Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 04

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 04

Menyentak dan membanting lawan yang berteriak tertahan, Bu-beng Siauw-cut tiba-tiba roboh tersungkur dengan lengan ditelikung ke belakang. "Brukk.....!" Bu-beng Siauw-cut tak berdaya kini. Dia roboh di atas tanah, mengeluh dan menggigit bibir menahan sakit.

Tapi anak yang coba berontak ini tiba-tiba diinjak punggungnya oleh putera Dewi Berhati Racun. "Kau tidak menyerah kalah, Siauw-cut?" Tapi Bu-beng Siauw-cut mendesis. Dia tidak menjawab, dan Ceng Liong yang marah oleh sikap lawan yang dirasa bandel tiba-tiba menekuk tangan lawannya ke atas, siap mematahkan lengan yang ditelikung itu.

"Kau tidak menyerah, Siauw-cut?" Tapi Bu-beng Siauw-cut menggigit bibirnya kuat-kuat. Dia mendesis menahan rasa sakit yang amat sangat, lalu membentak marah dia menggelengkan kepalanya tegas, "Aku tak akan mengaku kalah, Ceng Liong! Aku boleh kau bunuh tapi jangan harap terlontar permintaan ampunku kepadamu...!"

"Hm, meskipun kupatahkan tangasmu ini?" "Boleh kau coba!" Dan baru ucapan ini dikeluarkan, mendadak Ceng Liong yang marah mendapat tantangan itu tiba-tiba menyendat tangannya ke atas. Dia menekuk telikungannya ke depan, dan begitu lawan menjerit tiba-tiba lengan Bu-beng Siauw-cut sudah dia patahkan benar-benar. "Krek!" Bu-beng Siauw-cut roboh pingsan.

Dia tak kuat menahan rasa sakit yang amat sangat itu, Bu-beng Siauw-cut roboh pingsan. "Kenapa kaupatahkan lengannya, kurang ajar...!" Plak! Anak laki-laki yang ganti terpelanting roboh oleh tamparan ibunya itu menjerit dengan tubuh terguling-guling. "Ibu, kenapa kau memukul aku?" Tok-sim Sian-li merah padam mukanya. Ia benar-benar marah, dan melihat puteranya berdiri menegur tanpa rasa takut sedikit pun juga mendadak wanita ini naik pitam.

Entah kenapa ia gusar sekali oleh sikap puteranya itu. Maka begitu ia melangkah maju tiba-tiba rambut anaknya sudah dijambak. "Liong ji, kau tidak dengar larangan ibumu, kau selalu membantah dan ingin melawan ibumu?" Anak ini terbelalak. "Tapi bocah itu menantangku, ibu, dia perlu dihajar dan kalau perlu dibunuh!" "Plak...!" Tok-sim Sian-li kembali menampar anaknya, ia marah sekali oleh bantahan itu, dan jengkel serta gusar oleh semuanya ini tiba-tiba ia membanting anaknya dan mengayun kaki menendang.

"Liong-ji, kau anak keparat, kau bocah tak dapat diatur...!" Dan anak laki-laki yang tiba-tiba dihujani tamparan dan pukulan oleh ibunya ini mendadak mengaduh dan terlempar bergulingan. Bocah bernama Ceng Liong itu menjerit jerit, dan ketika dia melompat bangun tahu-tahu ibunya kembali sudah mencengkeram pundaknya.

"Kau masih mau membantah lagi, Liong-ji, kau ingin kuhajar sampai babak belur?" Bocah ini menggigil. "Ampun...ampun, ibu, aku tidak bermaksud melawanmu, Siauw-cut sendiri yang menantangku untuk dipatahkan lengannya...!" "Tapi kau tahu pesanku, bukan?" "Ya...ya, tapi...tapi..." "Tak perlu banyak omong, Liong-ji, aku akan mengambil bocah ini untuk teman sepermainanmu, ibu akan mengambilnya sebagai murid!"

Tok-sim Sian-li membentak. Dan bocah bernama Ceng Liong itu tertegun. "Kau akan membawa anak tolol ini untuk teman sepermainanku, ibu?" "Ya, kenapa?" Bocah itu tak menjawab, dia rupanya takut, dan wanita bernama A-cheng yang sejak tadi terbelalak di belakang tiba-tiba menyahut, "Hujin, rupanya Liong-siauwya kurang setuju, bagaimana kalau bocah itu nanti dendam padanya, Bu-beng Siauw-cut ini rupanya keras hati, dia berbahaya kalau dibiarkan kumpul bersama dengan Liong-siauwya!"

Wanita cantik itu mendengus. "Tapi aku suka padanya, A-cheng, anak ini gagah dan berani!" "Tapi bagaimana kalau selanjutnya bermusuhan dengan siauw-ya, hujin, bukankah bisa runyam, apalagi kalau hujin mengambilnya sebagai murid?" "Hm..." Wanita ini tertegun. "Kalau begitu dia akan kujadikan kacung saja, membantu Ceng Liong!" Tapi wanita bernama A-cheng itu menjawab, "Kalau dia mau, hujin, tapi bagaimana kalau anak itu menolak, lihat, wataknya keras sekali, dia tak mau menyerah meskipun kalah!"

"Karena itu aku suka anak semacam ini, A-cheng, dia persis orang yang kucintai," "Pendekar Gurun Neraka, ibu?" Ceng Liong, anak laki-laki itu tiba-tiba menyahut, membuat muka ibunya bersinar tapi kemudian muram kembali. "Ya, seperti ayahmu itu, Liong-ji, tapi heran sekali kau tak memiliki kegagahan bapakmu!" Anak laki-laki ini semburat merah, dia mendongkol dan marah oleh dampratan ibunya, tapi bocah yang takut digaplok lagi itu diam saja tak menjawab.

Dia menunduk, tak berani mengadu pandang dengan ibunya. Tapi sinar matanya yang diam-diam melirik ke bawah memandang benci ke arah si Bu-beng Siauw-cut! "Hm, kalau ibu menyuruhmu menjadi kacungku, awas kau, kerucuk hina, aku benar-benar akan menjadikan kamu Bu-beng Siauw-jin yang tidak ada harganya lagi!" Anak ini membatin, mengancam di dalam hati untuk kelak membalas sikap ibunya yang menyakitkan itu.

Tapi Tok-sim Sian-li menoleh ke kiri. "Bagaimana, A-cheng, apa yang sebaiknya kita lakukan pada diri bocah ini?" "Sebaiknya kita tanya kalau dia sudah sadar, hujin, kalau dia menolak kita tinggalkan saja dia di sini!" "Hm, kalau begitu obati dia, beri obat penyembuh tulang dan sadarkan anak itu!" A-cheng mengangguk, ia sudah berjongkok di dekat anak laki-laki ini, dan wanita yang sudah mengurut sambil menotok beberapa jalan darah itu sebentar saja membuat anak laki-laki ini siuman.

Bu-beng Siauw-cut bangkit duduk, tertegun sejenak. Tapi melihat Ceng Liong ada di situ tiba-tiba dia melompat bangun dan memandang beringas. "Bocah she Ceng, aku akan membalas ke-kejamanmu hari ini!" Ceng Liong tersenyum mengejek. "Aku bukan she Ceng, Bu-beng Siauw-cut, aku orang she Yap, Yap Ceng Liong namaku!" Bu-beng Siauw-cut terkejut. "Kau she Yap?" "Ya, aku she Yap, Siauw-cut, aku putera orang terkenal di dunia ini, Pendekar Gurun Neraka Yap Bu Kong!"

"Ah..!" Bu-beng Siauw-cut tiba-tiba menggigil. Sinar matanya penuh kebencian hebat, tapi baru dia mau maju menyerang mendadak A-cheng menotoknya roboh. "Bocah hina, kau tak boleh kurang ajar di sini, hujin akan bertanya kepadamu!" Anak itu mendelik. "Apa yang hendak ditanyakan, wanita iblis, bukankah kalian tahu aku takkan tunduk pada bocah itu?"'

Namun Tok-sim Sian-li membebaskan totokannya. "Siauw-cut, aku suka padamu, kau berani dan gagah, bagaimana bila ikut kami?" "Hm..." Anak ini mendesis, "kau nyonya Pendekar Gurun Neraka, hujin, kau betul isteri pendekar itu?" Wanita itu mengerutkan kening. "Aku isterinya atau bukan ada apa kau tanyakan ini, Siauw-cut, apa hubungannya itu dengan pertanyaanku?" Namun bocah ini mengedikkan kepala.

"Pendekar Gurun Neraka adalah musuhku, hu-jin, aku tak suka ikut apalagi tunduk pada pendekar itu dan keluarganya!" "Ah, kau memusuhi pendekar itu?" Tok-sim Sian-li terkejut, membelalakkan matanya yang bening indah. Dan terheran serta hampir geli oleh ucapan lantang itu wanita ini tiba-tiba terkekeh. "Bu-beng Siauw-cut, siapa kau ini hingga mendendam pada pendekar itu, apa salah dirinya hingga kau yang sekecil ini berani memusuhi Pendekar Gurun Neraka?"

"Karena dia menyengsarakan ibuku, Tok-sim, karena aku dibuat terlunta-lunta oleh perbuatannya yang tidak bertanggung jawab itu!" Tok-sim Sian-li terkejut, ia tersentak oleh seruan keras ini, kaget dan tercengang oleh bicara Bu-beng Siauw-cut yang penuh kebencian. Tapi terkekeh nyaring tiba-tiba wanita cantik ini mengebutkan lengannya. "Bu-beng Siauw-cut, siapa kau ini hingga menaruh sakit hati pada Pendekar Gurun Neraka, siapakah ibumu yang dibuat sengsara itu?" Anak ini hampir menjawab, tapi teringat bahwa wanita yang bertanya kepadanya itu adalah "musuh" tiba-tiba dia mengatupkan mulut.

"Tak perlu kau tahu, Tok-sim, pokoknya kalau benar kau isteri Pendekar Gurun Neraka berarti aku tak mau bersahabat denganmu!" "Dan kau mau membalas dendam pada pendekar itu?" "Tentu saja!" "Hi-hik, kau lucu, Siauw-cut, menghadapi Ceng Liong saja kau tak menang, mana mungkin menghadapi suamiku itu, hm, kau gila, rupanya di samping tolol kau juga memiliki otak yang tidak waras, eh, anak menarik, bagaimana kalau kau hapus saja api dendammu itu dan ikut baik-baik denganku, aku akan mendidikmu ilmu silat, dan kau tidak akan roboh lagi bila menghadapi lawan sepeerti anakku ini!"

Tok-sim Sian-li semakin tertarik, berseri matanya memandang bocah yang luar biasa itu. Tapi Bu-beng Siauw-cut yang mengangkat kepalanya ini menggeleng tegas. "Tak perlu kau membujukku, Tok-sim, aku benci pada nama dan keluarga Pendekar Gurun Neraka!" "Dan kau ingin menjadi gelandangan seumur hidup?" "Apa maksudmu?" Anak itu membentak. "Kau kira nasib orang akan tetap begitu saja selama hidup, tetap tidak tetap tergantung nasib baiknya, Siauw-cut, dan kau jelas bernasib baik kalau mau ikut denganku!"

'Cih, kau kira dengan menjadi muridmu aku akan gembira, Tok-sim, kau keliru, aku tak suka dan tak akan ikut denganmu, anak ini meludah. Tok-sim Sian-li semburat merah, ia tersinggung benar oleh sikap dan kata-kata bocah itu, tapi ketika tangannya terangkat siap menggaplok muka orang tiba-tiba matanya membentur sinar mata yang tajam penuh keberanian dari bocah ini, tak ayal Tok-sim Sian-li tertegun, dan wanita yang kaget serta marah itu mendadak mengulurkan jirinya, mencengkeram lengan Bu-beng Siauw-cut yang baru disambung!

"Kau berani menghinaku seperti itu, bocah setan?" Anak ini mendesis, terang dia kesakitan, tapi bibirnya yang dikatup rapat tidak membuat dia mengeluh. "Kau beraninya hanya dengan anak kecil, Tok-sim Sian-li, kau tidak malu memaksa seorang anak yang tidak mau ikut dengarmu?" Wanita ini terkejut, ia marah sekali, hampir mencengkeram remuk lengan yang patah, tapi membentur mata yang penuh keberanian itu mendadak ia melepaskan tangannya ganti mencengkeram leher baju si anak.

Lalu, membentak geram tiba-tiba ia membanting Bu-beng Siauw-cut di atas tanah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment