Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 05

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 05

Bocah hina, kau benar-benar kelewatan. Kalau tidak menyadari kau seorang anak tak berguna, tentu sudah kuhancurkan kepalamu ini. Bu-beng Siauw-cut yang terguling-guling mengaduh ketika tulang lengannya yang patah membentur tanah. Tapi anak ini sudah bangun kembali. Dia siap memaki-maki wanita itu. Tapi ketika dia mendengar isak tertahan dari wanita cantik ini, mendadak dia tertegun. Dia melihat Tok-sim Sian-li menangis, menggigit bibirnya.

Dan wanita cantik yang tiba-tiba memutar tubuhnya itu berkelebat pergi. "A-cheng, Liong-ji, tinggalkan setan ini. Biar dia kelaparan di sini..." Tok-sim Sian-li yang terisak dengan muka merah itu meninggalkannya seorang diri di kuil Tee-kong-bio. Bu-beng Siauw-cut benar-benar tertegun. Dia mengira wanita itu akan menghajarnya habis-habisan, mungkin bahkan membunuhnya. Tapi melihat wanita itu malah berangkat pergi, dia pun tadi bengong dan terlongong-longong.

Dan anak bernama Ceng Liong itu pun tiba-tiba menghamparinya, "Bu-beng Siauw-cut, kau benar-benar anak siluman! Kau membuat ibu berduka..." Seruanak yang sudah menjelajor pergi setelah menampar kepalanya itu dipandang bingung oleh anak laki-laki ini. Dia tak tahu kenapa wanita itu menangis. Tapi melihat Ceng Liong sudah jauh mengejar ibunya, disusul wanita bernama A-cheng itu pun termangu dengan mata tidak berkedip.

Dan sesosok bayangan tiba-tiba muncul, "Hm, apa yang kau pikir, anak baik? Kenapa kau tidak mau ikut wanita itu?" Bu-beng Siauw-cut tersentak. Dia kaget melihat seorang kakek muncul di situ, kakek berwajah gagah tapi muram. Melihat kakek ini muncul seperti iblis tiba-tiba, dia pun melangkah mundur dengan alis berkerut.

"Locianpwe, kau siapakah? Teman wanita itu?" Kakek ini menghela napas. "Bukan, aku pengelana sebatangkara, bocah. Namaku Kun Seng. Secara kebetulan saja aku tiba di sini dan melihat gerak-gerikmu yang aneh!" "Hm, kalau begitu sudah lama kau di sini, locianpwe?" "Baru saja datang, anak baik. Aku melihat jejak So-beng di sini! Para tosu itu terbunuh, bukan?" Bu-beng Siauw-cut tiba-tiba mengetukkan giginya.

"Ya, para tosu ini terbunuh, locianpwe. Kecuali yang tua itu. Dia membunuh diri begitu melihat empat pembantunya tewas terbunuh!" "Hm, aku terlambat. Sayang sekali..." Kakek itu bergumam. Lalu menghampiri mayat Hok Sim Cinjin, tiba-tiba dia berseru kaget, "Ah, dia membawa Medali Naga?" Dan begitu dia berjongkok di samping mayat ketua Tee-kong-bio ini, mendadak kakek itu menyambar medali yang tergulir dari baju Hok Sin Cmjin.

Dia tampak terkejut, tapi Bu-beng Siauw-cut yang tercekat melihat benda miliknya diambil kakek ini tiba-tiba melompat ke depan. "Locianpwe, jangan ambil benda itu. Medali itu aku yang punya..." Si kakek tertegun. "Kau yang punya benda ini, anak baik?" "Ya, aku yang mempunyainya, locianpwe. Tadi benda itu dibawa tosu ini sebelum tewas membunuh diri!" "Hm..." Kakek itu memandang tajam. Dia ragu sejenak, menatap penuh selidik bocah yang mengaku memiliki benda itu.

Tapi melihat mata yang jujur bening, tiba-tiba dia menarik napas dan menimang-nimang benda ini. "Aneh sekali. Kau mendapatkannya di mana, bocah?" Bu-beng Siauw-cut mengulurkan lengan. "Aku mendapatkannya di bukit Tengkorak Hitam, locianpwe. Kebetulan ketika aku menemukannya di tengah jalan." "Dan kau tidak bertemu penunggu bukit itu?" "Si Setan Penagih Nyawa?" "Ya." "Kakek ini, tosu tua itulah yang memberi tahu padaku bahwa bukit Tengkorak Hitam katanya dijaga iblis bernama So-beng!" Bu-beng Siauw-cut menuding mayat Hok Sim Cinjin, masih belum menerima medalinya, dan karena itu maju dua tindak untuk meminta benda miliknya.

"Locianpwe, kenapa tidak segera kau berikan benda itu kepadaku?" Kakek ini tersenyum berat. "Anak baik, aku tidak akan merampas benda milikmu ini dengan iktikad buruk. Tapi tahukah kau benda ini berbahaya untukmu?" Tidakkah kau tahu bahwa benda ini milik kerajaan?" Bocah itu terkejut. "Milik kerajaan, locianpwe. Kerajaan mana?" "Hm, aku tidak mendustaimu, bocah. Tapi harap kau ketahui saja bahwa siapa yang memegang Medali Naga ini berarti dia menjadi kurir (utusan) Kerajaan Yueh! Bagaimana kau bisa mendapatkan benda ini dan bisa lolos dari bukit Tengkorak Hitam?" Apakah tidak ada seseorang yang kau lihat di sekitar tempat penemuanmu itu?" Bocah ini tertegun.

"Tidak, locianpwe." "Dan kau tidak menjumpai jejak-jejak atau suara seseorang di sekitar lokasi itu?" "Tidak, locianpwe." "Hm, aneh kalau begitu. Baiklah, boleh kutanya siapa namamu, bocah? Apa tujuanmu mendatangi kuil Tee-kong-bio ini?" "Aku Bu-beng Siauw-cut, locianpwe. Datang ke sini secara kebetulan saja untuk menanyakan alamat seseorang." "Siapa?" "Pendekar Gurun Neraka!" "Ah, untuk apa kau mencari pendekar sakti itu? Kau utusan Ho-han-hwe?" Kakek ini terbelalak, heran dan terkejut mendengar anak itu mencari Pendekar Gurun Neraka.

Tapi Bu-beng Siauw-cut yang ganti tercengang mendengar kakek ini menyebut-nyebut nama Ho-han-hwe (perkumpulan para patriot) tiba-tiba bersinar matanya dengan muka berseri. "Locianpwe, di mana itu pusat perkumpulan Ho-han-hwe? Dan apa pekerjaan mereka?" Kakek ini ganti terbelalak. "Jadi kau tidak tahu tentang nama perkumpulan ini, bocah? Dan kau, siapa namamu tadi?" "Bu-beng Siauw-cut, locianpwe." "Bu-beng Siauw-cut....?" Kakek itu tertegun. "Kenapa namamu demikian aneh, anak baik? Siapakah orang tuamu dan di mana mereka tinggal?" "Hm, aku anak Iola, locianpwe. Aku perantau jalanan yang tidak mempunyai orang tua dan tempat tinggal!"

"Jadi kau sebatangkara?" "Ya." "Ah, sama kalau begitu," Kakek ini menarik napas. "Sama apanya, locianpwe?" Anak itu bertanya. "Sama sebatangkaranya ini, anak baik. Aku juga hidup tanpa sanak tanpa kadang!" "Ah, masa begitu?" "Bukankah kau tentunya punya anak punya isteri?" Kakek itu tiba-tiba sedih. "Itu dulu, Bu-beng. Tapi sekarang semuanya telah musnah." "Locianpwe, panggil saja aku Siauw-cut, jangan Bu-beng!" "Hm, Siauw-cut artinya hina, anak baik. Tidak berharga. Padahal, kau kulihat berharga sekali. Gagah dan berani. Mana bisa aku menyebutmu begitu?" "Tidak, aku akan memanggilmu Bu-beng saja. Tampaknya ini lebih manis dan bersahabat daripada panggilan yang lain. Kau tentunya menyimpan kepahitan hidup, bukan?" "Hm, aku tahu, anak baik. Rupanya kita mengalami persamaan dalam hal ini. Kau dan aku yang jelas sama-sama sebatangkara! Ha-ha, bagaimana kalau kau ikut denganku, Bu-beng? Kita bersama-sama menghadapi hidup yang keras ini?"

Tapi Bu-beng yang mengeras dagunya ini tiba-tiba mengepal tinju. "Tidak, maafkan aku, locianpwe. Aku ingin hidup sendiri dan tidak mau tergantung pada orang lain!" "Ah, ikut bersamaku bukan berarti tergantung, Bu-beng. Kita bersama-sama menghadapi hidup ini dengan mengerjakannya bersama." "Tapi aku masih mempunyai pekerjaan sendiri, locianpwe. Tugas yang belum kulaksanakan sampai hari ini." "Menemui Pendekar Gurun Neraka itu?" Anak ini tertegun. Tapi akhirnya dia mengangguk. "Ya." "Hm, kalau begitu aku dapat mengantarmu, Bu-beng. Aku akan membawamu pada pendekar itu dan minta dia mengabulkan apa yang kau minta!" "Ai....!" Anak ini terkejut. "Tak mungkin kau dapat melaksanakan keinginanmu, locianpwe. Tak mungkin kau dapat memaksa pendekar itu untuk memenuhi permintaanku!"

"Hm, permintaan anak kecil saja kenapa sukar melakukannya, Bu-beng? Bukankah kau meminta yang tidak kelewat berat?" Anak itu termangu. Dia mengepal tinju, tapi menggelengkan kepala tiba-tiba dia berkata, "Tidak, tak perlu kau bantu aku, locianpwe. Aku ingin melaksanakan tugasku ini seorang diri!" "Wah, apa yang kau inginkan dari pendekar itu, anak baik?" "Aku ingin membunuhnya, locianpwe! Aku ingin membalas dendam atas kematian ibuku!" "Hah.."! Kakek itu terkejut bukan main. "Kau ingin membunuh Pendekar Gurun Neraka, Bu-beng? Jadi ini maksud hatimu mencari pendekar itu?" Lalu sadar dari kekagetannya tiba-tiba kakek ini tertawa bergelak sampai terbatuk-batuk. Dia tampaknya geli bukan main mendengar kata-kata bocah itu.

Tapi melihat Bu-beng Siauw-cut memandangnya berapi-api tiba-tiba dia menghentikan tawanya. "Maaf... maaf, Bu-beng. Aku agaknya menyinggung perasaanmu!" Dan buru-buru memperbaiki sikap, kakek ini memasang muka serius, menarik napas dan menepuk-nepuk pundak si himk. "Bu-beng, kau rupanya benci sekali pada pendekar itu. Tapi tahukah kau siapa pendekar ini? Dia seorang pendekar sakti, nak. Pendekar besar yang memiliki kepandaian tinggi. Bahkan gurunya pun tak sanggup mengalahkan muridnya ini. Begitu pula dengan mertuanya, Ciok-thouw Tai-hiap Souw Ki Beng itu. Mana mungkin kau dapat membunuh pendekar ini? Dan, mengherankan sekali kau membenci pendekar itu, Bu-beng. Karena Pendekar Gurun Neraka adalah pendekar sejati yang gagah perkasa, tidak jahat sepak terjangnya dan selalu membela kebenaran. Bagaimana kau bisa memusuhinya? Apakah ibumu seorang golongan hek-to (hitam)?" Anak ini memandang marah. "Ibuku orang baik-baik, locianpwe. Dia bukan wanita iblis hingga boleh dibilang jahat!"

"Hm, kalau begitu siapa ibumu itu?" Anak ini menolak. "Tak bisa kuberitahukan sekarang, locianpwe. Itu rahasia pribadiku yang orang lain tak boleh dengar!" "Ah, maaf..." Kakek ini terpukul, sedikit merah mukanya. Tapi tersenyum pahit dia menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kau rupanya tak suka orang lain mendengar riwayatmu, Bu-beng. Kalau begitu bagaimana jika kuulang permintaanku tadi? Maukah kau ikut bersamaku?" Anak ini menggeleng. "Aku tak mau bergantung pada orang lain, locianpwe. Aku tak mau ikut denganmu atau siapapun juga!" "Tapi kau seorang diri, anak baik. Miana mungkin tak menjalin hubungan dengan orang lain?" "Hm, lebih baik begitu daripada berkumpul tapi mendapat teman yang jahat, locianpwe. Aku lebih baik hidup sendiri daripada berkawan!" "Tapi tidak semua orang jahat, Bu-beng. Mana bisa kau pertahankan pendapatmu itu?" "Ya, tapi berkali-kali aku mendapat kekecewaan, locianpwe."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment