Chapter 11
Ia melompat mendekati Bi Lan, mengangkat tubuh anak perempuan itu, dan memondongnya masuk. Pendekar Gurun Neraka, yang merasa tidak enak melihat istrinya membawa Bi Lan, segera maju dan meminta. "Hong-moi, berikan padaku. Biar aku yang membawanya!" "Ah, biarlah, koko. Bi-moi juga sudah membawa Sin Hong!" tapi Pendekar Gurun Neraka, yang menepuk pundak istrinya, sudah menyambar Bi Lan untuk dipondong ke dalam.
Dia memberi senyum mesra pada istrinya yang nomor satu ini, dan berbisik lembut, "Hong-moi, maafkan aku. Aku hampir saja mabok oleh perbuatan Bi-moi. Kau tunggu aku nanti di kamar, ya?" Pek Hong mengangguk. "Sudahlah, koko. Aku mengerti. Kita tolong dulu Sin Hong dan Bi Lan." Maka Pendekar Gurun Neraka serta dua orang istrinya yang sudah melayang masuk itu tak banyak bicara lagi. Mereka cepat menolong Sin Hong dan Bi Lan, menyadarkan anak-anak itu, dan menotoknya di sana-sini.
Tapi baru dua orang anak itu sadar, tiba-tiba seorang anak laki-laki lain muncul, memasuki pintu, dan langsung bicara nyaring, "Pendekar Gurun Neraka, aku ingin menantangmu...!" Tiga orang di dalam itu terkejut. Mereka menoleh, terheran, dan tertegun melihat seorang bocah laki-laki memasuki tempat mereka dengan mata berapi-api, memegang sebuah belati kecil.
Dan Pendekar Gurun Neraka, yang lebih banyak terheran daripada marah, tiba-tiba bangkit berdiri. "Siapakah kau, anak muda?" "Aku Bu-beng Siauw-cut, Pendekar Gurun Neraka. Datang ke sini untuk membalas dendam!" "Bu-beng Siauw-cut?" "Ya, aku manusia kerucuk, Pendekar Gurun Neraka. Aku manusia tak berharga yang jauh kalah dibanding nama besarmu, tapi bukan manusia pengecut yang tidak bertanggung jawab macam dirimu!" "Ah...!" Pendekar Gurun Neraka tertegun, terkejut mendengar makian ini.
Tapi pendekar muda yang kagum oleh keberanian anak laki-laki itu dalam menantangnya tiba-tiba tersenyum lebar dan menarik napas berat. "Bu-beng Siauw-cut, kau rupanya salah alamat. Dari manakah asalmu dan kenapa datang-datang hendak membalas dendam padaku?" "Aku datang dari pesisir timur, Pendekar Gurun Neraka, dari tepi pantai Po-hai, dan datang ke sini untuk menagih dua jiwa atas kematian ayah ibuku!" "Hm, siapakah ayah ibumu itu?" "Liok-kauwsu!" si anak menjawab, matanya berkilat penuh kemarahan.
Tapi Pendekar Gurun Neraka, yang terheran mendengar nama ini, tiba-tiba mengerutkan kening dan menggeleng bingung. "Bu-beng Siauw-cut, aku tak mengenal ayahmu itu. Siapakah dia, dan apakah tidak salah kau menuduhku ini?" Bu-beng Siauw-cut menggigil. "Kau pengecut, Pendekar Gurun Neraka. Kau yang jelas menyebabkan kematian ayah ibuku. Kenapa sekarang pura-pura tidak mengenal?" "Hm, tapi aku benar-benar tidak mengenal ayahmu itu, anak muda. Aku tidak merasa membunuh seseorang bernama Liok-kauwsu!" "Keparat! Kau pengecut, Pendekar Gurun Neraka. Kau tak berani mempertanggungjawabkan perbuatanmu pada sepuluh tahun yang lalu...!"
Dan Bu-beng Siauw-cut, yang gemetar penuh kemarahan ini, tiba-tiba menerjang ke depan, menusukkan belatinya. Dia marah sekali, dan Pendekar Gurun Neraka, yang mendongkol oleh sikap anak laki-laki ini, tak mengelak, sengaja menerima, tapi mengerahkan sinkangnya melindungi diri. "Tak!" Bu-beng Siauw-cut menjerit. Anak laki-laki ini mental pisaunya, tak mempan menusuk perut Pendekar Gurun Neraka, yang tiba-tiba mengeras bagai sebuah papan baja!
Dan Bu-beng Siauw-cut, yang terpelanting roboh, segera mendesis dan melompat bangun lagi. "Pendekar Gurun Neraka, kau laki-laki siluman. Kau manusia pengecut...!" Tapi sebelum si bocah menyerang untuk kedua kalinya, tiba-tiba Pek Hong berkelebat menotok. "Bu-beng Siauw-cut, jangan kurang ajar di depan suamiku....!" Bu-beng Siauw-cut tak sempat mengelak. Dia tahu-tahu roboh ditotok jari wanita cantik ini, tapi Bu-beng Siauw-cut, yang mendelik penuh kemarahan, memaki-maki, "Pendekar Gurun Neraka, kau licik. Kau manusia tidak bertanggung jawab yang berwatak curang...!"
Pendekar Gurun Neraka memandang marah. Dia melihat anak laki-laki itu pemberani sekali, gagah, dan tak kenal takut. Sikap yang membuat dia benar-benar tertarik dan kagum. Tapi melihat anak itu memaki-maki dirinya tak kenal batas, diapun merasa khegi juga. "Hong-moi, lepaskan anak itu dari totokanmu. Dia rupanya tak pandai silat...!" Lalu, begitu Bu-beng Siauw-cut melompat bangun, diapun melangkah tegak. "Bu-beng Siauw-cut, aku benar-benar tak merasa mengenal ayahmu yang bernama Liok-kauwsu itu. Kau jangan membuang fitnah sembarangan di sini. Kau pergilah, jangan ganggu kami lagi!"
Tapi anak ini mendesis, mencekal belatinya, "Aku tak mau pergi kalau belum membunuhmu, Pendekar Gurun Neraka. Atau kaubunuhlah aku untuk menebus kegagalanku ini!" "Hm, kau nekat?" "Demi sakit hatiku kepadamu!" Bi Lan dan Sin Hong, yang terbelalak dan sudah sadar di situ, tiba-tiba tak tahan. "Ayah, bocah ini tak tahu diri. Sebaiknya dilempar saja keluar!" Bi Lan sudah melompat maju. Namun Pendekar Gurun Neraka menggoyang tangan. "Jangan, Bi Lan. Biarkan dia. Coba kutanya kalau begitu..!"
Dan Pendekar Gurun Neraka, yang sudah mengulur tangannya, tahu-tahu menangkap pundak anak ini, tak dapat dielak, walaupun si bocah mengegos ke kiri. Dan begitu pendekar ini mencengkeram bahu si bocah, tiba-tiba dia tertegun ketika melihat tulang-tulang yang hebat dari anak laki-laki ini, tulang seorang calon pendekar yang tidak kalah dibanding Bi Lan maupun Sin Hong, tulang dari turunan seorang berbakat! "Ah...!" pendekar ini tertegun. Tapi sadar dari maksud tujuannya semula, tiba-tiba dia mengeraskan sikap. "Bu-beng Siauw-cut, apakah kau gila dan tidak kenal kenyataan bahwa kau salah alamat menjatuhkan dendam kepadaku?"
"Aku bukan laki-laki tak bertanggung jawab. Aku tak segan mengakui perbuatanku bila benar ayahmu Liok-kauwsu itu terbunuh olehku! Kenapa kau tidak tahu diri dan ngotot begini?" Bu-beng Siauw-cut meronta. "Karena gara-garamu aku jadi..." "Hm, kalau begitu bagaimana jika kau ikut di sini? Kau boleh membantu kami di sini. Kau tidak akan terlantar atau dihina bila hidup di sini!" Bu-beng Siauw-cut terkejut. Dia terbelalak memandang mata yang gagah bertubi itu, mata tajam bagai seekor naga sakti.
Tapi sadar bahwa laki-laki ini adalah musuh utamanya, mendadak dia memekik. "Pendekar Gurun Neraka, tak perlu kau membujukku. Api dendamku masih tetap belum padam...!" Dan begitu terlepas dari cekalan pendekar ini, mendadak bertubi-tubi anak itu menusukkan pisaunya. Dia menikam sana-sini, menusuk sina-sini, hampir sekujur tubuh pendekar itu. Tapi begitu semua tusukannya mental, dan terakhir kali pisaunya patah ketika menikam dada Pendekar Gurun Neraka, mendadak lehernya diangkat dan dilempar keluar oleh pendekar itu.
"Bu-beng Siauw-cut, kau benar-benar bocah tak tahu adat...brukk!" Dan Bu-beng Siauw-cut, yang terguling-guling oleh bantingan pendekar ini, tiba-tiba mengeluh tertahan dan menggigit bibir. Dia merasa jari-jari pendekar itu yang mencengkeram leheranya bagai sebuah tanggem saja, menjepit kuat, membuat dia kesakitan. Tapi begitu dia terbanting roboh, tiba-tiba Medali Naganya yang ada di saku mencelat keluar. "Tringg...!" Semua orang terkejut. Anak laki-laki ini sendiri kaget, terhuyung bangun, dan buru-buru mengejar Medali Naga itu.
Tapi Pendekar Gurun Neraka, yang mengebutkan ujung bajunya, mendadak sudah mendahuluinya, membuat medali bundar itu "terhisap" dan tersedot ke lengan baju pendekar sakti ini. Dan begitu Pendekar Gurun Neraka menyambar medali itu, tiba-tiba pendekar ini tertegun dan terkejut. "Bu-beng Siauw-cut, kau utusan Bu-beng Sian-su?" Anak laki-laki ini terbengong. Dia jelas tidak mengerti apa dan siapa Bu-beng Sian-su itu. Tapi melihat Pendekar Gurun Neraka tampak kaget dan berobah mukanya mendengar nama "Bu-beng Sian-su", sekonyong-konyong anak ini tersenyum.
Dia mengira Bu-beng Sian-su itu adalah musuh Pendekar Gurun Neraka, karena pendekar itu tampak kaget dan pucat mukanya. Maka, mengangguk tak bangga, dia menjawab lantang, "Ya, aku utusan Bu-beng Sian-su, Pendekar Gurun Neraka. Aku datang atas petunjuk orang itu!" "Dan kau disuruh datang untuk membunuhku?" "Ya!" "Ah, tak mungkin!" Pendekar Gurun Neraka membentak. "Kau bohong, Bu-beng Siauw-cut. Kau bohong dan berdusta di depanku!" Anak laki-laki ini terkejut. Dia jadi kaget, melihat Pendekar Gurun Neraka membentaknya seperti itu, mempengaruhinya dengan pandang mata bengis berkilat.
Dan belum dia mengaku atau menyangkal, mendadak tubuhnya sudah disambar pendekar itu dan diangkat siap dibanting! "Bu-beng Siauw-cut, kau pendusta besar! Berani kau berujar demi arwah ibumu bahwa Bu-beng Sian-su menyuruhmu ke mari?" Anak ini tertegun. Dia tersentak mendengar Pendekar Gurun Neraka membawa-bawa nama ibunya, ibu yang dihormati, tapi yang tewas ketika dia baru berumur beberapa bulan. Maka, menggigil sambil menjejakkan kakinya, dia menendang pergelangan tangan pendekar itu dengan muka pucat.
"Pendekar Gurun Neraka, jangan bawa-bawa nama ibuku di sini. Aku tak tahu siapa itu sebetulnya Bu-beng Sian-su!" Pendekar Gurun Neraka masih mencengkeram anak ini. "Jadi kau mengaku bahwa kau bohong?" "Ya, terpaksa, karena kukira dia musuhmu!" Dan Pendekar Gurun Neraka, yang segera melepaskan cekraman, tiba-tiba melempar anak itu jatuh di lantai. Dia tertegun dan terheran oleh jawaban ini, karena jawaban itu membayangkan bahwa si anak termasuk orang jujur, yang dapat dipercaya, selain gagah berani.
Tapi Bu-beng Siauw-cut sendiri, yang terbanting dengan tubuh kesakitan, sudah berteriak marah. "Pendekar Gurun Neraka, ingat perbuatanmu hari ini! Demi arwah ibu aku akan membalasnya kelak seperti ini!" Ceng Bi mengerutkan kening. Sekarang, sejak tadi, ia sudah gatal tangan untuk menghujat anak laki-laki itu. Tapi Pek Hong, yang lompat mendahului, melayang ke depan. "Bu-beng Siauw-cut, siapakah ibumu itu?" Anak ini mendelik. Dia mengepalkan tinju, mau menjawab, tapi nampaknya ragu.
Dan Pendekar Gurun Neraka, yang tersentak dan juga ingin tahu, melihat istrinya bertanya tentang ibu anak itu, tiba-tiba juga melompat ke depan dengan kening berkerut.