Chapter 103
Dia tak menggubris, meneruskan larinya memasuki hutan di depan yang kini sudah dekat dan siap menyelamatkan dirinya dari ancaman dua orang itu. Tapi Ceng Liong, yang tentu saja tak membiarkan Kun Houw melarikan diri dan hilang di hutan itu, sudah kembali menghina dengan suara keras, kini mulai menyebut-nyebut nama Bu-tiong-kiam Kun Seng.
"Kun Houw, mana warisan kegagahan dari mendiang gurumu itu? Ataukah Bu-tiong-kiam Kun Seng juga seorang pengecut yang kini mengajarkan muridnya bersikap pengecut pula kalau menghadapi bahaya? Ah, kalau begitu tak perlu kau memakai nama jago pedang itu, Kun Houw. Sebaiknya buang saja nama itu dan biarkan kau tetap sebagai Siauw-cut!"
Kun Houw mulai tak tahan. Dia mencoba menulikan telinga, sekarang benar-benar sudah sampai di mulut hutan yang gelap. Tapi makian Ceng Liong yang kian lama kian kurang ajar dan menyebut-nyebut gurunya sebagai pengecut dan tak pantas pula untuk hidup di alam baka segala, mendadak membuat Kun Houw menghentikan larinya dan memutar tubuh. Sambil menggigil penuh kemarahan, ia membentak, "Ceng Liong, kau manusia keji. Tutup mulutmu...!"
Kun Houw langsung menggerakkan pedang membabat pemuda itu. Serangannya disambut teriakan Ceng Liong yang terkejut tapi girang. Terkejut karena serangan Kun Houw berkelebat menyambar lehernya, tapi girang bahwa pancingannya untuk memanaskan pemuda itu berhasil. Kun Houw berhenti!
"Sing-brett!" Ceng Liong cepat membanting tubuhnya. Dia melihat Kun Houw masih hebat dan berbahaya dengan pedangnya yang ganas itu. Tapi Ceng Liong, yang sudah tertawa dan melompat mundur, diganti gurunya yang saat itu sudah tiba pula di situ dan tertawa bergelak.
"Kun Houw, kau harus menyerahkan Pedang Medali Naga. Menyerahlah!" Kun Houw melengking. Dia dihantam raksasa tinggi besar ini yang menyuruh muridnya mundur karena Ceng Liong dikhawatirkan tak mampu menghadapi Kun Houw, meskipun Kun Houw terluka. Dan Mu Ba, yang sudah menyerang Kun Houw dengan dorongan Sinkangnya, terbahak gembira ketika melihat Kun Houw terdorong oleh hawa pukulannya.
"Plak!" Kun Houw terguling-guling. Dia kalah kuat oleh pukulan lawan, terlempar, dan mengeluh karena dadanya semakin sakit, juga sesak. Tapi Kun Houw yang mencoba menahan diri dengan putaran pedangnya sudah menerjang iblis tinggi besar ini. Untuk beberapa saat, Mu Ba didesak dan berlompatan mundur karena takut disentuh pedang. Namun, setelah Kun Houw menggigit bibir dan berkali-kali pemuda ini mendekap dadanya yang sakit dan nyeri mendadak, Mu Ba berseru, "Bocah, menyerahlah. Serahkan Pedang Medali Naga... wuut!"
Pukulan Mu Ba menyambar. Kun Houw mencoba mengelak, tapi karena tubuhnya sudah kian memburuk dan kakinya menggigil tak karuan, akhirnya Kun Houw terkena pukulan dahsyat ini dan roboh terpelanting.
"Huah!" Kun Houw muntah darah. Dia terguling-guling, keadaan dirinya semakin membahayakan. Tapi Pedang Medali Naga yang dicekal erat di tangan pemuda ini ternyata sama sekali tak pernah dilepaskan, meskipun jari-jarinya sudah gemetar. Dan Kun Houw yang mencoba bangkit untuk melawan kembali, tiba-tiba mengeluh ketika ambruk dan tak dapat berdiri.
"Ha-ha, kau sudah tak berdaya, bocah. Kau siap menerima kematian?"
Kun Houw membelalakkan mata. Dia melihat raksasa tinggi besar itu berkelebat maju, lima jarinya mencengkeram kepala. Siap mencengkeram remuk. Dan Kun Houw, yang maklum kematian sudah membayang di depan matanya, tiba-tiba kecewa sekali akan kegagalan usahanya. Ia mendelik pada raksasa tinggi besar itu untuk menerima kematian secara gagah. Sama sekali tak takut.
Tapi persis pukulan menyambar ke depan, mendadak seorang kakek bongkok muncul menangkis serangan ini. Kedatangannya mengejutkan. "Mu Ba, nanti dulu. Nyawa bocah itu masih panjang... dukk!"
Mu Ba yang tergetar oleh tangkisan ini tiba-tiba berseru kaget dan melotot marah, melihat munculnya seorang kakek yang terkekeh kepadanya, melindungi Kun Houw yang saat itu mengeluh dan terguling pingsan karena hawa pukulan Mu Ba masih menyerempet lehernya, membuat pemuda ini tak tahu lagi akan apa yang terjadi.
Dan Mu Ba yang melotot melihat pendatang baru itu tiba-tiba terkejut bukan main. "Naga Bongkok...!"
Kakek itu terkekeh. "Kau masih mengenalku, Mu Ba?"
Raksasa ini menggerung. Dia tertegun sejenak, tapi berteriak keras. Tiba-tiba Mu Ba membalikkan tubuhnya dan melompat pergi. "Naga Bongkok, kau manusia jahanam. Biarlah kuserahkan pemuda itu kepadamu!"
Mu Ba yang kabur meninggalkan tempat itu berteriak pada muridnya, "Liong-ji, mari pergi. Musuh terlalu kuat...!"
Ceng Liong terkejut. Dia heran dan kaget melihat gurunya kabur, tapi penasaran dan ingin mencoba-coba. Ceng Liong tiba-tiba melancarkan pukulan Tok-hiat-jiu ke punggung kakek ini. Tentu saja secara diam-diam. Tapi ketika kakek itu tertawa dan mengibas ke belakang, mendadak tubuh Ceng Liong terangkat dan terlempar sepuluh tombak.
"Bocah, ikuti gurumu. Aku tak ada waktu untuk main-main denganmu... bress!"
Ceng Liong yang menjerit oleh kenyataan ini tiba-tiba kaget dan terbanting keras. Dia sekarang percaya kenapa gurunya nomor satu itu pergi; kiranya kakek yang bernama Naga Bongkok ini memang hebat. Maka Ceng Liong yang melompat bangun dengan muka pucat segera menjejakkan kaki melarikan diri, berkaok-kaok memaki kakek itu, "Tua bangka, aku mengalah hari ini. Tapi awas kalau kita bertemu kembali!"
Naga Bongkok tersenyum. Dia geli mendengar ancaman itu. Tapi melihat Kun Houw menggeletak pingsan, kakek ini mengerutkan alisnya. "Bocah yang hebat. Sungguh patut menjadi murid Bu-tiong-kiam Kun Seng!"
Naga Bongkok yang sudah menyambar Kun Houw lalu berkelebat pergi setelah mendecah melihat keadaan Kun Houw yang gawat, menggerakkan kaki dan lenyap meninggalkan tempat itu memasuki hutan.
"Bagaimana, Suhu? Kau dapat menolong pemuda itu?"
Naga Bongkok menghela napas. Pertanyaan yang diajukan oleh sebuah bayangan tinggi besar yang baru datang ini disambut muka murung oleh kakek ini, yang memandang bayangan itu, yang bukan lain adalah pemuda tinggi besar yang menolong Kun Houw di kuil rusak.
Kakek bongkok yang bangkit berdiri ini menggelengkan kepalanya. "Keadaannya berat, Hong-ji. Pemuda ini mengalami pukulan beracun yang tak kupunyai obat penawarnya. Kau berhasil membawa keponakan Iblis Penagih Jiwa itu?"
"Ya, kuletakkan di luar, Suhu. Tapi Iblis Penagih Jiwa itu hampir saja mengetahui jejakku. Aku menyembunyikannya di sudut gua!"
"Hm, ambil kemari, Hong-ji. Kita paksa gadis itu untuk menolong murid Bu-tiong-kiam ini."
Pemuda tinggi besar itu mengangguk. Dia berkelebat keluar, kembali lagi dengan Kui Hoa di atas pundaknya, gadis yang sudah sadar tapi ditotok urat gagunya. Pemuda tinggi besar yang melempar Kui Hoa di atas lantai dengan gemas berkata pada gurunya, "Ini keponakan iblis bertangan keji itu, Suhu. Apa yang hendak kita lakukan kepadanya?"
Naga Bongkok memandang. "Bebaskan dia, Hong-ji. Tak perlu menotoknya lagi setelah kita ada di sini."
"Baik."
Pemuda tinggi besar yang sudah membebaskan totokan Kui Hoa langsung membuat gadis ini melompat bangun dan berteriak memaki pemuda itu, "Setan busuk, apa yang kaulakukan kepada diriku?"
Kui Hoa menyerang, menggerakkan lengannya menampar pemuda ini. Pemuda itu, yang tentu saja terbelalak marah, langsung menangkis. "Siluman betina, kenapa kau menyerangku?"
Begitu dua lengan bertemu, Kui Hoa berteriak kaget ketika lengannya terpental dan tubuhnya terbanting roboh. Tapi ketika Kui Hoa hendak menyerang kembali, kakek bongkok yang ada di sebelahnya mengebutkan lengan. "Nona, tunggu dulu. Kami bukan musuh!"
Kui Hoa mendelikkan matanya. "Kalau bukan musuh, kenapa kalian membawaku ke sini, bongkok jahanam? Siapa kalian?"
Kakek itu tertawa. "Aku Naga Bongkok, Nona. Sedangkan dia ini adalah muridku, Sin Hong."
"Dan kenapa muridmu membawaku kemari? Kenapa dia menculikku dengan cara hina?"
"Hm, cara hina bagaimana, Nona? Aku membawamu kemari terang-terangan diketahui adik dan pamanmu. Dengan cara jantan! Siapa bilang hina?" Pemuda tinggi besar yang bukan lain adalah Sin Hong itu membentak, marah dan melotot pada Kui Hoa yang dianggap kelewatan.
Tapi Kui Hoa, yang juga marah karena mengira pemuda ini yang menculiknya dari kamar, ikut pula membentak dengan mencibirkan mulut, "Cih, cara jantan bagaimana? Bukankah kau melepas penyirepan di dalam kamarku? Apakah cara licik begini bisa disebut jantan?"
Sin Hong terbelalak. "Penyirepan? Siapa yang menyirepmu?"
"Tentu kau! Siapa lagi? Atau kau mau mungkir? Ah, dasar penjahat...!"
Kui Hoa yang berteriak marah mendadak kembali menerjang lawannya dengan mata berapi. Tentu saja Sin Hong tersinggung dan mengira gadis ini melepas omongan kurang ajar, ia pun mengelak ke kiri dan menangkis.
"Plak!"
Kui Hoa kembali terhuyung, kaget bahwa untuk kedua kalinya lagi-lagi dia terdorong. Tapi belum dia menyerang kembali, tiba-tiba Naga Bongkok berseru melerai, "Nona, tahan. Sin Hong, tahan! Ini kesalahpahaman belaka!"
Kakek bongkok yang kembali mengebutkan dua lengan bajunya itu mendadak membuat dua orang muda-mudi itu terdorong mundur. Lalu, tak memberi kesempatan Kui Hoa menyerang Sin Hong, Naga Bongkok sudah bertanya, "Sekarang ceritakan kepada kami mengapa kau ada di kuil rusak itu, Nona. Dan kalau kau mau menceritakan dengan jujur, tentu kau akan melihat bahwa kami bukan musuh."
Kui Hoa terbelalak. "Di kuil rusak?"
"Ya, kau di kuil rusak, Nona. Muridku membawamu dari sana. Di sana banyak orang, di antaranya adalah Mu Ba dan Iblis Penagih Jiwa yang katanya masih pamanmu itu!"
"Ooh, jadi...."
"Kau pingsan di sana, Nona. Jadi kau tak tahu apa-apa ketika kau di sana. Sebaiknya ceritakan saja bagaimana asal mulanya."
Kui Hoa mulai tertegun. "Aku berada di kamar ketika kejadian ini mulai, Naga Bongkok."