Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 09

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 09

Orang yang ia cintai mati-matian! Mendengar Ceng Bi mengancamnya dan akan membunuh, tiba-tiba Tok-sim Sian-li beringas dan marah. Kini Ceng Bi dan wanita iblis itu sudah saling berhadapan. Mereka sama-sama belum mengetahui kepandaian lawan. Tapi Ceng Bi yang maklum bahwa Tok-sim Sian-li adalah bekas murid Cheng-gan Sian-jin yang memiliki ilmu-ilmu sesat, tak berani bersikap enteng.

Sementara Lie Lan sendiri, yang tahu bahwa nyonya muda ini adalah puteri Pendekar Kepala Batu yang gagah perkasa, juga tak berani memandang rendah. Maka keduanya sudah saling melompat maju, dan begitu Ceng Bi melihat wanita ini menyambut tantangannya, tiba-tiba membentak. "Tok-sim Sian-li, jaga nyawamu...!" Dan isteri Pendekar Gurun Neraka ini mulai menyerang. Gerak pedangnya cepat menusuk, mendesing, meneleluarkan angin tajam.

Dan begitu pedang berkelebat ke depan, tahu-tahu leher, dada, dan perut lawan sudah disambar bertubi-tubi dengan kecepatan kilat. Tok-sim Sian-li terkejut, mundur setindak. Tapi begitu pedang masih mengejarnya, juga tahu-tahu dia membalik gagang benderanya, menangkis. "Trang...!" dan Tok-sim Sian-li terkejut. Ia terdorong mundur, merasa getaran sinkang menggempur kudakudanya.

Maka kaget dan marah oleh gebrakan pertama ini, tiba-tiba murid Cheng-gan Sian-jin itu melengking tinggi. "Souw Ceng Bi, jangan sombong, aku juga akan membunuhmu...!" dan wanita iblis yang tiba-tiba memutar benderanya itu melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah lawan. Ia mencecar dan menyodok, sepak terjangnya galak dan ganas. Dan Lie Lan yang sudah membarengi serangannya ini dengan pengerahan ginkangnya tiba-tiba berkelebat lenyap, berlindung di balik bendera.

Wanita itu mengeluarkan ginkangnya yang disebut Cui-beng Gin-kang, dan Ceng Bi yang terbelalak melihat lawan lenyap di balik gulungan kain bendera tiba-tiba juga berteriak melengking. Puteri Ciok-thouw Taihiap ini mengerahkan pula ginkangnya, memainkan pedang dalam jurus-jurus Cui-mo Kiamhoat. Maka begitu keduanya bergerak dan serang-menyerang, tiba-tiba saja masing-masing lenyap dalam gundukan sirar hitam dan putih.

Hitam dari kain bendera Tok-sim Sian-li, sedang putih dari kilatan pedang Ceng Bi yang menyambar naik turun dengan amat hebatnya. Dan pertandingan segera menjadi seru. Baik Lie Lan maupun Ceng Bi tak mau mengalah. Masing-masing sama bernafsu, ingin menang dan membunuh lawan. Tapi ketika pertandingan berjalan duapuluh lima jurus, ternyatalah di sini bahwa permainan pedang Ceng Bi lebih unggul dibanding ilmu silat lawannya.

Lie Lan terdesak, mundur-mundur, dan pucat mukanya. Dan ketika satu saat pedang Ceng Bi menyambar ulu hatinya, tiba-tiba bendera Lie Lan robek ketika menangkis, tertusuk pedang. "Bret!" Lie Lan benar-benar kaget. Ia menjerit kecil, membanting tubuh bergulingan ketika pedang masih mengejarnya. Dan ketika ia bangun berdiri dengan mata terbelalak, tahu-tahu tangan kirinya menampar ketika kembali Ceng Bi menyerangnya dengan pukulan sinkang.

"Plak...!" Lie Lan tergetar, ia sudah mengerahkan Tok-hiat-jiunya, pukulan Darah Beracun. Tapi Ceng Bi yang sama sekali tak terpengaruh oleh tangkisan lengan beracunnya ini membuat Lie Lan terpekik ketika kaki Ceng Bi tahu-tahu menendang pinggangnya. "Dess!" Lie Lan terlempar bergulingan. Ia menjerit kaget, pucat bukan main. Dan ketika Ceng Bi memburunya dengan bentakan tinggi, murid Cheng-gan Sian-jin itu berteriak, "Acheng, bantu aku...!" dan Lie Lan yang menggerakkan gagang bendaranya tahu-tahu menangkis dan menghamburkan lima jarum hitam ke muka Ceng Bi.

"Cet-cet-cet...!" Ceng Bi mendengus. Ia terpaksa menangkis serangan jarum gelap itu, membuat Lie Lan berkesempatan melompat bangun. Dan baru ia mementalkan semua jarum gelap itu, mendadak A-cheng yang ada di sebelah kirinya berkelebat maju. Pembantu Tok-sim Sian-li ini menyerang dengan sebatang pedang pendek, membantu majikannya agar lolos dari ancaman pedang di tangan Ceng Bi.

Maka begitu Ceng Bi membalik dan memutar pedangnya, segera dia menangkis pedang di tangan pelayan wanita itu. Tapi Tok-sim Sian-li sudah menerjang marah. Ia memekik nyaring ketika Ceng Bi menangkis pedang pembantunya, dan begitu dia memutar gagang bendera dan melakukan tamparan-tampiran keras dengan pukulan Tok-hiat-jiunya, segera Ceng Bi dikerubut secara berbareng. "Setan betina, kau akan mampus di tanganku...!" Ceng Bi terkejut. Ia mendapat tekanan berat sekarang, karena baik Lie Lan maupun pembantunya yang mengeroyok di kiri kanan membuat ruang geraknya berkurang.

Dan ketika Lie Lan melihat Ceng Bi kewalahan menerima serangan pedang dan bendera dari mereka berdua, tiba-tiba wanita cantik ini terkekeh dan mengeluarkan ilmu hitamnya, Sm-gan-ihun-to, ilmu perampas semangat melalui mata! "Hi-hik, kau tak dapat menahan serangan-serangan kami, Ceng Bi. Tenagamu lemah dan pedangmu berat. Hayo, lempar pedangmu itu dan menyerahlah... kau harus menyerah dan lemparkan pedangmu yang berat itu...!" Ceng Bi mengeluh. Ia pucat sekali, gemetar tangannya yang memegang pedang. Karena pedang yang dipegang tangannya itu tiba-tiba saja benar menjadi berat. Persis seperti apa yang dikata lawannya itu.

Tapi ketika ia membentak dan mengusir pengaruh aneh itu, tiba-tiba saja ia sadar dan marah bukan main. Pundak kanannya terlanjur robek tergores pedang, pedang di tangan A-cheng. Dan begitu bendera mengebut di mukanya diiringi kekeh si iblis wanita, mendadak Ceng Bi menjejakkan kakinya berjungkir balik di udara. "Tok-sim Sian-li, kau tak dapat mempengaruhi aku...!" Lie Lan tersentak. Ia melihat Ceng Bi benar-benar "lolos" dari pengaruh Sinhun-tonya. Lolos berkat bentakannya yang nyaring penuh getaran khikang.

Dan begitu lawan berjungkir balik dengan pedang diputar, mendadak A-cheng menjerit ketika lengannya disambar pedang. "Crat... aduh!" Lie Lan jadi semakin kaget. Ia melihat pembantunya terguling, dan sementara A-cheng mengeluh dengan muka pucat, tiba-tiba Ceng Bi sudah meluncur turun dengan ujung pedang menyambar dada kirinya, deras sekali. Dan Lie Lan yang terkejut oleh serangan dari udara ini serentak melengking sambil menggerakkan bendera dan tangan kirinya. "Plak-brett...!" Cepat sekali kejadian itu. Lie Lan tahu-tahu mendesis, patah gagang benderanya.

Dan Ceng Bi yang melihat lawan terhuyung dengan mata terbelalak tiba-tiba sudah meloncat sambil menikamkan pedangnya, menusuk perut wanita iblis ini. Dan Lie Lan yang kaget oleh serangan maut itu tiba-tiba menjerit ketika ujung pedang menyentuh kulit perutnya! Tapi dua buah bayangan tiba-tiba berkalebat. Seorang di antaranya menyentil sebutir kerikil hitam, membentur pedang Ceng Bi. Dan begitu bayangan ini muncul, terdengarlah seruannya yang nyaring berwibawa, "Bi-moi, tahan... tring!" dan pedang Ceng Bi yang mencelat dari tangan seketika jatuh berkerontung di atas tanah, sedikit menggores perut Tok-sim Sian-li yang hampir dicoblos binasa!

"Ah...!" Dan kini berdirilah seorang laki-laki gagah perkasa dengan seorang wanita cantik berbaju hijau di situ. Laki-laki ini ramping, tinggi besar dengan muka yang sedikit kemerahan. Sinar matanya tajam berkilat penuh wibawa, bagai mata seekor naga sakti. Dan Ceng Bi yang terbelalak melihat pedangnya gagal membunuh sawan tiba-tiba membanting kaki begitu melihat laki-laki ini datang. "Yap-koko, kenapa kau cegah aku? Siluman betina ini jahat, ia hampir membunuh Hong-ji dan Bi Lan!" Laki-laki gagah itu menarik napas. Dia ternyata Pendekar Gurun Neraka adanya, bekas jenderal muda yang menggemparkan dunia kang-ouw itu.

Dan melihat Ceng Bi membanting kaki dengan sikap marah, diapun melangkah maju, mengelus pundak isterinya ini, penuh sayang. "Bi-moi, kenapa kau harus membunuh seseorang? Bukankah kita harus belajar sabar dan tidak menuruti nafsu amarah?" "Hm, bagaimana sabar kalau ada orang datang hendak membunuh anak kita. Yap-koko? Aku tidak mau sabar, dan aku juga tidak bisa sabar." Lie Lan tertegun. Ia sekarang melihat betapa matang dan jauh lebih bijaksana laki-laki itu, orang yang dia cinta setengah mati namun gagal tak pernah mendapatkan kasih sayangnya.

Maka melihat bekas jenderal muda ini muncul menyelamatkannya dari pedang Ceng Bi yang ganas dan berbahaya, tiba-tiba murid Ceng-gan Sian-jin itu terisak. "Yap-koko, aku... aku datang untuk menyerahkan anakmu...!" Pendekar Gurun Neraka atau Yap Ru Kong ini terkejut. Dia mengangkat kening, sekejap saja. Tapi menarik napas, dia melepaskan pelukannya pada Ceng Bi. "Lie Lan, bocah mana yang kaumaksud itu? Anak laki-laki ini kah?" Lie Lan terisak, penuh harap dan cemasnya dia. "Koko, anak kita yang kuberi nama Ceng Liong itu...!" dan menarik lengan anaknya buru-buru, wanita ini menyuruh Ceng Liong berlutut.

"Liong-ji, dialah ayahmu. Hayo, beri hormat dan cium kakinya...!" Tapi Ceng Liong mengerutkan alis. Dia membuat empat pasang mata memandangnya bersinar dengan penuh galut. Dan anak laki-laki yang tidak segera menjatuhkan diri berlutut ini justeru memandang ibunya. "Tapi kenapa ayah beristerikan wanita lain, ibu? Bukankah kau bilang ayah seorang hidung belang? Mestikah aku berlutut pada laki-laki macam ini?" Hebat sekali kata-kata itu. Pendekar Gurun Neraka sendiri sampai tertegun, berobah mukanya.

Dan Lie Lan yang tidak menyangka puteranya bicara seperti itu tiba-tiba saja terkejut. "Liong-ji, kutampar mulutmu nanti! Hayo, berlutut dan beri hormat pada ayahmu...!" Ceng Liong tetap tegak. Dia mau menolak, tapi melihat mata ibunya bengis memandang, mendadak anak ini menjatuhkan diri berlutut, memberi hormat dengan terpaksa. Tapi belum dia bicara sesuatu, tiba-tiba Pendekar Gurun Neraka mendorongkan tangannya. "Ceng Liong, tak perlu kau berlutut. Aku bukan ayahmu..." Seruan itu bagai geledek di musim panas bagi Tok-sim Sian-li. Wanita iblis ini tersentak, kaget bukan main.

Dan Ceng Liong yang tiba-tiba sudah terangkat tubuhnya oleh dorongan Pendekar Gurun Neraka, mendadak mencelat terlempar ke arah ibunya!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment