Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 07

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 07

Mereka adalah putera-puteri Pendekar Gurun Neraka. Yang laki-laki dan istri pertamanya, Pek Hong, sedang yang perempuan adalah puteri mereka dan istri kedua, Ceng Bi, puteri pendekar besar Ciok-thouw Taihiap Souw Ki Beng, yang adalah ayah mertua Pendekar Gurun Neraka.

Dan seperti yang diketahui bersama dalam cerita "Pendekar Kepala Batu", dulu pendekar muda ini bersama dua orang istrinya tinggal bersama di Pegunungan Ta-pie-sin. Pek Hong telah melahirkan anak laki-lakinya sembilan tahun yang lalu, yang diberi nama Sin Hong atau Yap Sin Hong oleh Pendekar Gurun Neraka.

Sedang Ceng Bi yang melahirkan anak perempuan delapan tahun yang lalu kemudian memberi nama Bi Lan atau Yap Bi Lan pada anak mereka yang nomor dua itu. Baik Pek Hong maupun Ceng Bi tak ada perasaan saling cemburu dalam memiliki orang yang mereka cinta, yakni Pendekar Gurun Neraka, yang pada belasan tahun yang silam lebih dikenal sebagai Yap-goanswe, jenderal muda Yap yang gagah perkasa pada Kerajaan Yueh.

Tapi karena bekas jenderal muda ini telah mengundurkan diri dari jabatannya, maka dia lebih dikenal dengan nama barunya, julukan yang membuat dia tersohor, baik di dalam maupun di luar Tiong-goan. Dan pagi itu, apa yang akan dilakukan dua orang anak laki-laki dan perempuan ini? Bukan lain latihan. Latihan ilmu silat yang sudah diajarkan kepada mereka oleh sang ayah sejak mereka baru belajar merangkak!

Memang Pendekar Gurun Neraka keras sekali dalam mendidik putera-puterinya ini. Dia tak kenal siang maupun malam, dingin ataupun panas. Pokoknya, kalau waktu latihan sudah tiba saatnya, maka Sin Hong dan Bi Lan harus berlatih, biarpun saat itu hawa pegunungan masih dingin. Seperti saat itu, misalnya! Dan Sin Hong serta Bi Lan lama-lama akhirnya terbiasa juga.

Sikap ayah mereka yang keras dan amat berdisiplin dalam mendidik ilmu silat membuat mereka tak cengeng seperti anak-anak kebanyakan. Mereka sudah terbiasa untuk berlatih keras, melawan dingin dan panas di alam terbuka. Tapi ketika mereka baru memasuki hutan cemara, di mana mereka biasanya berlatih, tiba-tiba tiga buah bayangan muncul di depan mereka.

"Ha-ha, kalian siapa, tikus-tikus kecil?" Sin Hong dan Bi Lan terkejut. Mereka melihat dua wanita cantik muncul di situ, sementara orang ke tiga, yang merupakan seorang anak laki-laki yang usianya sepuluh tahunan, bicara congkak di depan mereka, membuat Sin Hong dan Bi Lan mengecutkan hati.

Bi Lan, sesuai dengan watak ibunya yang keras dan galak, sudah mendahului maju. Dia menudingkan jarinya dan membentak nyaring dengan suaranya yang merdu halus, "Bocah kurang ajar, kau siapakah dan mengapa datang-datang bertanya pada tuan rumah?" Anak laki-laki itu tertegun. Dia berseri memandang Bi Lan, tapi tersenyum menyeringai, "Aku Ceng Liong, adik manis. Kau siapakah dan mengapa ada di tempat wilayah ayahku ini?"

Bi Lan mengangkat keningnya, ia terkejut mendengar anak laki-laki bernama Ceng Liong itu menyebut daerah itu milik "ayahnya". Ayah lawan. Dan mengira anak itu tidak waras, Bi Lan pun membentak, "Bocah gila, siapa ayahmu itu, hingga berani benar kau datang-datang mengaku ini wilayah bapakmu?" Tidak tahukah kau bahwa ini adalah wilayah Pendekar Gurun Neraka?"

Ceng Liong tertawa. "Itulah, ayahku memang Pendekar Gurun Neraka, nona manis. Dan mengherankan sekali kau jalan-jalan di sini!" "Apa?" Bi Lan melotot. "Kau mengaku anak ayahku?" Tidak malu kau mengaku diri anak orang lain?" Bocah itu terkejut. "Apa maksudmu? Siapa itu ayahmu?" "Ayahku Pendekar Gurun Neraka, bocah sinting! Aku adalah puteri ayahku itu."

"Ah...!" Ceng Liong terbelalak. Tapi sebelum dia menjawab, tahu-tahu wanita cantik yang ada di sebelah kanannya berkelebat maju. Ia adalah Tok-sim Sian-li, ibu dari anak laki-laki ini. Dan mendengar anak perempuan itu adalah puteri Pendekar Gurun Neraka, tiba-tiba wanita cantik ini mendengus. "Bocah, kau siapakah dan siapa ibumu itu?"

Bi Lan mengedikkan kepala. "Aku adalah Bi Lan, puteri Pendekar Gurun Neraka. Ibuku adalah Ceng Bi, puteri Ciok-thouw Taihiap Souw Ki Beng. Kau siapakah dan anakmu kah dia ini?" Tok-sim Sian-li tertawa mengejek. "Ya, dia anakku. Aku adalah Tok-sim Sian-li yang datang ke sini untuk menyerahkan Ceng Liong pada ayahnya! Di mana bapakmu itu sekarang?"

Bi Lan terbelalak kaget. "Apa? Kau hendak menyerahkan bocah sinting ini pada ayah? Kau bilang dia anakmu?" "Ya, dia anakku, bocah cerewet. Dan juga anak bapakmu itu yang tidak bertanggung jawab. Mana sekarang ayahmu itu?" Bi Lan tertegun. Tapi Sin Hong yang sejak tadi tak membuka suara tiba-tiba melangkah maju.

Anak ini bersikap tenang, tapi sinar matanya yang tajam penuh selidik menggetarkan wanita cantik ini ketika dia mulai bicara, "Tok-sim Sian-li, kami sesungguhnya tak kenal kalian dan merasa heran sekali datang-datang kalian membuat ribut. Siapakah sebetulnya kau ini? Dari tidak tahukah bahwa Pendekar Gurun Neraka hanya mempunyai dua orang anak, yakni kami berdua?" Darimana anak laki-laki itu dan kenapa dia kausebut sebagai putera ayah?"

"Hm, kau siapakah, bocah?" "Aku Sin Hong, Tok-sim Sian-li. Kakak-adikku Bi Lan ini." "Hm, jadi putera ibumu Souw Ceng Bi itu?" "Bukan, ibuku adalah Pek Hong. Tapi kami tak ada masalah untuk menentukan siapa sebenarnya ibu kami!" "Apa?" Tok-sim Sian-li terkejut. "Ibumu adalah murid si keledai gundul dari Tibet itu?" Sin Hong menjadi tidak senang.

"Benar, Tok-sim Sian-li. Tapi tak perlu kiranya kau melontarkan kata-kata kasar begini!" "Hi-hik, aku mau bicara apa saja, apa pedulimu, bocah! Bukankah kalau begini ayahmu itu benar-benar seorang mata keranjang? Mendapat cinta seorang wanita saja tak becus, tiba-tiba sekarang beristeri dua! Cis, macam apa laki-laki seperti itu?" Sin Hong menjadi marah.

Tapi Bi Lan yang tak kuat menahan gusar tiba-tiba melejit ke depan, menampar mulut wanita itu. "Tok-sim Sian-li, kau iblis tak tahu malu. Mampuslah...!" Tok-sim Sian-li terkejut. Dia kaget melihat ginkang yang luar biasa ini, melejit secepat kijang disambar panah. Tapi wanita lihai yang mendengus ini tiba-tiba menggerakkan tangan kirinya, menangkis tamparan Bi Lan.

"Plak!" Dan Bi Lan mengeluh tertahan. Ia terpelanting roboh, mendesis sakit melihat lengannya kebiruan. Tapi Tok-sim Sian-li yang marah melihat anak perempuan itu berani menamparnya mendadak melompat maju. Dia tahu-tahu sudah mencengkeram pundak Bi Lan, menggaplok si anak.

Dan Bi Lan yang tak sempat mengelak tiba-tiba sudah menerima tiga tamparan di kedua pipinya, pulang balik. "Anak setan, berani kau bersikap kurang ajar pada orang tua! Nah, terimalah... plak-plak-plak!" Dan Bi Lan yang kontan digampar mulutnya tiba-tiba menjerit dan pecah bibirnya! Anak perempuan ini terkejut, juga marah sekali.

Tapi Sin Hong yang kaget melihat adiknya dihajar sekonyong-konyong menubruk ke depan, menotok pergelangan tangan wanita itu. "Tok-sim Sian-li, lepaskan adikku... plak!" Dan Tok-sim Sian-li yang terkejut menerima totokan ini mendadak melompat mundur dengan mata terbelalak.

Ia merasa tangannya lumpuh, gringgingen, ditotok jari si bocah yang halus lembut tapi mengandung getaran sinkang mujijat! Maka terkejut oleh serangan ini, tiba-tiba wanita itu menjadi beringas. "Ceng Liong, robohkan mereka dan ikat keduanya menjadi satu...!" Ceng Liong mengangguk. Dia menjadi girang disuruh maju, tapi Sin Hong dan Bi Lan yang bersiap-siap tentu saja tak mau mandah begitu saja dirobohkan lawan.

Mereka berdiri berdampingan, tapi Sin Hong yang melihat Ceng Liong maju sendirian sudah mendorong adiknya. "Lan-moi, hadapi bocah itu. Aku akan menjaga dan melindungimu dari yang lain!" Ceng Liong tertawa sombong. "Tak perlu, satu-satu, Sin Hong. Kau boleh maju sekalian untuk menghadapi aku. Ibu tidak akan membantuku dalam hal ini!" Sin Hong tak menjawab. Dia terang tak percaya kata-kata itu, dan Bi Lan yang marah melihat kesombongan anak laki-laki ini sudah melompat ke depan, memasang kuda-kuda.

"Bocah sinting, tak perlu kau pentang bacot. Hayo majulah dan hadapi aku. Hong-ko baru maju kalau aku kalah!" Ceng Liong bersinar mukanya. "Wah, kau benar-benar gagah, adik Bi Lan. Dan kau cantik sekali! Aku tak akan melukaimu kalau kau mau menyerah baik-baik!" Bi Lan marah. Ia memekik tinggi, dan begitu lawan menyeringai padanya, mendadak bocah ini telah melancarkan dua pukulan cepat ke dada dan muka Ceng Liong, berkelebat dengan kedua kakinya yang ringan itu.

Dan begitu dia menggerakkan kedua tangannya bertubi-tubi, mendadak kedua tangan anak perempuan ini telah berobah menjadi sepuluh banyaknya, hingga membuat Ceng Liong terkejut! "Ah, Cap-jiu-kun...!" Dan seruan itu memang benar. Ceng Liong telah mendengar dari ibunya bahwa Pendekar Gurun Neraka memiliki bermacam-macam ilmu silat, satu di antaranya adalah Cap-jiu-kun, Silat Sepuluh Kepalan yang membuat kedua tangan benar-benar berobah menjadi sepuluh buah banyaknya, saking cepat dan hebatnya ilmu silat ini.

Maka begitu melihat Bi Lan menyerangnya bertubi-tubi dengan ilmu silat itu, tiba-tiba Ceng Liong melompat mundur dan berjungkir balik, menendangkan kakinya. "Des-des!" Dua pasang tangan dan kaki tiba-tiba bertemu. Ceng Liong untuk pertama kalinya menangkis, tapi bocah yang tergetar dengan tubuh terhuyung itu mendadak menjadi marah.

Dia merasa kakinya ngilu, sakit bertemu tangan Bi Lan yang kecil ampuh. Dan begitu membentak sambil berteriak keras, tiba-tiba bocah ini mengeluarkan ilmu sifatnya yang ganas, warisan tunggal dari sang ibu yang bernama Tok-hiat-jiu, Pukulan Darah Beracun! "Ah, awas, Lan-moi! Hindari bentrokan tangannya yang beracun...!" Bi Lan tercekat. Dia mendengar sesuan kakaknya itu, karena Sin Hong yang memperhatikan pertempuran ini tiba-tiba melihat kedua lengan Ceng Liong merah bagai darah.

Dan kaget serta khawatir oleh bau amis yang memancar dari kedua lengan anak laki-laki itu, Sin Hong segera memberi peringatan pada adiknya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment