Chapter 10
Lie Lan menangkap anaknya, menggigil memandang Pendekar Gurun Neraka itu. Tapi Bu Kong yang mengernyitkan kening mengangguk, bersikap dingin. "Ya, dia bukan anakku, Lie Lan. Bocah ini lain dari garis keturunanku," kata Bu Kong.
Lie Lan membantah, "Tapi... tapi... dulu itu, bukankah kita telah menjadi suami isteri, koko? Kau dan aku... kita di kamar itu...." Bu Kong memotong, "Hm, tak perlu diterangkan lagi, Lie Lan. Kau menjebakku untuk melakukan perbuatan terkutuk itu! Aku tidak tahu benar apakah selama itu kau tidak berhubungan dengan laki-laki lain. Tapi kalau benar kau melahirkan anak dari garis keturunanku, maka sinar matanya tidak akan seperti anak laki-laki yang kaubawa ini. Ini bukan anakku, dia bukan garis keturunanku!"
Lie Lan mulai histeris. "Tapi aku tidak berhubungan lagi dengan laki-laki lain semenjak malam itu, koko! Aku berani sumpah demi nenek moyangku!" Bu Kong menjawab, "Hm, sumpahmu dikotori nafsu pribadi, Lie Lan. Kau tersesat jauh dan tidak dapat dipercaya!" Lie Lan bertanya, "Jadi kau tidak mengakui Ceng Liong sebagai anakmu?" Bu Kong menjawab, "Tidak. Karena sinar mukanya sama sekali tidak membayangkan garis keturunanku!"
Lie Lan yang tiba-tiba tertawa beringas menjerit maju. "Pendekar Gurun Neraka, kau memang laki-laki jahanam! Terkutuk kan... mampus kau...!" dan Lie Lan yang melontarkan pikulan Tok niat jiunya tiba-tiba menghantam leher pendekar ini. Tapi Ceng Bi melompat maju. "Setan betina, jangan kurang ajar kau!" dan Ceng Bi yang siap menangkis pukulan ini sudah menggelarkan sinkang di lengannya untuk melindungi suaminya.
Namun Pendekar Gurun Neraka menangkap lengan isterinya, dan membentak perlahan dia berseru, "Bi moi, biarkan..!" dan pukulan Lie Lan yang menghantam lehernya tahu-tahu sudah diterima dengan penuh ketenangan oleh pendekar sakti ini. Lie Lan terpelanting roboh. Ia serasa menggempur sebuah leher baja, keras dan kuat bukan main.
Tapi memekik penasaran, Lie Lan sudah melompat bangun dan menyerang lagi, kali ini menusuk perut lawan dengan jari jarinya yang merah berbau anyir. "Pendekar Gurun Neraka, manusia laknat kau... cess!" dan Lie Lan yang kembali menjerit roboh terguling-guling ketika jarinya hampir patah ketika menusuk perut Pendekar Gurun Neraka yang seperti papan besi!
Lie Lan marah bukan main. Dan gusar serta terbelalak penuh kebencian tiba-tiba dia bangun kembali dan menyerang untuk ketiga kalinya, menendang selangkangan pendekar ini sambil menghambuikan sebelas jarum hitam, dua di antaranya menyambar mata! Dan Pendekar Gurun Neraka yang menarik napas panjang tiba-tiba mendahului maju menampar ke depan. "Lie Lan, pergilah. Aku tak ada waktu untuk main-main denganmu ..!" dan begitu pendekar ini menggerakkan kedua tangannya tiba-tiba Lie Lan menjerit ketika tubuhnya terlempar bergulingan sementara jarum-jarumnya runtuh semua dikebut angin pukulan pendekar itu!
Lie Lan yang terbanting di atas tanah menangis ketika pinggulnya menghantam sebuah batu besar yang membuat dia kesakitan dan menggigit bibir. Tapi sebetulnya bukan sakit di tubuh itu yang ia rasakan, melainkan sakit yang jauh lebih hebat di dalam hatinya. Dan Lie Lan yang maklum tiga kali pukulannya tak dapat membawa hasil untuk membunuh lawannya itu tiba-tiba bangun terhuyung dan tersedu-sedu, memandang penuh kebencian pada pendekar muda ini.
"Yap-koko, kau laki-laki keji... kau manusia tak berjantung! Ingatlah, semenjak hari ini aku akan mendidik Ceng Liong untuk membunuhmu. Aku tak akan sudah sebelum kau terbunuh... sumpah demi iblis!" dan Lie Lan yang tiba-tiba terkekeh di antara tangisnya mendadak menyambar tubuh anaknya dan meluncur turun gunung. "A-cheng, hayo pergi..!" dan A-cheng yang gentar serta pucat memandang semuanya itu tiba-tiba tak banyak bicara lagi dan mengikuti jejak majikannya, meluncur turun dengan penuh rasa takut.
Tapi Ceng Bi yang rupanya tak mau membiarkan musuh pergi mendadak berteriak mengejar. "Tok-sim Sian-li, tunggu. Aku ingin membunuhmu...!" Namun Pendekar Gurun Neraka tiba-tiba menyambar lengan isterinya. "Bi-moi, biarkan, kita tak perlu takut akan ancamannya!" "Tapi aku ingin membunuhnya, koko. Ia mengganggu Hong-ji dan Bi Lan. Lepaskan aku ...!" Ceng Bi meronta.
Namun pendekar ini mempererat cekatannya. "Tak perlu, Bi moi. Kautekanlah amarahmu itu dan dengarkan aku!" Tapi Ceng Bi meronta-ronta. Ia menjerit, bahkan terisak. Dan ketika Pendekar Gurun Neraka tetap mencekal lengannya tak mau membiarkan ia pergi mendadak nyonya muda ini menampar muka suaminya! "Yap-koko, kau mencintai wanita iblis itu. Kau sengaja melindunginya dari tanganku... plak-plak!" dan Pendekar Gurun Neraka yang terkejut serta bengap pipinya ini tiba-tiba melepaskan cekatannya dan tertegun memandang Ceng Bi.
"Apa... apa, Bi-moi..,?" "Kau mencintai wanita iblis itu, koko. Kau sengaja melindunginya jika aku ingin membunuh....!" dan Ceng Bi yang menjerit sambil membanting kakinya ini memandang penuh kemarahan pada sang suami, yang terhenyak oleh kata-kata-nya yang nyaring, melengking itu.
Tapi Pek Liong, wanita baju hijau yang semenjak tadi tak bersuara memandang semuanya itu tiba-tiba melompat maju dan "Bi-moi, apa yang kaulakukan ini? Kenapa kau menampar suami kita tercinta?" "Aku... aku, ah..!" Ceng Bi mengguguk. "Aku panas melihat wanita iblis itu, enci. Aku ingin membunuhnya tapi kecewa dihalangi Yap-koko...!" "Ah, tapi Yap-koko tentu punya alasan, Bi-moi. Dan tak sepatutnya kau menampir mukanya seperti itu. Bagaimanapun, dia adalah suami kita dan orang yang kita cinta..,.!" lalu memeluk Ceng Bi yang tersedu-sedu di dadanya Pek Hong berbisik "Bi-moi, hayo minta maaf. Tak boleh kita menyakitinya seperti itu. Kau mencintainya, bukan?"
Ceng Bi mengeluh. "Tapi aku kecewa sekali, enci. Aku sakit hati benar melihat Yap-koko membiarkan iblis wanita itu pergi!" "Hm, tapi itu bukan berarti Yap koko cinta padanya, Bi-moi Suami kita tentu melihat sesuatu yang tidak kita lihat. Kau terlampau cemburu, dibakar perasaan yang tidak pada tempatnya. Padahal kau tahu keteguhan jiwa suami kita. bukan" Kau tahu betapa dia tak roboh oleh godaan sembarang wanita cantik?" Ceng Bi tersedu-sedu.
"Nah, mari kuantar minta maaf, Bi-moi. Atau kalau tidak biarlah aku yang mewakili dirimu minta maaf pada suami kita!" dan Pek Hong yang sudah melepaskan dirinya dari pelukan Ceng Bi tiba-tiba memutar tubuh dan menghampiri suaminya yang terbelalak di tempat, memandang mereka dengan mata berkerut-kerut, jelas menindas kedukaan yang tiba-tiba datang menghimpit.
Dan Ceng Bi yang terbelalak melihat Pek Hong menghampiri suami mereka sekonyong-konyong menggigit bibir, la melihat muka suaminya yang berkerut-lerut itu, kedukaan besar yang tiba-tiba datang menghimpit. Dan melihat Pendekar Gurun Neraka tiba-tiba meneteskan dua titik air mata memandang penuh kesedihan kepadanya tiba-tiba Ceng Bi menjerit dan menubruk suaminya. "Yap-koko, maafkan aku...!" Bu Kong sesak dadanya. Dia hampir roboh ditubruk isterinya itu.
Ceng Bi yang tampak penuh sesal menyadari kekeliruannya itu. Dan Ceng Bi yang sudah tersedu-sedu memeluknya ketat dengan dada turun naik ini tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut mencium kaki suaminya! "Koko, maafkan aku...!" Bu Kong terkejut. Dia cepat mengingkat bangun isterinya ini yang menangis mengguguk di bawah kakinya.
Dan terharu serta tergetar oleh sikap Ceng Bi yang demikian tulus tiba-tiba pendekar ini mendekap kepala isterinya penuh rasa sayang yang besar. "Bi-moi, sudahlah... tak perlu minta maaf. Aku tak pernah marah padamu, bukan?" pendekar itu menjawab, lembut sekali sambil mencium kening sang isteri. Mesra.
Dan Ceng Bi yang semakin tersedu-sedu oleh sikap suaminya yang demikian penuh kebijaksanaan ini tiba-tiba tak tahan dan balas menciumi pipi suaminya yang bengap kecerahan. "Koko, kau maafkan aku, ya? Kau... pipimu itu... ah, kenapa aku menamparmu...?" "Hm karena kau dibakar cemburu, moi-moi. Karena kau panas melihat murid Cheng-gan Sian-jin itu datang mengganggu." "Dan kau diam saja tak mengelak ketika kutampar, koko?" "Hm, tamparan seorang isteri tak kalah nikmatnya dengan sebuah ciuman, Bi-moi. Aku tahu kenapa kau melakukan itu!" "Tapi..." "Sudahlah," Bu Kong tersenyum. "Bukankah sepuluh tahun yang lalu kau juga pernah menamparku, Bi-moi? Malah tiga kali banyaknya. Bukan dua! Dan itu semua kaulakukan karena cinta kasihmu kepadaku, bukan?" "Ooh...!" Ceng Bi mengeluh.
Dan terisak sambil masih menangis tiba-tiba nyonya muda ini menarik muka suaminya, mencium pipi yang bengap itu kembali dua kali lalu tiba-tiba mencium mulut suaminya sambil mengerang dan merintih! "Koko, maafkan aku...!" Pendekar Gurun Neraka memejamkan matanya. Dia merasa diayun ke sorga yang paling tinggi oleh ciuman isterinya ini, mabok dan hampir hanyut dalam kebahagiaan tak terkendali.
Tapi ketika Pek Hong batuk-batuk kecil dan melengos ke samping tiba-tiba Pendekar Gurun Neraka terkejut. "Moi-moi, Pek Hong ada di sini...!" Ceng Bi juga terkejut. Nyonya muda ini melepaskan ciumannya, tapi tertawa kecil tiba-tiba ia menyambar lengan encinya. "Enci Hong, hayo maju. Yap-koko bukan milikku seorang...!" dan Ceng Bi yang menarik lengan madunya itu sudah mempertemukan kedua lengan Pek Hong dengan suaminya.
Pek Hong tersenyum simpul, sedikit jengah tapi sinar matanya berseri penuh kebahagiaan. Dan ketika Ceng Bi meminta ia mencium Pendekar Gurun Neraka wanita ini menolak halus dan menginjak kaki Ceng Bi. "Bi-moi, sekarang bukan waktunya memadu kasih! Apa kau lupa Sin Hong dan Bi Lan tak sadarkan diri dipukul musuh?" Dan lagi yang bersalah bukan aku, tapi kau. Jadi sudah sepantasnya apabila kau mencium suami kita memohon maaf...!" Ceng Bi sadar. Dia dan Pendekar Gurun Neraka juga terkejut, sama-sama teringat nasib anak-anak mereka yang roboh pingsan.
Maka Ceng Bi yang sudah melompat mendekati Sin Hong segera mengangkat tubuh anak laki-laki itu, anak dari madunya. "Enci Hong, tolong kaubawa Bi Lan. Biar aku membawa Sin Hong ke dalam...!" Pek Hong mengangguk.