Chapter 14
Ketika telah berganti pakaian, Nyo Liong yang menanti di luar kamar berdiri bengong dan memandang ke arah gadis yang keluar dari kamar dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Ternyata Yang Giok telah mengenakan pakaian wanita yang memang tersedia di dalam buntalan pakaiannya. Setelah mengenakan pakaian wanita, ia tampak demikian cantik jelita hingga Nyo Liong merasa seakan-akan berada dalam mimpi.
"Moi-moi...." Hanya itu yang dapat diucapkan mulutnya, sedangkan matanya menyatakan pujian dan kekaguman yang lebih berarti daripada seribu kata.
"Liong-ko, jangan kau pandang aku seperti itu!"
"Mengapa, adikku yang manis?"
"Aku... aku malu!" Yang Giok benar-benar merasa malu dan seluruh wajahnya menjadi kemerah-merahan.
Nyo Liong tertawa gembira dan keduanya lalu tertawa sambil saling pandang dengan penuh rasa cinta.
Pada saat itu, terdengar suara kaki kuda di depan rumah penginapan. Ketika keduanya memandang, ternyata yang datang adalah serombongan orang yang berpakaian seperti petani, tetapi tampak sangat gagah. Di punggung mereka terlihat gagang pedang sehingga Nyo Liong dan Yang Giok dapat menduga bahwa mereka tentu bukan petani biasa. Akan tetapi, rombongan ini tidak berhenti. Mereka hanya memandang ke arah Nyo Liong dengan mata tajam, kemudian melanjutkan perjalanan hingga kaki kuda mereka menimbulkan debu yang mengepul pada pagi hari itu.
"Kalau tidak salah, mereka adalah perwira-perwira kerajaan," bisik Nyo Liong.
"Mereka tentu tidak bermaksud baik," kata Yang Giok khawatir.
Mendengar suara gadis itu yang mengandung kekhawatiran, Nyo Liong berkata, "Jangan khawatir, Moi-moi. Bagaimanapun juga, kita berdua akan dapat melawan mereka."
Dengan tabah dan tenang, Nyo Liong lalu mengajak Yang Giok melanjutkan perjalanan setelah membayar uang sewa kamar. Mereka tidak memedulikan pandangan pengurus rumah penginapan yang merasa heran dan kagum melihat Yang Giok. Ia tidak pernah menyangka bahwa pemuda kemarin itu kini telah berubah menjadi seorang gadis yang luar biasa cantiknya.
Kuil Thian-hok-si berada di luar dusun itu dan hanya terpisah paling jauh sepuluh li, maka mereka menjalankan kuda dengan perlahan. Akan tetapi, setelah berada di luar dusun, benar saja mereka melihat rombongan petani yang mencurigakan tadi telah berdiri menghadang di tengah jalan. Mereka berjumlah delapan orang, sedangkan kuda mereka dilepas di pinggir jalan dan sedang makan rumput sambil menggoyang-goyangkan ekornya.
Nyo Liong dan Yang Giok menahan kuda mereka dan dengan tenang turun. Karena Yang Giok telah menjadi seorang gadis, maka yang menghadapi mereka adalah Nyo Liong, sedangkan gadis itu membawa kuda mereka ke sebuah pohon dan mengikatkan kendalinya di sana.
"Cuwi sekalian menghadang di tengah jalan, ada keperluan apa?" tanya Nyo Liong dengan halus.
Tiba-tiba di antara orang itu, maju seorang yang bertubuh tinggi kurus. Sambil menuding kepada Nyo Liong, ia berkata, "Kawan-kawan, benar, inilah Sastrawan Kedok Hitam yang dulu membantu para pemberontak. Tangkap pemberontak ini!"
Sambil berkata demikian, si kurus itu mencabut pedangnya, diikuti oleh tujuh orang kawannya. Akan tetapi, Nyo Liong masih bersikap tenang. "Kalian ini bukankah para perwira istana yang telah kalah? Mengapa masih berani berlagak? Aku memang benar Sastrawan Berkedok Hitam, lalu kalian mau apa?"
Tiba-tiba seorang perwira lain memandang Yang Giok dan berseru, "Eh, bukankah kau ini Liu Siocia, putri dari Pangeran Liu Mo Kong?"
Yang Giok yang mendengar bahwa Nyo Liong dianggap pemberontak menjadi heran dan terkejut sekali. Setelah seorang perwira mengenalnya, ia makin bingung. Ia tidak menjawab pertanyaan perwira tadi, hanya memandang ke arah Nyo Liong dengan wajah penuh tanya. Benarkah tunangannya ini membantu pihak pemberontak?
"Harap kalian jangan mengganggu kami," terdengar Nyo Liong menjawab pertanyaan perwira tadi. "Dia memang Liu Siocia, akan tetapi sekarang tidak mempunyai hubungan lagi dengan segala perwira kerajaan yang telah jatuh dan kalah. Berilah jalan dan jangan mencari penyakit sendiri!"
"Kawan, inilah mereka yang kita cari!" si kurus tadi berseru lagi. "Pedang yang dicari ada padanya dan sekarang sekali pukul kita akan mendapat dua pahala. Merampas kembali Thian Hong Kiam dan membalas dendam kawan-kawan kita yang telah jatuh di tangan pemberontak!"
Tanpa banyak bicara lagi, kedelapan orang itu maju menyerang Nyo Liong.
"Kalian mencari bencana sendiri!" Nyo Liong berseru dan ia lalu mencabut Thian Hong Kiam yang tergantung di pinggang, yang selama ini tertutup oleh baju sastrawannya yang panjang.
"Nah, itu dia pedang yang kita cari!" seorang perwira berseru ketika ia mengenali pedang pusaka itu di tangan Nyo Liong.
Nyo Liong tersenyum. "Ha, ha, bukankah sekarang lebih mudah lagi? Pedang dan orang yang kau cari telah berada di sini dan menjadi satu. Majulah!"
Maka terjadilah pertempuran yang hebat. Perwira-perwira ini adalah jagoan-jagoan kelas satu dari kerajaan dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Saat mereka maju berbarengan, dapat dibayangkan betapa hebatnya serangan mereka. Senjata-senjata di tangan mereka pun bukanlah senjata sembarangan karena hampir semua perwira kerajaan memiliki senjata yang ampuh dan tajam. Dari gerakan mereka saat menyerang, Yang Giok dapat mengetahui bahwa kepandaian mereka rata-rata lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, sehingga ia diam-diam merasa gelisah dan cemas. Ia merasa serbasalah. Hendak membantu, kepandaiannya terlalu rendah. Tidak membantu, hatinya tidak puas dan tidak tenteram. Maka, ia hanya berdiri dengan dada berdebar menonton pertempuran yang hebat itu.
Pertempuran yang terjadi kali ini berbeda dengan ketika Nyo Liong dikeroyok oleh kawanan Jian-jiu-pai, karena para perwira ini memang sengaja datang mencari Nyo Liong. Mereka tahu bahwa selain harus menghadapi Sastrawan Berkedok Hitam yang hebat, masih ada pihak Jian-jiu-pai yang hendak merampas pedang. Oleh karena itu, pihak mereka mengutus delapan orang berkepandaian tinggi yang merupakan jago-jago pilihan dari istana.
Akan tetapi, ilmu silat Pat-kwa Im-yang yang telah dipelajari oleh Nyo Liong itu benar-benar hebat dan luar biasa. Biarpun dikeroyok oleh delapan orang jago pilihan istana, pemuda itu sama sekali tidak terdesak. Bahkan dengan pedangnya yang merupakan senjata ampuh dan pusaka tua, ia dapat membuat delapan orang lawannya bermain silat dengan kacau karena pergerakannya sungguh cepat dan luar biasa. Dengan menggunakan ilmu silat pedangnya yang istimewa, Nyo Liong dapat bergerak sedemikian rupa hingga delapan orang itu tidak mendapat kesempatan untuk maju bersamaan. Gerakan Nyo Liong sangat lincah dan sinar yang ditimbulkan oleh putaran pedangnya sangat kuat serta sukar diduga perubahan gerakannya.
Yang Giok benar-benar merasa kagum. Baru kali ini ia mendapat kesempatan untuk melihat kepandaian Nyo Liong yang sangat hebat itu. Ia menghela napas dan harus mengakui bahwa ilmu kepandaian tunangannya ini jauh lebih tinggi daripada kepandaian ayahnya sendiri. Akan tetapi, ada sedikit perasaan kecewa dan ragu di dalam hatinya, karena bukankah para perwira tadi mengatakan bahwa pemuda ini adalah seorang pembantu pemberontak?
Di antara kedelapan orang perwira itu, terdapat tiga orang saudara seperguruan yang memiliki kepandaian paling tinggi. Mereka dijuluki Bu-tong Sam-houw atau Tiga Macan dari Bu-tong, karena mereka memang murid Bu-tong-san. Ketika melihat betapa hebatnya Nyo Liong, mereka lalu berpencar menjadi segitiga dan maju menyerang Nyo Liong dari tiga penjuru. Mereka tidak mau mengubah kedudukan dan tetap menyerang dari tiga jurusan hingga tidak dapat dikacaukan oleh perubahan gerakan Nyo Liong. Menghadapi tiga orang ini, diam-diam Nyo Liong berlaku hati-hati karena ia maklum bahwa apabila lawan-lawannya tidak terkacaukan oleh ilmu silatnya, itu berarti ia harus menghadapi lawan yang berat dan berbahaya. Mengingat mereka rata-rata memiliki kepandaian tinggi dan dapat mempertahankan diri dengan baik, jika ia harus bertahan mengadu tenaga dan keuletan, bagaimana mungkin ia dapat melawan delapan orang?
Oleh karena itu, Nyo Liong lalu mengerahkan semangat dan tenaganya. Ia mencampur gerakan silatnya dengan pelajaran dari Li Lo Kun, sehingga pedangnya bergerak makin ganas dan hebat. Benar saja, serbuannya ini membuat semua pengeroyoknya terkejut dan mereka mempertahankan diri sambil mundur. Nyo Liong mengerti bahwa jika ia tidak mau bertindak kejam dan bersikap terlalu hati-hati atau kasihan, pertempuran ini akan berjalan sangat lama dan akhirnya ia akan kalah karena kehabisan tenaga. Maka ia maju terus mendesak dengan hebat dan sengaja menyerang bertubi-tubi kepada dua orang perwira yang gerakannya agak lambat, hingga terdengar pekik kesakitan dan dua orang perwira itu roboh dengan pundak serta lengan yang terluka.
Para pengeroyok itu terkejut sekali dan mereka berpencar menjauhi Nyo Liong. Pada saat itu, terdengar suara yang nyaring tetapi halus, "Hebat sekali!"
Ketika semua orang memandang, tahu-tahu di tengah medan pertempuran itu telah berdiri seorang tua berjubah biru. Tosu ini kurus dan tinggi, dengan kulit wajah yang putih dan halus seperti wajah anak-anak.
Ketika Tiga Macan dari Bu-tong melihat tosu ini, mereka dengan girang segera maju berlutut dan berkata, "Suhu!"