Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 105

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 105

"Ya, maksudku Naga Bongkok itu datang bersama muridnya, Lin-moi. Pemuda tinggi besar bernama Sin Hong itu!"

"Ooh...!" Kui Lin semakin terbelalak. "Jadi kau tahu tentang pemuda tinggi besar itu, Enci? Di mana dia? Dialah yang kukejar. Dia yang melarikanmu dari kuil rusak itu!" Kui Lin jelalatan, memandang kiri-kanan dengan marah.

Namun, Kui Hoa yang kini percaya bahwa Sin Hong-lah yang membawanya dari kuil rusak—dan bukan dari dalam kamar seperti yang baru didengar dari adiknya—membuat Kui Hoa semakin yakin bahwa Mu Ba yang memang menjadi biang keladinya. Maka, melihat adiknya memutar-mutar mata mencari pemuda tinggi besar itu, Kui Hoa menarik napas panjang dan mencekal lengan adiknya.

"Dia tak ada lagi di sini, Lin-moi. Sin Hong sudah pergi meninggalkan kita."

"Tapi bagaimana kau bisa tahu bahwa Mu Ba yang menyerang kita, Enci? Dan apa maksudnya? Apakah Naga Bongkok justru tidak menipumu?"

"Hm, aku percaya kepada mereka, Lin-moi. Dan aku lebih percaya lagi setelah mengetahui siapa sebenarnya pemuda bernama Sin Hong itu."

"Siapa, Enci?"

"Putera Pendekar Gurun Neraka!"

"Bah?" Kui Lin membelalakkan matanya lebar-lebar. "Putera Pendekar Gurun Neraka, Enci? Jadi dia yang menolong temanku ini? Ah, pantas demikian lihai! Tapi kenapa menjadi murid Naga Bongkok? Siapa Naga Bongkok itu?"

"Entahlah, aku tak tahu, Lin-moi. Tapi melihat sikap dan gerak-geriknya, aku percaya bahwa mereka bukan orang jahat!"

Kui Hoa lalu menceritakan semua yang didengarnya dari Naga Bongkok tentang dugaannya bahwa Mu Ba yang berdiri di balik semua kejadian ini. Penjelasan itu membuat adiknya berseru kaget; terkejut di samping heran dan tidak mengerti. Ketika encinya selesai bercerita, Kui Lin mengepalkan tinju dan bertanya dengan kening dikerutkan, "Tapi kenapa Mu Ba menyerang kita, Enci? Apa yang dikehendakinya?"

"Hm, tentu ada hubungannya dengan Ceng Liong, Lin-moi. Bukankah menurut Sin Hong aku hendak digagahinya ketika Kun Houw datang? Tentu pemuda ini memergoki Ceng Liong ketika hendak mengganggu diriku. Dan karena Ceng Liong marah, maka pemuda itu diserang dan mereka memutarbalikkan kenyataan, dibantu gurunya!"

"Tapi apa yang dikehendaki Ceng Liong, Enci?"

"Tentu ada hubungannya denganmu, Lin-moi. Bukankah kau tahu pemuda itu tergila-gila padamu?"

"Maksudmu..."

"Benar, Ceng Liong hendak mendapatkan dirimu secara paksa, Lin-moi. Tapi karena kita dapat mengalahkannya, maka pemuda itu minta bantuan gurunya. Lalu, karena kita saudara kembar dan kebetulan mengenakan pakaian yang sama—saat itu kau mengganti bajumu dengan bajuku—maka Mu Ba salah ambil. Demikianlah kesimpulanku!"

"Ah, keparat!" Kui Lin tiba-tiba berseru, marah sekali. "Kalau begitu kita cari pemuda itu, Enci. Kita bunuh Ceng Liong dan melapor pada Ayah!"

Kui Lin menarik encinya, siap meloncat keluar. Tapi Kui Hoa menggelengkan kepalanya dan justru menekan pundak adiknya. "Tidak, jangan dulu, Lin-moi. Meskipun kuat dugaanku bahwa kejadian ini dibuat oleh guru dan murid itu, namun betapapun kita tak mempunyai bukti-bukti. Naga Bongkok dan muridnya telah pergi. Yang ada tinggal pemuda yang pingsan ini. Karena dia telah menolongku, maka kita harus menolongnya, sekaligus menanyainya: betulkah dia memergoki Ceng Liong ketika hendak memperkosa diriku!"

Kui Lin tertegun, teringat pada Kun Houw yang menggeletak pingsan. Ia kagum pemuda ini mampu mengalahkan Mu Ba. Kui Lin mendecah, "Hm, benar. Pemuda ini hebat sekali, Enci. Dia mampu menghadapi Paman dan iblis tinggi besar itu."

"Kau melihat perkelahiannya?"

"Ya, saat itu aku datang bersama Paman, Enci. Dan dia hampir merobohkan Mu Ba dengan ilmu pedangnya yang luar biasa."

"Dan kau tahu siapa pemuda ini?"

"Katanya murid Bu-tong-kiam, Enci. Jago pedang yang tersohor kepandaiannya itu!"

"Ah...!" Kui Hoa tertegun. "Dia murid Bu-tong-kiam Kun Seng?"

"Begitu yang kudengar, Enci. Dan Paman serta Mu Ba tampaknya benci sekali pada pemuda ini!"

"Hm...!" Kui Hoa bersinar matanya. "Tapi dia telah menyelamatkan kehormatanku, Lin-moi. Dan sebagai wanita, kau tahu apa artinya itu. Kehormatan yang jauh lebih berharga daripada nyawa!"

"Benar, lalu sekarang bagaimana baiknya, Enci?"

"Kita harus menolongnya, Lin-moi. Aku hendak menyembuhkan pukulan Tok-hwe-ji yang melukai dadanya. Setelah itu, kalau dia sadar, maka kita menanyainya untuk memantapkan bahwa apa yang kita duga adalah betul!"

"Tapi yang dapat menyembuhkan bekas pukulan ini hanya Ayah atau Paman, Enci. Karena merekalah yang mempunyai obat penawarnya! Apakah mungkin mereka mau menolong?"

"Kau dapat membantuku, Lin-moi. Kita minta baik-baik atau kita curi saja obat penawar itu dari tangan mereka."

"Ah, tak mungkin, Enci. Ayah dan Paman tentu tahu. Bagaimana kalau mencelakakan diri kita sendiri? Kita tentu mendapat marah besar!"

"Kalau begitu aku akan mencari jalan lain, Lin-moi. Kita jalankan cara kedua untuk menyembuhkan pemuda ini."

"Astaga, kau akan menyedot hawa beracun itu, Enci? Kau..."

"Ya, kalau obat penawar tak dapat kita peroleh, mau tidak mau aku harus menyedot hawa beracunnya, Lin-moi. Dan karena tak ada jalan lain dan kondisi pemuda ini sudah semakin gawat, maka lukanya harus segera disembuhkan!"

Kui Hoa tiba-tiba menggigit bibir, suaranya serak dan tampak pucat. Kedua matanya tiba-tiba basah dan tubuhnya berdiri menggigil. Kui Lin yang tertegun memandang sang kakak mendadak mengeluh dan menubruk encinya. "Enci, kau akan menyedot dari mulut ke mulut? Kau akan melakukan pengobatan dengan cara itu?"

"Karena tak ada jalan lain, Lin-moi. Dan aku akan melakukan ini hitung-hitung sebagai pembalas budinya!" Kui Hoa memejamkan mata, semakin menggigil dan tiba-tiba terisak di pelukan adiknya yang terbelalak memandang sang kakak.

Namun, Kui Lin mengeraskan hati dan tiba-tiba melepaskan encinya. "Tidak. Kalau begitu biar aku yang melakukannya, Enci! Kau tak boleh mendapat malu kalau orang lain tahu!"

Kui Hoa terkejut. "Tapi ini urusanku sendiri, Lin-moi. Dan tak ada orang lain tahu selain kau!"

"Benar, tapi kalau pemuda ini tahu, kau yang akan mendapat malu, Enci. Karena itu biarkanlah aku saja yang melakukan ini!"

"Tidak, yang diselamatkan kehormatannya bukan kau, Lin-moi, tapi aku! Aku yang harus membalas budi pemuda ini dan bukannya kau!"

"Tapi kalau dia tahu, kau akan mendapat malu, Enci. Dan aku tak suka kalau pemuda itu akan menghinamu kelak!"

"Biarlah, hitung-hitung sebagai pembalas budinya, Lin-moi. Aku tak peduli dia akan menghinaku atau tidak. Sekarang keluarlah, kau jaga di luar sementara aku akan menolong pemuda ini!"

Kui Hoa mendorong adiknya, menyuruh Kui Lin keluar dan bersiap-siap menyelamatkan Kun Houw. Namun, Kui Lin yang rupanya keras kepala menolak. Akibatnya kakak beradik ini bersitegang, tapi ketika Kui Hoa memaksa dan mulai memarahi, akhirnya Kui Lin terisak dan melompat keluar. "Baiklah, Enci. Kau selamatkanlah pemuda itu. Tapi, kalau kelak dia berani menghinamu, maka aku bersumpah untuk membunuhnya!"

Kui Hoa menggigil. Sebenarnya dia berat melakukan pengobatan cara kedua, yaitu menyedot dari mulut ke mulut. Tapi maklum keadaan Kun Houw semakin gawat dan mereka tak ada waktu lagi untuk berpikir panjang, maka gadis ini mengeraskan hatinya. Pukulan Tok-hwe-ji memang ganas. Bila korban tidak segera ditolong, perlahan-lahan tubuhnya akan menggelembung dan akhirnya meledak setelah tubuh itu terasa terbakar.

Kui Hoa teringat bahwa kehormatannya telah ditolong pemuda ini, maka mau tak mau ia harus menyelamatkan Kun Houw. Begitu adiknya berjaga di luar gua, Kui Hoa berlutut di samping Kun Houw. Gadis ini menenangkan guncangan hatinya dan bersiap-siap. Betapapun Kui Hoa gemetar—dia selama ini belum pernah bersentuhan dengan lelaki—melihat Kun Houw menggeletak pingsan dan dia harus menyedot lewat mulut ke mulut, Kui Hoa tiba-tiba memejamkan mata.

Dia merasa "ngeri". Tapi ingat bahwa pemuda ini telah menyelamatkan kehormatannya dari tangan-tangan kotor Ceng Liong, mendadak Kui Hoa mengeraskan hatinya dan menunduk. Lalu, begitu dia memusatkan perhatian dan menarik napas dalam-dalam, tiba-tiba gadis ini menempelkan mulutnya sendiri pada mulut Kun Houw, menyedot dan mengerahkan khikangnya untuk "menarik" semua hawa beracun.

Begitu Kui Hoa memusatkan segala perhatian pada cara pengobatan yang aneh ini, tiba-tiba gadis itu berjuang keras dan tidak sadar lagi akan apa yang ada di sekelilingnya! Kui Hoa terus menyedot dan menyedot. Berkali-kali menghisap dan membuang keluar hawa beracun yang mengeram di dada Kun Houw. Karena Kui Hoa sendiri telah memiliki ilmu kebal Hoat-lek-im-ciong-ko yang hebat, gadis ini sama sekali tak takut akan racun dari Tok-hwe-ji. Itulah sebabnya mengapa Kui Hoa atau Kui Lin berani menyembuhkan korban racun tersebut; karena mereka yang sudah memiliki kekebalan akan segala macam racun akibat perlindungan Hoat-lek-ko membuat keturunan Ok-cangkun itu kebal terhadap segala macam racun!

Ketika hampir satu jam penuh Kui Hoa mengeluarkan racun dari dalam tubuh Kun Houw, tiba-tiba muka Kun Houw yang tadinya kehijauan sudah berubah merah. Dan, ketika warna merah ini berubah putih untuk akhirnya kembali pada warna yang merah sehat, tiba-tiba Kun Houw mulai mengeluh!

Tubuh pemuda ini tidak lagi terbakar. Ketika Kui Hoa berjuang keras selama hampir satu jam lagi, Kun Houw sudah sadar dan mulai bergerak. Namun, kesadaran Kun Houw belum sepenuhnya pulih. Ia masih agak pening, kesadarannya setengah melayang-layang. Tapi ketika kian lama kesadarannya kian membaik dan Kun Houw mulai ingat akan apa yang terjadi, maka Kun Houw membuka mata.

Dan... Kun Houw tertegun. Dia mengira berada di dalam mimpi. Maklum, Kun Houw baru saja sadar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment