Chapter 101
Begitu raksasa itu merangsek lawan dengan tengkorak di tangan dan kepala yang menumbuk-numbuk bagai kerbau liar, tiba-tiba saja Kun Houw terjepit. Pemuda ini mulai kebingungan. Mau menangkis tidak berani, tapi jika tidak menangkis, desakan Mu Ba justru semakin hebat.
Maka, ketika posisi dirinya semakin terjepit dan Kun Houw tak dapat melompat lagi karena di belakangnya terhalang tembok ruangan, tiba-tiba Kun Houw melengking dan mengayunkan tubuhnya. Saat itu, dua tengkorak di tangan Mu Ba menyambar kepalanya, sementara Mu Ba sendiri sudah tertawa bergelak dengan kepala yang menumbuk, menyusul serangan dua tengkoraknya itu.
Begitu Kun Houw mendapat serangan bertubi-tubi yang amat dahsyat ini dan tengkorak tersebut mengeluarkan angin pukulan yang menderu, tiba-tiba Kun Houw sudah mencabut pedangnya, Pedang Medali Naga!
"Singg...!" Mu Ba terbelalak. Dia melihat sinar merah berkelebat; sinar dari Pedang Medali Naga yang dicabut dari sarungnya. Begitu pedang keluar disusul suara mendesing yang mendirikan bulu roma, tahu-tahu dua tengkorak bayi di tangan Mu Ba meledak pecah dan jarum-jarum hitam berhamburan keluar.
Namun, sesuatu yang luar biasa terjadi. Jarum-jarum hitam yang keluar dari batok tengkorak itu ternyata tidak menyerang Kun Houw seperti biasa. Begitu tengkorak meledak dan Pedang Medali Naga membabat pecah dua tengkorak tersebut, mendadak semua jarum yang berhamburan itu melayang naik dan hinggap di Pedang Medali Naga, terhisap oleh sinar merah yang mencorong di tubuh pedang.
Kemudian, sementara Mu Ba ternganga melihat kejadian ini, tiba-tiba Kun Houw mengibaskan pedangnya, menusuk leher lawan!
"Suhu, awas...!" Mu Ba membanting tubuh. Dia kaget bukan main oleh serangan itu. Ceng Liong yang berteriak memperingatkan gurunya tiba-tiba berkelebat menimpukkan tiga senjata rahasianya, masing-masing menuju kening, hidung, dan telinga.
Tapi Pedang Medali Naga yang membuat kejutan itu ternyata mengulang kehebatannya. Tiga jarum Ceng Liong yang dilepas ke arah Kun Houw mendadak melenceng arahnya, tersedot oleh sinar merah pedang yang ampuh ini. Begitu tiga jarum itu melekat di tubuh pedang dan Kun Houw mengibasnya runtuh ke muka, tiba-tiba saja tiga senjata rahasia itu berbalik dan menyerang Ceng Liong sendiri!
"Liong-ji, awas!" Mu Ba ganti berteriak memperingatkan muridnya. Tapi Ceng Liong yang kalah cepat ternyata masih terkena lengannya sebelah kiri. Pemuda ini menjerit, membanting diri, dan bergulingan. Ketika dia melompat bangun, ia melihat Kun Houw telah menyerang gurunya dengan serangan pedang yang gencar, bergulung-gulung naik-turun, membentuk kabut di tengah pegunungan yang dingin.
"Ilmu Pedang Bu-tiong Kiam-sut (Pedang Dalam Kabut)...!" Ceng Liong tertegun, terbelalak melihat gurunya berkaok-kaok di tengah gulungan pedang, terbungkus sinar merah yang kian dahsyat dan mengeluarkan suara bagai suling mengalun, namun kian lama kian menjadi-jadi. Ketika Kun Houw melakukan bentakan tinggi di antara gerakan pedangnya yang berubah menjadi asap bergulung-gulung itu, tiba-tiba terdengar teriakan Mu Ba yang disusul terlemparnya raksasa tinggi besar ini ke lantai ruangan kuil.
"Bret! Bluk...!" Mu Ba terguling-guling. Lehernya berdarah, terluka oleh pedang di tangan Kun Houw. Kun Houw yang tampak beringas memandang lawannya itu tiba-tiba berkelebat sambil berseru menyeramkan, "Mu Ba, terimalah kematianmu...!" Raksasa ini melotot. Dia ngeri sekali oleh sinar pedang merah yang menusuk lehernya dengan kecepatan kilat.
Namun, bukan tokoh sembarangan, Mu Ba berhasil mengelak, menggulingkan tubuh ke kanan, dan melompat bangun. Tapi ketika pedang Kun Houw kembali menyambar dan menikam pundaknya, tiba-tiba raksasa ini menjerit dan kembali terlempar roboh. "Liong-ji, bantu aku...!"
Ceng Liong pucat mukanya. Dia melihat sang guru bergulingan menghindari serangan maut, hal yang sama sekali tidak disangka! Tapi belum Ceng Liong bergerak membantu gurunya, tiba-tiba dua bayangan berkelebat masuk. Bayangan So-beng dan Kui Lin.
"Apa yang terjadi ini?" Ceng Liong tertegun. Dia melihat So-beng dan Kui Lin muncul, hal yang kembali di luar dugaannya. Sementara Ceng Liong terbelalak dan bengong memandang dua orang itu, tiba-tiba Kui Lin menjerit dan menubruk encinya yang pingsan di atas lantai. Ceng Liong gugup. Dia tak tahu apa yang harus dikatakannya.
Namun, otak yang keji dan cerdik dari pemuda ini tiba-tiba menumbuhkan akal busuk. Melihat gurunya terus didesak dan kembali terluka oleh goresan pedang di tangan Kun Houw, mendadak Ceng Liong berteriak dan menuding Kun Houw, "Dia menculik Kui Hoa, Paman! Iblis keparat itu membawa Kui Hoa ke sini dan hendak memperkosanya ketika kami pergoki...!"
So-beng kaget. "Siapa dia?"
"Kun Houw, bocah yang dulu bersama Bu-tiong-kiam Kun Seng itu!"
"Ah...!" So-beng yang terbelalak memandang pertempuran tiba-tiba bersinar matanya. Sedetik ada kilatan api di cahaya mata orang ini. Namun melihat Mu Ba terdesak hebat dan raksasa tinggi besar itu kembali berteriak ketika tergores pedang, sekonyong-konyong Iblis Penagih Jiwa ini berkelebat menampar.
"Bocah, kau sungguh tak tahu malu!" Kun Houw terkejut. Dia marah ketika Ceng Liong memutar balik kenyataan tadi, mengatakan dia hendak memperkosa gadis ini. Maka melihat lawan bertambah seorang sementara dia menghajar Mu Ba, tiba-tiba tamparan Iblis Penagih Jiwa itu mengenai punggungnya.
"Plak!" Kun Houw terpelanting. Dia tentu saja kaget dan gusar, bergulingan menjauh ketika melihat lawan kembali menampar lengannya, menghantam leher dengan pukulan sinkang. Maka melompat bangun dan berteriak memaki Ceng Liong, pemuda ini sudah menyambut tamparan So-beng yang menghantam lehernya.
"Ceng Liong, kau manusia hina. Kau... ah!" Kun Houw tak dapat melanjutkan seruannya. Pukulan So-beng tiba, maka menyambut dan mengerahkan sinkang, Kun Houw langsung menerima telapak lawannya itu yang mengeluarkan ledakan keras, membuat iblis berpakaian merah itu berseru tertahan ketika terhuyung setindak.
Mu Ba yang sementara itu sudah menyelamatkan diri dan berada di belakang Kun Houw tiba-tiba mendorongkan kedua lengannya sambil membumbui teriakan Ceng Liong, "Benar, dia hampir memperkosa keponakanmu, So-beng! Karena itu, kita bunuh saja jahanam cilik ini... des!"
Kun Houw yang terjengkang oleh kecurangan Mu Ba tiba-tiba mencelat membentur tembok. "Mu Ba, kau pemfitnah keji!"
Tapi raksasa tinggi besar ini tertawa bergelak. Dia sudah buas memandang Kun Houw yang saat itu terguling-guling oleh pukulan curangnya. Namun ketika Mu Ba menubruk dan pedang lawannya menyambut tubrukannya, tiba-tiba Mu Ba menjerit ketika lambungnya terkena goresan pedang. Kiranya, Kun Houw masih terlalu berbahaya meskipun bergulingan, mampu menyerang di balik gulingan tubuhnya.
Mu Ba yang tentu saja marah oleh serangan ini berteriak pada rekannya, "So-beng, tangkap pemuda setan ini. Bunuh dan serang dia!"
So-beng mengangguk. Dia terkejut bahwa Mu Ba yang sedemikian lihainya itu kalah oleh lawannya ini, lawan yang masih muda. Lawan yang menjadi murid Bu-tiong-kiam Kun Seng. Tapi maklum bahwa mendiang jago pedang itu memang hebat dan pernah mereka keroyok secara berempat namun masih dapat bertahan, tiba-tiba iblis ini melengking dan menggerakkan kedua lengannya berturut-turut. Dia menghantam pinggang Kun Houw, memukul dengan pukulan sinkang, langsung dan tidak sungkan-sungkan lagi untuk mengeroyok, menggencet Kun Houw dari depan sementara Mu Ba dari belakang.
Kun Houw yang tentu saja kaget oleh perbuatan dua orang iblis ini berseru keras dan menangkis dari depan dan belakang. "Des-dess!"
Kun Houw mengeluh. Dia terlalu berat ditekan. Maka ketika lawan kembali menyerangnya dan Mu Ba terbahak melihat Kun Houw terdorong, tiba-tiba pemuda ini membentak dan memutar pedangnya. "So-beng, Mu Ba, kalian iblis-iblis busuk!"
So-beng mendengus. Dia kagum dan heran Kun Houw mampu menyelamatkan dirinya. Tapi melihat pemuda itu lenyap dalam gulungan bayangan pedang yang mendesing naik-turun, Iblis Penagih Jiwa ini terkejut juga. Dia tak melihat lagi Kun Houw di situ, lenyap dalam gulungan pedangnya. Pedang bersinar merah. Terbelalak menyadari pedang di tangan lawannya adalah pedang yang luar biasa, mendadak iblis ini teringat.
"Pedang Medali Naga!" serunya kaget, baru tahu bahwa pedang di tangan Kun Houw adalah pedang yang dulu direbutnya bersama Mu Ba dan kawan-kawannya yang lain.
Mu Ba yang terbahak oleh seruannya itu menendangkan kakinya, membenarkan, "Benar, itu pedang yang dulu kita cari-cari, So-beng. Maka bunuh dan rampas pedang pemuda ini untuk kita!"
Tapi Kun Houw melengking nyaring. Dia sudah memainkan Bu-tong Kiam-sut yang hebat itu, warisan gurunya untuk menghadapi dua orang ini. Ketika Kun Houw mengerahkan pula tenaga saktinya, Jing-liong Sin-kang, untuk memperkuat tenaga, pemuda ini lenyap di balik cahaya pedang yang mendesir-desir. Dia tak dapat begitu saja diserang. Maklum, tubuhnya tak tampak dari luar.
Iblis Penagih Jiwa yang mengerutkan kening melihat sinar pedang di tangan pemuda itu melebar untuk "menggulung" mereka, tiba-tiba sudah menggerotokkan buku-buku jarinya. Lalu, begitu membentak dan mendorongkan kedua lengan ke depan, tiba-tiba dua sinar putih berkeredep menerobos cahaya merah dari pedang di tangan Kun Houw.
"Gin-kong-jiu (Pukulan Sinar Perak)...!" Kun Houw terbelalak. Dia tercekat oleh dua sinar putih yang meluncur menerobos gulungan pedangnya. Tapi ketika lawan terpental oleh Jing-liong Sin-kangnya yang semakin hebat memperkuat gerakan pedangnya, tiba-tiba Kun Houw besar hati. Dia terus memutar pedang, memainkan jurus demi jurus untuk menghadapi musuh-musuhnya yang tangguh ini; musuh yang dulu pernah mengeroyok gurunya di Bukit Pedang.