Chapter 01
Ketua kuil, yang bernama Hok Sim Cinjin saat itu masih duduk bersamadhi di kamar belakang. Ia hanya mempunyai empat orang pembantu untuk melayani kuilnya ini, terutama melayani penduduk yang hendak bersembahyang atau membayar kaul. Masing-masing tosu yang berjumlah empat orang itu sudah melaksanakan pekerjaan mereka untuk membersihkan kuil. Ada yang menyapu halaman, ada yang menambah hio (dupa) yang habis di meja altar, dan dua yang lain sedang mengisi tempayan (gentong) raksasa di kamar mandi. Semuanya pagi itu sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Maklum, hari baru saja terang.
Tapi ketika semua orang sedang melaksanakan tugasnya masing-masing, mendadak seorang bocah muncul. Bocah ini berumur sekitar sepuluh tahunan. Wajahnya tampan, tetapi sinar matanya yang redup sayu membayangkan sebuah himpitan batin sedang menekan jiwanya. Ia langsung menghampiri It Yang Tosu, yakni tosu yang membersihkan halaman itu. Begitu sampai di hadapan orang itu, bocah ini berhenti memberi hormat.
"Totiang, bolehkah aku bertanya di mana tempat tinggal Pendekar Gurun Neraka?"
It Yang Tosu terkejut. Ia menghentikan sapuannya, terbelalak, dan terheran-heran melihat kedatangan bocah itu. Namun, melihat sikap yang halus dan sopan dari anak laki-laki ini, ia pun tertawa dan merangkapkan tangannya.
"Siancai, siapa kau, tuan kecil? Dan kenapa datang-datang meminta alamat Pendekar Gurun Neraka?"
"Aku Bu-beng Siauw-cut, totiang. Bocah yatim yang tidak memiliki tempat tinggal."
"Hah, Bu-beng Siauw-cut?" It Yang Tosu tercengang. "Kenapa kau memiliki nama demikian aneh, bocah? Siapa yang memberimu nama itu?"
Namun, anak laki-laki ini tidak menjawab. Ia membiarkan tosu itu tercengang sendirian karena Bu-beng Siauw-cut artinya adalah 'kerucut', alias orang tak berharga. Lalu, mengulang pertanyaannya, ia memandang tajam tosu itu.
"Kau tahu di mana tempat tinggal Pendekar Gurun Neraka, totiang? Kau dapat menolong aku memberi tahu di mana alamat pendekar itu?"
It Yang Tosu akhirnya menarik napas. Ia tentu saja tahu di mana tempat tinggal pendekar itu karena Pendekar Gurun Neraka bukanlah nama yang tidak dikenal. Tapi tertarik dan terheran-heran mendengar anak laki-laki ini mau menemui pendekar itu, tosu ini malah jadi curiga. Ia mengerutkan kening dan tidak menjawab pertanyaan lawan. Ia justru bertanya, "Ada apa kau hendak ke sana, bocah? Boleh aku tahu?"
"Hm, beginikah watak tosu Tee-kong-bio, totiang? Kau ingin mengetahui urusan pribadi orang lain dan tidak memberikan jawaban? Kalau begitu sudahlah, aku tidak bertanya lagi padamu dan kita masing-masing tak perlu tahu..!" Lalu, begitu memandang marah tosu ini, anak laki-laki itu pun memutar tubuhnya berangkat pergi!
Ia membuat It Yang Tosu terbelalak, mukanya merah. Tapi tosu yang tertampar oleh jawaban ini tiba-tiba menjadi marah.
"Bocah, kau menghina aku!" It Yang Tosu melompat, menghadang di depan anak laki-laki yang aneh itu.
Anak laki-laki yang menjadi terkejut melihat tosu Tee-kong-bio ini menghadang di depannya mendadak gelap mukanya.
"Totiang, apa yang hendak kaulakukan?"
"Kau menghina aku, bocah. Kau tak boleh pergi kalau belum menerima ganjaran!"
"Hm, ganjaran apa yang kau maksud?" bocah ini mengedikkan kepala. "Siapa yang lebih dulu bersalah?"
It Yang Tosu tertegun. Ia melihat bocah ini berani sekali, tidak segan kepadanya yang bersikap garang. Dan It Yang Tosu, yang menjadi penasaran oleh sikap itu, tiba-tiba membentak, "Bocah, kau harus menyelesaikan pekerjaan aku. Kau harus menyapu halaman ini sebagai hukuman atas kekurangajaranmu!"
Bocah itu mengepal tinju. "Siapa yang kurang ajar, totiang?"
"Kau!"
"Tapi bukankah baik-baik aku bertanya kepadamu? Kenapa justru kau menyalahkan aku?"
"Karena kau menghina aku, bocah. Karena kau tak tahu adat di depan orang yang lebih tua!"
Lalu mencengkeram bocah ini, mendadak tosu itu telah melemparkan sapunya, menyuruh bocah itu memenuhi permintaannya. Tapi anak laki-laki ini berontak, dan begitu ia mengayun tinjunya, mendadak perut It Yang Tosu sudah ditonjok!
"Tosu tua, kau yang tidak tahu adat.... Buk!" Dan It Yang Tosu, yang kontan terdorong mundur, beringas mukanya dengan mata mendelik.
"Kau berani memukul aku, bocah siluman?"
"Kalau kau menyakiti aku lebih dulu, totiang!"
"Ah..!" Dan membentak dengan penuh kemarahan, It Yang Tosu tiba-tiba menerjang ke depan. Ia mengulurkan tangannya, lalu menjambak dengan cepat. Tahu-tahu rambut anak laki-laki itu telah dicengkeram dan pipinya ditampar.
"Anak setan, kau harus diajari adat.. plak-plak-plak!" Dan muka lawan yang tergeleng pulang balik oleh tamparan tosu itu tiba-tiba bengkak pipinya dan membiru. Kontan, anak ini marah. Dan begitu ia berteriak panjang, mendadak lututnya bergerak menendang selangkangan tosu itu. Lalu, begitu It Yang Tosu berteriak kesakitan, mendadak mulutnya pun menggigit lengan lawan, yang tidak mau melepaskan jambakannya!
"Ah, ad... aduhh..!" It Yang Tosu menjerit, terpaksa melepaskan cengkeramannya. Dan tosu yang sudah terguling-guling sambil mendekap bawah perutnya yang ditendang lutut kecil bocah itu tiba-tiba sudah berkaok-kaok bagai kerbau disembelih.
Tosu ini marah bukan main. Dan tiga orang saudaranya yang cepat muncul mendengar keributan di depan tahu-tahu terbelalak melihat It Yang Tosu yang terguling-guling!
"Suheng, ada apa?"
"Sute, siapa bocah ini?"
It Yang Tosu bangun dengan mata melotot. Ia jadi malu dan gusar melihat dirinya berkaok-kaok akibat tendangan yang "fatal" itu. Dan marah melihat tiga orang saudaranya murung di situ, melihat dirinya terguling-guling menghadapi seorang bocah, mendadak tosu ini menyambar sapunya, sapu bergagang panjang yang terbuat dari rotan. Lelu, mendesis dengan muka beringas, It Yang Tosu membentak, "Bocah ini anak siluman, suheng. Dia menyerangku setelah menanyakan alamat Pendekar Gurun Neraka...!"
Dan melompat ke depan, tiba-tiba It Yang Tosu menyerang bocah itu. Ia memutar sapunya dengan cepat, dan begitu angin bersiut menderu-deru, tiba-tiba saja tubuh anak laki-laki itu telah digebuk berulang-ulang. Anak laki-laki ini terjengkang, terpukul gagang sapu yang menghantam berat di pundak kirinya. Dan begitu lawan menghajar pulang balik tubuh yang kecil ini, tiba-tiba kulit anak laki-laki itu pecah berdarah dan robek-robek pakaiannya!
"Ah, hentikan, sute. Tahan kemarahanmu itu...!" seorang tosu di sebelah kanan tiba-tiba melompat, mencegah serangan It Yang Tosu ini. Dan begitu tangan kanannya bergerak, tiba-tiba sapu di tangan It Yang Tosu telah dirampas dengan cepat.
It Yang Tosu terkejut. Ia berteriak kaget, tapi bocah yang luka-luka tubuhnya itu mendadak melompat bangun. Ia sekarang bebas, dan melihat It Yang Tosu tidak menghajarnya lagi, mendadak ia menubruk tosu itu dan menggigit lehernya!
"Tosu tua, kau jahat....!" It Yang Tosu terpekik. Lehernya tahu-tahu digigit mulut anak laki-laki itu. Sakit sekali. Dan It Yang Tosu yang marah serta kaget langsung mengipatkan tubuhnya bermaksud melempar anak itu agar melepaskan gigitannya. Tapi It Yang Tosu mencelos hebat. Ia merasa gigitan si anak semakin menghujam. Dan begitu ia membentak sambil memutar tubuhnya, tiba-tiba ia sendiri yang terguling roboh dengan leher terkuak lebar. Pecah berdarah!
"Ah, lepaskan aku, bocah siluman..!" Tapi anak laki-laki ini tidak mau. Ia terus menancapkan giginya, bahkan menghisap darah It Yang Tosu. Dan baru setelah It Yang Tosu menangkap dan membanting anak itu di atas tanah, barulah tosu ini melompat bangun dengan leher terluka lebar, terkuak dagingnya, dan masih digigit anak laki-laki itu, seolah seekor anak harimau yang mendapat daging segar!
It Yang Tosu marah bukan main. Ia tentu saja gusar setengah mati, tapi sebelum ia membalas serangan itu, tiba-tiba tosu yang merampas sapunya memalangkan kaki.
"Sute, jangan siksa anak ini. Dia tak bersalah...!"
It Yang Tosu tertegun. Ia terbelalak memandang suhengnya itu, Su Yang Tosu. Dan kaget serta penasaran oleh ucapan ini, tiba-tiba It Yang Tosu berteriak, "Suheng, omongan apa yang kauucapkan ini? Siapa bilang dia tidak bersalah?"
Tapi Su Yang Tosu menegakkan punggung. "Dia kulihat tak bersalah, sute. Dan itu jelas dari sepak terjangmu yang kasar. Kau tentu mendahuluinya bersikap tak baik, kalau tidak tentu bocah ini tak akan menyerangmu!"
It Yang Tosu terbelalak, ia jadi marah kepada suhengnya ini. Tapi sebelum ia mendamprat melampiaskan kemarahan, tiba-tiba seorang tosu lain muncul, seorang kakek yang rambutnya digelung ke atas dan membawa tongkat.
"Siancai, ada apa kalian ribut-ribut, Su Yang Tosu? Kenapa It Yang Tosu terluka?"
Keempat orang tosu itu serentak menjauhkan diri, berlutut. Yang datang kali ini adalah Hok Sim Cinjin, guru dan juga ketua mereka. Maka Su Yang Tosu, yang merupakan pembantu tertua dari kuil Tee-kong-lio, langsung bicara, "Teecu melihat It Yang sute berkelahi dengan bocah ini, suhu. Teecu sendiri belum tahu apa yang sebenarnya terjadi!"
"Hm, siapa anak itu, It Yang? Kenapa ribut-ribut di pagi hari?"
It Yang Tosu gemetar. Ia pucat mukanya, tapi menjawab apa adanya ia berkata, "Teecu didatangi bocah siluman ini, suhu. Dia datang menanyakan alamat Pendekar Gurun Neraka. Tapi belum teecu menjawab, tahu-tahu dia menonjok perut teecu...!"
"Hm, siapa kau, bocah? Kenapa datang-datang membuat ribut di tempat kami?"
Anak laki-laki ini tertatih menghampiri. Ia baru saja dibanting It Yang Tosu, membuat tulangnya seakan remuk. Tapi melihat wajah Hok Sim Cinjin yang ramah, ia pun bersikap baik.
"Maafkan aku, totiang. Aku Bu-beng Siauw-cut, datang ke sini dan bertanya baik-baik tentang tempat tinggal Pendekar Gurun Neraka. Tapi sebelum pertanyaan itu mendapat jawaban, tosu ini telah bersikap tak pantas kepadaku dan menjambak rambutku dengan kasar!"
Hok Sim Cinjin tercengang.