Chapter 104
"Dan aku terkejut ketika melihat muridmu ini masuk!"
"Hm, bagaimana kau bisa menuduh aku?" Sin Hong mendongkol.
"Kenapa tak kau buka matamu baik-baik?"
"Karena kau laki-laki itu, pemuda setan! Kaulah laki-laki tinggi besar yang menyerangku di kamar itu!"
"Keparat, kau masih menuduhku juga?" Naga Bongkok buru-buru menyingsingkan lengan.
"Nona, jangan menuduh sembarangan. Muridku tidak ada di kamarmu seperti yang kautuduhkan. Kau keliru melihat orang!" Lalu, menegur muridnya, kakek ini berkata, "Sin Hong, tahan dulu kemarahanmu. Kita harus melihat persoalan dengan jelas." Kemudian, memandang Kui Hoa lagi, kakek ini memberi tanda, "Nah, teruskan ceritamu, Nona. Tapi ketahuilah, bukan muridku yang masuk ke kamarmu meskipun sama-sama tinggi besar. Tentu orang lain!"
Kui Hoa ragu. "Kalau begitu, siapa? Bukankah..."
"Hm, mungkin Sin-thouw-liong Mu Ba, Nona. Bukankah raksasa itu juga tinggi besar? Tapi sebaiknya kauceritakan saja lanjutan ceritamu."
Maka, Kui Hoa yang mulai terbelalak melanjutkan ceritanya, "Aku dan adikku saat itu diserang orang. Kami berada di dalam kamar. Dan karena sebelumnya kami sudah terkena sirep, maka kami hanya mengetahui bahwa orang itu adalah laki-laki tinggi besar. Persis seperti muridmu ini!"
"Hm, tapi bukan muridku yang masuk, Nona. Sin Hong tak kenal-mengenal denganmu. Untuk apa mengganggumu?"
"Jadi siapa kalau begitu?"
"Mungkin Mu Ba."
"Tapi Mu Ba adalah tamu kehormatan ayahku, Naga Bongkok. Untuk apa menggangguku pula di tengah malam?" Kui Hoa menangkis, masih kurang percaya dan memandang Sin Hong penuh selidik.
Sin Hong yang tentu saja marah oleh pandangan ini tiba-tiba membentak dengan gusar, "Siluman betina, kami bukan orang-orang pengecut yang akan mengingkari perbuatan sendiri kalau benar kami lakukan. Untuk apa menolak tuduhan kalau itu benar kami lakukan? Aku, Sin Hong, bukan manusia hina. Aku cukup gagah untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku sendiri!"
"Huh, siapa percaya omonganmu? Siapa bisa menjamin?"
"Aku yang menjamin, Nona. Kau boleh tanya ayahmu kalau kau belum pernah mendengar nama Naga Bongkok!" Naga Bongkok tiba-tiba berseru, menekan pundak Sin Hong yang rupanya siap menampar gadis ini.
Tapi Kui Hoa yang belum mengenal kakek itu mendengus, "Aku tak pernah mendengar namamu, Kakek Bongkok. Karena itu tak perlu pula bertanya pada Ayah. Dan lagi, sebagai guru, tentu saja kau membela muridmu!"
"Hm, kalau begitu nama Pendekar Gurun Neraka boleh menjadi jaminan pemuda ini, Nona. Karena muridku itu adalah putra Pendekar Gurun Neraka!"
Kui Hoa terkejut. Sin Hong juga terkejut. Memprotes gurunya, pemuda itu berseru, "Tak perlu nama Ayah kausebut-sebut untuk membuat gadis ini percaya, Suhu. Dia percaya itu baik, tapi tidak percaya juga tidak apa-apa. Aku tak perlu menebeng nama orang lain untuk setiap perbuatanku!"
Kui Hoa terbelalak, merasa kegagahan dari pemuda tinggi besar ini. Tapi mengerutkan kening, ia masih mencoba memperoleh keyakinan, "Jadi kau benar putra Pendekar Gurun Neraka?"
"Hm, aku tak perlu mengaku-aku, siluman betina. Aku memang Yap Sin Hong, putra ayahku itu!"
Kui Hoa yang tentu saja tertegun seketika bersinar matanya dan tampak kaget. Namun, Naga Bongkok berseru, "Bagaimana, Nona? Kau percaya kegagahan muridku?"
Kui Hoa membalikkan tubuh. "Percaya atau tidak percaya, tak perlu itu kusebutkan, Naga Bongkok. Karena betapapun juga Pendekar Gurun Neraka adalah musuh ayahku. Jadi, putranya ini pun juga adalah musuhku!"
Kui Hoa melompat mundur dengan mata berapi, tiba-tiba memasang kuda-kuda. "Sin Hong, majulah. Aku ingin bertanding denganmu!"
Sin Hong terkejut, tapi Naga Bongkok yang terkekeh tenang mengangkat lengannya. "Nona, kami membawamu ke sini bukan untuk bertempur, tapi semata-mata untuk menolong pemuda ini. Tidak kaulihatkah dia terkena pukulan keji?"
Naga Bongkok menuding Kun Houw, yang saat itu baru dilihat Kui Hoa hingga ia menjadi heran. Kui Hoa mengerutkan kening dan bertanya dingin, "Apa yang kaumaksudkan, Naga Bongkok? Siapa pemuda itu? Dan apa hubungannya denganku?"
Sin Hong kali ini tampil bicara, "Dia yang mula-mula menolongmu, Nona. Kau saat itu akan diperkosa Ceng Liong!"
"Apa? Ceng... Ceng Liong?"
"Ya, begitu kudengar sepintas lalu, Nona. Tapi bagaimana duduk perkara sebenarnya, aku kurang mengerti!"
Kui Hoa tiba-tiba pucat. Kakinya menggigil, karena mendengar disebutnya nama Ceng Liong, tiba-tiba darahnya tersirap. Ia mulai mengerti apa yang kiranya terjadi, mulai dapat menyimpul-nyimpulkan apa yang sebenarnya ia alami, dan mulai percaya pula bahwa Mu Ba ada hubungannya dengan semuanya ini.
Kaget serta tertegun bahwa Ceng Liong ingin memperkosanya dan ia ditolong oleh pemuda yang menggeletak pingsan itu, tiba-tiba Kui Hoa berbisik lirih, "Siapa dia?"
"Kun Houw."
"Murid siapa?"
"Hm, perlukah itu kauketahui, Nona? Apakah hendak memantapkan pula dia musuh atau bukan dan menentukan sikap seperti terhadap muridku ini?" Naga Bongkok tiba-tiba menukas, membuat Kui Hoa merah karena jengah dan malu.
Naga Bongkok tertawa pendek, tiba-tiba menuding Kun Houw, dan bicara sungguh-sungguh, "Kau lihat, dia terluka gara-gara ingin menyelamatkanmu, Nona. Dan karena aku tak mempunyai obat penawarnya, maka kaulah yang kuharapkan untuk menyembuhkan pemuda ini. Aku telah menahan aliran racun dengan sinkangku, tapi karena obat penawar masih diperlukan maka kuserahkan dia padamu. Sekarang terserah, kau mau menolongnya atau tidak!"
Kui Hoa tertegun. "Dia terluka karena apa?"
"Pukulan pamanmu, Tok-hwe-ji!"
"Apa? Tok-hwe-ji?" Kui Hoa terkejut.
"Ya, kau lihat, Nona."
Ketika Kui Hoa meloncat menghampiri, tiba-tiba gadis ini tersentak dan kaget di tempat. "Benar. Tok-hwe-ji...!"
"Sekarang bagaimana, Nona?" Naga Bongkok tersenyum aneh. "Kau dapat menolongnya, bukan?"
"Ini... ini..." Kui Hoa tampak gugup. "Aku tak mempunyai obat penawarnya, Naga Bongkok. Yang menyimpan obat penawarnya hanya Ayah atau pamanku itu!"
"Nah, itulah sebabnya kami minta tolong padamu, Nona. Karena tahu bahwa obat penawar ada di tangan pemilik Tok-hwe-ji, maka kuminta kau menyelamatkan pemuda ini."
Kui Hoa pucat mukanya. Ia bingung, tapi membelalakkan mata dan tiba-tiba bertanya, "Nanti dulu, bagaimana pamanku itu bisa menyerang pemuda ini?"
Sin Hong kali ini menjawab, "Karena dia dikira yang akan memperkosamu, Nona. Mu Ba dan muridnya memfitnah Kun Houw hingga membuat pamanmu itu turun tangan!"
Kui Hoa terhenyak di tempatnya dan seketika tertegun. Ia percaya omongan ini. Ia percaya bahwa Sin Hong bukanlah pembohong. Namun, Naga Bongkok yang sudah menyambar lengan muridnya mendadak melompat pergi.
"Nona, semuanya sudah kami ceritakan padamu. Sekarang kami serahkan pemuda itu untuk kauselamatkan. Ingat, kehormatanmu telah ditebus mahal oleh pemuda itu. Selamat tinggal..!"
Naga Bongkok telah berkelebat lenyap, tak tampak bayangannya lagi, pergi bersama Sin Hong. Kui Hoa yang sejenak terkejut sekonyong-konyong mengejar.
"Naga Bongkok, tunggu dulu..."
Kakek itu berkelebat datang. "Apa yang ingin kau tanyakan, Nona?"
Kui Hoa tertegun. Ia terkesiap melihat kehebatan ginkang kakek ini, yang dapat pergi dan datang bagai iblis. Tapi Kui Hoa yang menggigit bibirnya sudah bertanya tegas, "Kau tidak menipuku, bukan? Artinya, apa yang kauomongkan ini dapat kaupertanggungjawabkan?"
"Ha-ha, aku tak pernah menipu orang lain, Nona. Tapi kalau kau tidak percaya, biarlah si tua bangka ini bersumpah! Perlukah sekarang aku bersumpah?"
Kui Hoa mengerutkan kening. Ia mantap sekarang, maka menggelengkan kepala ia menjawab, "Baiklah, aku percaya padamu, Naga Bongkok. Tapi sekali kau tak bicara benar, maka aku akan mencarimu untuk menuntut pertanggungjawabanmu!"
"Boleh, kau boleh cari aku di mana saja, Nona. Dan sekali aku menipumu, biarlah kepalaku ini kuserahkan kepadamu. Haha..."
Naga Bongkok memutar tubuhnya, tiba-tiba berkelebat lenyap dan tak kembali lagi. Kui Hoa termangu, terbelalak ke depan, tapi akhirnya melompat masuk. Persis ia berjongkok di dekat Kun Houw, sekonyong-konyong adiknya muncul!
"Enci, kau tidak apa-apa?"
Kui Hoa kaget. Ia tersentak dan melompat bangun, tapi melihat Kui Lin muncul seorang diri dan sudah menubruk dirinya, tiba-tiba Kui Hoa girang dan berteriak tertahan. "Lin Moi, kau tahu aku ada di sini?"
Kui Lin sudah terisak-isak. Ia gembira dan terharu bukan main bahwa encinya ada di situ dan selamat, mereka pun saling berpelukan. Tapi melihat seorang pemuda menggeletak di bawah encinya, tiba-tiba Kui Lin beringas dan melepaskan diri.
"Keparat, dia yang menculikmu itu, Enci! Ah, biar kubunuh dia....!"
Tapi ketika Kui Lin melihat bahwa itu bukanlah Sin Hong melainkan Kun Houw, tiba-tiba gadis ini tertegun. "Eh, dia...?"
Kui Hoa heran memandang adiknya. "Kau kenal dia, Lin Moi?"
"Ya, dia yang bertanding melawan Mu Ba, Enci. Tapi pemuda ini jahat, dia hendak memperkosamu!" Kui Lin kembali melepaskan diri dari pelukan encinya, tiba-tiba berkilat matanya dan berapi-api memandang Kun Houw.
Tapi Kui Hoa melompat maju. "Lin Moi, tahan! Dia yang justru menolongku!"
Kui Lin terkejut. "Menolongmu bagaimana, Enci? Pemuda ini yang merobohkan kita di dalam kamar. Dia manusia keparat itu!"
"Tidak, aku telah tahu persoalannya, Lin Moi. Yang menyerang kita bukan pemuda ini, melainkan Mu Ba. Raksasa itu yang menyirep kita dan menotok secara curang!"
Sementara adiknya membelalakkan mata, Kui Hoa buru-buru memberi tahu, "Lin Moi, kau tahu bahwa laki-laki yang menyerang kita adalah bayangan tinggi besar, bukan? Dan pemuda ini tidak tinggi besar, Lin Moi. Lihat saja bentuk tubuhnya yang tidak sama dengan bentuk tubuh bayangan yang menyerang kita itu. Aku sekarang tahu bahwa yang menculik kita adalah Sin-thouw-liong Mu Ba!"
Kui Lin tentu saja kaget. "Bagaimana kau tahu, Enci?"
"Dari si Naga Bongkok."
"Naga Bongkok? Siapa itu?"
"Dia kakek yang juga baru kukenal, Lin Moi. Tapi dua orang ini meyakinkan hatiku bahwa mereka orang-orang baik!"
"Dua orang? Bagaimana maksudmu, Enci?" Kui Lin bingung.