Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 106

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 106

Melihat seraut wajah jelita sedang menyedot mulutnya dan tampak demikian dekat di atas mukanya sendiri dengan kedua mata terpejam, tiba-tiba Kun Houw terbelalak.

"Apa ini? Di mana dia? Di kahyangankah? Kalau tidak, lalu siapa gadis cantik yang sedang menyedot mulutnya ini? Apa yang dilakukan?" Kun Houw tiba-tiba tergetar.

Dia terbelalak dan tak dapat menjawab semua pertanyaannya itu. Namun, ketika dia ingat bahwa dia terkena pukulan Tok-hwe-ji yang membuat seluruh tubuhnya bagai terbakar, dan kini dia merasa sehat serta dada tidak sesak lagi, tiba-tiba Kun Houw sadar. Dia sedang ditolong orang, disedot racunnya oleh gadis ini.

Kun Houw yang terguncang jantungnya mendadak terbengong dan memandang wajah yang ada di dekatnya itu tanpa berkedip. Kun Houw terkesima. Dia melihat wajah yang demikian halus berada amat dekat sekali dengan mukanya. Wajah yang halus dengan pipi kemerah-merahan, wajah yang cantik dan memesona; wajah yang luar biasa baginya bagai seorang dewi.

Kun Houw yang mencium pula keharuman lembut dari wajah yang ada di dekatnya ini tiba-tiba mabuk. Kun Houw merasa di awang-awang yang meninabobokkan dirinya. Ketika dia merasa betapa mulut yang melekat di mulutnya itu menyedot-nyedot, dan ia merasa bibir yang lunak hangat menempel di bibirnya sendiri dengan gerakan menghisap serta meniupkan hawa yang harum dan wangi, tiba-tiba Kun Houw tersedak dan batuk-batuk.

"Ah...!" Kui Hoa seketika membuka matanya. Gadis ini kaget bahwa Kun Houw membuat gerakan, yang berarti pemuda itu telah sadar. Kui Hoa seketika melepaskan sedotannya, terbelalak memandang Kun Houw, lalu tiba-tiba melompat mundur dengan muka merah padam.

"Kau... kau sudah sadar?"

Kun Houw melongo. Sekarang dia bangkit duduk dan memandang Kui Hoa, bukan ke mata yang terbelalak kepadanya itu, melainkan ke bibir Kui Hoa yang merah basah. Kun Houw, yang mengejap-ngejapkan mata bagai orang kehilangan kesadarannya, tiba-tiba memejamkan matanya dan tidak menjawab pertanyaan. Dia membayangkan kembali betapa nikmat bibir yang lunak hangat itu menghisap dan menempel di bibirnya sendiri.

Namun, ketika Kui Hoa menampar pipinya dan Kun Houw terpelanting roboh, barulah Kun Houw melompat bangun dan berseru kaget. Apalagi ketika gadis itu marah-marah kepadanya, "Orang tak tahu diri, apa yang kaupikirkan? Kenapa memandang bibirku melulu?"

Kun Houw sadar sepenuhnya. Sekarang dia tak mabuk lagi seperti tadi. Maka, tersipu merah dengan muka jengah, buru-buru Kun Houw menjura dan membungkuk dalam-dalam.

"Maaf, aku... eh, aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku, Nona. Tapi melihat lukaku sembuh dan kau ada di sini, tahulah aku bahwa kau yang menyelamatkan diriku. Terima kasih, Nona. Aku, Kun Houw, benar-benar menghaturkan terima kasih pada dewi penolongku!"

Kun Houw langsung menjatuhkan diri berlutut di depan gadis ini, membuat Kui Hoa terkejut dan lenyap semua kemarahannya. "Eh, jangan berlutut... berdirilah, Saudara Kun Houw. Kau tak perlu mengucap terima kasih kepadaku seperti itu. Kedudukan kita satu sama!"

Kun Houw mengangkat mukanya, heran. "Satu sama bagaimana, Nona? Apa yang kau maksudkan?"

"Hm, bukankah kau yang menolongku pula di kuil rusak?" Kui Hoa melengos, merah mukanya karena lagi-lagi tanpa sadar Kun Houw memandang bibirnya. "Bukankah kau yang menolongku dari jahanam Ceng Liong?"

Kun Houw seketika teringat gadis ini, tiba-tiba menganggukkan kepalanya dan bangkit berdiri. "Benar. Dan di mana setan jahanam itu sekarang, Nona? Di mana dia?" Kun Houw terbelalak ke kanan-kiri, kaget dan marah ketika ingat bahwa Ceng Liong hendak melakukan perbuatan terkutuk.

Kui Hoa yang mengepalkan tinju sudah berkata gemas, "Dia tak ada di sini, Saudara Kun Houw. Karena itu aku ingin bertanya padamu apa yang sebenarnya terjadi dan kau lihat di kuil rusak itu!"

"Ah, dia hendak mengganggumu, Nona. Dia hendak memberikan arak perangsang kepadamu agar kau mabuk dan dapat digagahinya!"

"Dari mana kau tahu?"

"Kebetulan saja, Nona. Aku beristirahat di kuil itu sebelum Ceng Liong dan gurunya tiba. Maka, melihat guru dan murid itu membawamu ke situ dan aku mendengar apa yang direncanakannya, jahanam itu kuserang ketika kau siap dicekokinya!"

Kui Hoa tergetar. Dia pucat mendengar ini, ngeri, dan diam-diam mengutuk akal keji Ceng Liong yang diketahuinya berbahaya dan culas. Meskipun secara sepintas Ceng Liong tak dapat dibilang memperkosa karena dia akan menyerahkan diri dengan sukarela, penyerahan dirinya itu tak dapat dibilang sah karena dia sedang mabuk dan dalam penguasaan nafsu berahi—nafsu yang ditimbulkan dari arak perangsang, yang berarti menunjukkan betapa keji dan liciknya Ceng Liong.

Kui Hoa yang tergetar dengan muka ngeri tiba-tiba memandang Kun Houw dengan penuh rasa terima kasih dan haru, lalu ganti menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu. "Saudara Kun Houw, aku tak dapat menyampaikan apa-apa kepadamu selain rasa syukur dan terima kasihku. Terimalah hormat dan terima kasihku ini..."

Kun Houw terkejut. "Eh-eh, jangan begitu, Nona. Kau bangunlah, jangan berlutut!"

Kun Houw buru-buru mengangkat bangun gadis ini dengan menarik pundaknya, seketika beradu pandang dengan mata Kui Hoa yang bergetar jernih, membuat Kun Houw dag-dig-dug tidak karuan dan merasa jungkir balik. Kun Houw yang jadi gemetar suaranya tiba-tiba bertanya, lirih seolah berbisik, "Maaf, bolehkah kutanya siapa namamu, Nona? Maksudku, aku... aku..."

Kui Hoa tersenyum, menunduk malu-malu. "Aku Kui Hoa, Saudara Kun Houw. Dan karena kau telah menyelamatkan kehormatanku, biarlah kau buang sebutan nona-nona itu. Kau panggil saja aku Kui Hoa."

Kun Houw girang. "Dan kau boleh sebut aku Houw-twako, Nona. Biarlah kau buang pula sebutan saudara itu!"

"Ih, tapi kau masih memanggilku nona, Houw-twako? Begitukah sebutanmu setelah aku memanggilmu twako?"

Kun Houw tertawa, gembira sekali dan tiba-tiba merasa bahagia. Kun Houw yang tertawa bergelak oleh kegembiraan hati yang meluap ini mendadak menyambar lengan Kui Hoa dan, seolah lupa diri, mencengkeram lembut dengan wajah berseri-seri.

"Kui Hoa, eh... Hoa-moi, bolehkah kutanya lebih jauh tentang keadaan pribadimu? Artinya, siapakah guru atau orang tuamu? Di manakah kau tinggal? Dan kenapa jahanam seperti Ceng Liong itu dapat mengganggumu dengan demikian keji?"

Kui Hoa tersenyum, gemetar lengannya dan semburat merah muncul di wajahnya. Tapi tak melepaskan diri dari pegangan Kun Houw, ia menjawab, "Guruku adalah ayahku juga, Houw-twako. Dan aku tinggal di kota raja bersama ayah dan seorang adik perempuanku. Tentang Ceng Liong, hm... jahanam itu memang kurang ajar, Houw-twako. Kelak aku akan mencari dan membunuhnya!"

"Dan siapa ayahmu itu?"

Kui Hoa mengerutkan alis, sejenak terdiam. Tapi memandang Kun Houw dengan tajam, ia menjawab jujur, "Ok-ciangkun, Twako. Aku adalah putri Panglima Ok dari kota raja dan So-beng adalah pamanku!"

"Hah...?" Kun Houw kaget bukan main, melepaskan pegangannya dan tiba-tiba terbelalak, mundur selangkah. "Kau... kau keponakan Iblis Penagih Jiwa itu, Hoa-moi? Kau putri Ok-ciangkun?"

"Ya, mereka adalah ayah dan pamanku, Houw-twako. Ada apakah?"

"Ooh...!" Kun Houw tiba-tiba menutupi mukanya. "Tidak... tidak, Hoa-moi... kita tak dapat bersahabat kalau begitu. Kita adalah musuh...!"

Kun Houw yang beringas mukanya tiba-tiba melepaskan takupan jarinya dan berteriak, "Hoa-moi, So-beng adalah musuh besarku. Dia telah membunuh guruku!"

Kui Hoa terkejut. Tapi belum sempat dia bertanya, tahu-tahu Kun Houw sudah memutar tubuhnya dan terbahak lalu menjerit, "Kui Hoa, kita tak ditakdirkan sebagai sahabat. Kau dan aku adalah musuh...!" Begitu berteriak penuh kecewa, tiba-tiba Kun Houw berkelebat keluar meninggalkan gua.

Kui Hoa tertegun, pucat mukanya. Tapi Kui Lin yang mendengar suara ribut-ribut di dalam tiba-tiba melompat masuk dan bertemu Kun Houw di tengah jalan. Melihat Kun Houw meninggalkan encinya dengan muka beringas, tiba-tiba gadis ini menyerang Kun Houw tanpa banyak bicara, menduga pemuda itu mencelakai encinya.

"Jahanam, apa yang kaulakukan pada enciku?"

Kun Houw terkejut. Dia tak menyangka bahwa di luar gua ada seorang gadis lain, tapi menangkis cepat dan membentak marah, dia sudah menyelinap di antara dua pukulan itu, "Minggir...!"

Kun Houw langsung mendorong punggung Kui Lin hingga gadis itu terjerumus ke depan, lalu meneruskan larinya. Kui Lin menjerit kaget, berjungkir balik mematahkan daya dorong. "Heii...!"

Tapi Kun Houw lenyap di luar. Dia sudah menghilang di balik kerimbunan pohon-pohon besar, dan ketika Kui Lin mengejarnya dengan marah-marah, pemuda ini sudah tak tampak bayangannya lagi dan lenyap entah ke mana. Sementara Kui Lin membanting kaki sambil mengomel panjang lebar, Kui Hoa muncul dengan bibir digigit kuat-kuat.

"Lin-moi, sudahlah. Dia tak akan kembali menemui kita."

Kui Lin memutar tubuhnya. "Tapi dia menyerangku, Enci. Dan rupanya juga dia kurang ajar kepadamu!"

"Tidak. Dia tak melakukan apa-apa, Lin-moi. Dia hanya kecewa dan marah setelah mendengar bahwa aku adalah keponakan musuh besarnya. Mari kita kembali!"

Kui Lin terbelalak. Ia mau membantah, tapi Kui Hoa yang sudah menarik lengannya tak membiarkan adiknya ini memprotes, menyendal, dan kembali ke kota raja di mana ayah dan pamannya tentu mencari-cari. Kui Lin yang melihat betapa encinya ini terisak dan menggigit bibir akhirnya tak cerewet lagi dan mengikuti encinya kembali ke istana. Lalu begitu membanting pintu kamar dan mereka berdua berada di tempat sendiri, Kui Lin memeluk encinya ini.

"Bagaimana, Enci? Kita beri tahu ayah bahwa Ceng Liong dan gurunya yang mengganggu kita?"

"Tidak," Kui Hoa terisak. "Kita tak perlu memberi tahu dulu, Lin-moi. Biarkan ini sampai saatnya kelak kita menangkap basah perbuatan mereka."

"Maksudmu?"

"Kita tak mempunyai bukti-bukti kuat, Lin-moi. Apa yang kita dengar ialah keterangan dari Naga Bongkok dan muridnya, juga Kun Houw."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment