Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 107

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 107

Namun, karena mereka adalah musuh, tentu ayah atau paman tak akan memercayai ini. Salah-salah kita bisa dicurigai dan dianggap membela musuh!"

"Jadi bagaimana, Enci?"

"Kita biarkan dulu, Lin-moi. Kita bersikap biasa saja pada Mu Ba dan muridnya itu seperti biasa. Aku sedang terguncang. Kau berilah laporan pada ayah dan paman bahwa kita sudah kembali dengan selamat!"

Kui Lin terbelalak. Ia melihat encinya melempar tubuh di pembaringan, menutup muka dengan bantal, dan rupanya terpukul sekali oleh peristiwa dengan Kun Houw tadi. Teringat bahwa encinya ini telah menolong Kun Houw dengan cara yang luar biasa, menyedot racun Tok-hwe-ji dari mulut ke mulut, dan maklum bahwa rupanya ada sesuatu yang terjadi di antara encinya dengan Kun Houw tadi, maka Kui Lin lalu mengangguk dan melompat keluar. Begitu Kui Lin menutup pintu kamar untuk memberi tahu bahwa mereka telah kembali dengan selamat, tiba-tiba Kui Hoa mengguguk dan menangis di atas pembaringannya.

Pagi itu, Ceng Liong dilarang keluar oleh gurunya. Peristiwa semalam, atau tepatnya kegagalan semalam, membuat Mu Ba dan muridnya waswas. Karena itu, Ceng Liong yang bersembunyi di kamar disuruh berjaga untuk menghadapi segala kemungkinan. Mu Ba bersiap-siap untuk menerima tuduhan atau kedatangan kakak beradik Kui Hoa yang mungkin tahu bahwa perbuatan semalam adalah mereka yang menjadi biang keladinya.

Namun, hari itu ternyata tenang. Kui Hoa dan Kui Lin memang datang, bahkan bersama So-beng. Dua kakak beradik yang semula membuat raksasa ini menjadi tegang ternyata datang untuk menyatakan terima kasih. Hal itu membuat Mu Ba girang karena menganggap Kui Hoa dan Kui Lin tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Namun, ketika kakak beradik ini meminta berjumpa dengan Ceng Liong untuk mengucapkan terima kasih pula, Mu Ba mengelak. Ia menyatakan Ceng Liong sedang tidak enak badan dan biarlah ucapan itu ia sendiri yang menyampaikannya. Karena Kui Hoa dan adiknya tidak enak mendesak, dua kakak beradik itu kembali mengucap terima kasih dan pergi.

Mu Ba lega bukan main. "Liong-ji, kita selamat. Dua kakak beradik itu tidak menaruh curiga pada kita dan malah mengucap terima kasih."

Ceng Liong tersenyum kecut. "Tapi bagaimana sikap mereka, Suhu? Benarkah tidak menaruh curiga pada gerak-gerik mereka?"

"Ha-ha, sama sekali tidak, Liong-ji. Dan Naga Bongkok rupanya tidak menghasut mereka!"

"Hm, tapi keinginanku gagal, Suhu. Dan di tempat itu tiba-tiba saja muncul si bocah hina Bu-beng Siauw-cut. Keparat!" Ceng Liong mengepalkan tinju dan berkerot giginya, tapi tampak gentar. Mu Ba yang diingatkan pada peristiwa semalam mengerutkan alisnya. Oleh kelihaian murid Bu-tiong-kiam itu, ia pun tampak gentar di samping marah.

Namun, Mu Ba menghibur muridnya. Ia menyatakan Kun Houw tak mungkin dapat hidup lama karena pukulan Tok-hwe-ji telah melukai pemuda itu. Ceng Liong yang menganggukkan kepalanya oleh kata-kata ini segera teringat pada pemuda tinggi besar yang menyelamatkan Kun Houw. Ceng Liong kembali mengerutkan kening.

"Suhu, tahukah kau siapa pemuda tinggi besar yang merampas Pedang Medali Naga itu?"

Mu Ba menggeleng. "Aku tak tahu, Liong-ji. Tapi kepandaian pemuda itu cukup mengejutkan hatiku."

"Dan bagaimana bila dibanding Kun Houw?"

"Wah, aku tak tahu persis, Liong-ji. Tapi kuakui keduanya sama hebat!"

"Dan dibanding dengan kepandaianku?"

Mu Ba mengerutkan alis. "Kenapa kau tanyakan itu, Liong-ji? Apa perlunya?"

"Hm, aku tiba-tiba merasa kecewa akan kepandaian yang kumiliki, Suhu. Rupanya apa yang kupelajari selama ini masih kalah dibanding dua orang pemuda itu!"

Mu Ba terkejut. "Tapi, Liong-ji, Kun Houw memang pewaris tunggal Bu-tong-kiam Kun Seng. Dan kau tahu bahwa jago pedang itu pernah kami keroyok secara berempat!"

"Ya, dan kalian baru berhasil merobohkannya, Suhu. Tapi bagaimanapun, secara jujur harus kuakui bahwa satu lawan satu tentu kau tak dapat menandingi jago pedang yang sudah mampus itu. Kini muncul pemuda lain yang menolong si Bu-beng Siauw-cut itu. Pemuda yang rupanya juga lihai dan bukan tandinganku!"

Wajah Mu Ba semburat merah. "Kun Houw memang hebat, Liong-ji. Tapi bocah itu juga akan mampus menyusul gurunya."

"Tapi bagaimana dengan pemuda tinggi besar itu, Suhu? Haruskah ia menjadi ancaman bagiku kelak kalau kepandaianku tak dapat melawan kepandaiannya?"

"Hm..." Mu Ba menggeram jengkel. "Apa maksudmu sebenarnya, Liong-ji? Kenapa kau tiba-tiba membicarakan masalah kepandaian?"

"Karena aku tak puas padamu, Suhu. Aku ingin menambah kepandaian lagi yang hebat. Kalau bisa, yang jauh lebih hebat dibanding Bu-beng Siauw-cut si bocah hina itu!"

Mu Ba terkejut. "Kau merendahkan gurumu sendiri?"

"Tidak! Kalau kau memang hebat, Suhu. Tapi nyatanya untuk menghadapi Kun Houw yang sudah terluka itu saja kita harus maju bersama!"

"Hm!" Mu Ba marah. "Tapi itu kulakukan demi untukmu, Liong-ji. Kenapa sekarang memaki gurumu sendiri?"

"Karena kau tidak becus, Suhu. Kepandaianmu ternyata masih rendah dan tidak memuaskan hatiku!"

"Hah? Apa kau bilang?"

"Aku bilang kepandaianmu masih rendah, Suhu. Kau tidak becus dan tidak memuaskan hatiku!"

"Keparat!" Mu Ba berkelebat ke depan, mencengkeram pundak muridnya. Marah oleh kata-kata Ceng Liong, pemuda itu diangkat dan dibanting di depan kakinya. "Brukk!"

Ceng Liong merasa remuk. Ia dicengkeram dan diangkat lagi, siap dibanting. Tapi Ceng Liong yang berani memandang gurunya berseru, "Suhu, biar kaubunuh sekalipun, diriku ini tetap saja kau tak dapat membantah kenyataan itu. Kau bukan tandingan Kun Houw atau Naga Bongkok!"

Mu Ba tertegun. Ia mendelik penuh kemarahan, tapi melihat kebenaran dan keberanian muridnya, tiba-tiba Ceng Liong dilempar membentur tembok. "Liong-ji, kau murid jahanam. Kau tidak tahu berbakti!"

Ceng Liong melompat bangun. Ia menyeringai, menahan sakit, tapi tetap bersikap tenang dan memandang gurunya dengan berani. "Ya, aku memang tidak berbakti, Suhu. Aku murid jahanam. Tapi bukankah semuanya itu kau yang mengajariku juga?"

Mu Ba terbelalak. Ia mengerot gigi penuh kemarahan, siap menubruk dan membanting muridnya lagi. Namun, melihat Ceng Liong demikian berani dan tenang memandangnya, mendadak iblis tinggi besar ini tertawa bergelak dan mencengkeram muridnya itu. "Liong-ji, kau menang, jahanam besar. Tapi keberanianmu ini sungguh mengagumkan hatiku. Keparat!"

Jari-jari Mu Ba yang berkerotok mengguncang tubuh muridnya disambut senyum Ceng Liong yang tertawa, tahu bahwa gurunya tidak jadi membunuhnya. "Suhu, kau yang kelewat emosi. Kau tak mau melihat kebenaran dari apa yang kuomongkan!"

"Ya, ya, dan kau selamanya benar, bocah siluman. Kau tidak peduli kata-katamu menyakiti atau tidak!"

"Ah, itu karena kau emosi, Suhu. Kalau tidak, tentu kata-kataku tidak akan menyakitimu. Kenapa marah?"

Mu Ba melepas cengkeramannya. "Liong-ji, apa yang kaumaui dari omonganmu itu? Hayo bicara saja. Aku sudah mengenal segala tipu muslihatmu dalam menyembunyikan sesuatu!"

Ceng Liong melangkah maju, bersikap sungguh-sungguh. "Kau tidak marah lagi, Suhu?"

"Tidak."

"Baik, kalau begitu dengarkan ini," Ceng Liong tersenyum memandang gurunya. "Suhu, siapakah di dunia ini yang kiranya dapat mengalahkan Bu-tiong-kiam Kun Seng atau Naga Bongkok?"

Mu Ba mengerutkan alis. "Bu-tong-kiam Kun Seng sudah mati, Liong-ji."

"Ya, ya, kalau begitu si Naga Bongkok saja, Suhu," potong Ceng Liong. "Siapakah kiranya yang dapat mengalahkan kakek bongkok itu satu lawan satu?"

Mu Ba tertegun. "Kenapa diam, Suhu? Yang jelas bukan kau, bukan?"

Raksasa ini mengangguk, merah mukanya. "Ya. Dan Jisuhumu (Mayat Hidup) juga tak dapat mengalahkan kakek bongkok ini jika harus satu lawan satu, Liong-ji. Tapi kukira ada dua orang yang dapat menandingi kakek bongkok itu, bahkan mungkin tiga kalau So-beng mahir memainkan Tok-hwe-ji!"

"Hm, Iblis Penagih Jiwa ini tak mungkin mau memberikan kepandaiannya kepadaku, Suhu. Coba kausebutkan saja siapa dua orang yang mungkin dapat menandingi kepandaian Naga Bongkok itu!"

Mu Ba menarik napas. "Pertama mungkin Pendekar Gurun Neraka, Liong-ji. Dan kedua adalah ketua Beng-san-pai itu!"

"Ciok-ihouw Taihiap Souw Ki Beng?"

"Mungkin."

Ceng Liong berkilat matanya. "Tidak ada lainnya lagi, Suhu?"

Mu Ba menggeleng ragu. "Kukira hanya dua orang itu, Liong-ji. Tak ada lainnya. Ada apakah?"

Ceng Liong tak menjawab. Matanya berubah aneh, tapi Mu Ba yang rupanya tahu tindak-tanduk muridnya ini tiba-tiba bertanya, "Kau mau mempelajari kepandaian dari orang yang dapat menandingi Naga Bongkok, Liong-ji?"

"Hm..." Ceng Liong terpaksa menganggukkan kepalanya. "Memang betul, Suhu. Tapi kalau Pendekar Gurun Neraka jelas tak mungkin!"

"Kalau begitu ketua Beng-san-pai itu saja, Liong-ji. Kudengar dia memiliki ilmu baru yang disebut Soan-hoan-ciang!"

Ceng Liong berkedip. "Kau bisa membantu, Suhu?"

"Kalau kau mau, bocah. Dan kebetulan sekali kudengar bahwa saat ini ketua Beng-san-pai itu dilanda kecewa!"

"Kecewa apa, Suhu?"

"Tentang pewaris ilmu silatnya, Liong-ji. Katanya kudengar Soan-hoan-ciang yang dimilikinya tak mendapat sambutan baik di hati ketiga cucunya!"

"Eh, bagaimana itu, Suhu?" Ceng Liong tertarik. "Bagaimana ilmu silat Soan-hoan-ciang itu tak mendapat sambutan di hati cucunya? Dan siapa mereka?"

"Puteri Pendekar Gurun Neraka dan anak dari puteranya pertama, Souw Ceng Han, Liong-ji. Katanya tiga orang muda itu tak berlatih sungguh-sungguh untuk menguasai Soan-hoan-ciang ini. Akibatnya, ketua Beng-san-pai itu frustrasi dan mulai mabuk-mabukan melepas kecewa!"

"Hm," Ceng Liong girang bukan main. "Kalau begitu aku akan ke sana, Suhu. Aku akan membujuk dan mempelajari Soan-hoan-ciang itu dari Pendekar Kepala Batu!"

"Kau seorang diri?"

"Ya, kenapa, Suhu? Aku tidak takut!"

"Tapi ilmu silatmu tentu mencurigakan ketua Beng-san-pai itu, Liong-ji."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment