Chapter 08
Bi Lan sudah mengerti. Ia lebih dulu terkejut melihat lengan lawan yang berubah menjadi merah dan memancarkan bau amis. Ketika lawan menangkis kedua pukulannya yang bertubi-tubi, Bi Lan langsung merobah ilmu silatnya dengan cepat. Dia memainkan kedua kakinya, bertubi-tubi menyerang dan menendang, selalu mengarah bagian bawah tubuh lawan.
Tok-sim Sian-li yang terkejut melihat anak perempuan itu juga mahir ilmu silat yang banyak mengandalkan kecepatan gerak kaki ini tiba-tiba mendesis, "Tong-tee-kun (Silat Guncangkan Bumi)!" Dan itu kembali benar. Bi Lan memang telah memainkan ilmu silatnya ini, ilmu silat lain yang disebut Tong tee kun, Ilmu Silat Mengguncang Bumi.
Sin Hong yang tertegun mendengar wanita cantik itu mengenal setiap permainan adiknya jadi kaget di dalam hati. Tapi anak laki-laki ini bersikap tenang. Dia melihat Bi Lan dan Ceng Liong sudah saling sambar-menyambar, masing-masing bergerak cepat. Tapi Bi Lan yang lebih cepat ternyata dua kali berhasil menendang lutut lawan. Ceng Liong dua kali roboh, dan anak laki-laki yang marah serta penahan ini mendesak dengan pukulan-pukulan Tok-hiat-jiunya.
Tapi Bi Lan mematuhi pesan sang kakak. Ia tak mau beradu lengan, takut hawa beracun dari pukulan itu menjalar ke lengannya. Dan Bi Lan yang selalu menyerang bagian bawah lawan dengan tendangan-tendangan kakinya membuat Ceng Liong kalang-kabut. Ternyata dari pertempuran ini bahwa Bi Lan masih menang dibanding lawannya itu, kemenangan mutlak karena ilmu silatnya memang lebih hebat dan lebih bersih.
Dan Ceng Liong yang marah melihat dirinya semakin terdesak dan mundur ke belakang tanpa sempat membalas tiba-tiba mengeluarkan suara tinggi. Bocah ini menggereng, dan begitu satu saat kaki lawan kembali menghantam dadanya mendadak anak laki-laki ini membentak. "Bi Lan, kakimu berat, tak dapat menendang aku!" Bi Lan terkejut. Saat itu ia sedang menendang dada Ceng Liong, hampir menyentuh sasaran. Tapi begitu bentakan ini dikeluarkan dan pandang matanya bentrok dengan mata Ceng Liong tiba-tiba kakinya turun tak dapat diangkat, berat seperti yang dikotakan lawan!
Dan begitu Bi Lan terbelalak dengan muka kaget tahu-tahu kaki Ceng Liong ganti telah menyambar lututnya, menendang dari bawah. "Dess...!" Bi Lan terguling-guling. Ia kaget sekali kenapa kejadian demikian cepat berubah, dan Bi Lan yang terpekik oleh tendangan ini tiba-tiba sudah ditubruk Ceng Liong dengan pukulan Tok-hiat-jiunya. "Bi Lan, kau tak dapat mengalahkan aku. Robohlah...!" Bi Lan kaget bukan main. Ia terang tak mau menerima serangan itu, pukulan berbahaya yang mengeluarkan bau amis.
Maka menggulingkan tubuh Bi Lan sudah menjerit dan melompat bangun, jauh dari lawan. Tapi baru ia berdiri tahu-tahu Ceng Liong tertawa mengejarnya dan kembali membentak, mengeluarkan suaranya yang aneh itu, disertai pandangan tajam berpengaruh. "Bi Lan, kau tak dapat bergerak lagi. Tubuhmu kaku...!" Dan Bi Lan yang benar-benar terhenyak dengan tubuh kaku tiba-tiba tak dapat mengelak ketika jari Ceng Liong mencengkeram pundaknya. "Plak!" Bi Lan roboh pingsan, ia menerima tamparan Ceng Liong yang ganas dan jahat.
Dan Sin Hong yang terkejut oleh gebrak terakhir itu tiba-tiba sadar dan melengking tinggi "Ceng Liong, kau anak iblis...!" Ceng Liong memutar rubuh, menggetarkan udara. Tapi tersenyum menyeringai dia menyambut pukulan Sin Hong dengan mulut mengejek. "Plak-dess!" Ceng Liong berseru tertahan. Dia terpelanting roboh, dan pukulan Sin Hong yang membuat pundaknya luka terbakar menjadikan anak ini kaget bukan main.
"Ah, kau pandai mainkan pukulan Lui-kong Ciann-hoat (Pukulan Petir), Sin Hong?" Sin Hong tak menjiwab. Dia sudah marah sekali melihat adiknya roboh pingsan oleh pukulan pemuda ini. Maka menerjang ke depan dia pun bertubi-tubi melancarkan serangan ke arah lawan. Dan Ceng Liong terbelalak. Dia harus berteriak berkali-kali mendapat serangan Sin Hong yang jauh lebih hebat daripada adiknya dan lebih berbahaya.
Dan Ceng Liong yang melihat pukulan Sin Hong mengeluarkan deru angin lebih mantab dibanding Bi Lan tiba-tiba saja berseru keras ketika jari Sin Hong menampar lehernya, tak dapat dielak. "Plak!" Ceng Liong terguling-guling. Dia kaget dan marah menerima pukulan itu, yang membuat lehernya panas dan luka bakar! Dan Ceng Liong yang memekik pendek dengan penuh kemarahan itu tiba-tiba membalas. "Sin Hong, jangan sombong kau. Terimalah pukulanku..!" Dan Ceng Liong yang sudah menubruk ke depan menghantam dada Sin Hong dengan pukulan Tok-hiat-jiunya.
Dia mengira Sin Hong mengelak, tak berani menerima pukulan itu, sama seperti Bi Lan yang dicegah kakaknya. Tapi Sin Hong yang berapi-api matanya tiba-tiba menerima pukulan itu, menangkis sambil mengerahkan sinkangnya. "Plakk ..!" Dan Ceng Liong mencelat dua tombak! Anak laki-laki itu berteriak, kaget sekali. Dan Sin Hong yang sudah memburu ke depan tiba-tiba mengangkat kakinya menendang "Dess...!" Tak ampun lagi Ceng Liong terlempar bergulingan.
Anak laki-laki ini lompat bangun dengan cepat. Tapi ketika menendang dadanya lagi tiba-tiba dia mengeluarkan bentakannya yang aneh itu, suara yang penuh pengaruh dengan pandang mata tajam menusuk, "Sin Hong, kau tak dapat menendang aku. Kakimu berat diangkat!" Tapi Ceng Liong kaget setengah mati. Dia melihat Sin Hong tak terpengaruh bentakannya, lain dengan Bi Lan. Tanda sinkang pemuda ini jauh lebih kuat dibanding adiknya!
Dan belum dia mengelak kaget tahu-tahu kaki Sin Hong telah meluncur ke depan menendang dadanya, "Blek!!" Ceng Liong muntah darah. Dia langsung terpental, dan bocah yang terpekik dengan mata terbelalak itu tahu-tahu roboh terjungkal tak dapat bangun lagi. Tapi ketika Sin Hong hendak menyusulnya lagi dengan pukulan terakhir mendadak ibu sang anak berkelebat ke depan. "Bocah, jangan kurang ajar kau....tuk!" Dari jari Tok-sim Sian-li yang telah memapak tendangan Sin Hong membuat anak laki-laki ini mengeluh dan terguling di atas tanah.
Sin Hong terkejut, siap memaki. Tapi baru dia membuka mulut tahu-tahu tangan kiri Tok-sim Sian-li menampar lehernya, keras sekali. Dan begitu jari wanita ini mengepret dirinya tahu-tahu Sin Hong telah terguling roboh di atas tanah, pingsan! "Prat!" Sin Hong tidak ingat apa-apa lagi. Dia roboh di situ bersama adiknya. Dan Tok-Sim Sian-li yang sudah menendang tubuhnya memberikan anak laki-laki ini pada pembantunya. "A-cheng terima dia ...!" A-cheng menangkap. Dia terbelalak melihat putera-puteri Pendekar Gurun Neraka yang dapat mengalahkan Cheng Liong dalam pertandingan jujur.
Tapi baru dia menggerakkan tangannya menyambar tubuh anak laki-laki yang pingsan itu, sekonyong-konyong sebuah cambuk menjeletar di sampingnya. "Orang-orang hina, apa yang kalian lakukan terhadap anak-anakku?" Tok-sim Sian-li dan A-cheng terkejut. Mereka melihat sesosok bayangan berkelebat di dekat mereka, menotok dan menyambar tubuh Sin Hong yang hampir disentuh A-cheng.
Dan begitu A-cheng mundur ke belakang dengan muka kaget tahu-tahu di situ telah berdiri seorang wanita cantik yang sinar matanya keras! Itulah Ceng Bi, isteri kedua Pendekar Gurun Neraka yang galak tapi lihai, puteri sang pendekar besar Ciok-thouw Taihiap yang menjadi ketua Beng-san-pai. Dan Tok-sim Sian-li yang baru kali ini berhadapan muka dengan puteri Pendekar Kepala Batu itu tertegun, ia tak tahu siapa wanita ini, tapi mendengar wanita itu menyebut Sin Hong dan Bi Lan sebagai anak-anaknya segera ia dapat menduga bahwa wanita itu pasti Ceng Bi.
Maka ibu Ceng Liong ini tertawa mengejek. "Kau Souw Ceng Bi, setan betina?" Tok-sim Sian-li mendengus, karena untuk Pek Hong sudah ia kenal. Dan Ceng Bi yang bersinar matanya mendengar pertanyaan kasar itu ganti mendengus. "Ya, aku Ceng Bi. Siapakah kau, wanita iblis? Ada apa datang mengacau di tempat tinggal orang lain?" "Hi-hik, aku kekasih suamimu, setan betina. Aku datang ke sini untuk menyerahkan puteraku ini pada ayahnya!" Ceng Bi terbelalak. "Siapa kau? Dan kau gila mengaku-aku kekasih suami orang lain?"
"Ah, jangan sombong, setan she Souw. Aku benar kekasih suamimu itu, jauh sebelum kau merebutnya dari aku! Aku Tok-sim Sian-li. Wanita malang yang mendapat perlakuan tidak bertanggung jawab dari suamimu itu. Aku datang ke sini untuk menyerahkan anakku pada bapaknya!" Ceng Bi pucat dan kaget. "Kau Lie Lan murid Cheng-gan Sian-jin itu?" "Ya!" "Ah...."
Dan Ceng Bi yang melangkah mundur dengan muka kaget ini segera disambut ketawa mengejek wanita iblis itu. "Kau terkejut, setan betina! Aku datang memang untuk mempertemukan anakku ini dengan bapaknya! Di mana suamimu yang hidung belang itu?" Ceng Bi menggigil. Ia marah dan terkejut melihat murid Cheng-gan Sian-jin ini tiba-tiba datang, muncul setelah sepuluh tahun tidak ada kabar beritanya.
Dan melihat Tok-sim Sian-li datang mengganggu rumah tangganya tiba-tiba Ceng Bi naik darah. "Tok-sim Sian-li, kau wanita iblis berhati cabul! Siapa percaya anakmu itu anak suami-ku yang berhati mulia? Tidak malu kau melimpahkan dosa dan mencari kambing hitam untuk menanggung perbuatanmu yang hina?" "Hm. Tak perlu memaki, setan betina. Panggil saja suamimu itu dan kita dengar bersama, apakah betul dia tidak pernah menggauliku sepuluh tahun yang lalu!" "Keparat!" Ceng Bi tak tahan, dan marah serta gusar oleh sengatan kata-kata ini tiba-tiba Ceng Di mencabut pedang. "Tok-sim Sian-li, sebelum semuanya berlanjut cepat pergilah tinggalkan tempat ini! Kalau tidak aku tak segan-segan membunuhmu!" "Hi-hik, kau mau menutupi dosa suamimu, setan betina? Aku dalang dengan kenyataan segan benarnya. Anakku memang dari benih suamimu itu. Majulah aku tak takut ancamanmu...!" Dan Tok-sim Sian-li yang sudah mencabut bendera iblisnya tertawa mengejek dengan mata bersinar-sinar. Dia juga marah dan cemburu melihat isteri Pendekar Gurun Neraka ini. Seorang nyonya muda yang cantik dan menggairahkan, seorang wanita gagah yang patut benar menjadi pendamping bekas jenderal muda itu.