Chapter 108
"Kau tentu dikenal sebagai murid golongan hitam!"
"Ah, itu mudah kuatur, Suhu. Yang jelas, aku akan berhati-hati mendekati ketua Beng-san-pai itu dan mencuri ilmunya!"
Mu Ba terbelalak. Dia kembali kagum akan keberanian dan jiwa petualang muridnya ini. Namun, ia justru tertawa bergelak karena merasa girang.
"Bagus. Kalau begitu, aku juga punya siasat untuk mengadu keluarga pendekar itu, Liong-ji. Sebaiknya jisuhumu diberi tahu!" Baru saja menyelesaikan kata-katanya, mendadak iblis tinggi besar ini berkelebat lenyap.
Ceng Liong terkejut. Namun, belum sempat ia mengejar, ibunya muncul memasuki kamar.
"Liong-ji, apa yang kalian ributkan? Kenapa twa-suhumu itu tertawa bagai orang gila?"
Ceng Liong tertegun. Ia melihat ibunya muncul dengan mata membelalak dan kening berkerut. Ibunya tampak cantik dan masih muda. Ceng Liong yang memandang balik ibunya itu tiba-tiba tertawa.
"Ibu, kau benar-benar cantik sekali. Sungguh hebat!"
Tok-sim Sian-li melotot. "Apanya yang hebat? Kau tidak dengar pertanyaan Ibu?"
"Ah, nanti dulu, Ibu. Kenapa marah-marah?" Ceng Liong menyambar lengan ibunya dan mendudukkannya di atas kursi. Lalu, sambil tersenyum, pemuda ini bertanya, "Ibu, di mana jisuhu? Apakah di tempat Ok-ciangkun?"
"Ya. Dan kenapa seharian penuh kau tidak keluar, Liong-ji? Kudengar semalam twa-suhumu mengejar penculik. Katanya bertempur dengan murid Bu-tong Kiam Kung Sen yang amat lihai. Benarkah?"
"Benar, Ibu. Tapi..."
Tok-sim Sian-li tiba-tiba berdiri dan membanting kakinya. "Jadi, benar yang diculik adalah Kui Hoa siocia?"
Ceng Liong terkejut. "Dari mana kau tahu, Ibu?"
Sebelum mendapat jawaban, ibunya sudah melompat dan mencengkeram batang lehernya dengan kuat. "Liong-ji, kalau begitu kau yang menjadi biang keladinya. Kau bermain api dengan mengganggu putri Ok-ciangkun itu! Tidak tahukah kau bahwa perbuatanmu ini bisa mencelakakan kami semua?"
Ceng Liong kaget. "Dari mana kau tahu, Ibu?"
"Keparat, tak perlu kau menipu ibumu, Liong-ji! Aku tahu dan dapat menduga semuanya dari tindak-tandukmu sendiri!"
"Tapi..."
"Tak ada tetapi. Liong-ji, kau yang melakukan semuanya itu, bukan?"
"Tidak, aku... eh!" Ceng Liong menghentikan kata-katanya. Ia diangkat dan ditendang ibunya hingga mencelat keluar. Tok-sim Sian-li yang marah kemudian mengejar dan mencengkeram leher Ceng Liong kembali.
"Kau tidak mengaku, Liong-ji? Kau masih menyangkal di depan ibumu sendiri?"
Ceng Liong akhirnya menyerah karena kesakitan oleh jari-jari ibunya. Begitu ia mengangguk dan ibunya melepas cengkeraman, Ceng Liong mengeluh dan menyeringai penasaran, "Ibu, kau terlalu keras. Kenapa mengancam dan memperlakukan anakmu seperti ini?"
"Karena kau yang kelewatan, Liong-ji. Kau tak menghiraukan keselamatan orang tuamu yang bisa terancam!"
Ceng Liong tertegun. Ia tahu perbuatannya memang berbahaya karena bisa membuat dua orang guru dan ibunya diusir dari istana. Namun, karena penasaran bagaimana ibunya bisa tahu, ia bertanya, "Ibu, sesungguhnya dari manakah kau tahu bahwa perbuatan semalam adalah aku yang melakukannya? Kau lihatlah kejadian itu dengan mata kepala sendiri?"
Ibunya mendengus. "Aku tak perlu melihat perbuatanmu dengan mata kepala sendiri, Liong-ji. Tapi kecerobohanmu yang di luar perhitungan cukup membuat aku mengerti bahwa semuanya itu adalah kau biang keladinya!"
Ceng Liong terbelalak. "Kecerobohan yang mana, Ibu?"
"Kecerobohanmu dengan melempar kesalahan di atas pundak orang lain, Liong-ji. Karena bagiku, tak mungkin murid Bu-tong Kiam itu akan memperkosa putri Ok-ciangkun."
"Eh?" Ceng Liong heran. "Dari mana kau bisa menarik kesimpulan itu, Ibu?"
"Bagiku mudah, Liong-ji. Murid Bu-tong Kiam itu tak saling kenal dengan putri Ok-ciangkun. Bagaimana tahu-tahu menculik gadis itu dan hendak memperkosanya? Kau ceroboh, Liong-ji. Kau dan gurumu gegabah sekali. Kau harus menahan nafsumu!"
Ceng Liong tertegun. "Tapi, Ibu..."
"Tapi apalagi?"
"Aku tertarik pada Kui Lin. Twa-suhu tadi malam salah ambil dan keliru membawa Kui Hoa."
"Ya, dan kau tidak memperhitungkan kecerdikan Iblis Penagih Jiwa, Liong-ji. Setan itu berbahaya dan terlampau gegabah bagimu untuk melakukan sesuatu di dalam istana ini!"
"Jadi, aku tak boleh melaksanakan maksudku, Ibu?"
"Maksudmu yang mana?"
"Aku ingin gadis itu menjadi kekasihku, Ibu. Aku jatuh cinta dan tergila-gila pada adik Kui Lin!"
"Tidak. Sementara ini kau tidak boleh mengganggu putri Ok-ciangkun itu, Liong-ji. Kau harus menahan diri dan jangan sekali-kali mengulang perbuatanmu yang lancang itu!"
"Hm!" Ceng Liong kecewa. "Kalau begitu, tolong kau saja yang menghibur diriku, Ibu. Berilah obat pelipur lara untuk pengganti kekecewaanku itu!"
Tok-sim Sian-li terkejut. "Apa maksudmu?"
"Maksudku, kau hiburi aku seperti kalau kau menghibur jisuhu, Ibu. Aku ingin merasakan kehangatan kasih sayangmu luar dalam!"
Ceng Liong tersenyum memandang ibunya, lalu melangkah maju, memeluk, dan mencium mulut ibunya dengan penuh nafsu. Tok-sim Sian-li sejenak tertegun dan tidak memberikan reaksi. Namun, begitu sadar, wanita ini melengking dan menampar putranya hingga terlepas.
"Liong-ji, kau bocah keparat... plak! Plak!"
Ceng Liong terbanting roboh dengan mulut berdarah. Ia terkejut, namun sang ibu yang marah tiba-tiba melompat maju, melancarkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi.
"Liong-ji, kau anak durhaka. Kau bocah siluman!"
Ceng Liong jatuh bangun di atas lantai, berteriak, dan menabrak meja kursi yang berantakan. Ketika sang ibu terus menghajarnya kalang kabut, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Mayat Hidup muncul.
"Sian-li, apa yang terjadi? Kenapa Ceng Liong kau hajar?"
Tok-sim Sian-li menghentikan amukannya. Ia terengah-engah dengan dada naik turun, marah bukan main. Melihat Mayat Hidup muncul dan tubuh Ceng Liong babak-belur, wanita ini tiba-tiba terisak dan melompat keluar.
"Ceng Liong hendak kurang ajar kepadaku, Mayat Hidup. Dia berani meminta yang tidak-tidak kepada ibunya!"
"Heh?" Mayat Hidup terkejut. "Kau maksudkan anak ini ingin bermain cinta denganmu, Sian-li?"
Namun, Tok-sim Sian-li sudah lenyap meninggalkan kamar. Persis saat wanita itu menghilang, Mu Ba muncul.
"Liong-ji, benarkah yang dikatakan ibumu itu?"
Ceng Liong menarik napas, berdebar melihat guru keduanya muncul. Namun, ketika guru pertamanya berdiri mendampingi, Ceng Liong tiba-tiba tersenyum dan mengangguk.
"Ya, aku ingin Ibu menghibur kekecewaanku, Twa-suhu. Tapi Ibu marah-marah dan menghajarku!"
Dua orang iblis itu terbelalak. Ceng Liong bersiap menanti kemarahan gurunya, terutama Mayat Hidup. Namun, melihat Mayat Hidup menyeringai dan terkekeh dengan suara aneh, Ceng Liong menjadi heran.
"Heh-heh, murid kita yang satu ini benar-benar luar biasa, Mu Ba. Siapa sangka dia lebih tak tahu aturan dan kurang ajar dibanding kita? Ceng Liong benar-benar hebat. Dia akan melebihi kita dalam soal kejahatan!"
Mayat Hidup tampak girang bukan main, tidak marah dan bahkan memuji. Mu Ba juga tiba-tiba tertawa bergelak.
"Benar, murid kita yang satu ini memang luar biasa, Mayat Hidup. Hal itu memang sudah kuketahui sejak pertama aku bertemu dengannya!"
Ceng Liong akhirnya menyeringai kecut. Melihat kedua gurunya tidak marah dan justru gembira, ia merasa mendapat dukungan. Ketika kedua gurunya melompat keluar, Ceng Liong memanggil gurunya, "Twa-suhu, nanti dulu! Bagaimana dengan rencanaku semula?"
Mu Ba membalikkan tubuh. "Kau boleh pergi, Liong-ji. Aku dan jisuhumu setuju. Tapi sebaiknya besok saja kau berangkat!"
Ceng Liong girang. "Kalau begitu tak perlu besok, Suhu. Nanti malam saja aku berangkat. Ibu ingin kutemui sekali lagi!"
"Ha-ha, terserah, bocah. Tapi hati-hati!"
Ceng Liong kembali ke kamarnya. Ia girang karena mendapat izin. Setelah beristirahat seharian, ia menyiapkan buntalan dan bertekad menyelidiki ketua Beng-san-pai untuk mendapatkan ilmunya. Ketika malam tiba, Ceng Liong berkemas dan tujuan pertamanya adalah kamar ibunya.
Ceng Liong melangkah hati-hati. Melihat pintu kamar tertutup rapat, ia mengintai dari balik kertas jendela. Ia tertegun melihat ibunya menangis di atas pembaringan, rupanya masih marah oleh peristiwa tadi pagi. Namun, melihat ibunya mengenakan gaun tipis hingga menembus lekuk tubuhnya yang indah, Ceng Liong menahan napas dan nafsu berahinya bangkit.
"Ibuku memang hebat," desis Ceng Liong kagum.