadapannya adalah si “Sastrawan Kedok Hitam” yang kesohor karena kehebatannya. Ia lalu memberi isyarat, dan mereka bertiga dengan cepat melarikan diri dalam gelap, diikuti suara tawa si Kedok Hitam yang berseru,

“Hah, maling-maling hina dina. Jangan sekali-kali kau berani lagi mengacau kota Siu-bi-koan, karena lain kali aku takkan mau mengampuni pula.”

Yang Giok berdiri memandang dengan bengong dan sangat kagum. Belum pernah selama hidupnya ia melihat kehebatan seperti itu. Ia sendiri yang memiliki kepandaian dan ilmu pedang cukup tinggi, merasa terdesak menghadapi pengeroyok tadi, bahkan ia harus mengakui bahwa kepandaian si Tan Kok lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri.

Akan tetapi, si Kedok Hitam yang aneh ini dapat menghadapi keroyokan mereka bertiga hanya dengan tangan kosong, bahkan dengan seenaknya dan mudah saja menjatuhkan seorang di antara mereka. Ia belum pernah mendengar tentang nama Sastrawan Kedok Hitam, maka ia kini berdiri memandang dengan tercengang.

Si Kedok Hitam menghampiri Yang Giok dan menyodorkan pedang Thian Hong Kiam sambil berkata, “Pedangmu, kah ini, saudara?”

Yang Giok mengangguk dan menerima pedang itu, lalu ia membungkuk sambil berkata, “Sungguh saya merasa berterima kasih atas pertolonganmu, dan saya merasa kagum melihat kepandaianmu yang tinggi. Bolehkah kiranya saya mengetahui nama saudara yang mulia dan gagah perkasa?”

Si Kedok Hitam itu tertawa terbahak-bahak, lalu berkata, “Kepandaianmu sendiri hebat dan di luar dugaan orang karena kau bersikap seperti seorang sastrawan, apa perlunya memuji-muji saya? Dan bantuan kecil tadi tak perlu disebut-sebut. Saudara Kwee, jangan terlalu hormat!”

Yang Giok terkejut. “Kau sudah mengenal namaku?”

Orang itu tertawa lagi. “Siu-bi-koan adalah kotaku, bagaimana aku tidak tahu kedatangan seorang dari luar sepertimu?”

“Betapapun juga, terimalah ucapan terima kasihku. Kau tidak tahu, sahabat, betapa besar artinya pertolonganmu tadi. Pedang yang hendak mereka curi ini bukanlah pedang sembarangan.”

Yang Giok merasa heran mengapa ia tiba-tiba merasa begitu tertarik dan percaya penuh kepada si Kedok Hitam ini hingga tanpa ragu-ragu lagi ia membongkar rahasia pedang Thian Hong Kiam. Sebaliknya, si Kedok Hitam juga merasa tertarik dan sambil melihat pedang yang dipegang Yang Giok, ia bertanya, “Pedang pusaka apakah itu, dan mengapa mereka ingin mencarinya?”

Entah perasaan apakah yang menyebabkan Yang Giok tiba-tiba merasa sangat percaya kepada orang yang tidak kelihatan mukanya itu. Entah suaranya yang lembut, entah sinar matanya yang tajam dan halus yang mengintai dari dua lubang di sutra hitam itu, tetapi tiba-tiba ia merasa tertarik dan percaya penuh kepada si Kedok Hitam yang tinggi sekali ilmu silatnya ini. Ia lalu bercerita tentang pedang itu.

“Pedang ini adalah pedang pusaka kerajaan bernama Thian Hong Kiam dan yang dianggap sebagai lambang kejayaan kerajaan. Karena itulah agaknya, banyak pihak yang menginginkan pedang ini. Dan yang tadi mencoba merampas pedang ini adalah pihak perkumpulan Jian-jiu-pai. Masih ada lagi pihak yang kuat dan yang juga pernah mencoba merampas pedang ini, yaitu para perwira utusan kaisar yang mengungsi ke Secuan ini.”

Si Kedok Hitam itu tampak sangat tertarik. “Kalau begitu, kau selalu berada dalam bahaya, saudara,” katanya. “Lebih baik diatur begini. Aku tahu bahwa Nyo wan-gwe mempunyai seorang putra yang terkenal sebagai seorang siucai, dan karenanya, ia takkan dicurigai orang. Kalau kau titipkan pedang ini kepadanya, maka takkan ada orang yang dapat menduga bahwa siucai ini menyimpan pedang pusaka Thian Hong Kiam.”

“Apakah siucai bodoh itu dapat dipercaya?” tanya Yang Giok dengan muka ragu.

“Tadi baru melihat kedatangan penjahat saja ia sudah lari terbirit-birit dan menyembunyikan diri!”

Si Kedok Hitam tertawa. “Itulah yang kumaksudkan! Dia seorang yang lemah dan tak mungkin orang seperti dia menyimpan pedang ini hingga takkan ada yang mencurigai ataupun menduganya. Dia dapat dipercaya sepenuhnya, karena aku mendengar bahwa dia adalah orang yang jujur.”

Setelah berpikir sesaat, akhirnya Yang Giok berkata,

“Baiklah, aku akan menuruti nasihatmu ini.”

“Nah, kalau begitu selamat berpisah, saudara Kwee yang gagah!”

Si Kedok Hitam itu hendak pergi, akan tetapi Yang Giok menahannya dan bertanya.

“Tunggu dulu, Saudara! Kau belum memberitahukan namamu!”

“Ah, apakah perlunya? Sebut saja aku si Kedok Hitam seperti orang-orang menyebutku!” Sehabis berkata demikian, sekali menggerakkan tubuhnya, si Kedok Hitam itu melesat dan lenyap.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment