Chapter 06
Sebagian besar manusia yang kutemui banyak yang tidak baik daripada yang baik, pikir Bu-beng Siauw-cut. Kakek tua yang berdiri di depannya manggut-manggut, seakan setuju dengan pernyataan itu.
"Memang itu benar, Bu-beng," kata kakek itu. "Aku si tua bangka ini juga mendapat kenyataan bahwa dunia kita ini lebih banyak berisi orang jahat daripada yang baik. Tapi tidakkah kita dapat memilih teman, Bu-beng? Kita mestinya tahu siapa yang boleh kita jadikan sahabat yang sebenarnya atau siapa yang harus kita jauhi karena sifatnya yang membahayakan diri kita."
Bu-beng Siauw-cut terkejut dengan kata-kata kakek itu. "Aku belum mengenalmu secara baik, locianpwe," jawabnya. "Bagaimana bisa bilang kau ini orang jahat atau tidak?"
Kakek itu tertawa. "Karena itu aku ingin mengajakmu hidup bersama, Bu-beng. Aku ingin kau ikut aku dan melihat sepak terjangku." Namun, Bu-beng Siauw-cut menolak. "Aku tak mau ikut denganmu meskipun kau paksa!" katanya tegas.
Kakek itu tertegun, kemudian menyeringai pahit. "Bu-beng, kau rupanya benar-benar tak mau ikut orang lain. Kalau begitu bagaimana jika kubalik dengan aku yang ikut dirimu? Kau tentu tak keberatan, bukan?" Bu-beng Siauw-cut terkejut dengan tawaran kakek itu. "Kau ikut aku, locianpwe?" tanyanya.
"Ya," jawab kakek itu. "Dan kau boleh memerintah apa saja kepadaku si tua bangka ini, anak baik. Tapi tentu saja yang tidak melanggar tans kebenaran." Bu-beng Siauw-cut mengangguk, meskipun masih merasa bingung. "Baiklah, locianpwe. Tapi itu terbatas. Artinya kau boleh ikut aku sampai di gunung itu saja. Setelah itu kita masing-masing berpisah!"
Kakek itu gembira. "Jadi kau akan ke Ta-pie-san, anak baik?" tanyanya. "Benar," jawab Bu-beng Siauw-cut. "Baiklah, kalau begitu aku siap mengantarku!" kata kakek itu. "Tapi sebelumnya kita harus mengubur mayat-mayat ini dulu, Bu-beng. Kau boleh bantu aku kalau mau..."
Kakek itu kemudian mengubur mayat-mayat itu dengan cepat, menggunakan kesaktiannya. Bu-beng Siauw-cut terkejut dan kagum dengan kemampuan kakek itu. "Ah, kau hebat sekali, locianpwe!" katanya. "Kesaktian apakah yang kau tunjukkan ini?"
Kakek itu tertawa. "Ini bukan sesuatu yang luar biasa, Bu-beng. Pendekar Gurun Neraka bahkan dapat melakukan sesuatu yang jauh lebih hebat dari aku si tua bangka ini!" Bu-beng Siauw-cut tertegun, kemudian mengangguk. "Hm... aku akan ingat kata-katamu, locianpwe."
Kemudian, kakek itu mengajak Bu-beng Siauw-cut untuk melanjutkan perjalanan mereka. Mereka berdua berjalan melalui hutan, menuju ke Ta-pie-san. Di tengah perjalanan, Bu-beng Siauw-cut bertanya tentang Ho-han-hwe, sebuah perkumpulan orang-orang gagah. Kakek itu menjawab bahwa Ho-han-hwe adalah simpatisan Pangeran Kou Cien dari Kerajaan Yueh, dan bahwa markas besar mereka akan membuat Bu-beng Siauw-cut terkejut.
"Pendekar Gurun Neraka!" kata kakek itu, dengan senyum yang mengejutkan. Bu-beng Siauw-cut terkejut, tetapi tidak bertanya lagi. Mereka berdua akhirnya tiba di kaki gunung Ta-pie-san, dan Bu-beng Siauw-cut tak sabar untuk menemui Pendekar Gurun Neraka.
Di pagi hari yang sama, dua bocah memasuki hutan cemara di Ta-pie-san. Mereka adalah Sin Hong dan Bi Lan, dua kakak beradik yang tampaknya memiliki latar belakang yang baik. Mereka berjalan melalui hutan, dengan langkah yang ringan dan gesit. Siapakah mereka, dan apa yang mereka lakukan di Ta-pie-san?