Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 02

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 02

Bu-beng Siauw-cut, apa namamu?

Ya, itu namaku, totiang.

Di mana tempat tinggalmu, bocah?

Aku tak memiliki tempat tinggal, totiang. Bagiku langit dan bumi adalah naungan hidupku.

Siancai, kalau begitu, boleh pinto bertanya, anak baik. Apakah maksudmu mencari Pendekar Gurun Neraka? Mendadak, seperti tadi ketika It Yang Tosu bertanya tentang ini, tiba-tiba muka anak laki-laki itu menjadi gelap. Dia kelihatan marah, dan Hok Sim Cinjin yang dipandang tajam tiba-tiba ditanya, "Totiang, pantaskah pertanyaan itu kauajukan? Pantaskah orang lain mengetahui urusan pribadi seseorang?" Hok Sim Cinjin tertegun.

Ketua Tee-kong-bio ini juga nampak tersentak, merah mukanya mendengar pertanyaan itu. Tapi tosu yang menarik napas ini tiba-tiba mergetrukkan tongkatnya. "Maaf, pinto rupanya kelepasan omong, bocah. Agaknya kau benci sekali mendengar orang bertanya tentang maksudmu itu. Baiklah, boleh pinto mengundangmu ke dalam kalau begitu. Kita bicara baik-baik dan menjadi sahabat?" Namun anak laki-laki ini menggeleng. "Aku tak ada waktu, totiang. Maaf. Aku kemari hanya untuk menanyakan alamat Pendekar Gurun Neraka. Kalau totiang tidak dapat menjawab, sudalah, aku akan pergi sekarang juga..." lalu memutar tubuh anak laki-laki itu betul-betul meninggalkan Hok Sim Cinjin, tak bertanya sepatah lagi!

Bocah itu mengerutkan kening. "Hm, imbalan apa, totiang? Mana dapat aku memberimu sesuatu?" Tapi Hok Sim Cinjin tertawa. "Aku tak meminta balas jasa yang berat, Koai-tong. Pinto hanya mengharap tenagamu seminggu di sini. Bagaimana kalau kau membantu pinto di kuil ini untuk jasa pinto memberitahumu alamat Pendekar Gurun Neraka?" Bocah itu terhenyak. Tapi berpikir bahwa sudah sepantasnya dia memberi imbalan sebagai balas jasa kebaikan orang, diapun mengangguk. "Boleh, aku menerimanya, totiang. Tapi kalau satu minggu, terus terang saja aku keberatan!" "Hm, berapa hari yang kau sanggup, Koai-tong?" "Tiga hari saja. Kalau totiang setuju, hari inipun aku akan membantu di kuilmu!" Tapi Hok Sim Cinjin menggeleng. "Pinto menawarnya, Koaitong. Jangan tiga hari tapi enam hari! Kau sanggup, bukan?" Namun si bocah menggeleng. "Maaf. aku tak mau terlalu lama, totiang. Aku sanggup hanya tiga hari saja!" "Hm, bagaimana kalau lima hari, Koai-tong?" "Tidak, tak bisa, totiang." "Empat hari?" Si bocah tiba-tiba mengeraskan sikap "Totiang, kalau kau dapat menerimanya tiga hari, bolehlah kita berkumpul selama itu. Tapi kalau totiang keberatan, akupun akan bertanya pada orang lain saja!" dan si bocah yang sudah siap untuk memutar tubuh itu tiba-tiba disambut ketawa Hok Sim Cinjin.

"Siancai, kau benar-benar keras hati, Koaitong. Baiklah, kalau pinto tak dapat memaksamu untuk tinggal lebih dari tiga hari, apa boleh buat. Pinto akan mengalah padamu!" dan Hok Sim Cinjin yang melangkah maju tiba-tiba menepuk pundak anak laki-laki ini. Dia kagum dan tertarik bukan main pada bocah yang dianggapnya luar biasa ini. Seorang bocah yang keras hati dan berani!

Tapi si bocah yang melangkah mundur bertanya curiga. "Tapi kapan kau akan memberi tahu alamat itu, totiang? Apakah setelah selesai waktu tiga hari itu?" Hok Sim Cinjin tersenyum. "Maksud pinto memang begitu, Koai-tong. Apakah kau keberatan?" "Hm, kalau begitu perjanjian batal, totiang. Aku tidak setuju kalau kau memberi tahu belakangan!" "Ah, apa sebabnya, Koat-tong? Kau kira pinto menipumu?" "Aku tidak menuduhmu begitu, totiang. Tapi aku harus berhati-hati agar tidak sampai tertipu!" Hok Sim Cinjin tertawa lebar. "Koai-tong, kau benar-benar aneh. Lalu bagaimana kalau ganti kau yang menipu pinto jika ini diberitahukan duluan?" Bocah itu tiba-tiba mengedikkan kepala. "Aku akan memberikan jaminan, totiang. Aku akan menitipkan benda ini kepadamu!" Hok Sim Cinjin terbelalak. Dia melihat si bocah mengeluarkan sebuah benda berkilauan, semacam medali sebesar tutup mangkok. Dan Hok Sim Cinjin yang terkejut melihat benda itu tiba-tiba berseru tertahan. "Medali Naga...!" Bocah ini tertegun. "Kau mengenalnya, totiang?" "Ah ..!" Hok Sim Cinjin menggigil pucat. "Dari mana kau mendaratkannya, Koai-tong? Siapa yang memberimu benda itu...?"

Anak ini terheran. "Aku mendapatkannya di tengah jalan, totiang. Kenapakah?" Tapi Hok Sim Cinjin tiba-tiba telah menyambar medali itu. "Benda ini berbahaya untukmu, Koai-tong. Kau dapat dibunuh dan diancam orang-orang jahat!" lalu memandang jelalatan ke sana ke mari tiba-tiba ketua Tee-kong-bio itu berbisik, serak suaranya, "'It Yang, Su Yang, tutup kuil hari ini. Kita tak menerima tamu....!" dan menyambar tubuh Bu-beng Siauw-cut tiba-tiba Hok Sim Cinjin memasuki ruang belakang. Dengan cepat ketua kuil yang tampak gelisah itu menuju ke kamarnya sendiri, kamar pribadi yang ada di sebelah taman bunga. Lalu menurunkan anak itu bergegas dia menutup pintu. "Koai-tong, sesungguhnya siapakah kau ini? Dan di mana kau dapatkan medali itu?" Anak laki-laki ini mengerutkan alis. Dia terkejut dan terheran melihat sikap ketua kuil itu demikian gugup, bahkan nampaknya cemas. Tapi tersenyum kecil dia coba menenangkan hati. "To-tiang, sudah kubilang bahwa aku adalah Bu-beng Siauw-cut. Aku anak lola yang tidak mempunyai sanak-kadang. Kenapa kau tampaknya gelisah dan tidak enak hati?" Tosu ini gemetar. "Tapi benda ini.....kapan kau mendapatkannya, Koai-tong? Dan di mana?" "Aku mendapatkannya sebulan yang lalu, totiang. Di bukit.." "Tengkorak Hitam?" Hok Sim Cinjin memotong, membuat anak laki-laki itu tertegun. "Eh, bagaimana kau tahu, totiang? Apakah kau ke sana waktu itu?" bocah ini malah terbelalak, heran mendengar ucapan tosu itu.

Tapi Hok Sim Cinjin yang mendengar pengakuan ini tiba-tiba mengeluh dan memegangi kepalanya. "Sobat, bagaimana kau bisa mendapat benda ini, Koaitong? Kenapa tidak kau buang saja jauh-jauh?" Anak ini terkejut. "Aku tertarik melihat benda itu, totiang. Aku suka karena bentuknya bagus! Kenapa malah harus dibuang?" "Hm, tapi tidak ada seseorang yang membuntuti perjalananmu, Koai-tong? Kau tidak melihat orang lain diam-diam mengejarmu?" Anak ini tak nyaman juga. "Totiang, kenapa kau tampaknya demikian takut? Ada apakah sebenarnya dengan benda ini?" Hok Sim Cinjin mengusap keringatnya. "Benda ini dapat mencelakakan orang lain, Koai-tong. Terutama pembawanya dan rumah di mana dia masuk!" "Ah, jadi juga mengancam keselamatan kuilmu, totiang?" "Kalau tidak salah. Aku mendapat firasat bahwa seseorang selama ini telah membuntutimu secara diam-diam. Dan, kau hendak menemui Pendekar Gurun Neraka atas keinginan pribadimu, bukan?" Artinya, kau tidak diperalat seseorang untuk menemui pendekar itu. Koai-tong?" Anak ini bersinar mukanya. "Aku datang atas kemauanku sendiri, totiang. Aku datang bukan diperalat seseorang!" "Bagus, pinto percaya. Tapi bukankah kau selamat lewat di bukit Tengkorak Hiram, Koai-tong? Tidakkah seseorang menghadangmu di tengah jalan?" "Hm, apa maksudmu, totiang? Dan kenapa dengan bukit Tengkorak Hitam itu?" "Ah, kau memang masih terlalu hijau, Koai-tong. Kau agaknya tidak tahu bahwa siapapun tak bakalan selamat jika lewat di bukit itu. Seseorang menjadi penunggunya. Maka aneh sekali kalau kau tetap hidup setelah melalui bukit itu!" Anak ini terkejut. "Bukit Tengkorak Hitam ada penunggunya, totiang? Apakah iblis gentayangan yang kau..." "Ah...!" Hok Sim Cinjin mengeluh. "Kau tidak tahu, Koaitong. Iblis itu bukan iblis sembarang iblis, bukan iblis gentayangan. Tapi iblis pembunuh yang kejam sekali terhadap setiap korbannya!" Anak ini tergetar ngeri. "Masa begitu, totiang?" "Ya, dan orang tidak tahu bagaimana rupanya iblis ini, Koai-tong. Karena setiap korban yang bertemu dengannya pasti binasa. Dia tidak meninggalkan jejak, kecuali tanda bagi setiap korban yang akan dibunuh!" "Ih!" anak itu mengerutkan kening. "Lalu kenapa dia harus membunuh orang, totiang?" "Pinto tidak tahu, Koai-tong. Tapi pinto dengar berita selentingan bahwa dia membunuh untuk melampiaskan nafsu dendamnya. Dia jahat, kejam sekali. Dan siapapun yang lewat di bukit Tengkorak Hitam biasanya tak ada yang dapat berlalu dengan tubuh masih bernyawa!" Anak laki-laki ini berobah. Sekejap mukanya pucat, tapi bibir yang tiba-tiba menyungging senyum mengejek itu tersembul sinis. "Tapi aku tak kenal iblis itu, totiang. Juga aku tak melakukan kesalahan kepadanya." "Ya, semua korban yang tewas di tangannya mula-mula juga tak ada kesalahan dengan iblis itu. Koai-tong. Tapi akhirnya mereka dibunuh juga!" "Hm, lalu kenapa dia harus bersikap sekejam itu?" "Karena nafsu dendamnya, Koai-tong. Dendam terhadap seseorang yang tidak diketahui siapa!" "Lalu tanda yang dia tinggalkan?" "Berupa tapak jari merah. Berapa yang akan dibunuh biasanya dapat dibaca dari jumlah tapak jari itu!" Anak ini tertegan. Dia melihat Hok Sim Cinjin memandang seluruh dinding kamar, mukanya pucat dan dahinya berkeringat. Tapi melihat dinding kamarnya bersih-bersih saja tosu itu sedikit tenang. Tapi anak laki-laki ini tiba-tiba menunjuk ke atas, dan suaranya yang tersentak kaget menunjukkan rasa herannya yang hebat, "Ah, seperti itukah tapak jarinya, totiang?" Hok Sim Cinjin kaget bukan main. Dia mengikuti tudingan si anak, dan begitu pandangannya membentur langit-langit kamar sekonyong-konyong tosu ini mengeluarkan keluhan tertahan dengan mata terbelalak. "Ah, benar.. benar, Koai-tong. Dia datang dan itulah tandanya...!" Anak ini terkejut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment