Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 03

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 03

Hok Sim Cinjin tak menjawab. Dia sudah menyambar tongkat, dan baru tosu ini membuka pintu, tiba-tiba terdengar pekik ngeri susul-menyusul di depan kelenteng. Hok Sim Cinjin pucat mukanya, dan begitu dia menjejakkan kaki, ketua Tee kong-bio ini telah berkelebat ke asal suara.

"Koai tong, larilah! Iblis itu mengancam pinto..." Tapi anak laki-laki ini justru mengejarnya. Dia mengikuti Hok Sim Cinjin, menuju ke depan kuil. Dan begitu dia tiba di tempat ini, mendadak bocah itu menjublak dengan mata tak berkedip. Hok Sim Cinjin ada di situ, terbelalak dan berdiri mematung. Tapi empat sosok mayat yang terkapar malang-melintang di halaman kuil ternyata sudah terpotong dua bagian dengan kepala dan kaki terpisah!

"Ah, keji..." anak itu melompat marah. "Empat orang pembantumu binasa semua, totiang!" Hok Sim Cinjin menggigil. Dia memang melihat empat pembantunya itu terkapar binasa, tewas dengan mengerikan. Tapi ketua kuil yang gemetar ini tiba-tiba beringas mukanya. Dia melempar diri mendekati anak laki-laki ini, lalu begitu tongkatnya bergerak, tiba-tiba dia menusuk dadanya sendiri!

"Koai-tong, cari Pendekar Gurun Neraka. Laporkan pinto tewas oleh kekejaman So-beng (Penagih Nyawa)..." lalu begitu tongkat menghunjam dadanya, tahu-tahu ketua Teekong-bio ini telah terkapar mandi darah dan roboh terjengkang! "Totiang..." anak laki-laki itu menjerit. "Kenapa kau lakukan ini?" Namun Hok Sim Cinjin sudah tergolek. Tosu ini tak mungkin diselamatkan nyawanya, karena tongkat sudah menembus jantungnya.

Tapi ketika bocah itu mengguncang-guncang tubuhnya, tiba-tiba ketua kuil ini masih dapat membuka matanya. "...ad...ada apa, Koai-tong...?" Anak itu menggigil. "Aku belum tahu alamat Pendekar Gurun Neraka, totiang! Mana bisa mencari pendekar itu?" "Ah..." Hok Sim Cinjin menggeliat. Dia sukar bicara, tapi jari tangannya yang menuding ke barat bicara gemetar, "...dia.... dia ada di sana, Koai-tong... pendekar itu tinggal di Ta-piesan..." "Di puncak gunung itu, totiang?" Tapi Hok Sim Cinjin mengeluh. Dia tak dapat menjawab, karena begitu dia kejang-kejang, mendadak tosu ini sudah terguling dan tak dapat bicara lagi untuk selama-lamanya.

Ketua Tee-kong-bio itu tewas, dan anak lelaki yang tertegun dengan muka pucat ini tiba-tiba mencucurkan air mata dengan penuh kesedihan. Dia tak menyangka kedatangannya membawa malapetaka bagi orang lain. Tapi ketika dia tersedu-sedu menangisi mayat ketua Tee-kong-bio ini, mendadak tiga buah bayangan berkelebat menghampiri.

"Hei, apa yang terjadi di sini, ibu? Kenapa keledai-keledai gundu ini mampus semua?" Bocah itu terkejut. Dia melihat tiga orang muncul di situ, dua wanita dan seorang lagi adalah seorang anak laki-laki yang seumur dengannya, bocah yang berteriak nyaring dengan suara kasar. Dan melihat mayat malang-melintang di tempat itu, mendadak wanita yang ada di depan dan yang paling cantik mencengkeram bahunya.

"Bocah, apa yang terjadi di sini? Siapa yang membunuh tosu-tosu itu?" Anak laki-laki ini tertegun. Sinar matanya bentrok dengan sepasang mata yang bening indah, mata seorang wanita cantik, mata yang tajam tapi menyimpan kedukaan besar. Dan tertegun oleh sinar mara wanita cantik itu yang mirip dengan matanya sendiri, mendadak anak lelaki ini bengong.

"Hei, kau tak menjawab pertanyaan ibu?" Bocah itu tersentak. Dia dihardik oleh anak lelaki yang berteriak pertama kali itu, anak lelaki yang agaknya merupakan putera wanita cantik ini. Maka terkejut dan kaget oleh bentakan itu, tiba-tiba dia menarik dirinya, melepaskan pundak dari cengkeraman wanita ini.

"Kouwnio, kau siapakah dan mengapa datang-datang, anakmu yang kasar itu memaki-maki mayat yang sudah tak bernyawa?" Wanita cantik ini mengerutkan kening, la juga tertegun melihat wajah anak laki-laki ini, wajah yang tampan dan memiliki sinar mata yang pemberani gagah. Tapi melihat lawan tak menjawab pertanyaannya, malah bertanya padanya, tiba-tiba wanita cantik ini tersenyum dingin.

"Bocah, kau siapakah dan kenapa balik bertanya dulu pada aku? Siapa tosu-tosu ini?" Anak laki-laki itu menegakkan kepalanya. "Aku Bu-beng Siauw-cut, kouwnio. Dan mereka adalah penghuni Tee-kong-bio ini!" "Bu-beng Siauw-cut?" wanita cantik itu membelalakan matanya. "Kenapa kau memiliki nama demikian aneh, bocah? Siapa orang tuamu dan apa hubunganmu dengan tosu-tosu ini? Kacungnyakah?" Anak laki-laki itu memandang marah.

"Aku bukan kacung kuil ini, kouwnio. Aku perantau bebas yang tidak terikat dengan seseorang!" "Hm, dan namamu itu, siapa orang tuamu?" Bocah ini mengedikkan kepalanya. "Kouw-nio, siapakah kau ini hingga datang-datang ingin mengetahui diri pribadi orang lain? Tidakkah kau tahu bahwa itu tak pantas kaulakukan?" "Keparat!" bocah di samping tiba-tiba membentak. "Kau berani bicara kasar pada ibuku, setan cilik! Kau tidak tahu bahwa ibuku adalah Tok-sim Sian-li yang bisa membunuhmu tanpa mengejapkan mata?" Anak ini terkejut.

"Kau orang jahat, kouwnio! Kau dewi berhati racun (Tok-sim)?" Bocah di samping tiba-tiba melompat maju. "Keparat, kau semakin kurang ajar, setan buduk! Kalau begitu belum jera jika belum kutampar... plak!" dan pipi Bu-beng Siauw-cut yang tiba-tiba digampar membuat anak laki-laki ini terpelanting roboh dengan bibir pecah berdarah! Bu-beng Siauw-cut terkejut. Dia terbelalak marah memandang bocah di samping wanita cantik itu, tapi melompat bangun dia mendesis pada wanita ini, "Kouwnio, kau tidak dapat mengajar adat pada anakmu itu! Kau membiarkan saja dia menampar orang yang bukan sanak bukan kadangnya?" Bocah di samping wanita ini tertawa geli.

"Ibu, dia rupanya anak tolol. Bagaimana kalau kuhajar lagi?" Tapi wanita cantik ini mendengus. "Cengg Liong, diam kau!" lalu memandang anak yang pecah bibirnya itu wanita ini bertanya. "Bu-beng Siauw-cut, berani kau melawan anakku? Kau tidak ingin membalas pukulannya kepadamu?" Anak ini terbelalak.

"Kau justeru mengadu kami, kouwnio! Kau menyuruh kami berkelahi?" "Kalau kau berani, Bu-beng Siauw-cut. Juga kalau kau penasaran oleh tamparan anakku tadi." "Ah..." dan melangkah maju tiba-tiba anak laki-laki itu mengepalkan tinjunya. "Kouwnio, aku tak takut pada puteramu. Juga aku tak gentar padamu! Kenapa mesti jerih menghadapi orang-orang macam kalian?" "Kalau begitu kau berani melawan putera-ku ini?" 'Tentu saja. Bahkan kalau kau ingin membelanya sekalian!" Wanita itu tersenyum. Ia tak dapat menahan gelinya, terkekeh mendengar kata-kata itu.

Tapi menoleh ke kiri ia menggapaikan lengannya. "A-cheng, bagaimana pendapatmu dengan anak ini? Tidakkah dia menarik untuk menjadi teman Ceng Liong?" Wanita ke dua yang ada di samping wanita itu berseri. "Agaknya wawasanmu tepat, hujin. Anak ini pemberani dan cocok sekali untuk dijadikan teman Liong-siauwya!" "Nah, kalau begitu dia akan kubuat sebagai muridku. Ceng Liong, hajar lawanmu ini dan kita lihat sampai kapan dia akan menyerah!" lalu mundur dengan mata bersinar-sinar, wanita cantik yang berjuluk Tok-sim Sian-li itu menyuruh puteranya maju. Anak lelaki yang bernama Ceng Liong melompat ke depan. Dia gembira sekali mendengar perintah ibunya itu, tapi memandang ke kanan dia bertanya, "Dan dia boleh kupatahkan kakinya, ibu? Bagaimana kalau dia tak mau menyerah?" "Hm, tak perlu sejauh itu, Liong-ji. Kau robohkan saja lawanmu itu dan himpit lehernya, ajar dia tak berdaya." Anak bernama Ceng Liong ini tertawa.

Dia berseri-seri memandang lawannya, sementara si bocah tanggung yang bernama Bu-beng Siauw-cut itu bersiap-siap. Dia mengerutkan kening mendengar pembicaraan ibu dan anak itu, tapi melihat anak bernama Ceng Liong sudah maju menghampirinya, diapun tak banyak cakap lagi. "Berapa jurus kau ingin kurobohkan, Siauw-cut?" "Hm, tak perlu sombong, Ceng Liong. Kau boleh robohkan aku dalam berapa jurus saja, asal kau bisa!" "Baik, kalau begitu tiga jurus saja aku akan merobohkinmu. Nah, bersiaplah..." dan baru ucapan ini diselesaikan, tahu-tahu lengan putera wanita cantik itu menjulur maju, menangkap leher lawan. Dan begitu Bu-beng Siauw-cut tersentak, tiba-tiba kakinya sudah dijegal dan diangkat di atas punggung lawan, dibanting di atas tanah!

"Brukk..." "Ha-ha, satu jurus, Siauw-cut. Kau roboh dalam satu jurus saja!" si anak bernama Teng Liong terbahak, gembira melihat lawannya roboh demikian mudah. Tapi Bu-beng Siauw-cut yang beringas oleh bantingan ini tiba-tiba melompat bangun. "Aku belum kalah, bocah kurang ajar. Aku masih dapat bangun dan akan membalasmu. Awas..." dan anak laki-laki yang sudah medekatii lawannya itu mendadak bertubi-tubi melancarkan serangan. Dia memukul dan menonjok, bahkan menendang dengan kedua kakinya yang kecil pendek. Tapi Ceng Liong yang lincah gesit ternyata dapat menghindari semua serangan itu. Anak ini tertawa-tawa, geli melihat lawan berkali-kali luput menghantam tubuhnya, terhuyung dan bahkan hampir terjerembab sendiri.

Dan ketika suatu saat kembali pukulan lawan meleset di sisi tubuhnya, mendadak anak ini berseru nyaring. "Siauw-cut, hati-hati. Aku akan merobohkanmu kembali... dess!" dan kakinya yang tahu-tahu mendupak pantat lawan tiba-tiba membuat Bu-beng Siauw-cut terlempar bergulingan. Bocah ini marah bukan main. Ceng Liong yang tertawa bergelak oleh hasil serangannya itu mengejek. "Ha-ha, dua kali kau roboh, Siauw-cut. kau harus menyerah kalah!" Tapi Bu-beng Siauw-cut melompat bangun. Dia menggigil dan mengerot gigi penuh kemarahan, lalu begitu berteriak keras tahu-tahu dia pun menyerang kembali.

"Aku tak akan mengaku kalah padamu, bocah kurang ajar. Aku yang bertarung sampai mati..." Putera Dewi Hati Racun ini terbelalak. "Kau nekat, Siauwcut?" "Tak perlu banyak cakap!" Maka bocah bernama Ceng Liong itu marah. Dia beringas, dan ketika Bu-beng Siauw-cut menubruknya dengan tangan terulur, mendadak dia berkelit ke samping. Sekali geser kan kaki, tahu-tahu dia sudah berada di belakang orang, dan begitu dia membentak sambil mencengkeram, sekonyong-konyong Bu-beng Siauw-cut sudah di tangkap tangannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment