Chapter 109
Saat melihat ibunya terisak-isak dengan pundak terguncang karena sedih, Ceng Liong bukannya terharu, melainkan justru tertawa.
Pemuda itu menyeringai aneh. Begitu nafsu berahinya bangkit dan ia tak tahan lagi menahan diri melihat kemolekan tubuh ibunya, tiba-tiba Ceng Liong membuka jendela dan melompat masuk.
"Ibu, maaf. Aku sedikit mengejutkanmu!"
Tok-sim Sian-li berseru kaget. Ia benar-benar terkejut oleh seruan Ceng Liong. Ketika ia melompat turun dengan mata terbelalak dari atas pembaringannya, dilihatnya Ceng Liong sudah berdiri di depannya dengan mata penuh nafsu memandang tubuhnya.
"Ih, kau... ada apa kau kemari, anak setan?"
Ceng Liong tersenyum. "Aku mau pamitan, Ibu. Sekaligus minta maaf kalau kau masih marah kepadaku!"
Tok-sim Sian-li tertegun. Ia tampak terkejut mendengar kata-kata itu, tetapi melihat Ceng Liong menyeringai dan menelusuri tubuhnya dari atas ke bawah menembus pakaian tipis yang dikenakannya, tiba-tiba Tok-sim Sian-li membentak dan menampar putranya itu, "Liong-ji, keluar dulu. Aku mau berganti pakaian!"
Ceng Liong melompat mundur. Ia mengelak dari tamparan ibunya, lalu menggelengkan kepala sambil tertawa. "Tak perlu, Ibu. Aku sudah biasa melihatmu seperti ini berulang kali. Kenapa harus malu atau marah?"
Tok-sim Sian-li menggigil. "Liong-ji, apa maksudmu?"
Ceng Liong tersenyum, menutup jendela, dan kembali menghampiri ibunya. Semua sikap dan gerak-geriknya tampak tenang. Sambil menatap dengan pandang mata penuh gairah, pemuda ini tertawa seraya memegang lengan ibunya, "Aku mau pamitan, Ibu. Aku datang untuk memberitahumu sekaligus minta maaf."
Tok-sim Sian-li merasa ngeri. Ia melihat putranya itu tiba-tiba saja tidak seperti manusia; tersenyum dan menyeringai aneh kepadanya. Meski tampak tenang, ada sesuatu yang buas tersembunyi di balik tatapan matanya. Merasa marah sekaligus ngeri dengan sikap putranya, tiba-tiba Tok-sim Sian-li menghentakkan tangannya untuk melepaskan diri.
"Liong-ji, aku tak mau bergurau denganmu. Ayo keluar dan kembali ke kamarmu!"
Namun, Ceng Liong hanya tersenyum, tetap di tempatnya, dan malah menangkap pundak ibunya. Dengan mata yang bersinar-sinar, ia menekan pundak ibunya dan mendudukkannya di atas pembaringan.
"Ibu, aku tidak bergurau. Aku malam ini hendak pergi dan sungguh-sungguh ingin pamitan kepadamu!"
Tok-sim Sian-li terkejut. "Kau mau ke mana?"
"Ke Beng-san, Ibu. Menemui Ciok-thouw Taihiap dan mempelajari kehebatan Soan-hoan-ciang!"
"Apa? Kau..."
"Ya, aku mau ke sana, Ibu. Aku telah membicarakan ini dengan Ji-wi Suhu dan mereka berdua setuju!"
"Ah!" Tok-sim Sian-li bangkit berdiri. Wajahnya berubah, dan ia mendadak lupa akan kemarahannya pada Ceng Liong atas peristiwa siang tadi. Dengan mata terbelalak dan penuh kekhawatiran memandang putranya, wanita itu bertanya, "Kau sadar akan maksudmu itu, Liong-ji? Kau tahu bahaya bertemu dengan Ciok-thouw Taihiap Souw Ki Beng?"
"Ya, kalau pendekar itu mengetahui siapa diriku, Ibu. Tapi Ciok-thouw Taihiap tak akan mengenal aku karena selamanya kita belum pernah bertemu muka!"
"Dan maksudmu itu, kenapa berani sekali mendekati Pendekar Kepala Batu?"
"Karena aku ingin mempelajari Soan-hoan-ciang yang dimiliki ketua Beng-san-pai itu, Ibu. Aku tak puas pada kepandaian Twa-suhu dan Ji-suhu yang tidak dapat mengalahkan Naga Bongkok dan Bu-beng Siauw-cut Kun Houw!"
Tok-sim Sian-li tertegun. Ia kaget, sekaligus kagum akan keberanian putranya. Ia berani mendatangi ketua Beng-san-pai yang terkenal keras dan ganas sepak terjangnya, terutama kebengisan sikapnya terhadap kaum golongan hek-to yang menjadi musuh nomor satu pendekar itu. Bahkan, gurunya sendiri tewas di tangan pendekar tersebut. Ketua Beng-san-pai adalah sosok yang kebal dan memiliki kesaktian tinggi.
Mendengar putranya ingin mendatangi ketua Beng-san-pai dan mempelajari ilmunya, tiba-tiba Tok-sim Sian-li menjadi heran dan tidak mengerti. "Liong-ji, bagaimana caramu meminta Soan-hoan-ciang itu?"
Ceng Liong tertawa. "Tentu saja menjadi muridnya, Ibu. Kenapa tidak mengerti?"
"Apa?" Sang ibu terbelalak. "Kau ingin menjadi muridnya?"
"Ya, dan aku akan membujuk pendekar itu, Ibu. Ini saat yang tepat karena Ciok-thouw Taihiap sedang kecewa. Ia dirundung kekesalan karena cucu-cucunya tidak ada yang mampu menguasai ilmu barunya itu. Aku akan menunjukkan kepada pendekar itu bahwa aku sanggup mewarisi Soan-hoan-ciang!"
Tok-sim Sian-li kembali tertegun. "Dan dari mana kau tahu?"
"Twa-suhu yang memberi tahu, Ibu. Dan aku akan berangkat malam ini juga."
"Ah, dan kau seorang diri?"
"Ya."
Tok-sim Sian-li yang terkejut memandang putranya, tiba-tiba terisak. "Liong-ji, itu amat berbahaya. Tidakkah kau tahu keganasan Ciok-thouw Taihiap?"
"Aku hanya mendengar sepak terjangnya saja, Ibu. Tapi aku tidak takut menghadapinya. Paling-paling mati!"
"Liong-ji!" ibunya berteriak dengan mata terbelalak.
Namun, Ceng Liong justru tertawa, lalu tiba-tiba memeluk dan mencium pipi ibunya. "Ibu, kenapa kau cemas? Tanda cintakah ini?"
Tok-sim Sian-li melepaskan diri. Ia meronta dan menggerakkan tangan untuk menampar Ceng Liong yang berani mencium dan memeluknya. Namun, melihat Ceng Liong menyeringai dan menahan tamparannya, Tok-sim Sian-li tiba-tiba tertegun.
"Liong-ji, apa yang kauinginkan dari ibumu? Kau mau kurang ajar dan menghinaku?" Suara wanita itu menggigil, ngeri sekaligus marah memandang putranya yang mendengus dan mulai terkekeh dengan suara aneh.
Ceng Liong yang tampak bergairah menatap ibunya tiba-tiba melempar buntalan dan merayu, "Ibu, aku ingin mengulang permintaanku tadi pagi. Aku ingin kasih sayangmu lahir dan batin. Mumpung aku masih hidup dan belum menemui bahaya di tangan Ciok-thouw Taihiap Souw Ki Beng!"
Tok-sim Sian-li terbelalak pucat. "Kau mau kurang ajar, Ceng Liong?"
"Ah, tidak. Aku minta secara baik-baik padamu, Ibu. Aku tidak kurang ajar atau memaksa. Aku hanya ingin kau menghiburku seperti saat kau menghibur Ji-suhu!"
"Keparat!" Tok-sim Sian-li marah. "Kalau begitu, terimalah ini, anak durhaka. Mampus dan enyahlah kau... Dess!"
Ceng Liong terpelanting terkena tendangan ibunya, mencelat, dan mengaduh saat membentur tembok. Ceng Liong menyeringai, cepat melompat bangun, namun tidak tampak jera. Begitu berdiri dan memandang ibunya, pemuda itu tertawa dan memprotes, "Ibu, kau pilih kasih. Kau bersikap berat sebelah antara aku dengan Ji-suhu!"
Tok-sim Sian-li semakin marah. "Kau ingin kuhajar lagi hingga babak belur, anak setan? Kau ingin kubunuh?"
Ceng Liong tidak takut. "Aku hanya ingin pelayananmu, Ibu. Ji-suhu tidak marah dan mengizinkan aku untuk..."
"Plak! Plak!"
Ceng Liong tak dapat meneruskan kata-katanya. Ia kembali menjerit dan terpelanting roboh ketika ibunya menamparnya dua kali, menyerang pundak dan leher putranya itu. Ketika Ceng Liong bangkit kembali dan hendak mengeluarkan kata-kata yang tidak tahu aturan, mendadak Tok-sim Sian-li melengking dan menghujani tubuh Ceng Liong dengan pukulan bertubi-tubi.
Akibatnya, Ceng Liong tunggang-langgang, jatuh bangun, dan berteriak-teriak mengaduh hingga menabrak meja dan membentur kursi. Namun, ketika ibunya mendesis dan melakukan pukulan *Tok-hiat-jiu*, tiba-tiba pemuda ini meloncat jauh dan bergulingan.
"Ibu, kau telengas. Lain kali saja kita berjumpa... Brak!"
Ceng Liong sudah keluar melewati jendela, sempat terhantam pukulan ibunya. Sambil berteriak penuh kecewa dan penasaran, pemuda itu melarikan diri menyelinap di kegelapan malam.
Ketika ibunya mengejar dan melompat keluar, yang dilihatnya hanyalah bayangan Ceng Liong yang sudah jauh kabur.
"Jahanam!" Tok-sim Sian-li membanting kakinya. "Bagaimana mungkin keturunan Pendekar Gurun Neraka bisa seperti itu? Ah, keparat kau, Liong-ji... terkutuk kau!"
Baru saja wanita itu melepaskan makiannya dengan gusar, tiba-tiba berkesiur angin dingin di belakang punggungnya.
"Niocu, anak itu anak iblis. Dia kemasukan roh Kalapati!"
Tok-sim Sian-li terkejut dan langsung memutar tubuh. "Siapa kau?"
Tok-sim Sian-li melihat munculnya seorang kakek tinggi kurus yang tampak familiar. Kakek itu muncul begitu saja di belakangnya tanpa disadari, mungkin karena perhatiannya tercurah pada Ceng Liong. Namun, wanita yang masih marah itu menjadi semakin geram ketika kakek tersebut tidak segera menjawab.
"Niocu, anak itu berbahaya sekali. Sebaiknya dia kaubunuh!"
"Keparat!" Tok-sim Sian-li memekik. "Kau siapa, tua bangka? Kenapa tidak menjawab pertanyaan orang dan masih saja memaki anakku? Kau ingin mampus? Nah, terimalah!"
Tok-sim Sian-li menusukkan jarinya, mencoba menotok jalan darah di leher laki-laki itu dengan kecepatan luar biasa. "Tuk! Ikh!"
Tok-sim Sian-li terkejut. Ia merasa jari telunjuknya mental, meleset, dan bertemu segumpal hawa yang licin, membuat totokannya tergelincir dan luput total. Sementara ia berjungkir balik untuk mematahkan daya tolak dan tenaga yang membalik, laki-laki itu terdorong mundur dan menancapkan tongkatnya.
"Niocu, aku Vijananda. Kita bertemu dua puluh tahun yang lalu!"
Tok-sim Sian-li melayang turun. Ia terbelalak dan kaget oleh seruan itu. Setelah mengingat-ingat dan menyadari siapa lawannya, Lie Lan atau wanita yang kini berjuluk Tok-sim Sian-li itu tertegun. "Hm, kau rupanya, tua bangka? Ada apa kau datang kemari?"
Vijananda mencabut tongkatnya. "Aku datang untuk memperingatkanmu, Niocu. Anakmu itu berbahaya dan sebaiknya dibunuh sebelum dia membunuhmu!"
"Keparat, jadi kau datang hanya untuk itu, Vijananda? Kau kembali menyuruh untuk membunuh anakku sendiri?"
"Ya, sebelum mencelakakan dirimu, Niocu. Mumpung kepandaiannya masih di bawah tingkatmu dan belum berbahaya!"
"Jahanam!" Lie Lan melengking. "Kau tampaknya benci sekali pada anakku, Vijananda. Kalau begitu, terimalah ini dan mampuslah... Wut!"
Lie Lan atau Tok-sim Sian-li yang sudah berkelebat dengan pekik kemarahannya itu tiba-tiba menyambar dan menghantam muka lawannya dengan ganas melalui pukulan *Tok-hiat-jiu*.