Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 100

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 100

"Bocah, kau tak dapat merobohkan aku!" Kun Houw terkejut.

Dia benar-benar terbelalak melihat tenaga sakti raksasa ini, yang demikian hebat dan membuat kulitnya tebal menahan pukulan *sinkang*.

Namun, Kun Houw yang sudah berseru keras menyambut terjangan lawannya itu tiba-tiba membentak dan menggerakkan kedua lengan seperti gerakan-gerakan pedang. Kali ini, Kun Houw menghadapi raksasa itu dengan gerakan-gerakan yang sama seperti ketika tadi dia melayani Ceng Liong; ilmu silat pedang, tapi tanpa menggunakan pedang.

Lengan Kun Houw yang mulai bersiutan dan mendesing bagai senjata tajam itu tiba-tiba berkeredap mengeluarkan cahaya putih, disusul uap panas yang menyelimuti kedua lengannya.

"Ah, *Sin-ciang Kiam-hoat* (Ilmu Pedang Tangan Sakti) yang hebat. Bagus!" Mu Ba tiba-tiba berteriak gembira, namun terkejut melihat gerakan Kun Houw yang mampu mencicil dan mendesing bagai senjata sungguhan.

Kun Houw tertawa mengejek mendengar pujian itu, lalu membalas dengan suara dari hidung, bangga namun tetap berhati-hati. "Tak perlu memuji, Mu Ba. Suhu telah berpesan padaku untuk tidak menggunakan pedang kalau kedua lenganku mampu!"

"Ha-ha, tapi kau tak dapat mengatasiku dengan *Sin-ciang Kiam-hoat* ini saja, bocah. Biarpun hebat, tapi kau tetap akan kudesak hingga mengeluarkan pedang!"

Kun Houw tak menjawab. Dia sudah diserbu tumbukan-tumbukan kepala lawan, juga kedua lengan Mu Ba yang selalu menyambar-nyambar dari segala jurusan, mirip lengan gurita yang bergerak mengepung dirinya. Kun Houw yang mulai berkelebatan menghindari serta membalas serangan itu tiba-tiba mendengar Mu Ba membentak dan menghentakkan kakinya.

Kun Houw mengerutkan kening melihat lawan melakukan perbuatan aneh. Sekonyong-konyong, Mu Ba berteriak dan sudah menangkap kedua pundaknya.

"Bocah, kau akan mampus!"

Kun Houw terkejut. Dia sudah dicengkeram pada kedua pundaknya; hebat dan sakit sekali. Maklum, jari-jari Mu Ba sebesar pisang ambon dan kuat bagai baja, penuh kekuatan *sinkang* yang dahsyat bukan main. Sementara Kun Houw terkejut oleh cengkeraman ini, tahu-tahu Mu Ba sudah menumbukkan kepalanya ke ujung hidung Kun Houw!

"Ah...!" Kun Houw tak mau menerima bahaya. Dia sudah melihat kehebatan kepala lawan, yang batoknya demikian keras hingga mampu menjebolkan tembok. Maka, dengan membentak dan mengerahkan *ginkang*-nya, tiba-tiba Kun Houw mengguncang tubuh. Gerakan ini mirip sikap anjing membersihkan bulu; menggebar seraya mengangkat lengan kanan ke atas, menghadapkan telapaknya untuk menangkis serudukan kepala lawan.

Begitu lengan kanan bertemu kepala Mu Ba hingga mengeluarkan suara keras, lengan kiri Kun Houw mengibas untuk membabat kedua tangan Mu Ba yang mencengkeram pundaknya.

"Plak-bruss!"

Mu Ba tertawa mengejek. Batok kepalanya diterima telapak Kun Houw, yang tentu saja mengerahkan *sinkang* untuk menahan sarudukan raksasa tersebut. Lengan kiri Kun Houw yang sudah menghantam kedua lengan lawan agar terlepas dan bersiap memutar pinggang untuk melompat ke belakang ternyata kaget ketika menyadari tak mampu menggeser lengan lawan. Mu Ba masih tetap dengan cengkeramannya yang kokoh, melekat bagai sebuah tanggem.

Sementara Kun Houw terkesiap karena lengan lawan tak dapat disingkirkan dari pundaknya, tiba-tiba kepala raksasa itu telah bergerak maju, mendorong telapak tangannya sendiri yang menahan batok kepala tersebut.

"Ahh...!" Kun Houw terkesiap. Dia terdorong mundur, dan sementara dia berseru kaget oleh dorongan yang semakin dahsyat, tiba-tiba Mu Ba tertawa bergelak menambah tenaganya.

"Ha-ha, kau akan mampus, bocah. Kau akan mampus kugencet kepala saktiku ini!"

Kun Houw terbelalak. Dia merasa dorongan kepala Mu Ba semakin bebal, terus mendorong telapaknya hingga mendekati dada. Maka, melengking dan melihat bahaya semakin besar, tiba-tiba Kun Houw mengempos semangat dan membanting kaki. Kun Houw mengerahkan ilmu yang dia dapat dari Bu-beng Sian-su, tenaga sakti yang disebut *Jing-liong Sinkang* (Tenaga Sakti Seribu Naga), ilmu menghimpun tenaga yang didapatnya pertama kali di Gua Malaikat dari Bu-beng Sian-su, kakek dewa yang luar biasa saktinya itu.

Begitu Kun Houw menggerakkan lengan kiri untuk membantu lengan kanannya menahan batok kepala lawan dengan *sinkang* yang didapat dari Bu-beng Sian-su itu, mendadak Mu Ba menjerit kaget ketika kepalanya tertumbuk.

"Plak!"

Mu Ba menggeram. Kepalanya tergetar, kakinya terhuyung dan mundur selangkah, kalah oleh hantaman *Jing-liong Sinkang* yang dilancarkan Kun Houw. Sementara Mu Ba terbelalak oleh kejadian yang membuat posisinya berubah itu, tiba-tiba kepalanya terasa dingin dimasuki uap putih yang mengebul dari lengan Kun Houw.

"Setan, apa ini, bocah?"

Kun Houw tak menjawab. Dia menambah kekuatannya, mendorong kepala Mu Ba yang tampak terkejut. Kaget karena kepalanya tiba-tiba menjadi beku! Kun Houw yang girang karena *Jing-liong Sinkang*-nya berhasil mengatasi kekuatan lawan, tiba-tiba mengalirkan tenaganya dengan dahsyat dan mendorong sepenuh tenaga.

Akibatnya, Mu Ba melotot gusar. Raksasa ini kaget karena tiba-tiba kekuatan yang luar biasa hebat mendorong kepalanya, menahan semua kekuatannya sendiri yang tadi berhasil mendesak lawan. Kemenangan yang sudah siap membuat dia menyeringai dan mengejek dengan muka gembira, kini berbalik. Kepalanya ditolak tenaga yang demikian dahsyat dan berhawa dingin. Tiba-tiba Mu Ba menjerit ketika telapak lawan menekan tulang dahinya.

"Kress!"

Mu Ba berkaok. Dia merasa tulang dahinya hancur, maka berteriak dan menarik kepala, lalu tiba-tiba raksasa tinggi besar itu menendang Kun Houw dengan lutut kanannya. Begitu Kun Houw terdorong mundur dan terbelalak memandangnya, tiba-tiba raksasa ini melempar tubuh bergulingan dan sudah mencabut senjatanya yang mengerikan: dua tengkorak kecil yang mengaung-ngaung mirip tangis bayi!

"Bocah, kau betul-betul hebat. *Sinkang*-mu luar biasa, tapi aku masih belum kalah!" Mu Ba berteriak, melompat bangun dan mendelik dengan muka gelap, kaget tapi juga marah karena dalam gebrakan terakhir tadi dia terdesak hingga keselamatan dirinya terancam. Nyaris binasa!

Mu Ba menggeram sambil memutar-mutar tengkorak bayinya, lalu tiba-tiba berteriak dan menerjang ke depan ketika melihat Kun Houw tersenyum mengejek.

"Siluman cilik, mampuslah!"

Kun Houw tertawa mengejek. Dia merasa girang bahwa dengan *Jing-liong Sinkang*-nya tadi dia dapat mendesak iblis tinggi besar ini, yang tentu saja membesarkan hatinya. Maka, melihat lawan mengeluarkan senjata dan kini menyambarkan dua tengkorak bayi itu ke leher dan lambung kirinya, tiba-tiba Kun Houw menggerakkan lengan untuk menangkis.

Inilah kesalahannya.

Kun Houw tak tahu bahwa tengkorak di tangan Mu Ba amat berbahaya, menyimpan jarum-jarum halus yang akan menghambur bila ditangkis. Begitu dia menangkis dan Mu Ba tertawa bergelak oleh ketidaktahuan lawannya, tiba-tiba saja tengkorak itu meledak dan menghamburkan puluhan jarum yang berbau amis saat menyentuh tangannya.

"Plak-crit-crit...!"

Kun Houw terkejut. Dia melihat puluhan sinar hitam menyambar dirinya, persis di saat tengkorak mengeluarkan ledakan nyaring. Kun Houw yang kaget bukan main oleh kecurangan senjata di tangan lawannya itu, tiba-tiba membentak keras dan membanting tubuh.

"Mu Ba, kau manusia curang!"

Namun, Kun Houw terlambat. Dia masih terkena beberapa jarum yang mengenai dirinya, satu bahkan di tengah kening. Kun Houw yang sudah melompat bangun dengan mata bersinar segera disambut ketawa bergelak oleh raksasa tinggi besar itu.

"Ha-ha, kau akan mampus, bocah. Jarum-jarumku itu mengandung racun!"

Tapi Kun Houw tertawa mengejek. Dia meniup ke atas, ke tengah-tengah keningnya. Ketika lawan tertawa dengan muka gembira karena mengira dia terkena jarum beracun itu, tiba-tiba saja jarum tersebut runtuh. Ketika Kun Houw menyentuh bajunya tiga kali, maka tiga jarum lain yang mengenai dirinya di bawah leher tiba-tiba juga runtuh saat disapu, hal yang membuat Mu Ba heran.

Namun, ketika raksasa ini mengamati dengan saksama, tiba-tiba tahulah dia apa yang terjadi. Kiranya, jarum-jarum yang mengenai tubuh Kun Houw tadi tidak menusuk, melainkan menempel saja, seolah melekat. Mu Ba yang terhenyak oleh kejadian ini seketika mengerti apa yang sesungguhnya terjadi; bukan lain adalah berkat *sinkang* pemuda itu yang sudah melindungi seluruh kulitnya hingga tak mampu ditembus. Kebal.

Mu Ba yang sadar oleh kegagalannya itu tiba-tiba menggeram dan mulai gentar. "Bocah, kau memang benar-benar luar biasa sekali!"

Namun, Kun Houw tak dapat tersenyum. Dia melihat Mu Ba membarengi seruannya itu dengan bentakan tinggi. Begitu lawan menggerakkan kaki, tiba-tiba raksasa ini kembali menerjang dengan tengkorak bayinya. Saat Mu Ba mulai memekik dan mengayun-ayun senjatanya untuk melampiaskan penasaran, tiba-tiba dua tengkorak ini menyambar dan mematuk-matuk muka Kun Houw dengan dahsyat!

Iblis tinggi besar ini telah melancarkan taktiknya dengan jitu. Dia tidak lagi menghujani bagian bawah tubuh Kun Houw, melainkan semata-mata bagian mukanya. Di mana kalau Kun Houw berani menangkis dan tengkorak akan meledak, tentu bagian muka pemuda itu akan menjadi sasaran, terutama kedua matanya yang tentu saja tidak dapat dilindungi kekebalan!

Kun Houw mengumpat oleh serangan ini dan terpaksa berlompatan ke sana kemari, tak berani menangkis. Cocok seperti yang diduga Mu Ba. Raksasa tinggi besar yang beringas dengan sepak terjangnya itu sudah memekik-mekik dengan suara girang. Kun Houw terdesak. Dia sekarang mundur-mundur, berlompatan menghindari senjata Mu Ba yang berbahaya. Maklum, dia tak berani menangkis karena takut jarum berhamburan mengancam mukanya, hal yang tentu saja terlalu berisiko.

Mu Ba yang gemas karena lawannya itu masih juga dapat berlompatan, tiba-tiba membentak dan memainkan *sinkun*-nya pula, membantu gerakan dua tengkoraknya di tangan kiri dan kanan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment