Chapter 102
Dan So-beng yang kaget membentur hawa pedang Kun Houw, yang mementalkan Gin-kong-jiu-nya, tiba-tiba memekik dan menjejakkan kakinya.
"Mu Ba, mainkan Sin-thouw-liong-kun-mu. Biar aku mencecarnya dengan Gin-kong-jiu!"
Mu Ba mengangguk. Dia sudah memainkan Sin-thouw-liong-kun-nya tanpa diperintah, menggereng, dan mencengkeram ke sana-sini. Dan So-beng yang tiba-tiba memekik dan memainkan kedua lengan maju mundur mendadak sudah mengulang kembali gerakan atau pukulan Gin-kong-jiu-nya, naik turun menyambar dengan sinar putih yang berkeredep menyilaukan mata. Sinar atau hawa pukulan itu berhawa dingin. Namun, Kun Houw yang diserang dari dua jurusan ternyata mampu bertahan dan belum terdesak.
"Hebat, bocah ini mirip gurunya, So-beng. Sebaiknya cabut saja senjatamu itu, tengkorakku pecah!" Mu Ba mulai gemas, menyerang dengan cengkeraman serta tumbukan kepalanya sambil berteriak pada rekannya, memberi saran agar lawan dapat dirobohkan.
Dan So-beng yang akhirnya terbelalak oleh pertahanan Kun Houw yang selalu mementalkan pukulan sinar peraknya tiba-tiba mengangguk dan mencabut senjatanya, cakar baja yang mengerikan itu.
"Baik, bocah ini berbahaya, Mu Ba. Sungguh malu kalau kita tak dapat mengalahkannya!"
Mu Ba girang. "Memang begitu, So-beng. Dan sekali dia roboh, maka pedang di tangannya itu harus segera kita rampas!"
Namun, Kun Houw yang tetap memutar pedang dengan gencar tertawa mengejek. Dia tidak takut dikeroyok dua karena mulai mendapat kepercayaan diri bahwa dia sanggup melawan dua musuhnya itu. Tetapi, ketika So-beng membentak dan memainkan cakar baja dengan suara mendengung, sinar hitam tiba-tiba berkelebat menyambar pedangnya. Kun Houw terkejut ketika dengan gerakan luar biasa, pedangnya sudah digaet.
"Crang!"
Kun Houw membetot. Dia terbelalak melihat pedangnya terjepit di sela-sela cakar baja lawan dan tertahan di udara. Sementara dia berkutat untuk menarik atau melepas pedang, mendadak tangan kiri Iblis Penagih Jiwa itu menyambar dengan aneh dan tahu-tahu mengenai dada kanannya.
"Plak!"
Kun Houw tidak merasa apa-apa. Dia tergetar sedikit, heran kenapa lawan melakukan pukulan yang tampaknya tidak bertenaga. Namun, ketika pedang berhasil dilepas dan Kun Houw melompat mundur, tiba-tiba pemuda ini menjadi kaget ketika merasa matanya menjadi kepyur atau melihat bayangan-bayangan keruh. Sementara dia tidak mengerti kenapa dirinya bisa begitu, tiba-tiba dada kanannya terasa panas dan tubuhnya gemetar bagai dibakar.
"Ah, pukulan keji!" Kun Houw tertegun, sadar bahwa dia terkena pukulan berbahaya.
Ketika dia melotot memandang Iblis Penagih Jiwa itu, laki-laki tersebut tertawa dingin dan mengejek, "Ya, kau terkena Tok-hwe-ji (Hawa Api Beracun), bocah. Ilmu pukulanku itu akan membuatmu mendidih dalam waktu 24 jam!"
Kun Houw berteriak. Dia marah sekali mendengar kata-kata itu, tapi ketika melompat dan menerjang lawannya, sekonyong-konyong dadanya menyentak. Ada rasa nyeri dan sakit yang hebat menyerang dirinya. Saat dia tertegun dan berhenti di tengah jalan, tiba-tiba Mu Ba menyerangnya dari belakang sambil tertawa bergelak.
"Bocah, mampuslah menyusul gurumu!"
Kun Houw berusaha mengelak. Dia terhuyung dan kakinya gemetar. Namun, karena kalah cepat akibat dadanya yang kembali menyerang dengan hebat, pukulan itu pun tak dapat dihindarkan dan telak menghantam punggungnya.
"Dess!"
Kun Houw mencelat. Dia terguling-guling membentur tembok. Ketika Mu Ba kembali menyerangnya dengan tawa menyeramkan, Kun Houw tidak dapat menghindar lagi dan menjadi bulan-bulanan raksasa ini. Ketika So-beng ikut melancarkan serangannya dan pukulan Tok-hwe-ji menyentuh lehernya, Kun Houw mengeluh dan tidak dapat membalas.
Namun, Kun Houw mampu melompat bangun. Dia sekarang diserang oleh dua lawannya yang melancarkan pukulan-pukulan berat. Ketika Kun Houw mulai limbung dan beberapa pukulan mendarat di tubuhnya hingga pemuda ini memuntahkan darah segar, dia menggigit bibir dan marah memandang lawannya, terutama Iblis Penagih Jiwa itu yang melukainya dengan pukulan Tok-hwe-ji—pukulan yang baru kali itu didengar namanya, tapi hebat bukan main dan membuat tubuhnya seolah dibakar.
Namun, Kun Houw yang tak kenal menyerah ini betul-betul hebat. Dia tetap mencekal Pedang Medali Naga erat-erat, meskipun jatuh bangun dan terlempar bergulingan oleh pukulan lawan. Mu Ba yang geram sekali oleh kekerasan hati pemuda ini tiba-tiba melancarkan pukulan ke pergelangan tangan pemuda itu.
"Bocah, lepaskan pedangmu!"
Kun Houw menggigit bibir. Dia terang tidak mau melepaskan pedangnya; pedang yang saat itu masih mampu melindungi dirinya. Tetapi ketika pukulan Mu Ba menghantam tangannya, Kun Houw mendesis dan terpelanting roboh. Tiba-tiba pedang itu tidak dapat dikuasai lagi dan mencelat dari pegangannya.
"Trang!"
Kun Houw terbelalak. Dia melihat pedangnya jatuh di lantai, pedang yang sudah disambut ketawa bergelak oleh Mu Ba dan yang sudah pula ditubruk raksasa itu untuk merampasnya. Namun, sebuah bayangan yang luar biasa cepat dari luar kuil mendadak berkelebat mendahului raksasa ini menyambar pedang tersebut.
"Mu Ba, pedang ini bukan milikmu!"
Mu Ba terkejut. Dia melihat seorang pemuda tinggi besar muncul di situ, berkelebat, dan lari keluar menyambar pedang. Pemuda yang tampan, gagah, dan tak dikenal. Mu Ba yang kaget bukan main langsung membentak, "Bocah, kau siapa?"
Namun, pemuda tinggi besar itu lenyap. Dia lari menghilang dengan ginkang yang hebat sekali. Namun, Mu Ba yang mengejar melihat lawannya itu melompati tembok rumah dan melayang turun di sebelah sana. Tetapi ketika Mu Ba mengejar sampai di sana, mendadak lawannya membalik dan kembali ke dalam kuil dengan memutar lewat belakang.
"Setan, kau siapa, bocah?"
Pemuda di depan tertawa mengejek. Dia mengejutkan Kun Houw dan orang-orang lain di dalam kuil yang kaget dan heran kenapa pemuda itu kembali. Namun, Kun Houw yang terbelalak memandang pemuda ini tiba-tiba terkejut bukan main ketika pemuda itu melempar pedang kepadanya.
"Saudara Kun Houw, terimalah. Pedang Medali Naga memang warisan gurumu!"
Sementara Kun Houw menjublak bengong, tiba-tiba pemuda tinggi besar yang gagah itu berbisik padanya dengan mengerahkan ilmu mengirim suara dari jauh, "Saudara Kun Houw, kau larilah ke selatan. Masuk ke sebuah gua di dalam hutan. Selamatkan dirimu, kau terluka. Aku hendak mengacau perhatian mereka!"
Sementara Kun Houw tertegun menerima pedangnya, pemuda tak dikenal itu menyerang Ceng Liong dan menyambar Kui Hoa yang masih pingsan.
"Ceng Liong, kau manusia busuk! Perbuatanmu sungguh tak tahu malu!"
Ceng Liong terkejut. Dia sendiri sedang tercengang oleh kejadian cepat di ruangan itu, kaget melihat pemuda gagah itu datang merampas pedang mendahului gurunya, sementara So-beng juga tertegun. Namun, Ceng Liong yang terbelalak melihat lawan menyerang dirinya tiba-tiba membentak dan menangkis.
"Siluman hina, kau siapa?"
Ceng Liong menggerakkan lengan. Dia sudah menangkis pukulan itu, tapi ketika dua lengan bertemu dan Ceng Liong terdorong tenaga yang luar biasa dahsyat, mendadak pemuda ini menjerit dan terpelanting roboh.
"Hei... blukk!"
Ceng Liong terguling-guling. Dia kaget dan memaki kalang-kabut. Namun, ketika melompat bangun dan melotot pada lawannya, ternyata pemuda tinggi besar yang gagah ini telah menyambar Kui Hoa dan melayang keluar.
"Saudara Kun Houw, kau larilah. Cepat!"
Semua orang menjadi kaget. Kui Lin sudah membentak dan mengejar bayangan pemuda itu. Sementara So-beng yang bingung memandang Pedang Medali Naga di tangan Kun Houw dan tampaknya siap menyerang, tiba-tiba berteriak pada Mu Ba yang baru masuk ke ruangan itu, "Mu Ba, kau bereskan murid Bu-tiong-kiam ini. Aku akan menyelamatkan keponakanku!"
So-beng yang lebih mendahulukan nasib Kui Hoa daripada pedang di tangan Kun Houw mendadak melesat dan mengejar pemuda tinggi besar itu, menyusul Kui Lin yang berteriak-teriak di depan. Mu Ba yang terbelalak ke depan sekonyong-konyong tertawa bergelak.
"Baik, aku akan membereskan lawanku ini, So-beng. Dia sudah terluka dan mungkin sebentar lagi akan mampus!"
Mu Ba yang sudah menyerang Kun Houw yang masih tertegun di tempatnya tiba-tiba menghantamkan pukulan dengan dahsyat.
"Dess!"
Kun Houw menangkis. Dia bermaksud tidak mau mundur. Namun, ketika tubuhnya mencelat dan tenaganya lemah tidak mampu menandingi kekuatan raksasa tinggi besar itu, tiba-tiba Kun Houw sadar bahwa dia harus menyelamatkan diri dulu. Apalagi ketika Ceng Liong juga ikut menyerang, sejenak bingung ingin mengejar pemuda tinggi besar yang gagah itu atau membantu gurunya. Namun, Ceng Liong yang tahu Kun Houw lebih berbahaya daripada pemuda kedua karena murid Bu-tong-kiam ini mengetahui rahasianya bahwa dia akan memperkosa Kui Hoa dan kelak tentu menjadi ancaman baginya jika membuka rahasia, maka Ceng Liong sudah memusatkan perhatiannya ke sini, menyerang dan membantu gurunya untuk membunuh Kun Houw—yang berarti juga menghilangkan jejak.
Namun, Kun Houw yang rupanya maklum akan keadaan dirinya yang berbahaya itu ternyata melompat.
"Mu Ba, lain kali saja kita bertemu!"
Kun Houw mengerahkan ginkangnya. Dia menjejakkan kaki keluar, hampir mengaduh karena dadanya tiba-tiba kembali sakit. Dia enggan tapi terpaksa melarikan diri dengan hati berat karena perbuatan itu sebenarnya bertentangan dengan kegagahan wataknya dan dianggap pengecut. Namun, Kun Houw yang tertarik hatinya untuk mengenal siapa pemuda tinggi besar yang menolongnya itu dan tidak mau mati sebelum berkenalan, tiba-tiba menguatkan diri dan menuruti nasihat itu. Dia berlari cepat menuju ke selatan sementara Mu Ba dan Ceng Liong mengejarnya di belakang, berteriak-teriak, bahkan memaki. Ceng Liong yang rupanya pandai memanaskan orang tiba-tiba mulai menghina, "Kun Houw, mana kegagahan yang selama ini kau punyai? Tidakkah kau dapat menjunjung tinggi nama besar gurumu? Atau kau sudah demikian ketakutan bertemu musuh tangguh?"
Kun Houw diam.